Tersandera Kabinet

Hampir empat puluh tiga hari kabinetIndonesiabersatu jilid II berjalan hingga    4 Desember ini, tetapi belum ada apa-apa, dan menghasilkan apa-apa, karena suara pergerakannyapun belum juga terdengar, sebenarnya apa yang terjadi dengan kabinetIndonesiaberstu jilid II ini,? Sebelum pertanyaan besar itu terjawab izinkan saya untuk mengurainya satu persatu.

            Mari kita mulai dengan mengapa seratus hari menjadi tolak ukur sukses atau tidaknya suatu perjalana, malah hampir setiap Negara 100 hari masa kepemimpina seorang presiden dengan kabinetnya sangatlah ditunggu hasilnya oleh masyarakat, karena dalam ilmu psychologi, pada dasarnya waktu seratus hari itulah yang harus di jaga dalam membentuk suatu kebiasaan-kebiasaan, bila dalam seratus hari kerja ini kebiasaan yang dibangun dalam sistem kerja buruk  maka bersiaplah kedepanya akan terus sama, dan sebaliknya, jika yang dibangun adalah suatu sistem kerja yang baik dalam seratus hari maka kebiasaan-kebiasaan atau rutinitas itu sendiri akan terbangun terus seperti itu kedepannya.

            Lalu apa yang terjadi selama empat puluh tiga hari ini, kemana mereka semua kok belum juga terlihat tindak-tanduknya? Sebenarnya mereka tidak kemana-mana, mereka hanya tetap disitu berdiam diri bersembunyi dibalik dua gunung KPK Vs POLRI, dan ditutupi awan hitam “Century” sehingga sama sekali tidak tersorot sinar matahari yang tajam, mereka aman tidak ada yang mencari mereka karna semua orang pada sibuk mencari “kitab suci kebarat” yang katanya didalamnya berisikan data aliran dana Bank Century ke lima puluh rekening yang dicurigai.

            Jadi secara tidak langsung mereka terselamatkan oleh issue yang dibangun oleh media masa, dan memang kita harus mengakui bahwa media masa sangat mempunyai pengaruh yang besar dalam penyampaian informasi. Merekalah yang menjadi jendela antara pusat dan daerah, tanpa meraka orang-orang yang  ada di daerah tidak akan pernah mengetahui apa kegiatan yang sedang dilakukan pemerintahannya disana. Dan kalau hal ini terus terjadi maka akan adanya penggelapan informasi yang harus diketahui oleh masyarakat.

            Menurut Sun Tzu seorang filsuf perang klasik, mengatakan: perang yang berlarut-larut harus di hindari, tidak boleh terjadi, pemimpin tidak boleh terlalu lama dalam “memutuskan”. tidak boleh membiarkan “ketidakpastian” terjadi ditengah berbagai tantangan yang terus berkembang. Namun keputusan pemimpin tetap harus di dasari oleh prinsip ke hati-hatian dengan kalkulasi mendasar dan jeli tidak alasan-alasan. Dan yang jelas kontraksi issue dimedia  masa ini harus di hentikan, sehingga tidak ada lagi ketimpangan dalam pemberitaan seperti yang terjadi sekarang ini.

            Karena itu, mari kita sajalah yang membicarakan kabinet indonesia bersatu jilid II ini, semua harus sepakat bahwa jabatan presiden dan menteri adalah jabatan politis, artinya ada janji yang bisa di tepati atau tidak di tepati, tergantung proses dan kepentingan politik yang berlangsung selama perjalanan kekuasaan. Pada era Soekarno dan Soeharto tidak dapat dipungkirin bahwa ada banyak instrument-instrument politik yang berfungsing untuk kepentingan politik presiden, terutama para menteri yang lebih merupakan kepanjang tanganan kepentingan politik kekuasaan. Di ere SBY-Jk posisi menteri sebagai jabatan politis semakin jelas, menteri adalah jabatan yang menjadi jatah para pendukung kemenangan SBY-Jk dalam pilpers 2004. posisi menteri adalah posisi jabatan yang perlu ditawar, dapat diminta dan berakhir dengan kompromi.

