Dunia ‘maya’

Orang memangil aku: Azka. Namaku sendiri, ini tahun ke-empat ku kuliah disini, di deli university. Hari ini sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya, sudah hampir 1 tahun aku tidak mendapatkan mata kuliah pagi dan berdampak pada malasnya aku melakukan aktifitas di pagi hari. Walaupun begitu aku harus tetap bangun, ini tuntutan akademik pikirku kerena itu resiko menjadi seorang mahasiswa yang jadwal pelajarannya berbeda jauh dari SMA dulu.

Jam tangan sudah menunjukkan pukul 07.30 Wib. Aku baru saja tiba di pelataran parkir kampus handphone yang ada di saku celana bergetar dua kali tanda ada sms yang masuk. Sms dari andi ternyata :

“Di ruangan berapa kita masuk ka?”

“101 gedung C.” Balas ku singkat.

Sambil berjalan menuju gedung perkuliahan otak ku berpikir tentang manusia yang sudah memudahkan segala urusan karena kecanggihan tekhnologi. Mungkin andi bagian dari pada kelompok manusia yang seperti itu, dia malas mencatat jadwal kuliahnya dengan dalih bisa di tanya dengan teman-teman yang lain nanti lewat sms. Hanya karena hal inilah kemudian aku merasa mendapat ilham pagi ini. apa yang aku pikirkan tadi mungkin bisa menjadi bahan diskusi awal pada mata kuliah: Media Komunikasi dan Pembangunan yang di bawakan oleh Pak Zaenal nanti.

Perkuliah sudah di mulia, Pak Zaenal membawakannya dengan sangat menyenangkan, banyak dialog terjadi antara beliau dengan mahaiswanya. Pokok pembahasan awal pada pagi ini di mulai dari sejarah perkembangan teknologi yang di tandai dengan revolusi industri dan pengaruhnya terhadap perkembangan manusia. Aku tidak melewati kesempatan ini dan langsung mengajukan sebuah pertanyaan:

“Apakah semakin modernnya zaman, manusia akan memudahkan segala urusannya pak?”

“Ya, karena teknologi yang menjadi beckground dari modernisasi memang diciptakan untuk mempermudah kerja manusia pada umumnya.”

“Tetapi pak kemudian jika itu terjadi, seperti kita lihat bersama ketika handphone muncul dengan smsnya, disusul internet kemudian yang muncul dengan membawa e-mail membuat pak pos kehilangan banyak pekerjaannya pak. Bagaimana menurut bapak?”

“Ya, saya pikir memang begitu ka, itu bagian dari pada sebuah konsekwensi pembangunan. Sisi positif dan negatif pasti ada. Sekarang saya akan beritugas kepada kalian semua untuk membuat suatu karya tulis tentang peran media seperti facebook, twitter dan blog terhadap manusia sebagai mahluk pembangunan. Terserah mau pilih sisi mana positif atau negatif namun saya harapkan sisi yang di perlihatkan harus berimbang. Bisa?” Semua yang di  dalam kelas hanya diam dan membisu. “Saya kasih waktu satu minggu dan minggu depan udah bisa untuk kita diskusikan hasil dari tulisan kalian.” Tambah Pak Zaenal.

Mata kuliah berakhir tepat pukul 10.00 Wib. Pak Zaenal keluar dari kelas tetapi aku dan sebagian mahasiswa lainnya masih berada di dalam kelas karena sibuk memperbincangkan tugas yang diberikan oleh pak zaenal sambil merasakan sejuknya A.C di dalam ruangan, karena di luar sana matahari mulai mengeluarkan energi panasnya.

Andi yang tadi duduk di barisan paling belakang datang mengahampiriku;

“Woy, singkat kali kau balas sms aku tadi ya?”

“Jadi mau di balas apa lagi ? mau di tanya udah sarapan pagi sayang?”

“Ah, ada-ada aja kau ka, hehehe … Oya, semangat kali tadi ku lihat kau bertanya dengan bapak itu, apa karena ada Maya ya di kelas ini, ha?” sambil mengangkat kedua alis matanya dan tersenyum kepadaku.

