Islam, Muhammad dan konsep kesejahteraan umat

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, Maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun . Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (Q.S. 4: 124-125).

 

Perkataan Islam merupakan kata nama kerjaan berasal dari kata akar tiga konsonan s-l-m, dan diterbitkan dari kata kerja bahasa Arab Aslama, yang bermaksud “untuk merelakan, menyerah atau tunduk (kepada Tuhan). Satu lagi perkataan yang diterbitkan dari pada akar yang sama ialah salam (سلام) yang bermaksud ‘sejahtera’.

Hal ini dapat di lihat dari ucapan salam kita sehari-hari sebagai muslim yaitu “As-salamu ‘alaykum” yang artinya selamat dan sejahtera atas kamu, yang merupakan bagian dari doa dan penghormatan kita terhadap sesama muslim. “apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa) Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.”(Q.S. 4:86).

Amalan agama islam yang termasuk di dalamnya rukun islam merupakan lima tanggung jawab yang menyatukan muslim ke dalam sebuah masyarakat serta kemudian di sokong oleh syariat islam yang mengatur sendi-sendi kehidupan masyarakat berdasarkan Al-Qur’an dan As-sunah.

Setelah dua kalimat syahadat dalam rukun islam yang lima, solat dan zakat merupakan pilar penting dalam penyatuan sebuah masyarakat untuk sebuah rasa ikatan solidaritas yang tinggi antar sesama muslim. Panggilan adzan sebelum solat merupakan contoh kecil bagaimana umat muslim dapat disatukan dalam satu tempat (mesjid) untuk satu tujuan yang sama yaitu menghadap Allah S.W.T. “dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku” (Q.S. 2: 43).

 

Muhammad, Pribadi dan kepemimpinan

“…Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu” (Q.S. 33:40).

Muhammad adalah nabi terakhir yang membawa ajaran agama allah (agama tauhid) yang pada masanyalah kemudian islam itu kemudian di sempurnakan. “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu…” (Q.S. 4 : 3).

Perubahan yang besar tidak saja terjadi pada ajaran tauhid agama islam yang di bawa Muhammad sebagai rosul, tetapi perubahan juga terjadi pada tatanan sosial, politik dan budaya. Muhammad yang terkenal dekat dengan kelompok-kelompok marginal banyak mengambil kebijakan-kebijakan yang menguntungkan orang-orang terlemah (mustadh’’afin) oleh sistem sosial politik arab waktu itu, keberpihakan nabi tersebut mengindikasikan adanya kebijakan-kebijakan sosial yang secara subtansial memiliki kedekatan teoritik dengan konsep welfare-state.

Kekayaan tidak boleh di tumpuk terus atau di timbun, kekayaan harus berputar, ekspolitasi ekonomi dalam segala bentuknya harus di hilangkan. Menghilangkan perbedaan antar individu dapat menghapuskan konflik antar golongan dengan membagikan kepemilikan seseorang setelah kematiannya kepada para ahli warisnya. Tahap selanjutnya muhammad memperkenalkan sistem distribusi pendapatan dan kekayaan dalam bentuk zakat, sadaqah, infaq dan waqaf. Dengan sitem tersebut nabi mencita-citakan sebuah masyarakat yang egaliter dan solidaritas. Ini semua dilakukan muhammad dengan prinsip kejujuran dan keadilan, tidak salah jika dari sebelum menjadi nabi, muhammad sudah mendapat gelar al-amin (orang yang terpercaya).

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah” (Q.S. 33:21).

Istilah teladan dalam Al-Qur’an yaitu uswatun hasanah (suri teladan yang baik), hanya terdapat pada dua ayat Al-Qur’an. Satu ayat terkait dengan nabi muhammad dan satu ayat lagi terkait dengan nabi Ibrahim (lihat Q.S. 60:6). Tanpa disadari dalam melaksanakan kegiatan ibadah harian seperti solat allah telah memberikan contoh nyata teladan hasanah di dalamnya.            Dengan menyelipkan contoh nyata tentang dua orang sosok yang patut di teladani tersebut diharapakan kemudian menjadi sebuah visualisasi yang hebat yang dapat membantu untuk terbentuk jiwa kepemimpinan yang baik pada diri manusia. Untuk itu karenanya solat harus dijiwai. Jadi tidak hanya berkualitas dalam bentuk simbolik atau gerakan-gerakan solatnya, namun juga harus berkualitas penjiwaannya. Maka ketika berselawat kepada nabi muhammad dan nabi Ibrahim akan tergambar pribadi ideal yang patut untuk di contoh dalam kehidupan.

