Islam, konsep ilmu pengetahuan dan penghargaannya.

Kata ilmu berasal dari bahasa arab, masdar dari ‘alima ya’lamu’. Di dalam al-Quran sendiri kata ilmu di sebut berulang-ulang sampai seratus lima belas kali. Sama halnya dengan perintah membaca (Iqra), berpikir (Tafakkur), berakal (ta’qilun), berzikir/mengingat (Tazakkarun), kata-kata tersebut merupakan kata-kata kunci sebagai pintu masuk awal (entry poin) dalam menguasai ilmu pengetahuan yang juga bersumber dari agama. Jika ingin teruskan lagi maka akan muncul kata Muhrotal (membaca), Murajaa’ah (mengulang), lalu Makhrijul huruf (pengenalan tajwid /hukum membaca).

***

            Tepat pada malam 17 ramadhan, nabi muhammad menerima wahyu pertama di gua hira melalui pelantara malaikat jibril dengan menyampaikan surat Al’-Alaq ayat 1-5 :
“bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Dengan Perantara kalam Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.)

Dalam kejadian itu di kisahkan dengan penuh rasa ketakutan Muhammad memeluk jibril dan jibril berkali-kali mengatakan Iqra (baca) Bismirobbikalazi holaq (dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan) dan muhammad juga berkali-kali mengatakan kata ketidak sanggupan untuk membacanya. Namun bukan berarti nabi muhammad adalah orang yang buta huruf atau bodoh, tetapi sebenarnya nabi belum sanggup dalam menerima wahyu yang sangat berat tersebut.

Karena harus diakui wahyu itu memiliki konsep ke-ilmuan yang begitu tinggi (baca dan tulis) untuk sebuah pencerahan bagi umat manusia. Selain itu, adanya tuntan untuk menyampaikan informasi antara yang hak dan yang batil, adanya tuntutan untuk pemberian pendidikan akhlak dan moral bagi manusia, dan adanya tuntutan untuk menjadi pemimpin umat yang memiliki keteladanan.

Dari gua hiro itu itulah Al-Qur’an sebagai wahyu pertama kali di berikan kepada Muhammad SAW kerena beliau adalah orang yang memiliki sifat-sifat terpuji. Kemudian  Tuntutan-tuntuan itu harus di jalankan nabi secara bertahap sampai terbentuknya islam yang kaffah sebagai penyempurna agama allah SWT.

Penyampai- penyampai wahyu Al-Qur’an di lakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi waktu dan keadaan yang di hadapi muhammad, lalu kemudian wahyu-wahyu yang di berikan secara  bertahap itu di sampaikan melalui jalur dakwah. Setelah menerima wahyu ke dua yaitu surat Al-Muddatstsir ayat 1-7 :

“ Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.”

Disini nabi mulai melakukan gerakan dakwah menyiarkan agama islam  secara sembunyi-sembunyi, namun setelah menerima wahyu ke tiga yaitu surat Al-Hijr ayat 94 nabi Muhammad SAW mulai melakukan dakwah secara terang – terangan:

            “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (Al-Hijr :94).

Maka kemudian dari wahyu ketiga ini penanaman konsep awal pendidikan ke-ilmuan dilakukan, yang mengajak manusia untuk berfikir tentang petunjuk-petunjuk yang telah di berikan tuhan kepada mereka, walaupun pada masa itu mendapat reaksi keras dari kaum kafir Quraisy tetapi dakwah secara terang-terangan tetap dilakukan oleh Nabi.

Dr. Ahmad Amin, guru besar satra universitas Al-Qahirah mengemukakan bahwa pada awal kemunculan islam hanya tujuh belas suku bangsa Quraisy yang pandai baca tulis. Muhammad SAW menganjurkan pengikut-pengikutnya belajar membaca dan menulis (Aisyah istrinya pun ikut belajar membaca). Anak angkat Rasulallah, Zaid Ibn Tsabit di suruh pula belajar tulisan ibrani dan suryani. Budak-budak belian dibebaskan apabila mereka telah mengajarkan sepuluh orang muslim membaca dan menulis.