“Kurang ajar kau ndi, kau pikir aku sepertimu apa ! tukang cari perhatian, hemm.”

“Tenang dulu kawan, duduk dulu kita, ada yang mau aku ceritakan untukmu. Aku tau kau suka dengan dia dari semester satu dulu, tetapi kau tidak berani mendekatinya karena dia sudah memiliki pacar, ya kan?”

“Ya,!” jawabku singkat sambil sambil membalas sms dan tidak terlalu memperdulikannya.

“Jadi kau ngak tau Ka, kalau dia sudah putus setahun yang lalu dengan pacarnya itu?”

“Tau, aku liat status di info fecebooknya udah berubah jadi lajang. Kau pasti tau dari f.b juga kan?” sambil ku tatap matanya tajam.

“Lantas kenapa kau tidak mendekatinya? ngak punya nyali ya! Apa perlu aku comblangi?”

“Itu bukan urusan mu ndi, kau jawab dulu pertanyaan ku tadi, kau tau dari mana kalau maya sudah putus dengan pacarnya? karena aku ngak percaya dengan info di f.b itu. Bisa jadikan hanya merubah status tetapi nyatanya dia tetap sama dengan si kawan itu.”

“Kau benar ka, info di f.b itu terkadang memang palsu. Sebenarnya maya kemarin telpon aku, dia minta tolong. Dia bilang kalau dia mau ngeliput petani cabai di kaki gunung sinabung, dia tau kalau aku punya lahan di sana dan juga rumah. Jadi dia minta tolong supaya aku bisa ngenalkan dia ke para petani cabai di sekitar itu.”

Alis ku sepotantan merapat serta menciut mendekati batang hidungku, “Maya tau dari mana kalau kau anak juragan cabai ?”

“Ahhahaha Ka, aku minta maaf. Sebenarnya Maya itu teman ku di SMA dulu tapi aku tak mau bilang denganmu, supaya kau makin penasaran dengan dia, dan ternyata benarkan. Hahahha..”

“Memang payah kau ndi!” ku sandarkan kembali diriku ke kursi dan tersenyum kerena sudah di bohongi teman sendiri. Maya muncul dari belakang memutar kursi dan duduk di hapan aku dan andi. Ku perhatikan dia, tak berubah sedikitpun masih seperti maya yang aku kenal dulu, memakai kemeja yang dua kancing atasnya sengaja di buka untuk memperlihatkan kaos polos di dalamnya. Tas rangsel, celana jeans dan sepatu cat’s yang tak ketinggalan. Sedikit tomboy memang dan aku suka dengan wanita tomboy. Tak jemu aku memperhatikannya, hidungnya yang mancung, bibirnya yang sedikit tipis, bulu matanya yang lentik berpadu mesra dengan mata yang indah. Mata belok di bilang banyak orang. Percis gadis-gadis keturunan Mesir. Maya tidak memakai jilbab hari ini. Rambutnya yang sebahu sebagian terurai dengan indah di samping telingannya dan sebagian lagi terikat rapi di belakang pundaknya. Perhatian ku kepadanya terhenti ketika andi memukul pundak ku dan berkata:

“Dimana ka, kau mau ikut sekalian ngak?”

“Memangnya mau kemana?” jawabku dengan wajah heran.

“Tapi kemarin kau juga mau lihat kebun cabai ku, udah sekalian aja kita bertiga berangkat sama maya, gimana cocok?”

“Cocok, atur aja” dalam hatiku berkata; andi memang seorang yang pandai, dia bisa mensekenariokan ini semua. Pada hal aku tak pernah bilang mau ke kebun cabai miliknya.

“Ok, kalau gitu” sahut maya. “Nanti aku hubungi kau lagi ya ndi. Makasi sebelumnya, aku tinggal dulu. Aku ada pertemuan lagi ni dengan kawan-kawan pers mahasiswa di kantin.” Sambil berdiri dan memakai tas, maya menyapaku; “aku deluan ya Ka!”

