semangat kesetiakawanan sosial dan pekerja sosial

“Kegemaran tolong-menolong digunakan sebagai alat untuk praktik KKN.”

            Hampir setiap tanggal 20 desember negara ini selalu merayakan hari kesetiakawanan sosial nasional (HKSN). Dalam perayaan HKSN tersebut ada upaya untuk mengenang kembali, menghayati dan meneladani semangat nilai persatuan dan kesatuan, nilai kegotong-royongan, nilai kebersamaan dan nilai kekeluargaan seluruh rakyat Indonesia yang notabene merupakan modal awal bangsa ini merdeka dari penjajahan bangsa lain.

Jika dilihat lebih jauh maka sebenarnya nilai-nilai kesetiakawanan sosial merupakan nurani bangsa Indonesia yang tereplikasi dari sikap dan perilaku yang dilandasi oleh pengertian, kesadaran, keyakinan tanggung jawab dan partisipasi sosial sesuai dengan kemampuan dari masing-masing warga masyarakat dengan semangat kebersamaan, kerelaan untuk berkorban demi sesama, kegotongroyongan dalam kebersamaan dan kekeluargaan.

Sebenarnya nilai-nilai tersebut harus terus digali guna dijadikan modal sosial bagi masyarakat dalam pembangunan kesejahteraan sosial. Namun modal sosial itu sekarang sudah mulai berkurang dihempas oleh arus globalisasi yang membawa semangat “westren” yang lebih bersifat individualistik. Sifat-sifat individualistik yang lebih mementingkan kepentingan pribadi di atas kepentingan banyak orang menimbulkan sebuah sikap ketidakpedulian.

Sikap ketidakpedulian itu semakin tampak sekarang; pejabat negara yang lupa pada rakyatnya, hanya karena sibuk untuk mengembalikan modal kampaye masa lalu, ayah dan ibu yang lupa pada anaknya karena sibuk bekerja di kantor demi memenuhi materi kehidupan keluarga. Akhirnya negara sebagai institusi formal kehilangan kepercayaan oleh rakyat karena ketidak mampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan yaitu pelayanan sosial yang baik, perlindungan sosial yang mencukupi, pendidikan yang adil dan layak, serta cakupan lapangan pekerjaan yang luas.

Begitu juga keluarga sebagai institusi informal yang sudah kehilangan kepercayaan oleh anggotanya sendiri dalam pemenuhan kebutuhan akan perhatian, cinta dan kasih sayang. Padahal dari keluarga inilah sikap awal mental seorang anak dibangun untuk dapat berinteraksi dengan baik di tengah-tengah masyarakat. Masalah-masalah narkotika, brokenhome, seks bebas, tidak lain muncul akibat kurangnya perhatian keluarga terhadap anggota keluarga yang ada.

Biasanya pengukuran modal sosial itu dapat dilihat dari hasil yang diciptakan oleh hubungan interaksi yang terjadi di tengah masyarakat seperti terciptanya kepercayaan antar masyarakat, terjaganya norma-norma sosial dan terbentuknya jaringan-jaringan kerjasama baru atas dasar kepercayaan dari sebuah interaksi sosial.

Sehinga masyarakat yang mempunyai modal sosial yang tinggi cenderung bekerja secara gotong-royong, merasa aman untuk berbicara dan mampu mengatasi perbedaan-perbedaan yang ada. Sebaliknya pada masyarakat yang memiliki modal sosial rendah akan tampak adanya kecurigaan satu sama lain merebaknya kelompok ‘kita’ dan kelompok ‘mereka’ tidak adanya kepastian hukum dan keteraturan sosial serta sering munculnya “kambing hitam”.

pekerja sosial

            Pekerja sosial harus hadir.

Itu adalah kenyataan yang muncul dari ketidakpedulian yang mungkin dapat dikatagorikan sebagai masalah sosial baru di Indonesia dalam satu dekade belakangan ini. Banyak hal yang menyebabkan ketidakperdulian muncul di antaranya; gagalnya individu dalam pemenuhan kebutuhan materi atas dirinya sehingga memunculkan rasa minder pada diri sendiri di tengah lingkungan sosial yang serba materialistis, akhirnya segala cara dianggap halal, mengorbankan banyak orang, sikut sana, dan sikut sini menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan.

Ironi ini bertambah lagi dengan gagalnya pemenuhan kebutuhan akan penanaman semangat spiritual (nilai agama) di mana manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan memiliki tanggung jawab sosial untuk menjadi rahmatan lil alamin bukan sebagai ‘srigala’ atas manusia lain. Tabiat madani (sipil dan sosial) dalam diri manusia harus dihidupkan kembali.

Di sisi inilah kemudian pekerja sosial harus dihadirkan untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat. Sesuai dengan fungsi pekerja sosial mendorong pemecahan masalah yang berkaitan dengan relasi kemanusiaan, perubahan sosial, pemberdayaan dan pembebasan manusia serta perbaikan masyarakat. Melakukan intervensi pada titik (atau situasi) di mana orang berinteraksi dengan lingkungannya berdasarkan prinsip keadilan sosial dan hak azasi manusia.

Setiap orang membutuhkan rasa keadilan dan setiap orang juga memiliki hak untuk dapat hidup layak. Agar dapat memenuhi itu semua setiap orang harus mampu mengakses ke dalam sumber daya kelembagaan (institusional resources) yang merupakan wadah dalam pemenuhan kebutuhan seperti pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan. Di negara ini untuk mengakses itu semua tidak semudah membalikkan telapak tangan apalagi bagi orang-orang yang memiliki kebutuhan khusus (difable).

