Mengembalikan Senyum Ibu

 “Urusan mendidikan anak bukan saja tanggung jawab ibu, tetapi ayah juga memiliki tanggung jawab yang sama. Para Ayah harus ingat, bukankah ketika proses ‘pembuatan’ anak tersebut ayah dan ibu saling bekerja sama?”

            Ibu adalah kata-kata yang sangat sering muncul di pendengaran kita. Seorang wanita yang sudah mengandung, melahirkan, menyusui dan merawat kita dari kecil hingga sekarang. Selama 9 bulan 10 hari asupan gizi dan nutris yang kita peroleh berasal dari sumber makanan yang dimakan oleh ibu yang disalurkan melalui tali pusat. Ditambah lagi 2 tahun proses menyusui jadi ada total sekitar 30 bulan bagi seorang ibu merawat anaknya dari proses mengandung sampai dengan menyusui.

Selama masa mengandung seorang ibu sangatlah rentan terhadap terhadap suatu penyakit.  Jika harus dibandingkan kita mendapat satu sel dari ayah maka di dalam tubuh ibu kita mendapatkan 49 triliun sel lagi untuk menyempurnakan tubuh kita. Bukankah berarti peran ibu dalam proses pertumbuhan seorang anak dalam hal ini sangatlah besar?

Ucapan terimakasih untuk ibu kemudian dikenal dengan perayaan hari ibu di mana perayaan dilakukan dengan membebaskan tugaskan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dilakukannya seperti, memasak, merawat anak dan urusan rumah tangga lainnya. Di beberapa negara Amerika dan 75 negara lainnya seperti Jerman, Italia, Jepang, Malaysia, Australia, Belanda, Singapura dan Taiwan  merayakan hari ibu pada hari minggu pekan ke dua bulan Mei. Ada juga dibeberapa negara Eropa dan Timur Tengah diperingati pada tanggal 8 Maret.

Berbeda dengan negara-negara lainnya, di Indonesia sendiri hari Ibu diperingati pada tanggal 22 Desember  karena memiliki makna sejarah yang mendalam. Di mana pada tanggal 22-25 Desember 1928 diadakan kongres wanita pertama di Yogyakarta. Kongres yang dihadiri oleh 30 organisasi perempuan dari 12 kota di jawa dan sumatera dan dari hasil kongres tersebut terbentuklah kongres perempuan atau sekarang lebih dikenal dengan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI).

Peristiwa sejarah yang dianggap penting dalam tongga pergerakan dan pemikiran kaum wanita yang sebenarnya sudah ada sejak tahun 1912, di mana kemunculannya diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti Martha Christina TiahahuCut Nyak DhienTjoet Nyak MeutiaR.A. KartiniMaria Walanda MaramisDewi SartikaNyai Ahmad Dahlan, dan lain-lain. Namun baru pada konggres perempuan ke III tahun 1938 ditetapkan tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu.

Pada peringatan 25 tahun hari Ibu disambut meriah dibanyak daerah. Di mana tak kurang 85 kota dari meulaboh sampai ternate merayakan hari tersebut dan pada tahun 1959 presiden Soekarno melalui dekrit presiden no 316 tahun 1959 menetapkan hari ibu tanggal 22 desember dan terus dirayakan secara nasional hingga sekarang.

ibu ku yang giat
ibu ku yang giat

Ibu dan ketidakberdayaan

Walaupun hari ibu sudah ditetapkan sebagai perayaan nasional namun bukan berarti para ibu sudah diperhatikan tingkat kesejahteraan baik secara materi maupun secara fungsional oleh keluarga, lingkungan sosial maupun pemerintah. Dibeberapa kesempatan kontrol wanita terhadap penghasilan dan sumber daya keluarga juga relatif masih sangat terbatas karena sejumlah alasan.

Alasan yang paling utama adalah kenyataan bahwa sebagian besar pekerjaan yang dilakukan ibu tidak mendapatkan imbalan uang misalnya bertani, mencari kayu bakar, dan memasak bahkan untuk pekerjaan yang tidak berhujud seperti mengasuh anak. Selain itu, apabila ibu bekerja pada usaha milik keluarga mereka tidak memiliki upaya. Kaum pria/ayah pada posisi ini sebagai kepala keluarga praktis mengendalikan seluruh hasil penjualan, meskipun sebenarnya keuntungan yang didapat adalah berkat kerja keras kaum ibu.

Selain masih kurangnya dianggapnya fungsi ibu dalam keluarga, perhatiaan akan perawatan kesehatan ibu juga di nilai masih sangat kurang. Hal ini tampak dari masih tingginya angka kematian ibu saat melahirkan. Data dari dinas kesehatan Pemrovsu mengungkapkan bahwa angka kematian ibu saat melahirkan dari tahun ke tahun memang semakin tinggi. Rinciannya, 231/100.000 pada 2007, 258/ 100.000 pada 2008, 260.000/ 100.000 pada 2009, dan 249/ 100.000 pada 2010.Memang melebihi angka nasional dan data yang masuk masih sampai Agustus 2010. Data ini belum lagi ditambah dari kabupaten Karo dan Nias.

Salah satu faktor penyebab kematian saat melahirkan adalah pendarahan pada saat persalinan. Hal ini disebabkan masih kurangnya pengetahuan para calon ibu tersebut ketika hendak menghadapi persalinan. Bukan saja di desa, di kota-kota juga masih banyak para calon ibu yang belum paham tentang persalinan yang baik. Belum lagi masih banyak keluarga yang memikirkan biaya persalinan yang terkadang masih susah untuk di jangkau khususnya jika dilakukan dengan operasi sesar.

