“Politik Singkong Rebus”

Jika kita mengingat singkong atau ubi maka kita akan dapat menggambarkan sesuatu kekuatan bawah tanah yang suci walaupun singkong ditanam di dalam tanah tapi jiwanya tetap putih dan bersih, hanya kulitnya saja yang terkena kotoran tanah. Dan kita tau bagaimana kerasnya singkong itu, jika di pukulkan ke muka atau tubuh orang dewasa bisa menghasilkan memar yang mengerikan.

Tetapi jika singkong sudah mulai dikupas kulitnya dan di rebus dalam wadah atau panic maka singkong akan kehilangan kekuatannya dan mulai terasa melembek dan warna tubuhnya yang putih menggambarkan kesucian sudah mulai terkontaminasi oleh panasnya dan menjadi kecoklatan, sehingga singkong tidak putih dan suci lagi.

 

Keadaan sekarang !

Situasi politik pasca pilpres 2009 mirip seperti kejadian diatas. Koalisi besar dibentuk dengan melibatkan hampir dari ¾ partai yang ada di parlement. Inilah yang kemudian saya katakana sebagai “politik singkong rebus”. Dimana hampir lebih dari separuh partai yang masuk kedalam koalisi besar ini adalah “partai – partai yang membumi/merakyat” sebut saja seperti; PKS, PDI-P, PAN, PPP dan PKB. Ini adalah partai – partai yang memiliki masa simpatisan yang cukup besar di masyarakat kelas bawah atau masyarakat tradisional. Tetapi partai – partai ini telah menjadi korban dari “politik singkong rebus” yang dimainkan oleh partai pemenang pilpers 2009 partai demokrat dan SBY – Boediono sebagai presiden dan wakil presidennya.

Ketika kualisi besar itu resmi dibentuk, maka partai – partai yang bergabung di dalamnya sudah mulai kehilangan jati diri partainya yang dihisap oleh panasnya api kekuasaan. PDI-P tidak dapat berbuat banyak ketika Taufik Kemas diberikan jabatan ketua umum MPR-RI. PKS sudah tidak bisa menjadi partai yang bersih, peduli dan berkeadilan ketika kader – kadernya diberikan jabatan mentri. Begitu juga dengan PAN yang sudah kehilangan semangat reformisnya dan juga partai – partai lainnya seperti PKB dan PPP.

Mewahnya panci kekuasaan memaksa banyak partai menjadi berpikir praktis dan membuat mereka berlomba –             lomba untuk masuk ke dalamnya walaupun mereka sebenarnya tau bagaimana pasasnya air di dalam panci tersebut. Panas air tersebut sudah mulai terasa, dimasing – masing tubuh partai ketika banyak kader – kader dari partai tersebut dianggap tidak becus bekerja dalam kabinet Indonesia bersatu II. Tifatul sembiring harus bekerja keras dengan kasus video porno aril peterpan, patrialis akbar juga harus bekerja keras dengan kasus mafia hukum dan pembangunan rutan yang masih terkendala. Muaimin Iskandar juga disibukkan dengan kasus TKI illegal dan penyiksaan TKI, serta surya darma ali yang akan selalu menjadi sorotan setiap musim haji tiba dan juga ekstra hati – hati dalam masalah toleransi antar umat beragama di Indonesia yang dapat muncul dengan tiba – tiba dan dapat menimbulkan konflik.

Jika PDI-P macam – macam, SBY hanya tinggal bersilaturrahmi dengan taufik kemas sebagai pimpinan tertinggi MPR-RI  untuk membicarakan dua, tiga patah kata yang penting, salaman, senyum dan berfoto lalu pulang. Maka semua masalah akan selesai. Inilah yang diharapkan dari “politik singkong rebus” dimana ingin melemahkan lawan – lawannya dengan menyatukannya dalam satu panci kekuasaan dan membakarnya. Dampaknya ketika partai (singkong) sudah tidak dekat dengan rakyat (tanah) maka dalam sekejap jati diri dan nilai – nilai perjuangan perjuangan partai akan tergadaikan oleh kekuasaan politik praktik pengusa.

Akhirnya rakyat menjadi tidak percaya lagi dengan partai – partai yang ada, sehingga apatisme politik akan meningkat dan jika itu terjadi maka penguasa akan lebih mudah dalam melenggangkan kekuasaannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s