pentingnya kepemimpinan

Kepemimpinan

            Pada prinsipnya manusia itu memiliki tabiat madani (sipil dan sosial) dalam artian manusia itu harus memiliki hubungan sosial. Adanya hubungan sosial antara manusia membuat manusia mudah dalam memenuhi kebutuhan – kebutuhannya. Sebut saja seperti makan, untuk mendapattkan makanan yang ada manusia membutuhkan banyak manusia lain untuk proses penciptaan makanan tersebut, mulai dari petani, tengkulak, dan pedagang, kerena tidak semua pekerjaan itu dapat dilakukan manusia itu dengan sendirinya. Demikian juga untuk mempertahankan diri manusia butuh bantuan manusia lainnya. Disinilah letak profesionalisme dan pembagian kerja yang diberikan Allah swt atas manusia.

            Untuk mempermudah itu semua manusia di berikan Allah swt daya pikir dan tanggan sebagai alat untuk merencanakan dan bertindak. Sehingga idea dan gagasan itu dapat terhujud. Kemudian di butuhkan prilaku tolong menolong sesama manusia. Selama hubugan tolong menolong itu tidak terhujud maka untuk mendapatkan makanan serta mempertahankan diri akan sangat sulit terhujud.

            Jadi, hubungan sosial itu merupakan suatu yang urgen dalam kehidupan manusia. Jika hubungan sosial tidak ada maka tidak sempurna hujud mereka, dan tidak terhujud apa yang di kehendaki oleh Allah swt, berupa memakmurkan dunia dengan menjadikan mereka Khalifahnya di bumi. Hal ini tampak penjelasan Al –Qur’an :

“… ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” mereka menjawab: “Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”… (Q.S. 02: 30-33)

            Lalu jika hubungan sosial telah terbangun dianatara manusia, maka dibutuhkan kepemimpinan di dalamnya yang dapat mengatur dan memiliki dominasi dan kekuasaan atas mereka sehingga tidak ada pihak diantara mereka yang bertindak sewenang wenang terhadap pihak lain. Dimana pun manusia berada, mereka harus memiliki seorang pemimpin yang dapat mengatur hidup mereka, baik itu dalam sebuah skup organisasi terkecil seperti keluarga yang memiliki pemimpin di dalamnya yang kemudian di panggil ayah atau bapak. Di dalam prusahaan ada kepala, direktur, menejer dll, dalam tatanan kenegaraan ada camat, walikota, bupati, gubernur sampai presiden, yang ke semuaanya itu mengatur agar manusia dapat tertib dan tidak sewenang wenang dalam menjalankan tugasnya sehingga apa yang diharapkan menjadi tujuan bersama dapat terhujud dengan cepat.

            Kartini kartono dalam bukunya pemimpin dan kepemimpinan menjelaskan tentang pentingnya ketertiban, menurutnya, dalam kompleksitas masyarakat, manusia harus hidup bersama dan berkeja sama dalam suasana yang tertib dan terbimbing oleh seoorang pemimpin dan tidak hidup menyendiri. Kartini menambahkan demi efesiensi kerja dalam upaya mencapai tujan bersama dan untuk mempertahankan hidup bersama, diperlukan kerja koorperatif yang perlu di pandu oleh pemimpin. Selain ketertiban yang perlu kita perhatikan adalah panutan, suatu komunitas memerlukan panutan, yakni sosok yang dianut yang dianggap mampu mengayomi dan melindungi mereka serta bisa diandalkan untuk berdiplomasi dengan komunitas lain.

            Dalam bahasa lain dikatakan sebagai suri telandan (uswatun hasanah), Al-Qur’an sendiri memposisikan Nabi Muhammad S.A.W dan Nabi Ibrahim As, sebagai sosok pemimpin yang baik dan harus di contoh.

“… Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. 33 : 21)

“…  Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. dan Barangsiapa yang berpaling, Maka Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Q.S. 60 : 6)

            Secara sederhana pemimpin itu adalah orang yang memenuhi kualifikasi kepemimpinan. Menurut Dwight D. Eisenhower, kepemimpinan adalah seni atau kemampuan mengajak orang lain untuk melakukan apa yang ada inginkan karena ia ingin melakukanya. Dalam paradigm Ki Hajar Dewantara yang merupakan hasil elaborasinya atas kepemimpinan jawa, mengatakan prinsip kepemimpinan itu adalah ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Ketika berposisi di depan pemimimpin harus tampil sebagai teladan, ketika di tengah membangun prkarsa dan ketika di belakang memberikan dukungan. Artinya pemimpin tidak boleh dia saja, pemimpin itu harus manusia yang optimis, penggerak dan motivator.

Solat dan kepemimpinan.

            Solat adalah wahyu yang diambil oleh rosul tanpa melalui pelantara siapapun, untuk mengambil wahyu solat rosul melakukan perjalanan yang panjang pada masa itu, yaitu; dari masjidil haram (mekah) ke masjidil Aq’so (palestina), setelah itu dilanjutkan ke sidratulmuntaha (dalam istilah lain dikatakan langit ke tujuh) dan perjalanan ini lebih dikenal dengan Isra Mijraz.

            Seperti yang diketahui sebelum di panggil allah swt untuk mengambil wahyu solat, rosul sendiri mengelami sebuah cobaan yang luar biasa ketika diawal masa kepemimpinannya sebagai rosul yang menjalankan dan menyampaikan dakwah beliau harus di tinggal oleh istri tercinta siti khadizah yang juga sebagai penyokong dana dakwah nabi pada masa itu serta paman beliau Abu Thalib juga meninggal dunia yang notabene merawat dan menjaga beliau sejak kecil.

            Kepergian dua orang dekat nabi tersebut membuat beliau sangat sedih, hal ini berimbas pada semangat kepemimpinan nabi pada masa itu mengalami penurunan apalagi setelah mendapatkan perlakuan kasar dan biadab ketika menjalankan dakwa di Thaif. Lepas dari itu, selama perjalanan Isra dan Mi’raj nabi diperlihatkan tanda-tanda kebesaran allah swt, hal ini membuat kekuatan batin beliau menjadi sangat tangguh dan memandang segala ujian yang diberikan kepada beliau itu sangatlah kecil. Buah dari perjalanan Israq dan Mi’raj itu adalah solat. Jika di perhatikan kemudian solat memiliki sebuah gambaran tentang kepemimpinan yang tangguh, kuat, dan bijaksana. Hal ini dapat kita lihat dalam setiap gerakan solat sebagai berikut:

  • Menjadi pemimpin yang dapat memanajemen dengan baik:

Hal ini tampak dari setiap waktu solat fardu yang wajib, dimana merupakan bagian dari pada pembelajaran akan manajemen waktu yang baik. Tidak ada satupun agama yang consen mengingatkan masalah waktu selain islam. Waktu adalah nikmat yang paling besar diberikan allah kepada manusia. Oleh karenanya setiap pemimpin yang baik bisa mempergunakan waktu sebaik-baiknya untuk diisi dengan hal-hal yang bermanfaat dan bernilai bagi banyak orang. Bukan hanya menghabiskan waktu yang hanya digunakan untuk kepentingan pribadi demi mempertahankan kekuasaan. Waktu laksana pedang, jika tidak dapat mempergunakannya dengan baik maka ia akan memenggalmu. Selain itu nilai manajemen tertinggi adalah ketika sedang melaksanakan solat tersebut, kita harus dapat memanajemen anatar akal/pikiran, hati/hasrat, dan lisan/ucapan untuk menjadi satu dalam sebuah tindakan menyembah allah swt. Sehingga tidak ada ketimpangan antar ucapan, pikiran, kemauwan dan tindakan. Pemimpin haruslah bisa menyatukan itu semua, sehingga tindakan dan ucapan seiring berjalan tanpa ada ketimpangan. Bukan hanya sekedar janji dan retorika biasa tetapi haruslah menghasilkan sebuah tindakan yang sempurna berdasarkan apa yang diharapkan dan dicita-citakan bersama. Dalam kata lain istilah ini kemudian dikenal dengan “khusuk” dimana antara akal/pikiran, hati/hasrat, serta ucapan/lisan menjadi satu kesatuan ketika menghadap allah swt.

  • Membangun visi.

