Kelas sosial di Bank

“Selamat siang, ada yang bisa dibantu pak?” Tanya seorang pria berbadan tinggi dan besar serta berseragam putih biru kepada seorang pengunjung bank. “Ya, saya ingin melakukan transfer uang untuk biaya pendidikan, mana fom bukti pembayaran yang harus diisi?” tanya seorang mahasiswa.

Setelah mengisi fom bukti pembayaran mahasiswa melihat ada dua antrian, yang satu cukup panjang di isi hampir belasan orang dan satu antrian lagi hanya dua orang pengantri. Untuk mempercepat waktu mahasiswa mengambil jalur antrian yang hanya di isi oleh dua orang saja. Namun, belum lagi melakukan antrian mahasiswa sudah kembali ditegur oleh pria yang berseragam putih biru tersebut. “Maaf pak, ini khusus antrian nasabah yang ingin melakukan kegiatan penarikan dan penyetoran di atas Rp. 25.000.000,-

***

            Pembagian tempat antri dengan peraturan khusus secara tidak langsung membentuk suatu kelas sosial dalam kegiatan perbankan. Belakangan malah kita sering mendengar program perbankkan dengan istilah nasabah prioritas yaitu mendahulukan serta memberikan pelayanan prima kepada nasabah yang memiliki tabungan atau rekening dengan jumlah besar (biasanya rekeningnya sudah di atas setengah milyar). Namun muncul pertanyaan selanjutnya, apakah perlakuan tersebut salah? Tentu tidak, jika dengan alasan menjaga para nasabah yang memiliki uang banyak.

Akan tetapi, seharusnya semua nasabah diperlakukan prima sehingga tidak muncul gerbang pembatas antara satu nasabah dengan nasabah lain yang berujung terbentuknya kelas sosial di dunia perbankan. Ini adalah catatan khusus, di negara yang amat “mentuhankan uang”. Hampir di seluruh sistem tata pelayanan di negara ini, baik itu di bank maupun di birokrasi pemerintahan, sudah ada hukum sendiri di mana bagi mereka yang memiliki uang banyak maka akan mendapatkan perlakuan yang amat sangat sopan, dihormati dan dilayani dengan pelayanan maksimanal. Di sisi lain, bagi mereka yang tidak memiliki uang banyak (atau miskin) tentu akan mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan, kurang ditanggapi, disuruh menunggu lama dan lain sebagainya.

Jika dilihat lebih dalam sebenarnya ada peran cukup penting yang dimiliki oleh para nasabah kecil di perbankkan. Di mana, hampir setiap orang yang memiliki rekening dengan nilai rupih cukup besar adalah mereka para pengusaha, kontraktor atau pebisnis. Setiap menjalankan kegiatan bisnisnya tentulah mereka membutuhkan modal dan modal yang mereka dapatkan hampir rata-rata mereka peroleh dari pinjaman di bank (kredit) dengan jaminan dan suku bunga yang sudah diatur. Sumber modal yang diberikan bank kepada mereka tentulah hasil kumpulan dari uang-uang yang disimpan oleh masyarakat (khususnya mereka yang dianggap bukan nasabah prioritas tadi) dan uang itulah yang kemudian memberi keuntungan bagi semua pihak baik itu nasabah dengan tabungan kecil maupun besar, para karyawan serta masyarakat luas.

Untuk para nasabah dengan tabungan kecil tentu mereka akan mendapat intensif bunga dari setiap keuntungan yang dihasilkan, sedangkan untuk si peminjam modal ya sudah tentu mendapatkan untung dari hasil bisnis yang di modali oleh pihak bank, dan untuk pihak bank tentu saja dapat memenuhi gaji dan tunjangan karyawannya. Sedangkan untuk masyarakat luas dengan berhasilnya bisnis tersebut tentu menciptkan iklim ekonomi yang baik antara lain dapat membukanya lapangan pekerjaan.

Oleh karenanya, kenapa harus ada perbedaan dalam memberikan pelayanan terhadap setiap nasabah. Bukankah setiap pihak memiliki fungsi dan peran masing-masing yang saling menguntungkan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s