hiduplah jiwanya untuk indonesia raya

Dalam setiap upacara bendera yang dilaksanakan di tingkat SD, SMP, SMA dan sampai kepada tingkat pemerintahan yang selalu dilaksanakan setiap hari senin pagi kita selalu saja menyayikan lagu Indonesia raya. Begitu indahnya lagu ini bila kita hanyati dan renungkan terkadang bisa membuat hati kecil bergetar. Tetapi sekarang nyanyian itu hanya dilakukan secara simbolis saja tanpa ada pencarian makna di dalamnya. Ada yang menarik bila kita perhatikan dari lirik lagu Indonesia raya ini yaitu:

 

Bangunlah jiwanya

Bangunlah badanya

Untuk Indonesia raya.

 

Jelas tergambarkan bahwa dalam bait lagu ini menyelaskan bagaimana harapan akan perlunya pembanguan jiwa sebagai bentuk semangat awal sehingga dapat membantu membangun semangat lain yang nantinya ikut tumbuh didalamnya. Pembangunan jiwa dalam artian disini adalah pembangunan karakter suatu bangsa. Karakter pada satu bangsa sangat diperlukan untuk dijadikan sebagai suatu ciri khas kehidupan manusia dalam bangsa tersebut. Seperti yang diketahui bersama, bangsa kita ini lama kelamaan sudah mulai kehilangan karakternya. Bangsa yang dahulu dikenal sopan, beradap, menjunjung tinggi moralitas dan nilai nilai kearifan lokal kini sudah berubah menjadi bangsa yang anarkis, a moral, rakus, tamak, yang akhirnya menggambarkan suatu kebiadapan. Hal ini merupakan dampak yang disebabkan dari dosa sosial bersama yang telah kita perbuat.

Sekitar delapan dekade lalu K. Gandhi menengarai adanya ancaman yang mematikan dari “tujuh dosa sosial”: politik tanpa prinsip, kekayaan tanpa kerja keras, perniagaan tanpa moralitas kesenjangan tanpa nurani, pendidikan tanpa karakter, sains tanpa humanitas dan pribadatan tanpa pengorbanan. Ketujuh dosa sosial ini telah menjadi warna dasar dalam kehidupan kita sehari hari. Harapan akan sebuah negara yang memiliki keberadapan kini berubah menjadi negara korup. Cap sebagai bangsa yang korup, bermoralitas lembek, serta kapasitas daya saing yang terus menurun dalam kompetisi antar bangsa telah menempel pada bangsa kita.

Hal ini di perparah lagi oleh globalisasi yang membawa misi westernisasi yang akan membuat suatu bangsa kehilangan karakternya. Sifat boros dan konsumtif mulai hidup dari dalam diri dan ini diperparah dengan ketidak perdulian terhadap sesama. Ini adalah masalah serius untuk generasi bangsa berikutnya, pendidikan akan karakter bangsa harus dimulai kembali, budaya dan kearifan lokal harus jadi poros terdepan untuk itu. Kita harus bangun, kesadaran harus disegera didapatkan, kejatuhan politik cuman kehilangan penguasa, kejatuhan ekonomi cuman kehilangan sesuatu, tetapi kalau kejatuhan karakter, suatu bangsa akan kehilangan segalanya. Kalau ini dapat terhujud maka tidak salah kita jika kita akan mengatakan,

Indonesia raya Merdeka, merdeka

Tanahku, negeriku yang kucinta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s