            Begitu juga dengan sekarang, kabinet SBY-Boedionohampir sama dengan kabinet SBY-Jk. Karena pilihan kepada menteri yang mereka berikan merupakan balas budi saja, atas jasa-jasa mereka selama menjadi tim sukses di pilpers 2009 ini. Contohnya: penempatan Jenderal (Pol) Purn Sutanto sebagai kepala BIN (Badan Intelejen Negara), pada hal sutanto tidak memiliki latar belakang sebagai seorang intelejen, mungkin SBY punya banyak alasan untuk ini, mulai dari penanganan teroris yang sudah dipegang oleh polri sampai dengan balas jasa terhadap polri yang memang terlibat dalam politik praktis selama pilpers. Bahkan pengamat intelijen, AC Manullang menyatakan bahwa SBY mengangkat Sutanto tidak dilandasi pertimbangan berdasarkan kemapuan Sutanto tetapi Sutanto dipandang sebagai orang dekat yang dapat dipercaya. SBY akan membangunIndonesiadengan pendekatan keamanan.”fungsi intelijen ke depan bukan untuk kepentingan Negara tetapi kepentingan penguasa. Andi Malaranggeng juga sama, hanya karena bekas tim sukses dan orang dekatnya SBY, akhirnya dia mendapatkan posisi sebagai Menpora, padahal selama ini Andi terlihat sangat jauh dari kepemudaan dan kegiatan olahraga, tapi dengan adanya Sea Game di kamboja tahun ini mungkin Andi bisa membuktikan program seratus harinya berjalan dengan sukses. Nama Patrialis akbar yang muncul sebagai menteri Hukum dan HAM, mendapatkannya karena ia merupakan orang paling vocal semasa kampaye mendukung SBY. Agung Laksono juga sama mendapatkan posisi sebagai Menko Kesra karena atas jasa beliau yang tidak mendukung Jk-Win tetapi lebih mendukung SBY-Boediono. Gunawan Fauzi, Fadel Muhammad juga mendapatkan jatah menteri karena tergabung dalam Tim Pro SBY, beda halnya dengan menteri kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, sebagai menteri kesehatan penempatannya sangatlah mengejutkan sama halnya dengan sutanto tadi, banyak pengamat yang mengatakan, penempatan meraka berdua merupakan Grand strategi AS untuk menguatkan cengkaramannya di Indonesia, AS berupaya menekan Indonesia terkait keamanan investor AS di bidang pertambangan dan proyek kesehatan (Namru II) di Indonesia. Kalau kita lihat lagi kinerja menteri kesehatan selama seratus hari ini belum teruji mengingat kemarin sempat munculnya penyakit Kaki gajah dibandungjawa barat, yang sempat memakan banyak korban.

            Dikabinet kali ini, SBY sebenarnya lebih terkesan menjadi “sandera” para parpol yang telah mendukungnya selama pilpers. Lepas dari itu didalam kabinetnya kali ini SBY juga memilih kalangan profesional, dengan alasan: Ditengah problem sosial yang kian kompleks, utamanya beragam bencana alam, dan kerusakan infrastruktur ekonomi dan budaya, kepala Negara didorong dan dituntut untuk membentuk kabinet yang berisikan kalangan profesional dibidangnya. Pemulihan kehidupan rakyat utamanya didomain ekonomi dan sosial budaya tidak dapat di selesaikan melalui lobi politik ataupun diplomasi politik, melaikan harus dicari langkah-langkah kongret dengan para menteri yang berintegritas dan berkemampuan multiple intelligence.

