Runtuhnya Masjid, Runtuhnya Umat (Islam)

“Islam sebagai agama yang mengajarkan keadilan dan kesetaraan kini harus dihadapkan pada polemik ketidakadilan yang menghantam tubuh Islam dengan rubuhnya masjid sebagai rumah ibadah yang dilakukan oleh pemerintah lokal dan pemilik modal.”

            Kejadian peruntuhan Masjid Al-Iklas di jalan Timor dan juga Masjid Raudhatul Islam di Kompleks Hotel Emerald Garden Medan yang menyulut reaksi keras aliansi ormas Islam tentu bukanlah kejadian biasa dalam dinamika sosial-politik-agama di Sumatera Utara khususnya kota Medan. Walaupun di tengah-tengah kejadian tersebut sejumlah ulama mendapatkan penghargaan karena mengatakan Kota Medan sangat kondusif. Pertanyaan pun muncul, jangan-jangan kasus perobohan masjid di Sumatera Utara merupakan “fenomena gunung es” yang hanya tampak sedikit dipermukaan?

Jika ya, tentu kita harus mencari berapa banyak masjid atau mushola yang harus tergusur demi pembangunan ruko, perumahan atau kompleks bisnis. yang terkadang media masa-pun jarang memberitakan hal ini. Lantas apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hal itu? Berdemokah untuk memerotes pihak pengembang yang merobohkan masjid? Bagi sebagian sahabat tentu itu merupakan keseharusan, tetapi adakah hal lain yang mungkin lebih penting dilakukan selain dari itu?

Seorang dosen muda di Fisip UMSU (Nirwansyah Putra Panjaitan) melalui opini yang ditulisnya berjudul “Mitos Mayoritas Angka Muslim” di media cetak lokal pernah mengurai tentang perobohan masjid di Sumatera Utara, dengan meminjam gagasan dari seorang ahli sejarah Prof.Dr. Kuntowijoyo. Beliau secara sederhana menuliskan; “Ini merupakan  contoh utama yang memperlihatkan analisis atas dasar sosial politik an sich tak berguna bila kekuatan ekonomi yang terus bergulat di Kota Medan, dinisbikan.” Tentu kita dapat simpulkan bahwa lemahnya kondisi ekonomi umat, membuat kita semakin diasingkan dan dipinggirkan dalam setiap pengambil kebijakan pembangunan. Walaupun, para pejabat teras di provinsi ini masyoritas beragama Islam, namun belum tentu menjamin mereka akan berpihak pada agamanya karena para pejabat itu butuh dana yang besar untuk dapat terus menduduki kursi kekuasaan. Siapa lagi yang bisa memberikan dana tersebut selain dari pada pihak pemodal yang notobene adalah pihak minoritas.

Tentu semua orang tau, posisi suku bangsa Tionghoa yang amat kuat di sektor perekonomian, ternyata berpengaruh luar biasa dalam memainkan kebijakan sosial politik ekonomi, plus kebudayaan. Di tengah megahnya tapak bangunan kuil agama Budha dan Kelenteng yang notobene menjadi simbol agama dan budaya sebagian besar warga Tionghoa di Kota Medan, ternyata di sisi yang lainnya, rumah ibadah seperti mesjid, kondisinya berbanding terbalik.

 

Apa yang harus dilakukan?

            Islam sebagai agama yang mengajarkan keadilan dan kesetaraan kini harus dihadapkan pada polemik ketidakadilan yang menghantam tubuh Islam dengan rubuhnya masjid sebagai rumah ibadah yang dilakukan oleh pemerintah lokal dan pemilik modal. Karena itu, Islam yang selalu memiliki cita-cita sosial untuk secara terus-menerus menegakkan keadilan dan kesetaraan. Keterlibatan dalam menegakkan cita-cita itu merupakan tanggung jawab setiap muslim, karena memiliki nilai ibadah. Untuk itu, keterlibatan setiap individu muslim dalam perjuangan itulah yang akan menentukan kualitasnya sebagai khalifatullah fil’ardh.

Kembali meminjam gagasan dari Prof. Dr. Kuntowijoyo (1993) dalam Paradigma Umat Islam Interpretasi untuk Aksi, tentang konsep realitas ganda. Beliau mengatakan, Islam mengakui adanya dua dimensi realitas itu; realitas dunia dan realitas akhirat. Realitas dunia merupakan realitas empiris, dan berada dalam struktur objektif. Sementara itu realitas akhirat merupakan realitas normatif yang berada dalam struktur subjektif.

