risalah akhir ramadan

Tidak ada cerita yang lebih enak untuk ditulis selain dari pada cerita manusia dan kehidupannya yang penuh dengan derama hubungan antar sesama. Manusia pada dasarnya dilahirkan untuk hidup berkelompok agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara menyeluruh, tanpa itu semua manusia mustahil bisa menjadi seperti sekarang ini.

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S 49:13)

Dalam kajian sosiologi hal ini dapat dikatakan sebagai social interaction (interaksi social), tetapi ada satu semangat yang teramat penting dalam menjaga interaksi social itu tetap baik, yaitu semangat silaturrahmi. Dalam islam sendiri tiap – tiap umat manusia di anjurkan untuk tetap dapat menjaga tali silaturrahmi karena hanya dengan itu banyak hal akan terbuka, di antaranya adalah pintu rezki dan pintu jodoh.

Sebagian dari kita mungkin pernah mengalami hal itu, hanya dengan berkunjung ke tempat teman atau saudara kita mendapatkan suatu hal yang baru, entah itu di tawarkan pekerjaan, di kenalkan dengan banyak orang dan lain sebagainya, tanpa disadari kita sudah dapat membuka suatu jejaringan baru dalam kehidupan ini.

Namun, kehidupan tidak berjalan sebegitu mulusnya, pasti dalam tiap menit dan jam nya kita mendapati sebuah insiden yang membuat hubungan kita dengan teman atau orang lain menjadi renggang dan terpisah. Banyak hal yang menyebabkan ini, entah itu karena masalah komunikasi yang kurang baik, egoisme diri yang tak berujung, kepentingan akan ekonomi, perebutan status social, popularitas, dan sebagainya. “Rakusisme” manusia yang akhrinya membuat manusia itu menjadi seperti itu , “rakusisme” bisa muncul karena tidak adanya control diri akan nafsu yang membabi buta sehingga melupakan kepentingan orang lain dan kepentingan hidup bersama.

Untuk itu kemudian harus ada perbaikan akan sikap pada diri kita terhadap orang lain yang ada disekitar kita, perbaikan sikap bisa di mulai dengan saling memaafkan serta mengakui akan kesalahan pada diri sendiri, hanya dengan itulah tali persaudaraan akan terikat kembali. “orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Q.S 49:13).

            Terlihat jelas dalam ayat diatas bahwa ada perintah kita untuk dapat memperbaiki hubungan dengan saudara kita sesama orang-orang yang beriman. Tidak ada kata tidak karena hanya dengan itu kita akan mendapatkan rahmat allah swt. Momentum idul fitri kali ini harus dijadikan awal bagi terbentuknya sikap pemaaf dalam diri dan menyegarkan kembali hal yang fundamental dalam keseharian yaitu nilai pesaudaraan.

Dalam suatu riwayat; “seorang pria bertanya kepada rosulullah tentang akhlak yang baik, maka beliau membacakan firman allah, “jadilah engkau pemaaf dan perintahkan orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpaling lah dari orang-orang yang bodoh.” (Q.S. al-A’raf : 199). Kemudian beliau bersabda, “itu berarti engakau harus menjalin hubungan dengan orang yang memusuhi mu, memberi kepada orang yang kikir kepada mu dan memaafkan orang yang menganiayamu”. (HR. Ibnu Abid – Dunya). Sangat jelas pesan rosulullah kepada kita agar dapat menjadi manusia yang rendah hati dan pemaaf karena kerendahaan hati akan memunculkan rasa pengertian yang tinggi dan membuang jauh sikap egoisme tak terbatas.

 

Manusia Modren.

Kata modern menjadi sebuah kata yang sangat membanggakan dalam beberapa tahun belakangan ini bagi manusia. Abad modern sendiri di tandai dengan munculnya revolusi industri yang di dukung dengan berkembangannya ilmu pengetahuan dan teknologi. Penemuan – penemuan baru pun muncul dimana penciptaannya diharapakan dapat mempermudah pekerjaan manusia sebagai makhluk social dan ekonomi.

