Ilusi Pembangunan

Pembangunan menjadi satu kata yang begitu sakral sejak zaman orde baru. Masa itu, siapa saja yang menentang kebijakan pembangunan Presiden Soeharto maka akan dianggap sebagai anti pemerintah dan anti pancasila. Logika yang dibangun adalah; anti pembangunan sama dengan anti pemerintah. Anti pemerintah sama dengan anti pancasila. Maka siapa-pun pengkritik pembangunan akan disematkan katagori sebagai orang yang subversive, anti-pancasila, berkeinginan makar, PKI dan lain sebagainya.

Stabilitas politik –dengan penyederhanaan Parpol, pemberlakuan dwi fungsi ABRI, pembubaran PKI, dan penataan politik luar negeri –menjadi langkah awal orde baru untuk dapat mengejar pertumbuhan ekonomi yang menjadi target utama pembangunannya. Keran investasi dibuka selebar-lebarnya untuk asing. Industrialisasi menjadi pilihan utama untuk kebijakan pembangunan ekonomi. Pilihan ini berhasil merubah wajah Indonesia dari negara agraris yang miskin menjadi negara semi industri yang berpendapatan menengah. Baca lebih lanjut

Iklan

Pembangunan Ekonomi Desa Pasca Mudik

Mudik; kata ini menjadi sangat menarik bagi banyak masyarakat Indonesia. Ia tidak hanya dimaknai sebagai satu aktifitas pulang kampung ke desa tetapi lebih dari itu Aktifitasnya seolah telah menjadi “ritus peribadatan” yang tidak dapat dielakkan. Kekuatan fisik, modal ekonomi, dan eksistensi diri adalah aspek yang selalu dipertaruhkan pada saat mudik lebaran. Itu sebabnya mudik menjadi satu hal yang menarik karena ia tidak hanya berkaitan dengan semangat silaturrahmi saja tetapi juga syarat dengan nilai-nilai sosial-ekonomi yang berkaitan dengan eksistensi diri seseorang.

Apalagi selama ini, keberhasilan seseorang perantau selalu dikaitkan dengan peningkatan drajat ekonomi. Itu semua kemudian diukur pada saat mudik dengan indikator seberapa banyak uang yang dikeluarkan selama berada di kampung? Dan simbol-simbol kemewahan materi apa saja yang dibawa selama mudik? Kedua indikator inilah yang secara langsung –tanpa kita disadari –membuat aliran dana yang ada di kota ikut pulang kampung ke desa. Sebab orang-orang yang bekerja di kota akan menyiapkan dana khusus untuk dibawa pulang ke kampung. Baca lebih lanjut

Media, Kebenaran dan Peristiwa

Bagaimana cara media mencari kebenaran atas satu peristiwa? Pertanyaan ini muncul dalam pikiran saya ketika terjadi peristiwa ledakan bom di Terminal Kampung Melayu Jakarta, Rabu (24/5) lalu. Seperti biasa media televisi dan media online langsung mengabarkan peristiwa tersebut. Lebel breking news atas peristiwa ledakan bom itu muncul di beberapa televisi. Video rekaman warga yang diup-load melalui youtube diputar secara terus menerus dan waawancara dengan wartawan di lapangan dilakukan secara live. Menariknya, ledakan tersebut langsung dikaitkan dengan bom –baik itu bom bunuh diri atau bom panci –dan kemudian peristiwa tersebut langsung di framing sebagai aktifitas atau serangan terorisme.

Baca lebih lanjut

Paket Ekonomi Jokowi-Jk; Untuk Siapa?

Beberapa waktu lalu pemerintah Indonesia kembali mengeluarkan peket kebijakan ekonomi yang ketiga belas. Disebut ketiga belas karena pemerintah Jokowi-Jk sejak 2015 lalu sudah tiga belas kali mengeluarkan paket kebijakan ekonomi. Pada kebijakan ekonomi kali ini, terdapat dua poin penting di dalamnya yaitu insentif untuk pengembangan perdagangan dalam jaringan (e-commerce) dan deregulasi bidang perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Baca lebih lanjut

Medan Mulai Tak “Benar”

eldin akhyar

Sumber Gambar; Internet

Lima bulan sudah pasangan Walikota dan Wakil Walikota Medan terpilih Drs. H. T. Dzulmi Eldi M.Si dan Ir. Akhyar Nasution M.Si resmi dilantik oleh Kementrian Dalam Negari. Namun setelah lima bulan berlalu, belum satu-pun agenda pembangunan yang diusung pasangan dengan slogan BENAR (Bang Eldi-Akhyar) ini dirasakan oleh masyarakat. Visi dan Misi mereka yang terangkum dalam Medan Rumah Kita seolah hanya menjadi isapan jempol semata.

Bahkan tak jarang istilah ini mulai dipelesetkan menjadi Medan “Bukan” Rumah Kita oleh beberapa pengamat dan praktisi kebijakan pembangunan. Visi untuk menjadikan medan sebagai kota masa depan yang multicultural, berdaya saing, humanis, sejahtera dan religious berbanding terbalik dengan kondisi Kota Medan yang semakin tampak tak terurus. Baca lebih lanjut

71 Tahun Melawan Kemiskinan

Hasil gambar untuk orang miskin

Sumber Gambar: Internet

Kemiskinan masih menjadi tampilan umum masyarakat Indonesia. Padahal, tepat pada tanggal 17 Agustus 2016 nanti bangsa ini telah berusia 71 tahun. Usia yang dapat dikatakan tidak muda lagi bagi suatu bangsa.  Namun sayangnya, selama 71 tahun itu juga nuansa kemerdekaan seolah tidak pernah hadir bagi 28,01 juta –atau sekitar 10,86 persen –penduduk miskin di Indonesia. Fakta ini membuat kita patut bertanya, apa yang menjadi penyebab mengapa kemiskinan di negeri ini sulit untuk dientaskan? Bukankah sudah banyak program-program peningkatan kesejahteraan yang digulirkan oleh pemerintah? Baca lebih lanjut

Ayo Mendirikan Bank Sampah di Sekolah

Meski hasil penelitian dan penemuan tentang manfaat sampah telah banyak diungkapkan, namun dalam kenyataan sehari-hari, masih banyak sampah yang terabaikan dan dilihat sebagai satu materi yang sudah tidak memiliki kegunaan. Pada tahapan inilah pendidikan dalam bentuk pelatihan pengelolaan sampah diharapkan dapat menjadi solusi bermanfaat khususnya bagi mereka generasi muda yang masih berstatus pelajar.

Nantinya hasil dari pelatihan tersebut diharapkan akan melahirkan generasi yang peduli terhadap permasalahan sampah yang ada di lingkungannya. Tingkat kepedulian tersebut dapat dilihat dari kemampuan pelajar untuk memanfaatkan sampah sabagai potensi ekonomi dengan mendaur ulangnya kembali menjadi barang berguna, atau dengan melakukan gerakan pemilahan sampah untuk di tabung di bank sampah. Oleh karenanya pendirian bank sampah di sekolah juga dirasa menjadi satu hal yang penting untuk mendidik siswa/i yang ada di sekolah tersebut. Hal ini dikarenakan sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah harusnya dapat membentuk insan-insan yang bersikap dan berperilaku peduli terhadap kondisi lingkungan. Baca lebih lanjut