Untuk keperluan menyebarkan agama maka berkembanglah  gerakan bertujuan membuat “melek” huruf seperti yang belum pernah ada bandingannya pada masa itu. Kepandaan baca tulis tidak lagi menjadi monopoli kaum cendikiawan. Ini adalah langkah pertama gerakan ilmu secara besar-besaran.

Tidak salah jika kemudian Michael H. Hart dalam bukunya yang berjudul “seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah” menetapkan Nabi muhammad SAW sebagai pribadi yang paling berpengaruh dalam sejarah pada urutan pertama, mengungguli Isaac Newton (urutan kedua), Yesus (urutan ketiga),  Albert Einstein (urutan kesepuluh), Augustus Caesar (urutan ke-19), Martin Luther (urutan ke-23), Goerge Washington (urutan ke-27), Alexsander Agung (urutan ke-34) dan Napoleon Bonaparte (urutan ke-34). Fakta ini sangatlah menarik, kerena Michael H. Hart bukanlah seorang muslim, tetapi dia tetap mengakui pengeruh pribadi Nabi dalam perkembangan sejarah peradapan dunia.

***

                Akal (ta’qilun) di berikan allah SWT kepada manusia sebgai alat agar manusia dapat berpikir dengan baik, maka manusia dikatakan sebagai makluk yang sempurna kerena manusia memiliki akal untuk dapat berpikir dan nafsu sebagai alat untuk mendorong manusia mempunyai ke inginan/hasrat, untuk mencapai ke-inginannya maka manusia akan berpikri dengan menggunakan akalnya. Berbeda halnya dengan binatang/hewan yang tidak memiliki akal dan lebih banyak bertindak atas dorongan nafsu yang tidak tersaring oleh pikiran. Berbeda juga dengan malaikat, yang hanya di berikan akal dan pikiran tetapi tidak memiliki nafsu, sehingga malaikat sama sekali tidak mempunyai ke hendak/ke-inginan tanpa di perintahkan oleh allah SWT.

Setelah membaca (Iqra), berpikir (Ta’fakur) dan Akal (ta’qilun) yang dipergunakan sebagai alat berpikir, maka selanjutnya untuk mempererat ilmu pengetahuan itu adalah dengan jalan berzikir/mengingat (tazakkarun), dengan jalan mengulang lagi bacaan (muhrotal dan murajaa’ah). Inilah kemudian yang tergambar dari pada proses dakwah itu sendiri, kerena fitrahnya seorang muslim adalah menyampaikan kabar gembira atau kebaikan terhadap orang lain (fastabiqul khoi’rot), dalam sebuah sunah dikatakan: “sampaikanlah walau hanya satu ayat”.

Konsep di atas merupakan bagian penting yang kemudian dikembangkan menjadi pola pendidikan: Long life education dan learning by teaching mungkin itu yang harus terus dilakukan seluruh muslim dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Dalam Q.S Al-Mujaadilah ayat 11 dikatakan: “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Begitu berharganya orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan di hadapan allah SWT kerena allah sendiri yang menjamin akan meninggikan beberapa derajat bagi orang-orang yang berilmu pengetahuan. Dalam sebuah hadis yang di riwayatkan oleh Abu Dawud dikatakan bahwa: “barang siapa menempuh perjalanan untuk menuntut ilmu maka allah akan memudahkan jalannya menuju surga. Malaikat akan menaunginya dengan sayap karena ridho terhadap apa yang dilakukannya. Seluruh penghuni langit dan bumi memohonkan ampunan bagi orang yang berilmu pengetahuan, demikian juga dengan ikan di laut”.