Walaupun dapat mempermudah pekerjaan manusia tetapi semuanya belum tentu dapat mewakili kehadiran dan eksistensi manusia pada dimensi yang berbeda. Tenaga manusia mulai di gantikan oleh tenaga mensin yang lebih murah dan lebih produktif, bagi mereka yang tidak dapat mempergunakan teknis tentang mesin-mesin industri maka mustahil dapat dengan mudah memperoleh perkerjaan.

Abad teknologi mengharuskan manusia untuk dapat “pintar-pintar” dalam mempergunakan alat-alat yang diciptakan oleh manusia lain. Penguasaan akan computer, handphone, serta internet menjadi keharusan-harusan baru. Sisi positif dari itu tentu ada, dimana semua pekerjaan lebih mudah dilaksanakan dan akses informasi yang cepat dapat disajikan. Hal itu membuat dunia tiba-tiba berubah menjadi begitu dekat dan sempit hanya kerena media tekhnologi tersebut.

Dalam abad 21 sekarang ini, media komunikasi muncul bagitu cepat, tanpa bisa tertandingi oleh manusia sebagai pengunanya, belum lagi habis eksistensi Friendster, facebook sudah muncul sebagai pesaing, belum sempat lama mempergunakan facebook, twitter muncul menampilkan hal yang berbeda, Pak pos banyak kehilangan perannya ketika telegraf, sms dan e-mail muncul sebagai sytesis baru dari surat yang kaku. Sytesis – sytesis ini masih akan terus berlanjut entah sampai kapan.

Jauh lebih kedalam juga harus diketahui bahwa Kesemuanya itu muncul dan laku dikalangan manusia hanya karena manusia modern sekarang ini masih tetap haus dengan yang namanya hubungan komunikasi dan silaturahmi antar sesama. Poin ini penting untuk dicatat sehingga kita tau, bahwa tidak ada alasan untuk tidak dapat menjalin silaturrahmi dalam abad modern seperti sekarang, karena sesibuk apapun kita, silaturahmi masih tetap bisa terjaga.

Lepas dari itu semua, sisi negative tidak bisa di bantah juga ikut muncul di kemudian hari. Dalam perbincangan dengan dosen sosiologi pembangunan ia menganalisis bahwa semakin maju manusia pada abad modern ini maka ia semakin senang berteman dengan benda mati ketimbang dengan manusia sendiri. Hal ini memamang tampak sekarang, manusia lebih senang membuka hendphone dan laptopnya ketimbang berbicara dengan orang yang ada disebelahnya. Bukan itu saja, manusia lebih senang menonton siaran konser lewat televisi ketimbang datang langsung ketempat acara tersebut.

Tidak sampai disitu saja, hal ini kemudian membuat manusia memudahkan segalanya, bahkan terkadang, lebih suka mengucapkan kata maaf lewat pesan singkat lewat sms, e-mail, f.b, dan twitter. Padahal, ada hal yang terlewatkan jika kita tidak datang langsung untuk mengucapkannya. sapaan hangat, senyuman manis, tawa, pelukan kerinduan, jabatan tangan yang erat, serta dapat saling memperhatikan dan melihat kondisi fisik saudara kita secara langsung, makin gemuk kah, kurus kah, makin hitam atau putihkah kulitnya adalah sisi – sisi lain yang memang terlewatkan jika kita mewakilkannya lewat tekhnologi yang serba canggih itu.

Jabatan tangan memiliki makna simbol yang mendalam. Jabatan tangan atau bersentuhan tangan (mushafahat) memiliki makna “membuka lembaran baru” hal ini sesuai dari makna dasar mushafahat yaitu ‘lembaran’. Jadi membuka lembaran baru ini tidak dapat dilakukan sepihak tetapi harus kedua belah pihak, karena di butuhkan kolaborasi dalam hal ini, dan jabatan tanganlah yang menggambarkan kolaborasi tersebut dengan adanya kesepakatan bersama untuk membuka lembaran baru dalam hidup.