Padahal salah satu poin di antara delapan yang ada pada Millenium Development Goals (MDGs)  adalah upaya memperbaiki kesehatan ibu hamil dan pada tahun 2015 diharapkan mampu mengurangi hingga dua pertiga rasio wanita yang meninggal saat melahirkan. Namun kenyataannya angka itu terus naik. Catatan kekerasan dalam rumah tangga juga banyak dialami oleh kaum ibu. Di mana pada tahun 2009 menunjukkan pengaduan terhadap kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh para ibu mencapai 1058 kasus dan ini merupakan jumlah kasus pengaduan yang tertinggi.

Ketidakberdayaan ibu semakin tampak ketika seorang ibu ditinggal mati atau cerai oleh suami yang secara tidak langsung memaksa ibu untuk menjadi kepala keluarga bagi anak-anaknya dan menjadi pemenuh kebutuhan hidup keluarga. Data survai sosial ekonomi nasional pada tahun 2007 menunjukkan ada sebanyak 13,6% jumlah ibu yang menjadi kepala rumah tangga. Dan kebanyakan dari keluarga tersebut hidup dalam kemiskinan serta ketidak berdayaan.

Tidak ada jalan lain selain memberikan pendidikan sepanjang hayat bagi kaum ibu, perlindungan sosial serta pemberdayaan dengan memberikan pelatihan kecakapan hidup, kewirausahaan atau peningkatan life skill. Hal ini bukan tidak mungkin dilakasanakan, ada beberapa organisasi swdaya masyarakat yang memang konsen terhadap permasalahan ini.

Ditambah lagi bukankah kita sudah memiliki kelompok PKK sebagi wadah para ibu untuk mendapatkan banyak informasi yang baik untuk mereka. Tetapi yang menjadi pertanyaan selanjutnya kemana peran dan fungsi wadah ini? Sudahkan berjalan secara maksimal? Atau hanya di jadikan tempat kumpul atau arena arisan kaum ibu? Tentu hanya akan para ibu yang aktiflah lah dapat menjawab pertanyaan tadi.

Bukan hanya sekedar program

Tidak banyak program pemberdayaan yang diberikan oleh pemerintah kepada para ibu, selain daripada Jamkesmas dan PKH (Program Keluarga Harapan). Untuk program PKH misalnya memang di khususkan dalam upaya peningkatan kesehatan ibu hamil dan pendidikan bagi anak usia 7-18 tahun dengan harapan dapat menuntaskan wajib belajar 9 tahun.

Harus diakui bahwa program ini sangat membantu bagi para keluarga Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM). Secara materi angka yang diberikan lumayan besar di mana bantuan wajib Rp. 200.000,/tahun dan bantuan untuk anak di bawah usia 6 tahun serta ibu melahirkan Rp. 800.000,/tahun juga bantuan untuk anak pada jenjang pendidikan SD Rp. 400.000/tahun dan SMP 800.000/tahun. Jika ditotal paling sedikit bantuan PKH untuk RTSM adalah 600.000/tahun, rata-rata bantuan PKH untuk RTSM Rp. 1.390.000,/tahun dan bantuan Maksimal adalah 2.200.000/tahun dengan ketentuan yang berlaku.

Harapan dari dana yang diberikan PKH terhadap RTSM di mana dalam jangka pendek bantuan tersebut diharapkan mampu mengurangi beban pengeluraan RTSM sedangkan untuk jangka panjang dengan mensyaratkan para penerima untuk menyekolahkan anak, melakukan imunisasi balita, pemeriksaan ibu hamil dan perbaikan gizi, di harapkan mampu memutus rantai kemiskinan antar generasi.

Harapan itu akan terjawab dalam beberapa tahun lagi berhasil atau tidaknya program ini, yang terpenting sudah ada jalan yang akan ditempuh dalam usaha perbaikan peningkatan kualitas keluarga miskin khususnya para ibu. Namun yang menjadi catatan penting apakah cukup hanya dengan memperhatikan kondisi kesehatan saat ibu hamil, memperbaiki gizi ibu serta mengurangi angka kematian ibu saat persalinan lantas kemudian tanggung jawab terhadap ibu dianggap selesai?

Ini bukan hanya soal agar target pemerintah melalui MDGs itu dapat tercapai pada tahun 2015 akan tetapi lebih dari itu. Peran ibu dalam keluarga harus ditingkatkan tidak hanya secara kualitas kesehatan akan tetapi juga pengetahuan serta pendapatan. Kembali lagi kebanyakan ibu gagal menjadi kepala keluarga dan memenuhi kebutuhan keluarganya setelah ditinggal oleh suami akibat dari tidak pernah seorang diberikan kesempatan untuk mengases sumber kehidupan yang ada di lingkungan sosial masyarakat.

Maka dari itu prespektif dapur, sumur dan kasur harus segera di rubah, beri ibu ruang yang lebih lebar dalam beraktifitas. Urusan mendidikan anak bukan saja tanggung jawab ibu, tetapi ayah juga memiliki tanggung jawab yang sama. Para Ayah harus ingat, Bukankah ketika proses ‘pembuatan’ anak tersebut ayah dan ibu saling bekerja sama?

Untuk itu para ibu harus diberikan pendidikan informal yang syarat dengan muatan pemberdayaan, life skill dan perlindungan. Sehingga para ibu tidak lagi merasa terpinggirkan di tengah-tengah keluarga dan para ibu juga akan lebih siap jika sewaktu-waktu mereka ditinggalkan oleh suami. Akhirnya ketika waktu itu datang menghampiri ibu maka ibu akan tetap dapat tersenyum tanpa harus memikirkan kehidupan keluarga kedepan yang dikepalainya.

3 thoughts on “Mengembalikan Senyum Ibu”

  1. You can definitely see your enthusiasm within the work
    you write. The sector hopes for even more passionate writers like you who aren’t afraid to mention how they believe. At all times follow your heart.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s