Selanjutnya beliau mengatakan, realitas sosial empiris di dunia cenderung membuat perbedaan, baik secara struktural maupun fungsional. Sebagai contoh ialah terbagi-bagi dan terpecah-pecahnya masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial, jenjang-jenjang pendidikan, kelompok usia, ikatan generasi, pembagian seks (kelamin) dan seterusnya. Realitas objektif telah membagi manusia ke dalam kelompok, golongan atau kelas.

Meskipun demikian, konsep pembagian sosial yang objektif ini diimbangi oleh konsep lain yang normatif. Kuntowijoyo kemudian mencontohkan tentang konsep “umat” yang dapat menimbulkan struktur yang subjektif. Konsep ini selanjutnya menimbulkan kesatuan yang bersifat normatif. Sebagai unit yang normatif umat merupakan konsep yang mempersatukan kepentingan-kepentingan individu dalam jama’ah, hal itu kemudian yang menimbulkan struktur yang bersifat subjektif. Namun, sebagai suatu kenyataan yang empiris, bagaimanapun juga umat terbagi dan terpecah-pecah dalam pengelompokan golongan-golongan maupun kelas, baik secara vertikal maupun secara horizontal.

Kenyataan itulah yang membuat umat Islam amat sulit menyatu selain dari pada faktor kepentingan untuk beribadah kepada sang khalik (seperti solat jam’ah dan berhaji). Sisanya umat Islam lebih sering tidak perduli terhadap sesamanya, kurangnya perhatian kepada saudara-saudara golongan dhu’afa, mustadh’afin, kaum fakir dan kaum masakin membuat jumlah mereka semakin banyak karena mereka harus bertempur sendiri dalam pusaran pembangunan yang kapitalistik.

Ke mana kita? Kemana zakat yang diperuntuhkan bagi mereka untuk mengurangi kesenjangan antara kelas sosial? Ke mana infak dan sedakah yang berputar dalam jumlah besar sehari-hari? Akan banyak lagi pertanyaan yang akan muncul. Lepas dari itu, tentulah “umat” harus diberdayakan secara kualitas. Kegiatan-kegiatan filantropi (zakat, infak dan sedekah) dapat dijadikan sebagai modal ekonomi bagi umat dalam menghadapi arus pembangunan yang kapitalistik jika dikelola dengan benar, baik itu oleh lembaga non-pemerintah (seperti; rumah zakat, badan amil zakat dll), ataupun oleh masjid (yang merupakan wadah pembangunan kekuatan sosial dan ekonomi umat).

Wajah Masjid Hari ini

            Selain runtuhnya masjid secara fisik (bangunan) yang dilakukan oleh pihak pengembang, sebenarnya jauh sebelum itu masjid sudah runtuh secara fungsi. Perhatikan di beberapa lokasi pemukiman warga, banyak masjid yang terlihat begitu megah dengan segala fasilitas yang dibangun oleh para pengurus masjid (BKM) dengan alasan agar dalam melaksanakan ibadah mereka dapat lebih khusuk lagi dan masjid akan tampak makmur.

Salahkah? Tentu tidak. Akan tetapi memakmurkan masjid tidak hanya dengan cara membangunnya secara tampilan agar terlihat megah, namun juga harus meramaikannya dalam segala bentuk kegiatan keagamaan, baik itu solat jam’ah, ceramah agama, pengajian dan sebagainya. Tampilan fisik masjid yang begitu mewah juga tidak mewakili wajah umat di sekitarnya yang masih butuh pertolongan.

Padahal, jika dilihat lebih jauh masjid mempunyai tanggung jawab sosial terhadap masyarakat lingkungan sekitarnya. Masjid harus dapat hadir menjadi sumber sosial, ekonomi, dan pendidikan bagi masyarakat setempat. Sebagai sumber sosial harus dapat dijadikan tempat pembangunan silaturahim antara kelas atau golongan di dalam umat sehingga terbentuk jaringan baru, sedang masjid sebagai sumber ekonomi harus dapat memberdayakan masyarakat melalui dana zakat, infak dan sedekah, dan masjid sebagai sumber pendidikan harus dapat memberikan pengajaran dan pandangan hidup dalam setiap ceramah agama yang dilaksanakan.

Fungsi inilah yang sudah hilang dari masjid selama ini. Hal ini dikarenakan para pengurus masjid hanya berorientasi pada pembangunan fisik masjid yang tidak jarang terkadang harus mengutang lebih dulu kepada panglong terdekat. Akhirnya sumber infak dan sedekah yang harusnya dapat memberdayakan umat (Islam) harus dialokasikan untuk menutup utang pembangunan masjid. Mungkin kita harus memahami arti penting dari Q.S Al-baqarah ayat 177:

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.

masjid Vs deplover

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s