Setiap pemimpin harus mempunyai visi yang jelas tentang kepemimpinannya. Didalam solat ini kemudian dapat dikaitkan dengan “niat” ketika hendak melaksanakan solat yang biasanya diucapkan sebelum takbiratul ihram. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim rosul saw bersabda; “sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung pada niatnya dan akan memperoleh balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Maka siapa saja yang hijrah karena allah dan rosul-nya, hijrahnya itu menuju (diterima oleh) allah dan rosul-nya. Dan siapa saja yang hijrahnya karena dunia yang diinginkannya atau wanita yang ingin dinikahinya, hijrahnya terhenti pada apa yang diniatkannya itu.” Secara umum dapat disimpulkan bahwa jika niatnya baik maka kebaikan akan di dapat, dan jika niatnya buruk maka keburukan juga yang akan di dapat. Niat itu menghasilkan visi, maka Niat yang lurus dan bersih akan melahirkan kesungguhan dan ketekunan dalam mengapai visi dan cita-cita. Karenanya tidak akan pernah ada muncul rasa putus asa pada diri setiap pemimpin yang memiliki niat lurus dan bersih dalam mengwujudkan apa yang dijadiakan cita-cita dan visi bersama. Jika cita-cita dan visinya adalah melindungi segenap rakyat, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan meningkatkan kesejahteraan umum. Maka ia tidak akan pernah bosan dan putus asa dalam melakukan ikhtiar untuk itu. Karena pemimpin juga harus sadar bahwa waktu yang diberikan padanya tidaklah lama, maka ia harus memanfaatkan itu semua dengan beriktiar semaksimal mungkin untuk dapat mewujudkan visi menjadi sebuah kenyataan yang dapat dirasakan dan dinikmati.

  • Memciptkan pandangan akan tuhan sang pemilik alam.

Setiap pemimpin haruslah menyadari akan adanya kepemimpinan diatas kepemimpinan, yaitu kepemimpinan allah swt sebagai pemilik alam semesta ini. segala sesuatu yang sudah dirancang dan dilaksanakan haruslah di kembalikan kepadanya. Kerana keputusan tunggal ada disisinya. Hal ini senada dengan prinsip pada takbiratul ihram dalam solat. Dimana, takbiratul ihram menginsyafkan kita akan ke-mahabesar-an dan ke-mahaagung-an allah swt. Dialah yang mengatur dan memelihara alam semesta yang luas ini. dialaha yang menjamin setiap rezeki makhluknya. Dialah tuhan yang maha kaya lagi maha terpuji. Dialah zat yang mahakuasa atas segala sesuatu. Dialah tempat mengadu dan memohon pertolongan. “Bukankah jin dan manusia diciptkan agar mereka menghamba kepadanya”. Jika seorang pemimpin telah memahami dan merasakan makna takbir yang demikian dalam, maka akan menumbuhkan Mindset (Pola pikir) positif dalam dirinya. Ia akan senantiasa memandang segala sesuatu dengan sudut pandang positif. Mindset merupakan sikap mental, sehingga apabila sikap mental tersebut sudah terbangun dalam diri seorang pemimpin jangankan untuk berlaku “korup dan nepotism,” untuk tidur di istana Negara dan menerima gaji besar mungkin ia akan berpikir ulang.

  • Menciptakan Mission Statement

Setelah takbiratul Ihram selanjutnya membaca doa Iftitah. Doa Iftitah tersebut yang diucapkan limakali sehari semalam dalam shalat sejatinya merupakan Mission Statetment. Misi hidup mana lagi yang lebih mulia dibandingkan dengan hanya mengharapkan keridaan allah swt, tidak musyrik, dan senantiasa berbuat ihsan. Sejatinya sholat mengajarkan pemimpin agar dapat menerapkan manajemen yang canggih sehingga menjadi kebiasaan yang efektif dan efesien. Hal ini tampak dari komitment yang biasa diucapkan yaitu; “sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk allah pemelihara allah semesta. Begitulah aku diperintahka, dan aku termasuk orang-orang muslim”.

