Pak Tua Sudahlah..!

Melihat jejak kalangan tua di organisasi kepemudaan.

Ironis memang jika kita harus membicarakan tentang bagaimana jejak kalangan tua di organisasi kepemudaan. Yang notabene sebenarnya sudah melanggar UU No. 40 Tahun 2009 tentang kepemudaan. Dimana pada Bab I Pasal 1 dikatakan bahwa pemuda adalah: warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun.

Benar memang jika kita berbicara tentang pemudaan maka kita harus berbicara tentang batasan usia tetapi masih banyak sebagian dari Organisasi Kepemudaan (OKP) yang tidak siap menerima ini dan mengajukan Judical review ke Makamah Konstitusi (M.K) dengan alasan bahwa : umur 35 (tiga puluh lima) adalah masa puncak karir seseorang pemuda, jadi pasal 1 diatas harus diubah tentang batasan usia pemuda itu.

Hal ini menjadi sebuah gambaran penting tentang bagaimana sebenarnya ketidak siapan kawan – kawan di OKP dalam menyikapi peraturan tersebut. Hal ini makin terbukti jika kita lihat berapa banyak OKP atau bahkan Komiten Nasional Pemuda/i Indonesia (KNPI) yang di pimpin seorang yang sudah lanjut usia (tua), bahkan tidak sedikit diantara mereka sudah ada yang memiliki cucu. Disinilah kemudian yang membuat makna tentang kepemudaan itu menjadi samar.

 

DAMPAK DARI SEBUAH REZIM

Hal ini bukanlah suatu kebetulan semata, jika kita amati dan teliti lebih jauh lagi ini adalah dampak dari 32 (tiga puluh dua tahun) rezim orde baru yang di pimpin oleh soeharto. Ini bukan omong kosong, 23 (dua puluh tiga tahun) adalah ukuran satu generasi dan orde baru memimpin selama 32 (tiga puluh dua tahun) dan itu berarti sudah satu setengah generasi darisinilah semuanya dibangun.

KNPI itu di jadikan tempat berkumpulnya OKP sehingga pada masa  itu setiap gerakan kepemudaan dapat terkontrol dengan baik, di tambah lagi dengan di tempatkannya orang – orang tua di puncak tampuk kepemimpinan sehingga dapat mengerem setiap gerakan pemuda. Gerakan pemuda mulai di batasi dikarenakan sifat pemuda yang aktif, kritis, idealis dan reaksioner dapat mengganggu jalannya system yang sedang dibangun oleh penguasa. Sebuah issue yang sengaja di kembangkan tentang kurangnya pengelaman dalam memimpin serta masih labilnya emosi pemuda selalu saja menjadi alasan utama yang membuat pemuda kalah bersaing dalam mencapai tampuk kepemimpinan.

Pemuda mulai tersingkir secara perlahan sampai sekarang bias dari sini akhirnya adalah : tidak adanya lagi OKP atau bahkan KNPI yang berani melakukan aksi untuk suatu perubahan. OKP dan KNPI terkesan berdiam diri dalam sebuah masalah yang banyak menghantui bangsa ini begitulah jika OKP atau KNPI sudah dipimpin oleh orang tua, semuanya berjalan pasif.

 

PEMUDA HARUS BANGKIT

Sebagai pemuda kita harus bangkit melawan, jangan mau lagi dikangkangi oleh kalangan tua yang mengatas namakan “pengalaman”. Rebut tampuk kepemimpinan itu katakana pada mereka: “ pak tua sudahlah..! kami mampu untuk bekerja” karena pada prinsipnya pemuda selalu membuat sejarah baru; kejadian rengas dengklok yang menghasilkan proklamasi kemerdekaan adalah bagian dari gerakan pemuda. Reformasi 1998 juga merupaka gerakan pemuda yang berjaskan mahasiswa. Jadi semua itu sudah membuktikan kalau pemuda jauhh lebih progresif dalam pergerakan dan visioner dalam pemikiran, sehingga tidak salah jika dikatakan pemuda sebagai agen of change.

Untuk itu satukan kekuatan, jangan mau dipaksa mundur, jangan biarkan wadah pengembangan potensi pemuda sebagai tempat kita belajar dan berorganisasi diambil alih oleh mereka agar kedepannya makna tentang kepemudaan itu tidak samar lagi.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s