pemuda

Sudah delapan puluh dua tahun sumpah pemuda berlalu, dan itu menjadi sebuah titik awal persatuan Indonesia dengan sebuah pernyataan sikap melalui sumpah yang menyatakan  mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia, kemudian mengaku berbangsa yang satu bangsa Indonesia dan menjunjung bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia pada saat inilah pertama kalinya lagu indonesia raya yang di ciptakan W.R Supratman disenandungkan. Sumpah pemuda ini merupakan gerakan berkelanjutan dari pemuda pemuda Indonesia yang sebeluumnya pada tahun 1908 sudah melakukan pergerakan pengalangan masa melalui organisasi – organisasi bersifat Nasionalis yang kemudian dikenal sebagai hari kebangkitan nasional.

Melihat perkembangannya dari masa kemasa pemuda adalah sosok awal perubahan bangsa indonesia, hal ini terbukti dari banyaknya pergerakan – pergerakan perubahan yang di lakukan oleh pemuda, Kebangkitan Nasional 1908 yang di usung oleh Budi Utomo dengan Tiga serangkainya (Soewardi Soeryaningrat, E.F.E Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo)  dan Muhammadiyah dengan K.H. Ahmad Dahlan. Serta beberapa pemuda lainnya seperti Soekarno, Hatta dan Tan Malaka. Dikarenakan banyaknya muncul organisasi lokal ke daerahan yang mengurangi semangat dari pada Persatuan itu maka para pemuda mengadakan kongres pemuda I pada tahun 1926 dan Kongres pemuda II pada tahun 1928 dan menjadi momentum awal  persatuan Indonesia.

Tidak cukup sampai disitu saja, pemuda juga menggambil peran dalam upaya percepatan kemerdekaan indonesai dari tangan penjajah, hal ini terbukti dari pristiwa rengasdengklok dimana pada saat itu pemuda menyandara Soekarno dan Hatta, yang akhirnya memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Pemuda masih terus bergerak tepat pada 20 tahun kemerdekaan terjadi pemberontakan G30S PKI berserta segala eksesnya. Pada masa itu pemuda yang diwakili golongan mahasiswa mencoba menjawab tantangan dari realitas tersebut. Meraka para pemuda yang terlahir pasca kemerdekaan dari rahim kebebasan. Hal ini membuat mereka menjadi anak muda yang bebas dan jujur dalam memperjuangkan perasaan moral mereka dan kritis dalam memperjuangkan keadilan.

Tercatat pada pase itu kita mengenal seorang pemuda yang unik dan sangat idealis Soe Hok Gie dia dikenal sebagai intelektual muda nan cerdas yang sepak terjangnya membuat penguasa gerah. Pada masa-masa berikutnya kita lihat lagi pergerakan pemuda pada tahun 1998 yang kali ini diwakili kembali oleh mahasiswa pergerakan itupun kembali berhasil menjatuhkan rezim yang di pimpin oleh Soeharto selama 32 tahun. Dari ritme sejarah tersebut dapat kita lihat bahwa pergerakan pemuda sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembanganya suatu masa/rezim maka tidak salah jika pemuda diidentikan selalu sebagai agen perubahan sosial.

 

Konndisi Pemuda Kita Kini

Pasca reformasi tahun 1998 belum ada lagi pergerakan pemuda/mahasiswa yang dapat melakukan perubahan secara revolusi. Reformasi pada tahun 1998 juga belum dapat melakukan perubahan yang berarti. Reformasi tahun 1998 hanya reformasi yang muncul atas dendam terhadap pemerintahan Soeharto yang otoriter dengan dualisme militernya, dan dendam terhadap prilaku KKN aparat pemerintahan. Ketika pemerintahan Soerharto berhasil di jatuhkan oleh perwakilan para pemuda/mahasiswa, pada saat itulah muncul harapan baru akan kehidupan yang lebih baik. Harapan akan tidak adanya lagi pembatansan dalam berpendapat dan harapan akan munculnya pemimpin – pemimpin baru dari kalangan pemuda yang lebih progresif dan visioner terhadap perkembangan bangsa dan Negara kedepan. Tetapi harapan itu hanya tinggal harapan, harapan akan perubahan ternyata malah lebih parah, demokrasi kita kebablasan, korupsi dan nepotisme makin terang terangan, pemimpin lebih mendahulukan janji kolusinya ketimbang janji terhadap rakyatnya.

Pemuda/mahasiswa yang muncul pada reformasi 1998 tidak dapat berbuat apa – apa walaupun diantara mereka ada yang duduk sebagai dewan perwakilan rakyat ataupun sebagai mentri. Mereka banyak terikat oleh kepentingan pertai yang mereka duduki, apabila melawan maka mereka harus bersiap – siap tergusur dan di gantikan oleh orang lain. Sikap prakmatis inilah yang kini hinggap diri para pemuda/mahasiswa di Indonesia. Banyak pemuda kehilangan haknya, 32 tahun orde baru berkuasa membuat para pemuda tidak pernah dipandang dipercaya dalam pergulatan dunia sosial politik dan terkadang malah lebih sering dianggap sebagai pengacau atau perusak system yang akan dibangun bangun kalangan tua. Orde baru telah habis tetapi imbas akan hal ini masih saja terus terasa, pemuda belum mendapatkan haknya, defenisi pemuda sekarang samar, lihatlah berapa banyak organisasi kepemudaan yang dipimpin oleh orang – orang tua yang tak jarang sudah memiliki anak atau bahkan cucu.

Pengkebirian pemuda tidak cukup sampai disana saja, pemuda – pemuda sekarang dicekoki dengan yang namanya NARKOBA, MIRAS, dll. Tidak jarang ditemukan bahwa yang  mengedarkan atau malah membekap perdagangan Narkoba tersebut adalah aparat pemerintah yang notabene seharusnya membantu pemberantasan Narkoba dan Miras tersebut. Pemuda susah untuk keluar dalam keadaan ini, kondisi pemuda dahulu yang berperang dengan para penjajah untuk memerdekakan bangsa dan diri kini harus berubah 180o dimana pemuda sekarang harus melawan pemerintahanya sendiri. Jadi kalau dahulu pemuda yang melawan penjajahan itu dapat dikatakan sebagai pahlawan, sekarang dapat dikatakan pemuda yang berhasil keluar dari belenggu Narkoba dan Miras adalah seorang pahlwan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s