Dari sini kemudian dapat diketahui bersama bahwa eksistensi manusia dan peranan manusia sampai kapan pun tidak akan perdapat dapat tergantikan atau terwakilkan oleh tekhnologi secanggih apapun. Makanya tidak salah banyak teman atau saudara kita di tanah air ini yang tetap memilih untuk mudik pulang ke kampung/desa agar dapat bertemu langsung dengan sanak saudara, teman dan kerabat dekat.

 

MUDIK

Banyak esensi yang terdapat dalam kata mudik, tidak hanya kembali pulang ke asal atau kampung halaman tetapi mudik juga dapat di artikan kembali ke awal, ke titik nol kehidupan. Cendikiawan muslim Nurcholis Majid pernah mengatakan bahwa mudik merupakan fenomena kembali ke asal. Kembali keasal, karena disanalah setiap orang akan menemukan kebahagiannya.

Mengapa kembali keasal begitu membahagiakan ? karena dari sanalah tapak-tapak keberhasilan di mulai. Disamping itu dari sana juga jalinan-jalinan cerita masa kecil di bangun, cerita-cerita itulah yang makin memperkokoh tali persaudaraan. Itulah sebabnya John Howard Payne pernah bersenandung melalui lagunya yang sangat terkenal, “Di tengah kemewahan dan istana – istana kemanapun kita mengembara, sekalipun amat sederhana, tidak ada tempat yang lebih indah dari pada rumah kita sendiri (Home sweet home).”

Begitu indahnya lagu itu terdengar, meruntuhkan segala makna kemewahan yang ada diluar sana. Menyempatkan diri untuk berhenti sejenak menikmati waktu berkumpul dirumah bersama saudara dan bercerita tentang nostalgia masa kecil merupakan hal yang sangat menarik dan membahagiakan.

Namun, bukan berarti kita harus lupa dengan rutinitas kehidupan sehari-hari, karena dari sana juga kebahagian dapat muncul melalui perjuangan hidup yang tak terkira untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari guna memperoleh masa depan yang gemilang. Tidak heran jika kemudian mudik juga diibaratkan mendaki puncak gunung. Kerena setibanya di puncak kita tidak bekerja melainkan menikmati pemandangan dan kebersamaan yang menakjubkan. Akan tetapi, tidak berlama-lama dipuncak gunung, karena dalam waktu yang relative singkat kita harus turun kembali ke lembah, karena di sanalah lahan kita untuk bercocok tanam sudah menunggu.

 

Penutup

            Dinamika hidup terkada membuat manusia suka melupakan hal – hal penting seperti itu, untuk saling memaafkan dan berjabat tangan pun kita sudah mulai enggan seolah – olah ada tembok kaca yang membatasi kita. Tekhnologi sebenar menawarkan kita alternatif baru untuk mempermudah hal itu agar kita tidak melupakannya secara total. Namun akan tetapi teknologi sendiri belum mampu mewakili kehadiran kita terhadap hal itu.

Sehingga, selayaknyalah kita harus tetap dapat mengusahakan kehadiran diri kita untuk dapat melakukan hal itu secara langsung tanpa harus ada yang mewakili, walaupun memakan banyak waktu dan energi, tetapi kita dapat memperoleh makna – makna yang tersirat di dalamnya. Kapanpun dan dimana pun. Tidak harus sekarang, masih ada esok, lusa, atau nanti yang penting kita harus tetap melakukannya.

 

Selamat hari raya idul fitri

1 Syawal 1432 H

Mohon maaf lahir dan batin.

 

“ … Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.”

(Q.S. Al Anfaal : 01)

jabat tanganku
jabat tangan ku,

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s