catatan tentang desember

Desember adalah bulan ke-dua belas atau peling akhir pada perhitungan penanggalan kalender Gregorian. Walaupun bulan yang terakhir akan tetapi desember bukanlah suatu akhir dari sebuah perjalanan kehidupan. Bagi sebagian sahabat, mereka menganggap desember adalah awal dari sebuah perjalanan kehidupan kerena januari sebagai bulan lain setelah itu sudah menunggu kita untuk bersiap-siap menjambut datangnya kehidupan baru yang diharapkan jauh lebih baik dari kehidupan yang lalu. Selain harapan, konsekwensi akan perbuatan masa lalu juga akan muncul. Aturan kehidupan tentang ‘tabur tuai’ seperti banyak di istilahkan para pepatah akan menjadi sebuah keniscayaan.

Hampir sama dengan kematian yang juga mengantarkan kita pada sebuah kehidupan baru, atau dengan istilah lain dikatakan “ada kehidupan sesudah kehidupan”. Balasan dari kehidupan yang lalu akan di dapat pada kehidupan yang hadir setelah kematian. Baik buruknya suatu perbuatan akan diketahui setelah menjalani sidang atau pengadilan di hadapan tuhan pemilik alam. Ini bukan menakuti tetapi merupakan amanah untuk saling mengingatkan karena kematian adalah kenyataan dari kehidupan. Bukankan segala sesuatu yang hidup akan mati?

Oleh karenanya mari kita berserah diri. Memperbaiki tingkah laku adalah hal yang terpenting untuk itu. Mengabdi kepada pemilik alam dengan menjalankan segala perintahnya, menjauhi segala larangannya, mensukuri apa yang diberikannya, dan selalu kasih mengasihi ke sesama mahluk yang ada di semesta ini.

Lepas dari itu, desember merupakan bulan yang sangat dinanti banyak orang, selain adanya perayaan agama bagi kaum kristiani, desember juga ditandai dengan pesta penutupan tahun. Agenda tentang perjalanan liburan keluar negeri atau luar kota tentu sudah dipersiapkan sebagaian dari mereka yang berkantong tebal. Sedangkan sebagian yang lain hanya akan menikmati meriahnya pesta akhir tahun di taman-taman hiburan yang sudah disiapkan oleh pemerintahan setempat. Pesta kembang api adalah hal yang paling dinanti pada perayaan itu.

Letusan dasyat akan terdengar di seantero kota, orang-orang berkeluaran melihat langit berubah menjadi terang benerang dihiasi dengan banyak cahaya berwarna yang coba menggapai kaki langit, namun selalu gagal dan turun tanpa jejak. Sorak-sorai sudah pasti menemani pelepasan kembang api tersebut, doa juga selalu disisipkan dalam hati untuk kehidupan yang jauh lebih baik kedepan. Setelah itu semua orang pada bubar, kemacetan muncul menjelang jalan menuju pulang kerumah. Sampai dirumah, letih akan memaksa kita agar segera tidur, dan esok paginya hari baru sudah datang, bulan baru telah hadir dan tahun yang baru telah tampak dengan bergantinya kalender di tembok rumah.

Lantas, apa yang harus dilakukan setalah itu? Jarum jam terus berputar dan saling mengejar, kebaikan apa yang akan dilaksanakan atau kejahatan apa yang akan diperbuat? Dua opsi itu akan salalu muncul dalam pikiran sepanjang tahun dan tinggal memilih mana yang akan lebih banyak untuk kita laksanakan berbuat kebaikan-kah atau berbuat kehajahatan-kah? Niat tentu ada dan hanya kita yang mampu mewujudkan niat itu menjadi sebuah kenyataan. Akhirnya pertanyaan yang pantas diajukan untuk setiap perayaan pergantian hari, tanggal bulan atau tahun adalah bukankah orang-orang yang hari ini lebih baik dari hari semalam adalah orang-orang yang beruntung?

 

So, apa pendapatmu tentang desember?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s