kunjungan akhir tahun di RSJ

pasien RSJ
RSJ

Seorang mahasiswa yang sedang melaksanakan tugas akhir kuliah melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Jiiwa (RSJ) untuk dijadikan bahan kajian studi pekerja sosial di institusi kesehatan. Selama 6 hari berada RSJ mahasiswa tersebut di temani oleh seorang pekerja sosial yang kebetulan adalah seorang wanita muda, berparas manis, berkulit putih, (sama putihnya dengan baju para perawat), dan berprilaku sopan. Mahasiswa itu sempat berpikir; “andai saja dia menjadi orang gila mungkin dia akan betah di RSJ ini karena akan selalu ditemani seorang pekerja sosial wanita yang begitu cantik dan baik hati.”

RSJ ini adalah sebuah RSJ swasta milik seorang pengusaha minyak lepas pantai dirusia, pasien sama sekali tidak ditanggung biaya dalam masa – masa pengobatan di RSJ ini. Fasilitas yang lengkap dan ditambah lagi dengan para dokter, perawat serta pekerja sosial yang berkualitas dan pemberian pelayanan yang bermutu. Tidak salah jika akhirnya banyak orang yang menitipkan keluarganya untuk mendapatkan perawatan kemari.

 

Hari – hari di RSJ

Beraneka ragam prilaku orang gila yang ada didalam RSJ membuat mahasiswa ini merasa aneh. Di hari pertama dia melihat orang gila menjerit – jerit didalam sel (dengan berteriak; ‘kembalikan uangku’) yang kaki dan tangannya dirantai, setiap 6 jam sekali orang gila tersebut selalu diberikan obat penenang.

Diluar sel ada satu lagi orang gila yang memandikan uang monopoli dalam jumlah yang banyak, setiap orang yang lewat selalu ia beri satu lembar uang monopoli itu, Pekerja sosial itu mendatangi orang gila tersebut dan berkata; sudah cukup bagi bagi uangnya hari ini ya pak, sini uangnya biar saya simpan, bapak istrirahat saja dulu.

Pekerja sosial itu kemudian bercerita kepada  mahasiswa tersebut bahwa kedua orang gila itu adalah nasabah bank century yang menjadi korban pengelapan uang. mereka menjadi gila karena sampai sekarang uang mereka tak jelas ntah dimana dan siapa yang akan menggantinya.

Ironis memang, kasus aliran dana bank century itu sampai sekarang belum selesai juga seolah – olah sudah dipeti es kan. Kasus bank century ini memang belum ada apa – apanya jika kita bandingkan dengan kasus BLBI yang jumlahnya triliunan rupiah.

Dihari kedua mahasiswa melihat seorang laki – laki tua paruh baya yang menangis menatapi sebuah lumpur bekas hujan tadi malam. Makin lama tangisnya diikuti dengan kata – kata makian yang tak jelas arahnya pada siapa, dan kemudian berubah menjadi sebuah ketakutan yang mendalam sampai ia berlari masuk kedalam kamarnya dan tak mau melihat lumpur itu lagi. Pekerja sosial bertindak cepat memanggil clining servis agar segera membersihkan lupur itu dari depan teras kamar pasien tadi.

Pekrja sosial menjelaskan kalau itu adalah seorang pengusaha bakso yang sukses dan menjadi korban lumpur lapindo, dimana warung dan 20 grobak baksonya ikut terendam dalam di dalam lupur itu tanpa sempat diselamatkan dan sampai sekarang rumah dan tanahnya belum juga diganti oleh pihak penanggung jawab.

Enam tahun sudah kasus ini belum tertangani dengan baik, soal ganti rugi rumah, tanah dan bangunan belum selesai, Bahkan sampai sekarang lumpur itu terus melebar dan memakan banyak korban disidoarjo.

Dihari ketiga, mahasiswa melihat suasanan yang paling aneh, dimana orang yang menjadi korban lumpur lapindo, bank century, berkumpul di depan salah seorang pria tua yang memakai stelan baju kemeja, jas dan kopiah, pria tua itu berpidato panjang lebar menyakinkan para pendengarnya. Di belakang pria berjas tersebut, terdapat wanita cantik yang memakai baju PNS, dia dengan setianya berdiri di samping kanan pria tersebut sambil memegang map merah.

