Sumpahku, sumpah pemuda.

“Usia pemuda di negeri ini samar nak. Umur 40 tahun masih di bilang pemuda

 Hahahaha..”

Ini hari ketiga ku datang kerumah laki-laki tua ini. Pak Pur namanya, dia salah satu kombatan pemuda yang ikut terlibat pada sumpah pemuda 1928. Sekarang ia hanya bisa terbujur kaku di atas kasur tempat tidur miliknya yang hampir rubuh dimakan rayap. Walaupun begitu, ia masih bisa bercerita dengan semangat jika ditanya soal sumpah pemuda masa itu. Aku selalu datang kerumahnya pada waktu sore, mengajaknya diskusi tentang kepemudaan.

            “Aku tau nak, kau pasti masih ingin mendengar cerita ku tentang sumpah pemuda itu, tapi sebenarnya kau bisa pelajari itu dari sejarah. Terkadang aku masih merasa merinding jika harus mengingat itu kembali, dan aku juga terkadang merasa sedih jika melihat kondisi pemuda hari ini.”

            “Memangnya ada apa dengan kondisi pemuda kita hari ini pak? Bukannya memang wajar jika kemudian kondisi atau prilaku pemuda kita hari ini berbeda dengan kondisi pemuda kita masa 1928. Bapak kan bisa lihat, dulu kita belum merdeka masih terjajah, sedangkan sekarang kita sudah merdeka walaupun pada hakikatnya memang belum tercapai tujuan dari kemerdekaan yang kita harapkan itu.”

            “Apa kau tidak melihat nak, pemuda kita hari ini sudah rapuh, mereka sudah jauh tertelan oleh budaya global yang membuat mereka lupa pada semangat kebangsaan mereka sendiri.”

            Aku hanya bisa terdiam mendengarkan kata-katanya, walaupun dia diatas tempat tidur dan matanya sudah mulai susah memandang sesuatu, tetapi dia masih bisa mengetahui semangat pergerekan pemuda hari ini. “Nak, aku tau kau pasti tidak terima perkataanku ini, karena kau adalah bagian dari pada pemuda hari ini, pemuda yang sudah lupa pada bangsanya, pemuda yang terjajah oleh kaum tua.”

            “Kaum tua pak?”

            “Ya, kaum tua, kau tidak lihat nak, pemuda hari ini dijajah oleh kaum-kaum tua, coba kau lihat berapa banyak anak-anak muda yang diberikan kesempatan untuk memimpin organisasi di negeri ini. baik di pemerintahan maupun di pergerakan. Usia pemuda di negeri ini samar nak. Umur 40 tahun masih di bilang pemuda. Hahahaha..” seketika ia tertawa lalu terdiam dan melanjutkan.

            “Nak, kau harus dengar ini baik-baik, sampai kapan pun tidak akan pernah ada yang namanya kemerdekaan dan kebebasan. Kau akan terus terjajah, bangsamu dan dirimu.”

            “Kenapa begitu pak, bukannya penjajahan itu sudah tidak ada lagi?”

            “Kau tidak merasakan itu berarti. Pahamilah, dulu kita dijajah oleh para raja sebagai pemilik tanah atas nama kepatuhan, kemudian kita dijajah oleh bangsa lain atas nama kolonial, setalah merdeka kita masih saja dijajah oleh pemerintah kita sendiri atas nama peraturan dan regulasi yang bersifat ganda demi mempertahankan kekuasaannya. Sekarang kita dijajah oleh multinational coporation atas nama teknologi dan modrenitas dan yang ironis tanpa disadari kita sudah dijajah oleh diri kita sendiri atas nama obsesi dan kehendak yang berkedok nafsu belaka demi eksistensi sesaat yang bisa buat sesat, huhuh,” Pak tua ini berhenti berbicara mengatur laju nafasnya yang terasa sesak berlarian dengan kata-kata yang panjang.

             “Saya paham maksud bapak, jadi apa yang harus kami lakukan sekarang pak sebagai generasi muda?”

            “Aku tau nak, di luar sana masih ada pemuda yang mempunyai semangat idelisme yang tinggi dan terus berjuang demi bangsanya walaupun mereka tidak dapat tempat dan selalu dikucilkan. Namun, generasi kalian sekarang harus lebih siap dari hari ini. Aku akan katakan padamu nak, hampir semua kejadian di negeri ini mempunyai siklus dua puluh tahunan. Perhatikanlah, 1908 yang di klem sebagai tahun kebangkitan nasional akhirnya menyatukan semangat nasional semuanya pada 1928, ada rentang 20 tahun disana. Dan memerdekan bangsa pada 1945 juga hampir mendekati 20 tahun setelah kejadian itu. Kemudian muncul gerakan 1965 yang berhasil menjatuhkan pemerintahan yang berkuasa masa itu. 1975 gerakan pemuda juga muncul dan hampir saja menjatuhkan rezim yang berkuasa. 1995 gejolak politik antara kaum muda dan tua yang terus memanas dan berhasil menjatuhkan pemerintahan pada 1998. Jika dihitung siklusnya gerakan masa itu muncul 20 tahunan atau hampir setiap satu generasi sekali dan gerakan itu selalu digagas oleh para pemuda. Maka kalian harus bersiap untuk 20 tahun kedepan pasca 1998, yaitu tahun 2018.”

            “2018 ?  Berarti masih ada rentang tujuh tahun lagi pak?”

            “Ya, walaupun bisa saja lebih cepat atau lebih lama dari itu, tergantung pemuda sekarang, Kalau kalian lemah, maka gerakan itu tidak akan penah terjadi.”

            Waktu sudah hampir malam, anak-anak Pak Pur sudah mulai berpulangan dari tempat kerja, dan aku terpaksa pamit dan mengatakan akan datang kembali lain waktu. Sebelum berpisah Pak Pur berpesan: “Nak sampaikan lah kepada kawan-kawan mu para pemuda itu, jika 2018 memang akan terjadi gerakan kepemudaan kembali, aku berharap kalian dapat mengawalnya dengan benar, jangan sampai terjatuh ketangan orang-orang yang hanya memikirkan kepentingan pribadi dan kekuasaan sesaat karenanya hampir setiap gerakan pemuda selalu saja berujung pada kegagalan untuk mengambil alih kontrol kekuasaan yang sudah dijatuhkan. Akhirnya orang-orang yang berkepentinganlah yang mengambil alih itu semua. Nak, ini pesan untuk mu pribadi, cobalah bersumpah kembali kepada dirimu untuk tidak melupakan tanah airmu, tidak menjualnya  kepada asing, tidak memecahkan persatuan antar bangsa mu, serta tindak melupakan bahasa ibumu sebagai bahasa pemersatu bangsa dan negaramu.” Aku hanya bisa menganggukkan kepala di hapanya.

            Aku cium tangannya, aku sangat bangga bisa berdialog dan berdiskusi dengan Pak Pur yang masih memiliki ingatan yang jernih dan pandangan yang jauh kedepan terhadap bangsanya. Walaupun ia hanya bisa menikmati hidup diatas kasur dan tempat tidur yang hampir roboh dimakan oleh rayap.

***

Harus kah kita bersumpah kembali?

Atas nama pemuda yang akan selalu menjaga tanah airnya, menghormati bangsanya, dan mengunakan bahasanya dalam setiap gerak kehidupan.

 

Harus kah kita bersumpah kembali?

Atas nama pemuda yang sudah menjual tanah airnya, yang sudah melupakan bangsanya, dan yang sudah menertawakan bahasa ibunya.

 

Harus kah kita bersumpah kembali wahai pemuda !


 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s