“O, ya hati-hati may. Semoga sukses.” Hanya bisa tersenyum dan melepasnya keluar ruangan kelas. Andi memukul bahu ku sambil tertawa riang melihat aku tersenyum manis.

“Azka-azka, memang aneh, hahaha.”

***

            Aku tidak bisa tidur malam ini, setiap ku ingat kejadian minggu lalu ketika maya duduk dihadapan ku, hatiku selalu berdoa agar hari rabu cepat hadir kembali kerena hanya di setiap rabu aku bisa satu ruangan dengannya dan menatap dirinya yang syarat dengan ketulusan untuk menjadi diri sendiri.

Malam ini malam rabu dan esok adalah hari yang paling aku nanti. tugas dari pak zaenal sudah aku persiapkan dengan baik berharap maya besok memperhatikan serta menyimak pendapatku tentang peran media dalam pembangunan manusia. Maya kembali memasuki pikiranku. Oh maya, kenapa kau datang lagi dalam pikiranku, dan kenapa kita bisa dipertemukan di dalam mata kuliah yang membahas tentang peran dunia mu, dunia ‘maya’. Oh maya, ‘celeopatraku’

Mungkin online pilihan tepat dari pada tidak bisa tidur. Aku buka f.b dan update status; ‘terjebak dalam dunia mu, dunia maya’. Tak sampai dua menit Maya me-like status ku. Kulihat di layar obrolan ternyata maya sedang online dan langsung ku sapa:

“Makasih ya udah di like, kok belum tidur? Udah jam 12 malam ni.” Tak lama berselang kotak kecil abu-abu disudut laptop ku berubah menjadi berwarna biru dan memunculkan kotak kecil berwana merah berisi angka, tanda ada balasan pesan dari maya.

“Ia ka, masih nanggung lagi ngirim e-mail ni ke-teman di Jakarta, azka sendiri kok belum tidur?”

“Ngk tau ni kenapa ngk bisa tidur, bawaannya kepikiran dengan dunia ‘maya’ aja heheh J”

“Dunia maya mana ni ? dunia maya-nya maya atau dunia ‘maya’?

“Dua-duanya, ahahahha … dimana tugas dari pak zaenal udah siap ?”

“Ah, ada-ada aja, bisa pula pilih dua-duanya. Mana aci gitu. Tugasnya udah, azka sendiri gimana?”

“Ya boleh la pilih dua-duanya kan bukan pemilu yang harus milih satu. Udah siap tinggal di diskusikan aja besok.”

“Ka, udah dulu ya, e-mailnya udah terkirim ni, maya mau tidur, besok kan kita masuk pagi ntar telat lagi.”

“Ok lah kalau begitu, besok berangkat sama siapa may? Mana tau bisa pergi sama”

“Maya di antar papa besok, lain kali aja ya, udah janji soalnya, hehehhe … sekali-kali pengen manja dulu ke orang tua.”

“Y udah ngk apa-apa, sampai ketemu besok, mimpi indah ya!”

“Ok sama-sama, tapi azka jng mimpi indah ya, mimpi maya aja. Ahhahahah,,, becanda, piss 0_* Y.”

“Ya ya ya,, boleh juga tu, hehehee…  udah tidur sana.”

Mungkin ini malam paling beruntung buatku, sudah dua tahun aku berteman dengan maya di facebook tapi baru malam ini aku bisa online dengannya. Terimakasih tuhan.

***

            Pagi telah datang, matahari datang. Membawa secerca harapan baru akan penemuan tulang rusuk yang telah hilang sejak bayi. Semoga tulang rusuk itu bernama Maya Azhara. Cuman itu yang ada di dalam isi pikiranku selama perjalanan menuju kampus.

Pak zaenal memulai kelasnya pagi ini tanpa ragu dia bertanya; “bagaimana sudah bisa kita mulai diskusinya?” beberapa orang di dalam kelas menjawab bisa sedangkan sisanya hanya diam dan menguap-nguap karena masih ngantuk.

