Pertemuan Dua Siklus Di Tahun Politik

Dalam kajian sosiologi perubahan sosial, kita mengenal teori lingkaran sejarah. Teori ini beragument bahwa perubahan sosial yang terjadi saat ini adalah sebuah bentuk siklus atau lingkaran sejarah yang selalu berulang bukan berbentuk garis lurus. Dasar argument ini menjadikan Teori Lingkaran Sejarah secara subtantif meninggalkan analogi pertumbuhan organik dari kelompok evolusionis yang memandang perubahan sosial dan sejarah bergerak menurut garis lulur dan cenderung terus naik.

Ada banyak tokoh yang mempelopori teori ini dari era klasik hingga modern, dan hadir dari berbagai cabang keilmuan seperti; filsafat, ekonomi, sosiologi dan politik. Di antaranya Aristoteles, Herodutus, Polyhius, Ibnu Kaldun, Vico, Danilevsky, Spengler, Toynbee, Vilfredo Pareto dan Pitirim Sorokin. Semua tokoh memiliki pandangan yang sama bahwa tidak ada sesuatu yang baru di dunia karena sejarah mengalami pengulangan konstan. Namun argumentasi dari teori ini muncul pertama kali dari Aristoteles yang mengungkapkan; “sesuatu yang telah ada adalah sesuatu yang akan ada; sesuatu yang telah dilakukan adalah sesuatu yang akan dilakukan; dan tak sesuatu yang baru di dunia,”. Baca lebih lanjut

Iklan

Visi Sumut Pasca 2018

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumut baru saja menggelar pengundian nomer urut bagi Calon Gubernur Sumut. Terdapat dua pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut yang dipastikan maju pada tahapan selanjutnya yaitu; Edi Rahmayadi-Musa Rajekshah (Ijeck) dengan nomer urut 1 dan Djarot-Sihar Sitorus dengan nomer urut 2. Tentunya dengan kondisi ini –walau kita masih menunggu langkah hukum dari pasangan JR Saragih-Ance –kita sudah mendapat gambaran bagaimana wajah Sumut pasca 2018.

Hal ini dikarenakan setiap Calon Gubernur yang bertarung pada Pilgubsu 2018 ini memiliki visi yang “diklaim” lebih baik dari visi Gubernur Sumut saat ini. Sejauh ini seluruh pasangan Cagubsu menginginkan adanya perubahan yang mendasar dan lebih baik di Provinsi Sumut. Keinginan perubahan tersebut bisa dilihat dari slogan atau tag line yang dimunculkan selama masa sosialisasi. Baca lebih lanjut

Pilgubsu; Optimis Yes, Takabur No!

David Terzeguet berhasil membungkam mulut ribuan sporter Italia setelah mencetak golden gol pada menit 103 di Final Piala Eropa Tahun 2000. Gol ini menjadi pengantar kemenangan Prancis atas Italia (2-1) dan memastikan Prancis menjadi juara Piala Eropa. Padahal sebelumnya Italia sempat unggul 1-0 hingga menit 93 melalui gol Marco Delvecchio pada menit ke 55. Eforia kemenangan sudah hadir di setiap wajah pemain, tim official dan supporter Italia. Bahkan para pemain Italia sudah bersiap dipinggir lapangan, berdiri untuk menanti peluit akhir pertandingan dan merayakan pesta kemenangan. Baca lebih lanjut

Pilgubsu dan (Aquarium) Politik Nasional

Lantas apa yang dapat diharapkan dari Pilgubsu 2018 jika pada praktik awalnya kita sudah dijadikan sebagai aquarium politik nasional?

 

Desentralisasi dan otonomi daerah yang diberlakukan pasca reformasi ternyata masih meninggalkan beberapa persoalan mendasar. Satu di antara persoalan mendasar tersebut adalah pendelegasian wewenang dari pusat ke daerah dalam tubuh eksekutif tidak diikuti dengan baik dalam tubuh legislative sehingga terbentuk “desentralisasi semu”. Bentuk desentrasilasi semu ini dapat dilihat dari ketidakmampuan aktor-aktor politik lokal dalam menentukan calon kepala daerahnya. Intervensi pimpinan pusat partai terhadap politik lokal masih begitu terasa dalam penentuan calon kepala daerah (Kdh).

Ketidakmampuan ini menandakan bahwa aktor-aktor politik lokal masih terkungkung dalam sistem patron-klien yang terus dipertahankan oleh pimpinan pusat partai. Padahal semangat utama dari reformasi melalui desentralisasi adalah bagaimana otonomi daerah dapat mewujudkan tujuan utamanya untuk meningkatkan pelayanan masyarakat yang semakin baik, pengembangan kehidupan demokrasi, menciptakan keadilan secara nasional, pemerataan pembangunan wilayah, dan mendorong pemberdayaan masyarakat. Baca lebih lanjut

Hari Ibu dan Realitas PKRT Miskin

Setiap akhir tahun kita selalu diingatkan dengan perayaan hari ibu secara nasional tepatnya pada tanggal 22 Desember. Jika merujuk pada sejarah nasional, penetapan hari ibu pada tanggal 22 Desember tersebut dilatar belakangi oleh pembentukan KOWANI pada Kongres Perempuan pertama di Yogyakarta pada tanggal 22-25 Desember 1982 yang dihadiri oleh 30 organisasi perempuan dari 12 kota di jawa dan sumatera. Selanjutnya pada Kongres Perempuan yang ketiga baru disepakati bahwa pada tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai hari ibu di Indonesia.

Adanya latar belakang sejarah ini menyebabkan perayaan hari ibu di Indonesia berbeda dengan negara-negara lainnya. Amerika dan 75 negara lainnya seperti Jerman, Italia, Jepang, Malaysia, Australia, Belanda, Singapura dan Taiwan merayakan hari ibu pada hari minggu pekan kedua bulan Mei. Ada juga beberapa negara Eropa dan Timur Tengah yang memperingati hari ibu pada tanggal 8 Maret. Meski seluruh negara di dunia melaksanakan perayaan hari ibu setiap tahun tetapi tetap saja persoalan sosial-ekonomi yang dihadapi oleh banyak kelompok perempuan –khususnya mereka yang sudah berstatus sebagai ibu –belum mampu terselesaikan secara maksimal.
Baca lebih lanjut