eksistensi pancasila

eksistensi pancasila

Saya banyak mendengarkan teriakan akan “pancasila abadi”, dari sini kemudian muncul pertanyaan dari dalam hati “benarkah pancasila itu abadi”? dan akhirnya saya mencoba mengurainya satu persatu. Secara symbol kenegaraan dan idiologi bangsa memang benar bahwa pancasila masih abadi sampai sekarang, tetapi secara praktik dan tekhnis dilapangan apakah pancasila masih dianggap sebagai symbol kenegaraan dan idiologi bangsa? Jawabannya adalah tidak. Kenapa?
Jika kita bicara tentang pancasila maka kita akan bicara tantang tiga hal yaitu; ketuhanan, kamanusia dan keadilan. Coba bandingkan ketiga hal tersebut dengan prilaku korup para politisi dan aparatur Negara kita, punyakah mereka rasa ketuhanan, kemanusian dan keadilan yang ada dalam pancasila itu? Jangan katakan ini adalah prilaku dari “oknum” karena sekarang sudah banyak para politisi dan aparatur negara yang melakukan hal itu. Sumpah jabatan yang mengataskan nama tuhan hanya menjadi sebuah serimonial sesaat, kesetiaan jadi janji murahan, wibawa menjadi alat melindungi diri, hukum dan kesehatan diperjual belikan, mungkin hal inilah yang akhirnya membuat negeri ini sering dirundung bencana. Jelas bahwa Negara kita menjadi Negara yang timpang karena secara diametral berlawanan dengan cita – cita mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bangsa yang melawan prinsipnya tidak akan lama bertahan, keadilan dan keseimbangan adalah hukum jagad raya (al-mizan) dan manusia dipesan untuk jangan sampai melanggar keadilan biarpun dalam kehidupan yang sekecil – kecilnya.
Kembali ke awal, kita tau bersama bahwa pancasila itu adalah idiologi bangsa hasil dari pada ciptaan manusia yang disusun/dirumuskan oleh para pendiri bangsa antara lain: soekarno, hatta, M.yamin, dkk, yang terlibat dalam BPUPKI. Namun dari susunan/rumusan itu kita tidak dapat menemukan tafsir baku tentang pancasila sebagai idiologi/falsafah hidup bangsa dan Negara. Jika kita mengatakan bahawa pancasila harus diamalkan dalam kehidupan berpolitik dinegeri ini maka akan sangat sulit untuk kita terapkan, Karena apa? Tiap orang mempunyai paradigma dan tafsiran yang berbeda terhadap pancasila, hal ini dapat dilihat dari banyaknya para pemimpin Negeri ini yang menjabarkan pancasila secara berbeda pada setiap masa kepemimpinannya (dari Soekarno s/d SBY) yang tentunya akan berdampak langsung pada rakyat yang mereka pimpin. Defenisi atau tafsir baku tentang pancasila tidak dapat kita temukan dan sebenarnya itulah yang harus kita rumuskan kembali sehingga pancasila tidak dapat ditafsirkan secara bebas oleh manusia Indonesia. Tiga puluh dua tahun rezim orde baru berkuasa, rezim yang menyatakan akan mengembalikan pancasila secara murni dan konsekwen ternyata malah menjadikan pancasila sebagai alat politik penguasa, sehingga membuat pancasila kehilangan karismanya. Hal ini yang akhir membuat sebagian mahasiswa tidak percaya lagi dengan pancasila.
Sekarang, demokrasi barat telah menghantam pancasila kita secara tidak langsung, terserah anda mau setujuh atau tidak, tetapi yang jelas bahwa;” demokrasi kita adalah demokrasi yang lebih mengedepankan prinsip musyawarah (representatif democracy) inilah yang merupakan semangat untuk melindungi kelompok minoritas. Sehingga demokrasi tidak berarti ”the winner takes all,” sebagaimana demokrasi langsung (direct democracy) yang tergambar dalam tiap pilgub dan pilkada. permusyawaratan merupakan meinfestasi dari faslafah kebersamaan bukan idividualis yang lebih mengedepankan voting.
Ironisnya lagi pembukaan UUD 1945 bertentangan dengan pancasila, hal ini terlihat jelas dari kalimat: atas berkat rahmat allah yang maha kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur. Bandingkan dengan sila pertama Ketuhanan yang maha esa. UUD’45 sebagai ruhnya pancasila mengakui dan menyatakan dengan jelas allah S.W.T namun pancasila tidak berani menyebutkan itu secara jelas. Ketidak jelasanpun semakin terasa dari falsafah/idiologgi kita ini, sampai sekarang kita masih bingung dan bertautan dalam sebuah pertanyaan besar, apakah kita ini sebagai Negara sekuler atau Negara agama? Karena disatu sisi negera membebaskan masyarakat untuk memeluk agama manapun tetapi disatu sisi Negara masih juga mengintervensi terhadap kehidupan beragama bagi pemeluknya.
Akhirnya dapat kita simpulkan bahwa pancasila hanya abadi dalam ucapan dan symbol kenegaraan namun dalam implementasi dan tekhnis dilapangan pancasila sudah tidak lagi abadi, karena pancasila sudah tidak terpakai. Maafkan saya pak, bung, dan kawan – kawan pejuang lainnya dengan penuh rasa hormat yang mendalam saya harus katakan bahwa; kita harus merumuskan ulang gagasan tentang pancasila, ingatlah kebineka tunggal ikaan itu menggambarkan tentang “persatuan” bukan “kesatuan”. Dua kata ini jelas berbeda. Masih ada kemungkinan untuk perubahan, tidak ada yang abadi dalam sebuah stabilitas seperti yang di inginkan oleh golongan konservatif. Federalisme mungkin lebih memudahkan kita dalam melakukan musyawarah mufakat untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang terhujud dalam kemanusiaan yang adil dan beradap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s