“Siapa yang mau memberikan pandangannya lebih dulu tentang peranan media dalam pembangunan manusia?” pertanyaan pak zaenal ini membuat maya mengangkat tangannya.          “Silahkan kamu maya”

“Terima kasih pak, saya akan melihat peranan media khususnya facebook, blog dan twitter dalam pembangunan manusia. Dimana merupakan media jejaringan sosial yang amat populer dan berpengaruh pada zaman ini. banyak kebijakan yang dapat di berubah jika issue itu sudah masuk ke dalam jejaringan sosial semacam f.b ataupu twitter. Sebagai contoh kasusnya pak, coba kita lihat bagaimana gerakan mendukung bibit dan candra lewat f.b yang mampu membebaskan mereka semua dari perkara karena dukungan publik yang begitu besar. Contoh lain yang bisa kita liat dari blog adalah bagaimana prita mulya sari yang melakukan protes lewat blognya terhadap pelayanan sebuah rumah sakit dan itu di tanggapi khlayak banyak. Lalu prita mendapat masalah hukum karena  kasus tulisannya di blog tersebut dan dalam proses selanjutnya prita mendapat dukungan koin dari masyarakat yang isuenya di bangun melalui f,b dan twitter. Jadi pak, saya melihat peran cyber media dalam pembangunan manusia sangat berarti penting kususnya dalam pembangunan iklim demokrasi dan gerakan masa. Gerakan masa yang melalui cyber media berpengaruh besar terhadap hegamoni kekuasaan pemerintahan. Kita lihat bagaimana Tunisia, Mesir, Libya serta Yunani melakukan gerakan revolusi yang berawal dari kumpulan-kumpulan group di fecebook.”

“Gagasan yang kamu tuliskan itu sangat menarik may” sambung Pak Zaenal. “Sebenarnya persoalan itu akan kita bahas pada pertemuan berikutnya, jadi saya hanya bisa katakan ke kalian semua kalau dalam pembangunan iklim demokratisasi pembagian kekuasaan itu sangat-lah penting atau biasa disebut sebagai trias politica. Namun sekarang, sistem pengaturan yang terdapat dalam trias politica tidak lagi mendapat kepercayaan oleh masyarakat banyak sehingga media muncul dan memainkan peranannya sebagai sosial kontrol terhadap kebijakan suatu pemerintahan di suatu negara. Tetapi pada proporsi tertentu terkadang media televise dan koran-koran sudah terkontaminasi dengan gerakan politik. Banyak para elit politik negara ini yang sengaja membeli saham stasiun televisi dan media cetak lainnya agar kepentingan kelompoknya tetap terjaga. Sehingga sebagian masyarakat serta para aktifis, membuat medianya sendiri melalui jejaringan sosial tadi. Saya rasa itu perlu kalian ketahui.” Pak Zaenal diam sejenak dan kemudian bertanya; “Siapa lagi yang mau menyampaikan hasil tulisannya?”

Ini kesempatan yang baik untuk ku mendapatkan perhatian dari maya dan tanpa di tunggu aku langsung mengajukan diri; “Saya pak,!”

“Ya, silahkan!”