Mahasiswa kemudian bertanya kepada pekerja sosial; kak, itu anggota DPR lagi kunjungan ya? Sontak pekerja sosial itu tertawa dan berkata;  itu adalah dua orang gila yang satu gagal menjadi CALEG, dan yang satu lagi gagal menjadi PNS padahal mereka sudah menghabiskan banyak uang untuk itu, bahkan sampai jual tanah dan rumah. Setiap senin sore dia selalu berkampaye dengan menjanjikan akan menyelesaikan kasus century dan lapindo jika ia duduk di parlement.

Hari ke empat, mahasiswa bertemu dengan laki – laki tua yang memakai baju batik, sarung, belangkon dan memegang keris. Dihadapan sebuah bendera dia hormat, dan mengangkat tinggi kerisnya sambil berteriak; “saya siap lawan demokrasi” itulah kata – kata yang keluar. Ternyata beliau adalah abdi dalam keraton yang paling marah ketika kesultanan dicap tidak demokratis. Mengerikan sekali, ditengah – tengah bencana masih ada orang yang tega untuk bicara tentang demokrasi (imbuh laki – laki tersebut).

Dipojok lorong utara RSJ ini, terlihat seorang ibu  yang sedang mengendong boneka bayi sambil bernyayi merdu dan sesekali mengeluarkan air mata. Sedih jika kita melihatnya, mahasiswa tersebut langsung mengingat ibunya di kampung, ditengah hayalan sesaat itu pekerja sosial langsung datang menghampiri mahasiswa dan bercerita tentang ibu yang sedang menggendong bayi tersebut; “ibu itu gila karena anaknya mati kelaparan, suaminya tidak memiliki pekerjaan karena habis di PHK oleh prusahaan yang terkena krisis, karena tidak ada pekerjaan suaminya menjadi seorang pencopet di bus – bus kota, samapi akhirnya tertangkap tangan dan mati karena dipukuli masa.

Apakah itu yang dapat dikatakan pemerintah yang demokratis? Yang begitu diagung – agungkan oleh elit politik gagap demokrasi, (Tanya pekerja sosial kepada mahasiswa) pemerintahan yang hanya dapat membuat rakyatnya menderita tanpa ada bentuk perlindungan apapun. Mendengar kata – kata itu mahasiswa tersebut hanya dapat tertunduk malu dan terdiam.

Tinggal dua hari lagi kunjungan, dan ini sudah memasuki hari kelima; dihari ini ada seorang pemuda yang baru masuk RSJ dia diantar oleh kedua orang tuanya yang sudah murenta termakan usia. Pemuda ini rapi sekali dengan memakai seragam timnas sepak bola Indonesia di piala AFF kemarin. Sepanjang jalan menuju kamar barunya di RSJ ini ia bernyayi; “yo ayo, ayo Indonesia ku ingin kita harus menang”.

Dia adalah salah satu pemuda yang menjadi seporter setia timnas di piala AFF, dia rela antri selama dua hari hanya untuk mendapatkan tiket final piala AFF leg ke-2 disenayan. Sepulang dari senayan Pemuda ini mulai stress kerana harapannya terlalu besar untuk Indonesia dapat meraih juara pada even tersebut, begitu imbuh kedua orang tuanya sebelum pulang meninggalkan RSJ.

Tak lama berselang, tepat di depan musola masjid keluar pemuda usia puluhan dengan memegang photo dan bunga mawar putih dikedua tangannya, pemuda ini membacakan sebuah sajak yang begitu menyentuh hati;

“ketika cinta memangilmu ikutlah dengannya

Meskin jalan yang kalian tempuh terjal dan berliku.

Dan pabila sayap – sayapnya merengkuhmu pasrahlah,serta menyerahlah,

Meskipun pedang yang tersembunyi dibalik sayap itu akan melukaimu.”

“dan jika dia bicara kepadamu, percayalah, walau ucapannya membuyarkan mimpimu,

Bagai agin utara memporak-porandakan pertamanan.

Sebagaimana dia memahkotaimu, cinta juga akan menyalibmu’’

Semua perawat wanita yang mendengarnya tersenyum manis. Sebuah sajak milik kahlil Gibran yang dibacakan oleh lelaki berperawakan manis membuat semua orang terlena. Pekerja sosial berbisik kepada mahasiswa; ‘itu adalah lelaki yang stress karena patah hati, ditinggalkan kekasih pujaan hatinya, lelaki itu terlibat cinta segitiga tanpa status yang jelas’. cintanya seorang mate-matika sahut mahasiswa tersebut.

