Demokrasi Gagap Bangsa Musakat.


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

demokrasi gagap

Seorang dosen bertanya pada mahasiswanya, “kamu pilih siapa, SBY atau Sultan”? mahasiswa tersebut menjawab; “saya pilih sultan pak”! Kenapa tanya dosen lagi? Karena demokrasi kita belum jadi, politisi kita masih gagap dengan demokrasi. Sebenarnya domokrasi itukan berarti “rakyat berkuasa” atau “government or the rule by the people” yang kemudian kita kenal dengan istilah dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat tetapi apakah rakyat kita sudah berkuasa atas pemerintahannya, dan apakah semua kebijakan pemerintah itu sudah diperuntuhkan untuk rakyat ? jawaban itu semua bisa kita lihat dan rasakan sekarang pak! Kita ketahui bersama bahwa “rakyat” adalah konsepsi politik bukan konsepsi aritmatik atau statistic, rakayat tidak harus berarti seluruh penduduk. Rakyat adalah “the common people” atau orang banyak. Pengertian rakyat adalah yang berkaitan dengan kepentingan pablik atau kepentingan kolektif (bersama).

Kebanyakan rakyat kita adalah petani, nelayan, dan buruh. Kita ketahui bersama bahwa demokrasi kita adalah demokrasi keterwakilan dalam sebuah permusyawaratan yang merupakan meninfestasi dari falsafah kebersamaan yang melindungi hak – hak minoritas dan itu terangkum dalam sila ke IV, lalu apakah petani kita, nelayan kita, dan buruh kita, sudah keterwakilkan dalam demokrasi ini ? mereka tidak punya lagi perwakilan di parlement, bagaimana seseorang bisa paham tentang petani sedang dia bukan dari kalangan petani.

 

Demokrasi kita mahal

Ironis menang, demokrasi yang seharusnya menjadi antithesa dari aritrokrasi tatapi disini malah menjadi milik kaum elit yang memiliki modal dan akses politik, sehingga membuat demokrasi kita menjadi begitu mahal. coba hitung berapa banyak anggaran yang harus di keluarkan oleh setiap calon gubernur, bupati, dan wali kota pada setiap pilkada yang mereka ikuti dan coba hitung berapa banyak anggaran Negara yang harus dikeluarkan dalam setiap penyelenggaraan pilkada di daerah – daerah. untuk tingkat pemilihan legislative juga memakan biaya yang besar sehingga bagaimana bisa para nelayan, petani dan buruh dapat ikut serta di dalamnya untuk dapat mencalonkan diri.

Inilah dampak dari “direct democracy” atau demokrasi langsung yang lebih mengedepakan “voting” padahal untuk mencapai ketaraf demokrasi langsung, rakyat/masyarakat kita harus cerdas dan memiliki pendidikan yang tinggi agar tidak salah dalam memilih calonnya sehingga politik uang dan politik pencitraan dalam demokrasi langsung tidak lagi dapat berkembang biak dengan demikian input dan output akan sama baiknya. Ini merupakan Gambaran dari masih gagapnya kita dalam berdemokrasi, akhirnya kita tidak dapat menjalankan demokrasi itu secara total.

 

Demokrasi dan monarki

Di Indonesia demokrasinya masih sama dengan monarki pak,! kenapa ? coba kita ingat mulai dari soekarno dengan demokrasi terpimpinnya membuat beliau begitu enggan melepaskan jabatan sebagai presiden dan bahkan beliau ingin menjadi presiden seumur hidup. Soeharto juga begitu 32 tahun beliau dapat berkuasa dengan demokrasi pancasilanya, gusdur di jatuhkan ketika ingin mengeluarkan dekrit presiden yang dianggap bisa menjatuhkan semangat reformasi, megawati sampai sekarang masih ingin menjadi presiden walaupun sudah kalah dalam pertarungan, SBY dengan demokrasi langsungnya memungkinkan dirinya untuk dapat memimpin tiga priode jika rakyat menginginkan (luhut yang sempat mengajukan hal itu). Seorang sejarah inggris Lord acton pernah mengataka; “manusia yang mempunyai kekuasaan cenderuung untuk menyalahguanakan kekuasaan itu apalagi jika kekuasaan itu tidak dibatasi”. Dari gambaran kepemimpinan presiden kita diatas tampak bahwa mereka seolah – olah menjadi raja dengan kekuasaan yang begitu absolute, mereka begitu hausnya dengan kekuasaan apalagi sejak posisi legislative dan eksekutif kini setara. Presiden mempunyai intervensi yang begitu kuat dalam kehidupan sosial, politik, hukum, dan keaman masyarakat serta elit politik dinegeri ini. Jika mereka tidak mengiyakan printah maka bersiaplah untuk terpingirkan dalam kehidupan politik, dan bagi mereka yang sedia menjadi pengikut maka mereka akan mendapatkan posisi aman. Makanya kemudian muncul istilah “keluarga istana/kerabat dekat istana”. Inilah yang akhir membuat Demokrasi di indonesai hanya menjadi beckround, tekhnisnya tetap sama saja dengan monarki.

Gagapnya para politisi kita dalam menjalankan demokrasi membuat bangsa ini menjadi bangsa yang “musakat” (sengsara/menderita) demokrasi yang seharusnya dapat mensejahterakan rakyat dan menjamin hak – hak hidup rakyat kini malah membuat rakyat menderita. Kerusuhan pasca pilkada dan kolusi pejabat yang harus dikabulkan adalah bagian dari penderitaan itu. Inilah yang melatar belakangi kenapa mahasiswa tersebut memilih sultan dengan monarki dari pada SBY dengan demokrasi, karena “monarkinya” sultan lebih menjamin kesejahterakan rakyat, ketimbang “demokrasinya” SBY.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s