“Terimakasih pak, menarik memang pembahasan yang dilakukan oleh teman saya Maya tadi” sambil menatapnya aku memberikan senyum dan maya juga membalas dengan senyum. “ Benar memang dan tidak salah jika kemudian penguasa negara melakukan kontrol yang begitu besar terhadap para pengguna cyber media karena akan dapat mengganggu hegamoni kekuasaan mereka. Namun saya akan melihat sisi negatif dari cyber media seperti facebook, twitter dan blog.  Pertama, cyeber media memberikan suatu ketergantungan atau candu terhadap mereka yang memakainya. Hasil ini saya dapat melalui angket yang saya buat di fb. Tiga ratus dari lima ratus teman saya di fb menjawab kalau setiap menggunakan media seperti fb dan twitter mereka selalu ketagihan dan susah untuk meninggalkannya. Kedua, saya menemukan fakta baru kalau sebenarnya facebook merupakan alat pembaca pikiran manusia paling cepat. Coba kita perhatikan dari tulisan di dinding beranda f.b yang menanyakan; apa yang anda pikirkan? Semua orang kemudian menuliskan apa yang mereka pikirkan, dan dari sana kita dapat melihat jelas kualitas pemikiran anak bangsa di negeri ini. masih sebatas masalah kegalauwan hati dan jauh dari pemikiran yang dapat membangun. Yang ketiga, Cyber media membuang banyak energy dan biaya. Coba hitung berapa jumlah cost yang harus dikeluarkan jika kita ingin online atau melakukan aktifitas dalam dunia maya. Belum lagi jika aktifitas yang kita lakukan bukanlah suatu yang bermanfaat maka akan menghabiskan waktu. Dalam sisi yang lain besarnya keran yang di buka terhadap cyber media membuat orang sudah sesuka hatinya menuliskan sesuatu baik itu di blog atau dimanapun. Sehingga melawati batas etika, mengingat dalam dunia cbery tidak adanya pembahasan tentang  kode etik. kalaupun ada aturan menyangkut itu seperti UU No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik namun belum di realisasikan secara baik. Itu saja pak.”

“Oke, saya rasa dua uraian ini sudah cukup mewakili semua pembahasan kita, tetapi ada hal yang akan saya tambahkan; pertama, phenomena yang ada sekarang adalah semakin berkembangnya teknologi semakin membuat banyak orang malas melakukan hubungan interaksi secara langsung, karena semuanya bisa di lakukan dengan media online, entah itu pembayaran pajak, zakat, pembicaran melalui BBM, 3G, dan lain-lain. Awalnya ini mungkin ingin mempermudah manusia dalam melakukan aktifitasnya namun pada kenyataan akhirnya ini sudah menjadi sebuah kebudayaan baru di tengah manusia. Bahkan orang terkadang lebih senang berdoa lewat f.b dari pada melalui solat, benarkan?” Pak zaenal tersenyum. “Itulah yang perlu kalian jaga, karena benar apa yang dikatakan oleh azka tadi kalau cyber media semacam f.b dan twitter ini memiliki candu, sehingga kalian harus bisa membatasi diri dan tidak terjebak di dalamnya.”

Tanpa di sadari, kuliah hari ini telah selesai. Maya mendatangi ku dan mengatakan kalau pendapatku tadi sangat bagus jika di masukkan kedalam majalah pres mahasiswa kampus yang pada bulan ini membahas tentang sisi-sisi cyber media.

***

            Aku memperbaiki tulisanku tentang cyber media agar dapat di muat di majalah pers mahasiswa dan besok lusa akan aku berikan ke maya. Handphone ku berbunyi tanda sms masuk, dari andi ternyata:

“Ka, besok aku harap kau tidak memiliki acara apapun karena besok maya mengajak kita ke sinabung untuk melihat kebun cabaiku, ini kesempatan mu untuk bisa dekat dengannya. Aku dan dia akan menjemput-mu besok jam 08.00 wib dan kau harus sudah siap.”

“Ok,” Jawabku singkat. Memang minggu adalah hari yang tepat untuk melakukan perjalanan  keluar kota dan aku harus tidur lebih awal malam ini, walaupun kata orang  malam minggu adalah malam yang panjang, perduli apa pikirku yang penting besok aku bisa ketemu dengan maya.

Jam dinding di kamar ku sudah pukul 08.10 wib, namun andi belum juga sampai, aku mulai resah. Jangan-jangan aku di kerjain andi. Tak lama berselang andi datang bersama maya dan kami langsung menuju sinabung dan perjalanan memakan waktu 5 jam. Jam 13.30 kami sampai di kebun andi dan langsung di ajak makan oleh para petani cabai yang juga merupakan karyawan andi. Udara yang dingin membuat perut semakin lapar dan semua makanan terlahap habis. Setelah itu kami mulai mengelilingin kebun cabai andi yang luasnya satu hektar, tetapi tidak semuanya di tanami cabai, ada juga sayur-sayur lain semacem kol dan tomat. Maya tampak sibuk mewawancarai petani. Sedangkan aku dan andi membantu para petani panen cabai. Setelah selesai kami kembali ke gubuk lesehan para petani.