Hari keenam, adalah hari terakhir bagi mahasiswa berkunjung di RSJ, sebelum ia pulang dan membuat kesimpulan akhir untuk tugasnya, pagi itu di RSJ ia bertemu dengan gadis usia belasan, memakai baju SMA sambil tersenyum manis kepadanya. Body putih nan seksi membuat mahasiswa tertarik untuk mendekatinya.

tiba – tiba seorang ibu – ibu tua menyerangnya sambil menggunakan senjata mainan. Mahasiswa ini terjatuh, ibu tersebut lalu tertawa puas tetapi kemudian menangis memegani wajah mahasiswa ini dan berkata; “anak ku, kau jangan mati, aku masih membutuhkanmu” dan diikuti oleh pelukan erat seorang ibu terhadap anaknya. Mahasiswa hanya bisa terbujur kaku dalam pelukan, tak lama ibu tersebut menjerit sejadi – jadinya dan berlari mengintari lorong RSJ sambil berteriak;” anakku telah mati tertembak, tolong, anak ku telah mati”.

Pekerja sosial yang melihat kejadian itu langsung menolong mahasiswa, sambil tersenyum ia berkata: itu adalah ibu yang anaknya mati di tembak oleh pasukan khusus karena tertuduh sebagai anggota teroris dinegeri ini, walaupun belum ada bukti yang kuat untuk itu tapi nyawa anaknya sudah dihabisi dengan senjata api bangsa jahanam.

Dan wanita yang memakai baju SMA itu stress karena gagal lulus UN pada hal dia sudah lulus testing di perguruan tinggi negeri di Andalusia sana. Bagaimana menurutmu anak muda? Kamu mau jika disuruh bekerja disini menemani mereka?

Mahasiswa itu menjawab; “bisa gila saya jika setiap hari bertemu dengan orang – orang yang tidak waras ini.” Pekerja sosial melotot dan berkata; ‘kamu tau sebenarnya mereka yang ada diluar RSJ ini lebih tidak waras lagi, kenapa? Kerena mereka mampu membuat orang – orang yang tidak bersalah ini menjadi gila, dan kehilangan masa depan dalam hidupnya. Bukankah itu suatu hal yang keji? Dimana perasaan hati dan nalar logika mereka’? saya lebih senang disini menemani mereka sampai mereka sembuh, dari pada harus diluar bersama orang – orang keterlaluan yang tidak memiliki perasaan.

 

Kesimpulan.

Ini adalah gambaran Indonesia kita dari tahun ketahun, korupsi terus meraja rela, uang rakyat ntah dibawa kemana, buka tutup kasus menjadi suatu hal yang biasa. Demokrasi menjadi sebuah estalase politik yang hanya dimiliki oleh elit yang gagap berdemokrasi. Kesejahteraan rakyat korban benca tidak terselesaikan. Lapangan pekerjaan sedikit, tindakan criminal meningkat, masyarakat main hakim sendiri, pihak keamanan sibuk mencari uang damai, dimana hukum? Dimana keadilan?

Cinta dan kasih sayang diperjual belikan yang dapat ditukar dengan materi. Bangsa ini sangat butuh sebuah penghargaan dan penghormatan. Olahraga dipolitisasi, rakyat kelaparan, pejabat pelesiran. Generasi muda di pinggirkan. dimana kita sekarang? Apakah termasuk dalam RSJ atau diluar itu.

Jiwa pemimpin – pemimpin dan anak – anak bangsa di negeri ini sudah sakit, dan itu harus segera disembuhkan dengan resep yang muzarab miliki para budayawan – budayawan yang mengajarkan kejujuran dan kebaikan.

Akhhirnya kita hanya bisa berdoa; Semoga bangsa ini dapat berbenah diri menuju kemajuan yang totalitas dalam memasuki tahun yang baru di 2011.

 

By: mujahiddin

 

3 thoughts on “kunjungan akhir tahun di RSJ”

  1. msh byak kejadian yg blm ditulis di atas ,”sepanjang 2010″
    salah satunya seorang remaja putri yg di usia nya yg sanggat muda harus msk ke RSJ ,di karnakan stres akibat hamil di luar nikah.

    hal ni trjadi di krna teman kencan putri yg baru beranjak remaja trsebut telah trkontaminasi film porno “mirip artis”

    hanya soal video ,sudah banyak manusia yg dirugikan ,,,,,

    apa lg “KORUPSI”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s