Tidak cukup sampai disitu saja, jika orang yang berilmu pengetahuan merasa senang dan bahagia karena ketika diundang ke berbagai penjuru dunia disambut hangat, dihormati, dilayani, bahkan tidak jarang mendapatkan pujian dari banyak orang kerena kedalaman ilmunya, kerena kepandaiannya, maka sungguh ia harus bahagia lagi jika mengetahui bahwa:

“…Mempelajari ilmu kerena allah merupakan ibadah, menyebut-nyebutnya merupakan tasbih, membahasnya merupakan jihad, mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahui merupakan sedekah, menyampaikan ilmu kepada orang yang layak menerimanya adalah pendekatan diri kepada Allah, kerena ilmu merupakan tanda-tanda halal dan haram, menara jalan para penghuni surga. Ilmu adalah pendamping saat takut, teman disaat terasing, teman bicara dikala sendirian, dalil atas kesenangan dan kesusahan, senjata dalam menghadapi musuh, hiasan dihadapan teman…”

Ilmu merupakan kehidupan hati, dari kebodohan dan merupakan lentera pandang dari kegelapan. Seorang hamba mencapai tataran orang-orang pilihan dan derjat yang tinggi di dunia dan di akhirat dengan ilmu. Memikirkan ilmu sama dengan berpuasa. Mempelajarinya sama dengan solat malam. Hubungan kekerabatan dapat tersambung dengan ilmu. Yang halal dapat diketahui dengan ilmu. Ia merupakan imam bagi amal dan amal mengikutinya. Ia memberikan ilham kepada orang-orang yang berbahagia, yang tidak didapatkan orang-orang sengsara. Demikian sabda Rasulullah Saw dari Muaz bin Jabal, yang diriwayatkan Ibnu Abdil Barr an-Namri di dalam kitab al-ilmi dari riwayat Musa bin Atha’al-Qursyi.

***

            Lepas dari itu semua, berpikir adalah merupakan pekerjaan manusia, manusia yang sudah tidak dapat berpikir lagi dapat di katagorikan sebagai “mayat hidup” atau mati secara gagasan, idea dan intelektualitas. Jika hal itu terjadi maka sepanjang hidupnya manusia akan selalu di tipu, dan dipermainkan. Tidak salah kemudian jika socretes berkata: “Aku ada, karena aku berpikri.” Dimana untuk menunjukkan sebuah eksistensinya manusia harus terus berpikir.

Dalam kehidupan modern sekarang ini semua itu terjawab. Hal ini tampak dari situs sejaringan sosial Facebook, dimana hanya dengan mengandalkan kotak bertuliskan “apa yang sedang anda pikirkan” situs ini menjadi situs yang paling banyak di pakai dan di kunjungi para pengguna internet. Dari sini tampak jelas bahwa fitrah manusia adalah sebagai mahkluk yang berpikir dan juga senang untuk mengomentari dan memberikan masukan akan pemikiran orang lain.

Namun, seorang sahabat Nabi Yaitu Umar bin Abdul Aziz yang di juluki sebagai khulafaur rasyidin ke lima itu bertutur indah tentang cara berpikir, “aku mempunyai akal yang aku takut Allah mengazabku karenanya”              ia sangat takut jika akal yang dipergunakannya dalam berpikir hanya menghasilkan kemungkaran/kejahatan bagi hidupnya dan hidup orang lain. Mengambil kutipan dari penulis terkemukan Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya bumi manusia, bawha; “seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”.