  • Pemimpin yang dapat berdialog

Dalam hadist kursi dikatakan bahwasuratal-fatiha merupakansuratdimana setiap pembacaannya terjadi dialog antara tuhan dan manusia, pada tiap-tiap ayat yang dibacakan maka tuhan akan menjawab tiap-tiap ayat tersebut. Jika dikaitkan kemudian pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat berdialog dengan baik kepada mereka yang dipimpin. Dan untuk belajar berdialog dengan baik itu terdapat di dalamsuratal-fatiha sesuai dengan hadist kursi tadi.

Lepas dari itu al-fatiha berarti pembuka yang sempurna bagi segala macam kebaikan dan keberhasilan. Serta murupakan pedoman dasar bagi kecerdasan hati, dan juga merupakan bekal yang sangat penting untuk menggapai cita-cita dan harapan.Adabanyak hal yang terdapat dalam tiap ayatsuratal-fatihan untuk membangun jiwa kepemimpinan diantaranya :

  • Menimbulkan sikap percaya diri; memulai setiap pekerjaan dengan bismillah (atas nama allah) akan menumbuhkan kepercayaan diri yang sangat kuat karena kita bertindak sebagai wakil (khaliffah) allah dan atas nama allah yang maha agung. Seluruh potensi diri di dayagunakan secara maksimal untuk mengemban dan menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi. Sebagai wakilnya tentu akan menaati yang mewakilkan urusan tersebut. Allah menunjuk manusia sebagai khalifah dibumi untuk memakmurkannya, bukan untuk merusaknya. Lalu, semestinya harus berlomba-lomba dalam memakmurkan dan mensejahterakan bumi sebagai bentuk nyata pemegang amanah yang telah dipercayakan.
  • Menciptakan rasa sukur; allhamdulilahi robbil alamin adalah sebuah pentuk rasa sukru yang mendalam. Setiap pemimpin harus memiliki rasa sukur atas apa yang telah ia raih dan ia miliki. Dan terus melakukan ikhtiar dalam segala kegiatan.
  • Memiliki rasa sayang; Ar-Rahman Ar-Rahim, mengajarkan setiap pemimpin untuk dapat memiliki rasa kasih dan sayang terhadap sesama, terlebih kepada orang yang mereka pimpin. Sifat pengasih dan penyayang ini ditunjukkan dengan tindakan yang tidak merugikan orang lain dan berusaha untuk selalu membantu dan menolong orang lain yang membutuhkan atau dalam kesusahan agar mampu keluar dari masalah yang dihadapi.
  • Memiliki semangat Visioner; Maliki yaumiddin, mengajarkan agar selalu berorientasi pada masa depan, memiliki harapan yang jelas, dan perencanaan untuk setiap langkah yang ditempuh sehingga akan memunculkan kesadaran yang penuh bahwa untuk meraih kesuksesan dan kekuasaan tidak bisa ditempuh dengan cara-cara yang tidak terpuji dan licik. Dalam hal ini jelas, pemimpin diajak untuk “bertindak dunia berpikir akhirat”. Masih hidup di dunia tetapi sudah diajak untuk memikirkan perkara akhirat. Jika hal ini diberlakukan, maka tidak salah setiap pemimpin akan selalu berpikir tentang tanggung jawabnya kedepan jadi tidak lagi bersikap praktis tetapi lebih bersikap “willnes”. Dari visi inilah kemudian yang akan mengarah seorang pemimpin agar tetap on the right track.
  • Kemauwan untuk berdoa; iyyaka na budu wa iyyaka nasta in, pemimpin yang tidak mau berdoa adalah pemimpin yang merugi, karena doa adalah kekuatan pendamping yang kukuh dan startegis untuk dapat sukses dunia dan akhirat. Menyikapi kehidupan yang kompleks ini tidak cukup mengandalkan kekuatan akal dan pikiran semata, karena banyak hal yang tidak diketahui dari pada diketahui.
  • Membangun sikap konsistensi; ihdinash shirathal mustaqim pada ayat ini pemimpin diajarkan tentang pentingnya istiqomah atau kosistensi sehingga bisa sampai pada shirathal mustaqim (jalan yang lurus dan benar) yang akan mengantarkan kepada kesuksenan dan kebahagian dunia akhirat. Sikap konsistensi sangat diperlukan untuk bisa meraih kesuksesan dalam memimpin. Setiap kesuksesan pasti memerlukan proses dan untuk melalui proses tersebut diperlukan sikap konsisten. Seberapa terjalan jalan yang ditempuh dan seberapun beratnya medan yang dihadapi, jika tetap konsisten semua itu akan mudah untuk dilalui. Ingatlah karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, (Q.S 94 : 5).
  • Membangun sikap Continuos Improvement; shirathal ladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdubi ‘alaihim waladhdhalin ayat ini mengajarkan pemimpin tentang arti penting evaluating and continuos improvement. Selama menyusuri jalan kepemimpinan teruslah asah hati, pikiran, pelaksanaan tugas dan kewajiban serta cita-cita secara terus menerus agar terbentuk satu tingkatan baru yang lebih baik dan sempurna.

