petani yang resah

Ini adalah sebuah dialog yang menarik antara seorang petani yang resah kepada seorang kiya’i

Setelah melewati tiga bukit dan ngarai, sang petani tiba di rumah kyai.

Kyai menanyakan maksud kedatangannya.

Petani (P) : Saya ingin bertanya, apakah kepiting sawah itu halal atau haram ?

Kyai (K) Sebelum menjawab pertanyaan kamu saya ingin dulu bertanya, apakah kamu punya sawah ?

P: Punya , Kyai

K: Apakah di sawah yang kamu sedang tanami itu kamu bisa memancing belut?

P: Iya, kyai, bisa

K: Apakah kamu punya empang ?

P: Punya, Kyai

K: Apakah di empangmu dipelihara aneka ragam ikan, sperti mujair, tawes, mas, nila, gurame ?

P : Iya , Kyai

K: Apakah kamu juga beternak ayam atau bebek seperti petani di sini?

P Iya, Kyai

K: Nah , kalau begitu, makan dulu saja itu semua, janganlah dulu kamu persoalkan kepiting sawah, ayam, itik, ikan itupun mungkin tak habis kamu makan, jangan kau susahkan hidupmu dengan persoalan kepiting sawah.

***

            Begitulah gambaran manusia rakus dan tamak, ada saja sesuatu yang kurang untuk dirinya. Padahal jika dilihat dan dirasakan apa yang ada sekarang sudahlah sangat banyak tinggal bagaimana memproses itu semua untuk dapat dinikmati secara berkelanjutan dan berkecukupan. Mungkin cukup adalah kata yang tepat untuk itu namun bukan berarti berhenti berusaha untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi.

Petani di atas tersebut tentulah amat sejahtera, berbeda dengan petani di Indonesia yang sawahnya selalu gagal panen karena sistem pengairan yang tidak baik, ditambah mahalnya harga pupuk dan banyak masuknya beras dari luar negeri yang jauh lebih murah serta masih banyak lagi hal-hal yang menyebabkan petani kita sulit dalam melakukan panen besar. Jikapun panen maka beras mereka akan dibayar murah oleh para tengkulak jangankan untuk makan “kepeting” bisa makan beras yang mereka hasilkan saja sudah sukur.

Ironi ini bertambah parah ketika Saat ini sebanyak 6.500 ton beras impor asal Vietnam sedang dalam penyelesaian pembongkaran setelah sebelumnya ada 19.500 ton beras dari Thailand sudah selesai dibongkar. Beras impor asal Vietnam sebanyak 6.500 ton itu masuk ke Belawan pada Selasa lalu (22/11/11).

Di Sumut sendiri sudah kedatangan beras impor sebanyak 40.800 ton yang berasal dari Vietnam dan Thailand. Beras impor itu mulai masuk di bulan September sebanyak 8.400 ton, disusul pada akhir Oktober 6.400 ton dan 26.000 ton masuk di November ini dengan kapal terakhir masuk pada Selasa lalu sejumlah 6.500 ton. “Kalau benar ada pengapalan beras impor lagi melalui Pelabuhan Belawan sebanyak 30.300 ton yang dilakukan secara bertahap, maka total beras impor Sumut mencapai 71.100 ton,” katakata Humas Bulog Sumut, Rusli.

Dengan masuknya beras impor itu, ketahanan stok beras di Sumut semakain cukup kuat atau bisa hingga untuk enam bulan lebih kebutuhan alokasi rutin di daerah ini sekitar 12 ribu-an ton per bulan.

Adakah yang salah dengan sistem import beras seperti ini? Apakah hanya demi alasan ketahanan pangan kita masih terus melakukan import beras? Kenapa tidak dari jauh hari sebelumnya kita persiapakan itu. Mungkin suatu saat nanti petani akan mendatangi para ulama yang ada di negeri ini dan bertanya apakah memakan beras import itu “haram”? atau apakah perlu dibuat fatwa soal beras import.

Hah, akhirnya cerita soal mencintai produk dalam negeri hanya sekedar retorika biasa dan suasembada pangan juga hanya menjadi sebuah simbol kepalsuan akan keberhasilan pemerintah dalam bidang pertanian. pertanyaan selanjutnya yang perlu kita jawab adalah apakah kita akan memakan beras itu saja dulu? (seperti kata kiya’i di atas makan saja dulu apa yang ada) sambil menunggu kebijakan pemerintah yang entah sampai kapan akan benar-benar berpihak kepada para petani.

petani dan padi di sawah
petani dan padi di sawah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s