Dari sana tampak sangat jelas bahwa Al-Qur’an sebagai sumber ilmu yang diwahyukan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw untuk di sampaikan kepada umat manusia sebagai sumber informasi/pencerahan karena Al-Qur’an sendiri berisikan banyak hal mulai dari:

“sejarah manusia (dari penciptaan sampai kematian), tentang tujuan hidup, tentang penanaman nilai-nilai moral dan akhlak manusia dalam berhubungan dengan Allah, sesama manusia, serta alam lingkungan, memberikan informasi tentang sosial ekonomi yang tergambarkan dalam semangat zakat, puasa, infaq, sedekah, wakaf, Qurban dan pembagian harta warisan, memberikan penjelasan tentang keadilan yang tergambarkan melalui penerapan hukuman yang bijaksana bagi pelanggar keteraturan, dan memberikan pemahaman tentang politik yang tergambarkan dari kepemimpinan para nabi dalam membina umatnya, memberikan semangat perjuangan dan kesetaraan yang tergambarkan dalam ibadah haji, dan memberikan informasi tentang kesehatan yang tergambarkan dalam solat dan puasa, serta masih banyak lagi informasi yang terdapat dan terkandung dalam Al-Qur’an sebagai sebuah sumber ilmu.

 

***

Penutup

Akan tetapi, entah kenapa Al-Qur’an sebagai sumber ilmu yang abadi itu tidak banyak diperhatikan umat muslim lagi sebagai sebuah rujukan ke-ilmuan. Kebanyakan dari kita sekarang lebih banyak mengagung-angungkan teori-teori modern dan post modern yang dikembangkan oleh dunia barat yang nota bene adalah kaum sekuler.

Inilah yang memunculkan salah satu dari tujuh dosa sosial yang sekitar delapan decade lalu diutarakan oleh Mohandas K. Gandhi yaitu: “ Sains tanpa humanitas”. Manusia berpikir terlalu bebas, nuklir diciptakan bukan untuk kepentingan umat manusia, tetapi diijadikan senjata pemusnah masal yang begitu kejam. Ini yang kemudian dikatakan dengan istilah lain oleh Gandhi yaitu: “ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu lumpuh.”

Keduanya harus saling bersinergi dalam kehidupan demi kemasalatan umat, dan islam sebagai agama yang memiliki konsep ke-ilmuan yang tinggi serta menghargai mereka yang berilmu pengetahuan, haruslah menjadi sebuah rujukan kembali bagi dunia pendidikan sekarang. Setelah berapa abad yang lalu sudah kita tinggalkan. Islam berhasil merubah prilaku bangsa arab yang jahiliyah itu menjadi santun dan cerdas, dan islam berhasil merubah prilaku bangsa eropa yang barbar itu menjadi bangsa yang terdidik dan modern.

Harus di akui bahwa bagi mereka yang meninggalkan agama dalam kehidupannya akan mengalami tsunami kehidupan yang berujung pada kematian yang tragis (baca:bunuh diri), kerena hidup mereka bermakna. Contoh kongretnya adalah: Michael Jackson, Curt Cobain, (musikus) Dale Carnegie (motivator), Jess Livermore, Leon Fraster, Ivan Kreuger (pengusaha), Nitzche, Kiekegard (filsuf). Mereka adalah orang yang meresakan penderiataan hidup tanpa makna meninggalkan tuhan dalam hidupnya, dipuncak ketenaran mereka malah mendapatkan kenyataan hidup yang absurd dan hampa.

Inilah yang nampaknya akan terjadi, di puncak prestasinya peradaban modern justru terancam jatuh pada titik kehancurannya. Hari ini dapat dilihat betapa ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sedemikian pesat, namun nyatanya kemajuan tersebut tidak sejalan dengan keselarasan dan kedamaian hidup manusia dimuka bumi ini. ketidak selarasan dan keseimbangan itu tanpak pada seluruh deminsi kehidupan mulai dari; Psikologi, sosial kemasyarakatan, ekonomi, sosial budaya dan politik serta struktur tatanan masyarakat, yang kesemuannya itu berimbas pada meningkatnay stress, depresi dan berujung pada keputus-asaan.

Kembalilah kedalam konsep ilahiya (Ke-tuhan-an) yang sangat sempurna dan bacalah dengan menyebut nama tuhan-mu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Maha benar Allah dengan segala firmannya.

 

 

“Robbilzi’ni ilma warzuknifahma wa amalan solihan”

dakwah
dakwah

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s