Apa yang tersisa dari 31 Desember?

Menarik untuk dijawab, namun sebelum itu, ada hal yang lebih menarik, di mana magrib sebelum malam pergantian tahun tepat pada tanggal 31 desember 2011, seorang abang sepupu berunjar sambil mengeluh tentang keadaan umat islam pada saat ini. Beliau amat heran melihat orang-orang islam pada sibuk ikut merayakan malam pergantian tahun yang berdasarkan perhitungan kalender masehi itu, lalu ia mengeluarkan pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab; “kemana kita ketika pergantian tahun hijriah?”

Tentu tidak semua orang berdapat menjawabnya dan saya hanya bisa tersenyum sambil mendengarkan pembicaraan beliau selanjutnya; “akhirnya, orang-orang barat khususnya orang-orang yahudi itu sudah berhasil merubah karakter umat islam, dengan kita mengikuti kegiatan ini, kita sudah kehilangan karakter ke-islaman kita.” Mungkin apa yang dikatakan oleh beliau ini ada benarnya juga, dan saya melihat ini tidak terlepas dari telah runtuhnya peradapan islam pasca perang salib dan munculnya ilmuan-ilmuan barat yang berhasil menciptakan alat-alat tekhnologi yang mempengaruhi kehidupan masyarakat dunia. Mungkin revolusi industri merupakan salah satu dari ciri tersebut. Walaupun sebenarnya ilmuan-ilmuan barat tersebut banyak menerjemahkan atau melanjutkan hasil-hasil riset/pengamatan dari ilmuwan-ilmuwan muslim terdahulu.

Selain itu, faktor lain yang mungkin mempengaruhi kondisi hilangnya karakter umat muslim adalah gempuran budaya barat yang terus masuk melalu jalur globalisasi ditambah lagi dengan kondisi terbaginya umat islam dalam banyak mashab dan kelompok yang terkadang membuat bingung banyak masyarakat. Bukan itu saja, pengaruh dari kekuatan ekonomi global dan lokal yang banyak dikuasai oleh orang-orang non-muslim juga menjadi catatan penting hilangnya karakter umat islam saat ini. kuwantitas umat boleh-lah namun secara kualitasnya bagaimana?

Hal ini pernah diungkapkan oleh seorang abang senior di FISIP UMSU, Nirwansyah Putra Penjaitan namanya, dalam sebuah tulisan di kolom opini Harian Waspada tertanggal 28 Desember 2011 dengan judul; “Mitos Mayoritas Angka Muslim.” Ditulisan tersebut beliau meminjam gagasan dari seorang sejarawan dan cedikiawan muslim Indonesia bernama Kuntowijoyo. Di mana jika boleh menyimpulkan inti dari tulisan opini tersebut yang saya tanggap adalah jika islam benar-benar kuat secara sosial, ekonomi, politik dan budaya maka munstahil masjid Al-Iklas di jalan Timor Medan akan rubuh.

“Ini merupakan contoh utama yang memperlihatkan analisis atas dasar sosial politik an sich tak berguna bila kekuatan ekonomi yang terus bergulat di kota Medan, dinisbikan”. Apa yang diungkapkan dari tulisan tersebut adalah kenyataan, walaupun gubernur dan walikota sendiri adalah orang yang beragama islam dan banyak dipilih oleh masyarakat yang mayoritas islam tetapi belum tentu segala kebijakkannya akan melindungi kepentingan umat islam. Karena secara tidak langsung pemimpin pemerintahan, baik di tingkatan pusat maupun di daerah  sudah tersandera oleh kekuatan sosial, ekonomi, politik dan budaya orang-orang non-muslim lainnya yang syarat kepentingan.

Lepas dari itu semua, tidak banyak yang tersisa dari 31 desember 2011 selain sampah yang menumpuk dari hasil pesta kembang api, kalau soal uang yang dihabiskan jangan tanyakan lagi, diperkirakan uang yang dihabiskan untuk satu malam pesta kembang api pada akhir tahun lebih dari 400 juta rupiah di tiap daerah. Salahkah? Tentu bagi sebagian orang tidak, apalagi jika itu mengatas namakan untuk menghibur rakyat.

sampah pesta malam tahun baru

Lantas rakyat yang mana yang terhibur? Bukankah hiburan yang terbaik bagi rakyat adalah naiknya tingkat pendapatan, adanya jaminan kesehatan, adanya jaminan pendidikan dan makin mudahnya sumber-sumber kebutuhan dapat diakses. Tapi tak apalah, walaupun tak mendapatkan hiburan yang terbaik, minimal rakyat mendapatkan hiburan yang hanya sesaat dari meriahnya pesta dan gelamornya hidup para hedonisme masyarakat kota.

Setelah itu, rasa resah mulai muncul. Tidak ada jaminan penghasilan akan tetap bertahan atau bertambah ditahun berikutnya yang muncul adalah pertanyaan; Apakah kebijak pemerintah akan tetap berpihak pada rakyat banyak pada tahun 2012 ini? Bagaimana Perda soal penghapusan becak bemotor? Bagaimana terancamnya para supir anggot dengan akan munculnya bus trans medan?

Bagaimana lagi soal para petani yang mulai resah dengan banyaknya beras import yang masuk? Bagaimana para nelayan yang selalu ditangkapi para polisi laut negara tetangga, adakah jaminan mereka dapat bebas dengan cepat? Upah para buruh serta keamanan para TKI dalam bekerja juga bagian lain yang belum terselesaikan, belum lagi para pedagang sektor informal yang selalu digusur demi kepentingan pembangunan dan ketertiban. Akankah pertanyaan itu semua dapat terjawab pada tahun 2012 ini?

pesta kembang api

Cuman tuhan yang tau. Akhirnya, pesta kembang api yang begitu meriah semoga dapat menjadi penyemangat, warna-warna indah nan cerah semoga menjadi tanda adanya hidup yang lebih indah dan cerah juga, namun jangan berhenti seperti kembang api yang baru setengah jalan sudah hilang dan turun yang tertinggal hanya asap putih yang terbang terbawa angin malam.

So, selamat datang di 2012.

2 thoughts on “Apa yang tersisa dari 31 Desember?”

    1. ia bang, bang maaf kemarin telat ngantar koran waspada itu, nanti muja hubungi lagi abang ya, soalnya koran itu masih ada di simpan di rumah.
      terimakasih sebelumnya bang udah mau memberikan komentarnya,😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s