            Lepas dari itu semua, sebenarnya presiden memiliki hak prerogative mengangkat dan memberhentikan menteri-menterinya, hal ini diatur oleh UUD 1945 pasal 17 ayat 2. selain itu presiden sesuai UU nomer 39 tahun 2008 tentang kementrian Negara juga berhak membentuk pos-pos baru kementerian Negara yang diperlukan, meskipun tetap harus mempertimbangkan segala aspek baik itu aspek Efisiensi dan Efektifitas, cukupan tugas dan poporsionalitas beban tugas

             Anehnya lagi di seratus hari kabinetIndonesiabersatu jilid II ini sudah mulai terlihat ketidak percayaan SBY kepada kabinetnya, apa karena hal di atas tadi atau memang sudah bakal adanya niatan untuk merombak kabinet lagi dipertengahan jalan. Hal ini bisa terlihat dari dibentuknya wakil menteri yang secara notabene tidaklah terlalu penting, bukankah disetiap pos-pos kementerian sudah ada Irjen dan Dirjen lalu untuk apa lagi wakil menteri ini? Ketidak percyaan SBY juga terlihat ketika ia membentuk tim-8 untuk menyelesaikan kasus bibit dan candra yang menyeret dua lembaga kedalamnya yaitu KPK dan POLRI. Lalu untuk apa dibentuk tim-8, bukankah Negara ini sudah mempunyai menteri Hukum dan HAM, Menko POLHUKAM, BIN, dan MENKEU yang bisa saling berkerja sama dalam pengungkapan kasus ini diperadilan. Aneh memang, akhirnya Uang Kas Negara banyak keluar untuk hal-hal yang tidak diperlukan, bukankah lebih baik di alihkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan.

            Jadi seratus hari bukanlah jaminan, dengan banyaknya petinggi parpol yang berada diposisi yang bukan bidangnya akan mengancam pada keberadaan demokrasi di Indonesia. Demokrasi akan berhenti pada prosudural dan kepartaian, yang pada akhirnya akan punah dengan sendirinya. Dampaknya rakyatkanprakmatis menjual suranya dan akhirnya kualitas akan kalah pada pemilik modal. Kekuatiran lainya adalah keberadaan partai politik yang merupakan konsestan yang akan berlaga pada 2014 lewat posisinya meraka akan memulai menabung untuk kekuasaan berlagalimatahun mendatang. dengan meperbaiki citra atau agenda parpol lainya.

            Dampaknya untuk Indonesia kedepan publik jangan banyak berharap, publik harus berjuang sendiri, Negara sebagai fasilitato, akan sibuk dengan kekuatan politik yang memikirkan kepentingan 2014. terlebih dilihat dari menteri-menteri yang dipilih, mereka semua rata-rata adalah orang-orang yang ramah dan lunak dengan modal asing. Bagi-bagi kekuasaan yang dikuatirkan banyak pengamat, kini kian tampak jelas, dan harapan untukIndonesia yang makmur dan sejahtera semakin jauh untuk bisa diraih. Bila tidak cepat disikapi kondisi seperti priode berikutnya akan terulang kembali, diakhir masa jabtannya mereka akan berkoar seperti pada pilpers yang lalu, membangun kinerja mereka bukan untuk rakyat tapi demi citra parpol agar mempesona. namun Mengikuti teori siklus peradaban Ibnu Khaldun, peradaban yang dibangun pada akhirnya akan rubuh, peradapan menurut khaldun, mengalami masa pertumbuhan, konsolidasi, puncak keemasan, pembusukan, dan kemudian keruntuhan.

            Kisah tentang jatuh bangunnya peradaban dalam perjalanan sejarah umat manusia sejak berabat-abad yang lampau hingga kini mestinya dijadikan bahan pelajaran yang sangat berharga untuk kita dan pemerintahan saat ini. Kalau tidak bisa jadi pemerintahan yang dibangun SBY ini akan jatuh, percis seperti jatuhnya orde lama dan orde baru karena tingkat kepercayaan masyarakat yang mulai turun terhadap pemerintahnnya karena janji-janji politik yang tidak terpenuhi.

Zaman berubah, prilaku tak berubah. Orang berubah, tingkah laku tak berubah

Wajah berubah kok menjadi lebih susah! Manusia berubah, berubah-rubah.

 

Tulisan ini di menjadi pemenang pertama

Lomba artikel Tri In Action UKM-LPM Teropong UMSU 2009

Dengan judul: “Sertus Hari Bukan Jaminan Karena Balas Budi Lebih di Utamakan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s