Inilah poin-poin kepemimpinan yang sangat penting yang dapat diambil dari pada konsepsuratal-fatiha. Lepas dari itu semua Selanjutnya kepemimpinan itu harus bisa:

  • Sinergi anatar akal dan hati

Posisi rukuk pada solat menggambarkan keseimbangan antar akal dan hati. Akal tidak sombong dengan kecerdasannya, hati juga harus tetap tawaduk. Karena pada prinsipnya posisi rukuk mengajarkan seorang pemimpin akan keseimbangan dalam menggunakan akal dan hati. Pemimpin harus mampu mengunakan akal dan hati secara seimbang dalam mengambil keputusan.

  • Berpikir dan bertindak strategis

Ini tergambar dalam rangkaian Tuma’ninah yang artinya tenang dan berhenti sejenak. Pentingnya Tuma’ninah dalam solat sebagai waktu jeda untuk menyempurnakan gerakan sholat. Tuma’ninah mengajarkan seorang pemimpin agar tidak tergesa-gesa dalam bertindak dan mengambil keputusan, karena seorang pemimpin harus mampu bertindak dan berpikir strategis dalam setiap pengambilan keputusan agar tidak merugikan banyak orang.

  • Sikap tawakal

Bacaan I’tidal yang artinya; “allah maha mendengar orang yang memujinya, tuhan kami segala puji bagimu” mengajarkan pemimpin agar bersikap tawakal dengan mengembalikan segala sesuatu urusan kepada allah swt tuhan sekalian alam. Dialah yang haq atas segala sesuatunya. Ingat bagaimana firaun dengan sikapnya yang sombong di hancurkan oleh kekuasaan allah melalui pelantara nabi musa a.s dengan sikap yang tawakal dan kekuasaan firaun yang mengakui dirinya adalah tuhan hancur dalam seketika.

  • Sikap tawaduk

Sujud merupakan gerakan yang sangat mengesankan dari dinamisasi solat. Ketika semua orang menganggap bahwa kepala merupakan sumber kemulian, akan tetapi ketika sujud kepala sejajar posisinya dengan kaki. Artinya pemimpinn harus mempunyai sikap tawaduk dalam kepemimpinannya. Tawaduk merupakan cermin dari sebuah pengendalian diri akan pengenalan tuhan serta mengenal hakekat hidup. Pemimpin yang unggul dan sukses adalah pemimpin yang mempunyai sikap tawaduk (rendah hati) karena dengan rendah hati akan dapat dengan mudah menerima dan mendengarkan pendapat orang lain, dapat meluaskan visi pandangan, serta akan dengan mudah mendapatkan ilmu dari siapapun. Dalam istilah yang lain dapat dikatakan pemimpin yang  pro rakyat dan dekat dengan “wong cilik” serta lebih sering “TURBA” (Turun Kebawah) mendengarkan aspirasi rakyatnya. Bukan pemimpin yang asik nongkrong di istana serta kunjungan keluar negeri.

  • Sikap optimisme

Ini dapat tergambar pada posisi duduk diantara dua sujud (iftirasy). Doa yang dibacakan ketika duduk diantara dua sujud dengan penuh hati akan mampu menumbuhkan optimisme dalam diri. Pada saat duduk diantara dua sujud tersebut doa yang diucapkan anatar lain adalah; memohon ampunan, rahmat, dicukupkan dari segala kekurangan, ketinggian derjat, rezeki, petunjuk, kesehatan, dan kesejahteraan.

