Berlian yang hilang

Setiap mendengar kata “berlian” yang terbesik dalam ingatan saya adalah nama jalan di sebuah kelurahan sei rengas permata kecamatan medan area. Kenapa jalan tersebut diberi nama “berlian”? Konon katanya karena di jalan tersebut ada seorang penjual berlian yang terkenal. Di jalan itu, berdiri sebuah rumah mengah, mewah dan besar. Rumah itu biasa diadakan acara-acara keluarga (arisan, makan bersama), manasik haji, perwirtan dan lain-lain. Kebanyakan dari saudara kemudian menyebut rumah itu dengan nama rumah berlian, mungkin karena nama jalannya. Namun, bagi saya nama tersebut tidak hanya mewakili nama jalannya, tetapi memang memiliki makna seperti “berlian” dalam arti sesunggunya.

Rumah itu adalah rumah orang tua dari abah saya (nenek dan atok), yang ketiganya sekarang sudah tiada. Sebenarnya, Saya tidak mempunyai cerita yang panjang tentang rumah berlian tersebut. Namun, Mereka (abah, nenek dan atok) adalah tokoh yang selalu hidup dalam benak saya setiap kali saya melihat dan masuk ke dalam rumah tersebut yang akhirnya menciptakan kenangan tersendiri bagi saya. Ya, kenangan. Kenangan di mana setiap siang selepas pulang sekolah abah selalu mengajak saya untuk kerumah tersebut. Dengan kereta tua berwarna biru yang kenalpotnya selalu mengerluarkan suara bising di sertai asap putih menjadikan perjalanan prumnas mandala-medan area tampak menyenangkan. Sukaramai yang tak se-ramai sekarang, menjadi saksi bisu perjalanan saya waktu itu.

Sesampai di rumah berlian, abah membawa saya masuk dan kemudian abah pergi entah kemana meninggalkan saya bersama atok yang sedang tidur siang di kamar bawah. Biasanya abah selalu duduk di warkop jalan antara (sekarang jalan sutrisno), atau duduk di bengkel jalan  bakaran batu, dan sewaktu sore selalu mengutip setoran parkir dari anggotanya.

Setiap siang di rumah berlian selalu saya habiskan dengan menonton tv, sampai sore ketika atok bangun untuk solat asar dan nenek pulang dari aktifitasnya di luar. Banyak hal lain masih teringat di kepala, mulai dari; bunyi hempasan pintu kamar bawah, suara bising air mendidih atok, bunyi bel yang selalu berubah-ubah, gemuruh suara pagar setiap mobil nenek pulang, atok yang selalu membaca qur’an setiap duha dan sore, membantu menggulung hambal setiap selesai acara, mengakat piring, memijat nenek, dan duduk-duduk di ayunan depan rumah adalah kenangan yang tak akan pernah terlupakan.

Kini berlian hanya tinggal nama jalan saja. Rumah “berlian” sudah rubuh dihantam palu besar para tukang developer. Memang Rumah bisa rubuh, manusia bisa mati, namun kenangan tak akan pernah hilang bahkan sampai ajal menjemput nyawa. Manusia yang mati dapat digantikan generasi baru yang lahir, rumah baru selalu menggantikan rumah lama yang sudah usang dan rubuh, namun kenangan tidak akan dapat digantikan bahkan oleh uang sekalipun.

sudah rubuh
hanya tinggal kenangan

2 thoughts on “Berlian yang hilang”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s