Jika itu dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari maka tidak ada lagi 272 kasus korupsi dan 1,5 trilun kerugian Negara seperti yang di catat ICW pada priode 1 Juli – 31 Desember 2010. Tidak ada lagi jiwa – jiwa yang bermental korup, kolusi dan nepotis, jika solat yang di tegakkan sudah benar secara syariat dan hakikat.

“bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. 29:45).

Kesejahteraan Umat

            Nilai – niai kesejahteraan yang terkandung di dalam Al-Qur’an merupakan tugas/kewajiban manusia untuk menegakkan keadilan. Hal itu merupakan perintah. Maka perintah zakat bagi umat islam yang mampu merupakan kewajiban yang bersifat imperatif karena di dalam harta yang kita miliki ada hak orang lain dalam hal ini orang fakir dan miskin. Selain itu terdapat pula larangan untuk memakan harta anak yatim dan orang miskin.

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (Q.S. 107:1-7). Maksud barang berguna tersebut bagi sebagian mufassirin adalah zakat.

Oleh sebab itu maka perintah untuk menegakkan keadilan, melindungin dan menyantuni yang lemah merupakan perintah. Maka dalam Al-Qur’an banyak sekali kita temukan term seperti fakir, masakin, dhu’afa, mustadh’afin dan seterusnya. Begitu juga periintah untuk  zakat, infaq, shadaqah, dan seterusnya banyak disebut, bahkan orang islam yang tidak menunaikannya disebut pendusta agama.

…Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, Maka tetaplah pada jalan yang Lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadanya. dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. (Q.S. 41: 6-7).

Selain itu aturan dalam hal perdagangan, waris, pengelolaan harta rampasan perang, dan seterusnya juga diatur dan diperuntuhkan bagi kesejahteraan dan kemakmuran orang banyak.

Zakat,

Zakat adalah harta kekayaan yang wajib dikeluarkan dan disalurkan kepada orang-orang yang berhak menerimanya kewajiban ini muncul karena harta tersebut telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan sesuai dengan nisab dan batas minimal tertentu sesuai ketentuan syariah dan haul. Kewajiban zakat telah ada sejak awal kelahiran Islam namun pada tahun ke-2 hijrah seiring dengan turunnya perintah mengeluar dalam surat al-Baqarah ayat 43, nabi muhammad SAW. Mulai menjelaskan macam-macam harta yang wajib dizakati dan batas minimal atau nisabnya.

Dimasa keemasan islam pada abad ke-9 hingga 15 M, para petani membayar zakat melalu Baitul Maal. Zakat itu di kelola untuk membangun ekonomi umat, hingga pembangunan perpustakaan. Pada masa itu para petani adalah orang-orang kaya. Tidak heran kalau fiqih banyak di tunjukan kepada mereka. Dimasa sekarang, para petani adalah orang-orang yang hidup sederhana. Namun mereka masih setia membayar zakat, karena fiqihnya masih tetap sama. Sementara orang-orang kaya telah berubah, bergeser dari sektor pertanian ke sektor ekonomi modern di perkotaan yang justru belum tersentuh oleh fiqih.

Fungsi utama Baitul Maal adalah menjamin kebutuhan hidup dan kesejahteraan sosial minimum bagi setiap orang, muslim dan nnon-muslim yang hidup di bawah pemerintahan islam. Sebetulnya ada lima sumber pendapatan utama Baitul Maal yaitu Kharaj, zakat, khums, dan jizya.

Sama halnya pilar zakat dibangun untuk menjamin tegaknya keadilan sosial. Namun fenomena kemiskinan yang menjadi pemandangan paling mencolok di dunia islam, membuat orang berpikir bahwa pilar ketiga itu realitasnya sudah tidak berfungsi lagi. Sebabnya, karena zakat tidak di kelola sebagaimana mestinya. Namun sejak tahun 70-an, lembga-lembaga filantropi islam modern mulai didirikan dengan tujuan menegakkan dan memfungsikan kembali pilar zakat untuk membangun ekonomi umat.