  • Belajar dari pemimpin yang terdahulu.

Dalam tahyat akhir berkali-kali di ulang kata muhammad dan Ibrahim. Dalam ibadah ritual sehari-hari seperti solat, allah menunjukkan dan memberikan contoh dua teladan hasanah yang wajib untuk ditiru kepemimpinannya dalam menyebarkan dan menegakkan agama allah swt. Lihat ayat di atas QS. 33 : 21 dan QS 60 : 06.Para pemimpin sekarang haruslah belajar kepada dua tokoh pemimpin tersebut khususnya nabi muhammad. Tidak salah kemudian Michael H. Hart dalam bukunya seratus tokoh yang paling berpengaruh di dunia meletakkan nabi muhammad sebagai pribadi yang paling berpengaruh dalam sejarah pada posisi pertama. Banyak contoh kepemimpinan para nabi mungkin yang dapat pelajari dan tiru, tetapi nabi Ibrahim dan Muhammad Saw, merupakan contoh kepemimpinan yang baik dan tepat yang diberikan allah kepada setiap manusia sebagai pemimpin di muka bumi ini.

  • Harus dapat mensejahterakan

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat mensejahterakan orang-orang yang mereka pimpin baik secara spiritual dan material, secara rohani dan jasmani, memberikan rasa damai serta melindungi untuk keselamatan, kerana itu adalah tugas akhir dari seorang pemimpin. Hal ini tergambar dari pengucapan salam ketika akhir solat. Salam sendiri artinya adalah keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan. “As-salamu ‘alaikum wa rahmatullaah” (“keselamatan dan rahamat allah semoga tetap pada kamu sekalian). Lepasa dari itu salam juga merupakan pondasi awal untuk membuka Networking atau dalam bahasa sederhanannya silaturrahmi antara umat manusia. Pemimpin yang baik juga harus mempunyai hubungan silaturrahmi yang baik antara sesama manusia, agar mudah dalam melakukan hubungan kerja, sehingga tidak ada lagi pemimpin yang kaku. Dalam dunia bisnis misalnya pemimpin yang mempunyai networking yang baik akan cepat sukses dan maju dalam mengembangkan usahanya.

  • Disiplin

Ini adalah poin terakhir dari kepemimpinan yang terangkum dalam kegiatan solat, disiplin atau tertib merupakan poin penting dalam solat, jika solat tidak tertib maka solatnya tidak sah. Tertib dalam artian gerakan dan bacaan dalam solat harus dilakukan sesuai dengan urutan ketentuannya. Dalam kepemimpinan juga begitu, pemimpin harus bisa memberikan contoh kedisiplinan dan ketertiban kepada bawahannya, jangan karena sudah jadi pemimpin berkelakuan sewenang-wenang dengan datang terlambat dll.

Penutup

            Jika kemudian harus disimpulkan secara umum maka pemimpin yang di munculkan dalam konsepsi solat yang tergambarkan seperti diatas itu haruslah memiliki manajemen yang baik, visi dan misi yang kuat, keyakinan akan tuhan, dapat berkomunikasi, mempunyai kepercayaan diri, memiliki rasa kasih sayang dan sukur, kosisten, sikap untuk terus membangun, netral atau objektif, bertindak strategis dan bersinergi, tawakal dan tawaduk, selalu optimis dan belajar dari pemimpin yang dahulu, serta disiplin dan dapat mensejahterakan.

            Dari uraian poin-poin diatas tampak bahwa konsep kepemimpinan dalam solat merupakan konsep kepemimpinan yang luar biasa yang tidak pernah disadari. Oleh karenanya tidak salah kemudian pasca Isra dan Mi’raj nabi muhammad SAW kepemimpinan beliau sangat kuat dan tangguh hal ini kemudia menjadikan islam berkambang sangat pesat dan menjadi sebuah peradaban baru bagi umat manusia serta mengusai hampir ¾ belahan dunia pada masa itu.

            Maka solat itu harus di jiwai agar dapat membentuk pribadi dan karakter kepemimpinan yang baik. Bukankah solat itu mencegah dari segala perbuatan keji dan mungkar ?   

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s