Andi membuka pembicaraan awal. “langsung di tulis di laptop ya may hasil wawancaranya?”

“Ia ndi, takut lupa ntar jalan ceritanya. Suasanan lagi dukung untuk nulis laporan ni.”

“kalau gitu, aku tinggal ke belangkan bentar ya,ngak apa-apa kan?”

“ngak ndi, lanjut aja. Kan ada azka yang nemani.”

Andi pergi kebelakang, cukup lama memang, hampir lima belas menit. Handphone ku kembali berbunyi, pesan dari andi lagi yang masuk; “Udah mulai terus pembicaraannya, ungkapkan aja, situasinya lagi bagus ni, nanti keburu sore maya minta pulang. Ini kesempatan untuk mu mengatakan kalau kau jatuh hati ke dia. Nanti kalau udah selesai hubungi aku ya, biar aku ke depan dan kita langsung pulang, ok?”

Aku hanya bisa tersenyu, ternyata ini yang di sekenariokan oleh andi dan aku hanya membalas singakat. “ok, thanks ya brother”.

Aku mulai ajak maya bicara perlahan tentang oraganisasi dan kesibukannya, pembicaraan makin lama mengarah pada pertanyaan tentang diri pribadi masing-masing sampai akhirnya aku berkata padanya;

“May, ada yang mau ku katakan padamu penting.”

“Apa itu ka?”

“Sebenarnya aku takut mau mengatakannya kepadamu, takut di anggap lancang. Sebenarnya andi juga sudah mengetahui ini dari dulu, kalau sejak semester awal pertemuaan kita di kampus aku sudah mulai jatuh hati padamu, tapi pada waktu itu aku ngak berani mengatakan ini karena kau masih memiliki pacar. Dan kemarin kita di pertemukan kembali di mata kuliah Pak zaenal, dan aku tau dari andi kalau kau sudah tidak ada yang punya. Aku hanya mau mengatakan ini kepadamu, sebelum aku tamat dari kuliah dan akan menjadi penyesalan bagiku. Semoga kau tidak menganggap ini sebagai sebuah celotehan biasa.”

“Aku tau ka, tadi andi juga sudah bercerita banyak tentangmu sepanjang perjalanan menuju ke rumahmu. Aku merasa senang ternyata ada juga orang yang menaruh perhatian kepada ku selama ini dan aku akan merasa bahagian jika kau memang benar-benar mau menjadi pendamping perjalanan hidupku ke depan.”

“Benarkah itu may? Kau menerima ku?” bibirku masih terus tersenyum sumbringan.

“Ya, aku menerima mu, asal kau mau hidup dalam dunia ku. Dunia Maya.”

“Ya, aku akan hidup dalam dunia mu, Dunia Maya.” Kami berdua saling bertatap dan tertawa bersamaan. Tanpa ku sadari ternyata mata kuliah yang membahas tentang peranan dunia maya dalam pembangunan mengatarkan ku kepada Maya yang sesungguhnya, yang sudah kunanti selama ini.

Maya bertanya kepadaku; “ka, aku rubah ya status info ku di f.b dari lanjang menjadi berpacaran dengan Azka, boleh ya?”

“Ya, silahkan. Ana masalah. F.b itu kan bagian dari dunia mu may. Dunia maya ahahah.” Maya kembali tersenyum. setelah hampir tujuh tahun status ku lajang terus di f.b akhirnya pada hari ini berubah menjadi berpacaran dengan Maya Azhara. Andi muncul dari kejauhan dan menatap kami sambil tersenyum.

Sepanjang perjalanan pulang andi lebih memilih tidur di belakang dan membiarkan aku membawa mobilnya agar dapat duduk di depan berduan dengan Maya.

= Tamat =

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s