Infak,

Dalam istilah syar’i, infak artinya mengeluarkan sebagian harta yang kita miliki atau pendapatan (penghasilan) yang kita peroleh untuk tujuan yang sejalan dengan syariat islam. Dengan kata lain infak adalah mendermakan atau memberikan rezki (karunia) atau menanfkahkan sesuatu kepada orang lain berdasarkan rasa ikhlas karena Allah Swt.

Berbeda dengan zakat infak tidak ada batas (nisab)-nya. Jadi siapapun bisa berinfak. Infak boleh diberikan kepada penerima yang di hendaki oleh oleh si pemberi misalnya orang tua, anak yatim, panti asuhan dll. Dengan catatan sejalan dengan syariat islam bukan untuk tujuan yang menyimpang seperti kemaksiatan atau kejahatan.

“mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” dan apa saja kebaikan yang kamu buat, Maka Sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya” (Q.S. 2:215).

Sedekah,

Sedekah berasal dari kata shadaqah yang berarti “benar”. Maksudnya yang terkandung dalam pengertian ini bahwa orang yang suka bersedekah adalah “orang yang benar pengakuan imannya”. Sebaliknya orang yang tidak suka bersedekah berarti palsu imannya.

Menurut istilah sedekah adalah pemberian yang di berikan muslim kepada orang lain secara sepontan dan sukkarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Orang yang telah menunaikan kewajiban zakat namun masih kelebihan materi sangat dianjurkan untuk bersedekah.

Wujud sedekah antara lain adalah menyantuni fakir miskin dan yatim piatu, membangun fasilitas yang bermanfaat untuk umum seperti sarana ibadah, pendidikan, kesehatan, perpustakaan, irigrasi dll, yang tidak melanggar syariat.

Nabi Muhammad Saw. Bersabda: “barang siapa mampu dari kalanganmu (umat islam) yang ingin memelihara dirinya dari api neraka, maka hendaklah ia bersedekah, walaupun hanya sebelah biji buah kurma. Barang siapa yang tidak mendapatkannya maka dengan bicara yang baik dan sopan”.

  Jika zakat dan infak memang harus bersifat materi, maka sedekah bisa bermakna kebaikan non materi. Ini untuk menjamin bahwa orang-orang yang tidak kaya secara materi pun masih bisa bersedekah.

Dikisahkan bahwa pada masa Rasulullah Saw. Banyak sekali orang-orang miskin yang cemburu terhadap orang kaya yang bersedekah, Rasul bersabda kepada orang-orang miskin itu: “setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, berbuat baik (amal ma’ruf) adalah sedekah, mencegah kemungkaran (nahy mungkar) adalah sedekah, dan menyalurkan syahwatnya keistri adalah sedekah.”

Penutup.

            Islam memang memiliki konsep kesejahteraan sosial yang sangat tinggi, namun kebanyakan dari kita melupakannya. Tanggung jawab sosial dan keadilan sosial adalah suatu yang harus di tegakkan dalam kehidupan sehari-hari.

Islam selalu mengajarkan kepada umatnya utuk berlomba-lomba dalam kebaikan, dan islam juga selalu mengajarkan pada umatnya untuk mencari reski yang halal guna dapat menolong orang-orang yang ada disekeliling kita.

Bukankah kesejahteraan yang tinggi itu terletak pada “keselamat dunia akhirat” (fitdunya hasanah wafil akhirrati hasanah). Zakat, infak dan sedekah adalah konsep tolong menolong yang harus terus di peliharan dan dikembangkan. Mungkin sebagian dari kita masih ingat bagaiman gerakan 1 koin untuk perita mampu mengumpulkan uang yang begitu banyak.

Andai saja itu dapat tetap kita jalankan dan di kelola dengan baik untuk pengentasan kemiskinan di negeri ini maka mungkin dalam hitungan tahun angka kemiskinan di negeri kita dapat turun dengan derastis.

 

tanggung jawab sosial
filantropi

3 thoughts on “Islam, Muhammad dan konsep kesejahteraan umat”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s