Kegagalan dalam mengakses kebutuhan itu akhirnya memakasa sebagaian orang untuk menjadi gelandang, pengemis dan pengamen bahkan sebagai ada yang mengarah kepada tindakan kriminal dan ini semakin menjadi-jadi ketika negara atau institusi formal terkesan membiarkan dan lepas dari tanggung jawab. Kesenjangan muncul yang kaya semakin kaya karena mampu mengakses kebutuhan hidup lebih mudah, yang miskin makin miskin dalam ketidak mampuan dan ketidak berdayaan. Inilah phenomena atau tren dari semakin berkurangnya rasa kesetiakawanan sosial dan sikap tanggung jawab sosial seseorang terhadap lingkungan sosialnya.

Pekerja sosial muncul sebagai profesi yang mampu melihat orang atau kelompok orang bukan hanya sebagai target perubahan melainkan pula mempertimbangkan lingkungan atau situasi sosial di mana orang atau kelompok orang tersebut berada termasuk mempertimbangkan orang-orang penting yang dapat mempengaruhi orang atau kelompok orang tersebut. Oleh karenanya pekerja sosial harus diikut sertakan dalam upaya pembangunan kesejahteraan sosial dengan prinsip dari, oleh, dan untuk masyarakat.

Dengan model pembangunan yang berbasisikan kepada kekuatan masyarakat itu (community based strength) maka intervensi pekerja sosial mengarah pada bagaimana memobilisasi lingkungan dan sumber terlebih dahulu sehingga sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Pekerja sosial dan keberfungsian sosial lembaga

Dalam pembangunan kesejahteraan sosial, pekerja sosial memiliki peran yang berbeda dan khusus jika dibandingkan profesi lainnya. Jika guru konsen dengan peningkatan pendidikan, dokter konsen dengan peningkatan kesehatan, ekonom konsen dengan peningkatan pendapatan, maka pekerja sosial adalah profesi yang konsen terhadap peningkatan keberfungsiaan sosial seseorang (baca: individu, keluarga, kelompok, masyarakat atau lembaga).

Edi Soerhato (2009) mendefenisikan keberfungsian sosial sebagai kemampuan orang (individu, keluarga, kelompok atau masyarakat) dan sistem sosial (lembaga dan jaringan sosial) dalam memenuhi/merespon kebutuhan dasar, menjalankan peranan sosial, serta menghadapi goncangan dan tekanan (shocks and stresses).

Kinerja pekerja sosial dalam melaksanakan peningkatan keberfungsian sosial dapat dilihat dari beberapa segi yang di antaranya adalah; meningkatkan kemampuan orang untuk mengatasi masalah yang dialami, menghubungkan orang dengan sistem dan jaringan sosial yang memungkinkan mereka menjangkau atau memperoleh berbagai sumber, pelayanan dan kesempatan.

Bukan hanya itu tetapi juga meningkatkan kinerja lembaga-lembaga sosial sehingga mampu memberikan pelayanan sosial secara efektif, berkualitas dan berprikemanusiaan. Ditambah lagi merumuskan dan mengembangkan perangkat hukum dan peraturan yang mampu memciptakan situasi kondisif bagi tercapainya kemerataan ekonomi dan keadilan sosial.

Steting dalam mengembalikan keberfungsian sosial lembaga di negara ini mungkin lebih penting dalam kaitannya dengan pembangunan sosial masyarakat. karena apa? Keberfungsian lembaga akan membantu masyarakat dalam mendapatkan banyak hal secara adil seperti; pelayanan sosial serta perlindungan sosial. Lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta sudah tidak berfungsi secara baik dan optimal sesuai dengan aturan yang ada.

Lembaga hukum dijadikan arena transaksi kasus, lembaga ekonomi dijadikan arena korupsi penguasa, lembaga politik dijadikan arena perebutan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Lembaga pendidikan dijadikan arena bisnis, Lembaga swadaya masyarakat menjadi lembaga yang menjual nama masyarakat dan selalu menakut-nakuti pemerintah dengan berbagai cara.

Hilangnya kepercayaan (trust) dari masyarakat tentu salah satunya disebabkan oleh hal-hal tersebut di atas yang berdampak pada munculnya rasa ketidakpedulian dan apatisme. Prinsip pembangunan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat akhirnya hanya menjadi sebuah retorika biasa jika pejabat negara belum juga memiliki rasa tanggung jawab kepada rakyatnya. Kesiapan masyarakat untuk mau hidup sederhana disalah artikan sebagai kemauan untuk hidup sengsara dalam kemiskinan.

Kegemaran tolong-menolong digunakan sebagai alat untuk praktik KKN. Masyarakat yang pekerja keras dianggap sebagai pekerja tanpa bayaran yang tidak pernah diperhatikan tingkat kesejahteraanya. Mempelajari seni digunakan sebagai seni memperkaya diri sendiri dan seni mencurangi rakyat. Bukankah tujuan akhir dari sebuah pembanguanan itu adalah kecukupan untuk memenuhi kebutuhan dasar, harga diri untuk menjadi manusia seutuhnya, dan kebebasan dari sikap menghamba.

Penutup

Walaupun demikian kesetiakawanan sosial sebagai modal sosial dalam pembangunan masih ada. Setidaknya ada untuk dijadikan sebuah cita-cita dan harapan. Harapan agar HKSN tidak hanya menjadi sebuah seremoni belaka namun harus mampu menyadarkan dan membangkitkan masyarakat khususnya para “abdi” negara bahwa tiada hari tanpa kesetiakawanan sosial (there is no day whithout solidarity).

Pentingnya kembali merumuskan tujuan hidup bersama bagi bangsa ini adalah landasan awal untuk negara dan pemerintah agar benar-benar mampu menciptakan kondisi kesejahteraan bagi rakyatnya bukan hanya secara materi, tetapi juga secara spiritual dan fungsional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s