Hegamoni TIMNAS,

bola di depan gawang

AFF Suzuki Cup telah memasuki bapak akhir penyelenggaraannya dengan mempertemukaan antara Indonesia Vs Malaysia di laga final. Sebuah perjalanan yang begitu singkat dan meriah khususnya bagi para pecinta sepak bola di tanah Indonesia ini. Sepak bola begitu mendarah daging di negeri ini, fanatisme seporter jangan ditanya lagi, walaupun sebenarnya prestasi timnas sepak bola Indonesia belum juga memuaskan sampai saat ini.

Banyak pengamat yang mengatakan; selama PSSI belum juga di reformasi dan dibenahi maka jangan harap sepak bola kita akan maju. Memang setelah ditangani oleh alferd riedl permainan sepak bola indonesia sontak berubah, alferd tidak pilih kasih dalam memilih pemain dan penerapan displin yang tinggi terhadap para pemain. Jadi tim ini mulai berubah karena alferd bukan karena PSSI yang sudah 70 tahun tapi belum bisa menghasilkan apa – apa.

Andai Bung Karno masih hidup dan sehat bugar mungkin dia akan marah besar terhadap para pengurus PSSI karena tidak becus membawa sepak bola ke pentas internasional seperti yang ia harapkan, karena Soekarno pernah mengeluarkan Keputusan Presiden berregister 263/`1963 yang isinya tentang misi Indonesia masuk dalam 10 besar olahraga di dunia, alasan Keppres ini di buat berharap SEPERTIGA penduduk Indonesia aktif dalam bidang olahraga sejak bangku SD.

 

Kondisi saat ini

Seperti kita ketahui bersama, Timnas sepak bola kita kembali masuk final piala AFF untuk yang ke IV kalinya, tapi belum satupun berhasil merebut tahta juara, dan kali ini harapan untuk juara begitu besar dari rakyat Indonesia. Media cetak dan elektronik sibuk memberitakannya, hampir setiap hari kita di suguhi berita tentang; pembelian tiket jelang pertandingan, harga tiket yang terus naik, persiapan pemain jelang pertandingan, (sampai persiapan para istri juga diberitakan), serta para pejabat yang akan menonton langsung.

Garuda di dadaku, itulah yang hadir sekarang dibenak masyarakat Indonesia. Pemainya tiba – tiba menjadi publik figure. Harus diakui bahwa opini atau pemberitaan yang begitu besar tentang sepak bola dapat menutup semua pemberitaan penting lainnya (baca: pengalihan issue) sebagai contoh: kita masih ingat bagaimana pemberitaan perayaan piala asia tahun 2007 dapat menutupi kasus lumpur lampindo pada masa itu, dan sekarang pemberitaan tentang perayaan piala AFF 2010 juga sudah mulai menutupi berita tentang; gayus tambunan, status keistimewaan jogyakarta, dan kasus suap di dalam M.K.

 

GBK dan Politik

Timnas sedang merasakan hegamoni yang cukup besar saat ini, semua mata tersorot padanya tidak salah jika kemudian banyak yang ingin ikut tampil bersamanya terutama para elit politik. Kehadiran timnas kerumah abu rizal bakrie mungkin bisa dijadikan sebagai salah satu contohnya.

kemudian pejabat PSSI yang ambil kesempatan dengan menaikan harga tiket demi keuntungan bersama dan mengklem keberhasilan timnas adalah bentuk dari pada kerja keras pengurus, serta sampai kepada permintaan presiden kepada PSSI untuk menurunkan harga tiket Final Leg ke II dengan alasan agar masyarakat dapat membelinya dengan harga terjangkau (kenapa tidak harga beras saja yang diturunkan pak..? biar rakyat tidak ada yang lapar!).

Dari awal kemunculannya memang Gelora Bung Karno (GBK) sangat erat dengan kehidupan politik. setahun setelah pembuatanya,  GBK (kawasan senayan) masa itu dijadikan sebagai bentuk perlawanan soekarno kepada Komite Olimpiade Internasional (International Olympic Committee) dan soekarno kemudian membuat Games of The New Emerging Forces (GANEFO) pada akhir 1962 sebgai tandingannya. GANEFO diikuti lebih dari 2200 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa dengan diliput sekitar 500 jurnalis dari berbagai negara walaupun GANEFO ini di boikot oleh negara barat tetap saja berjalan dengan sukses.

 

 

Penutup

Sepak bola lahir sebgai olahraga rakyat, yang kemudian dikomersialisasikan dengan menjadikannya sebagai sebuah industri (khususnya di Negara – Negara Eropa dan Amerika). Di Indonesia sepak bola terasa begitu mahal, orang kota tak punya tanah lapang, orang desa tak sanggup beli sepatu bola.

KKN ditiap seleksi pemain di semua tingkatan umur ditingkat kabupaten dan kota sangat terasa sehingga tidak menghasilkan pemain yang berkualitas. Hal ini harus dibenahi agar sepak bola di negeri ini dapat berkembang secara baik tanpa harus melakukan naturalisasi lagi.

Sepak bola juga dapat dijadikan sebuah symbol kenegaraan, lihatlah bagaimana brazil dan argentina dapat menjadi sebuah Negara yang terkenal hanya dengan sepak bolanya. Senegal, Negeria, Honduras, Trididat and Tobago, dan kroasia adalah Negara berpenduduk miskin yang berhasil memperkenalkan dirinya melalui sepak bola.

Indonesia seharusnya juga bisa begitu, sudah lama rakyat ini tidak merasakan suatu hadiah penghormatan dan pengakuan dari luar negeri. sepak bola harus dapat memberikan itu dengan menjadi juara pada piala AFF tahun 2010 ini.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s