Manusia “Cukup” Semangkuk Bakso dan Segelas Teh Manis Dingin

Beberapa tahun yang lalu di sebuah acara Multi Level Marketing (MLM), seorang pembicara yang saya lupa namanya bertutur begini; “terkadang kita, manusia ini lebih rendah harganya dibandingkan semangkuk bakso yang kita makan.”

            Antara percaya dan tidak tetapi ia mempunyai asumsi dasar yang masuk akal bagi saya pada waktu itu. Dia berbicara berdasarkan hitungan pendapatan manusia perbulan. Begini hitungannya; “jika gaji seorang sebagai karyawan itu sebesar Rp. 1.500.000/bulan dengan hitungan 26 hari kerja yang tiap harinya bekerja selama 8 jam. Maka gaji orang tersebut perhari adalah Rp. 1.500.000 : 26 hari = Rp. 57692,-/hari.

            Kemudian jika dihitung lagi gaji orang tersebut perjam adalah 57692 : 8 jam = Rp. 7211,- harga orang tersebut dibayar selama satu jam bekerja. Kemudian ia membandingkan dengan harga semangkuk bakso (Rp. 6000,-) yang dimakan orang tersebut plus minum teh manis dingin (Rp. 3000,-) yang jumlahnya Rp. 9000,- dan hanya dihabiskan dalam waktu 15 menit.

            Dengan demikian harga semangkuk bakso masih jauh lebih mahal dari harga seorang karyawan tersebut. Lalu ia berunjar begini, “jika karyawan yang tiap bulannya berpenghasilan Rp. 1.500.000,- masih kalah dengan harga sepiring bakso lantas bagaimana dengan anda yang penggangguran ini?” semua perserta yang hadir diacara tersebut tersenyum miris melihat kenyataan dari hitungan yang dibuat oleh si pembicara. Aneh memang, namun ada benarnya jika dihitung berdasarkan jumlah pendapatan di atas.

            Akan tetapi, sang pembicara lupa kalau kerja itu bukan hanya hitungan penghasilan tiap bulan semata. Ia lupa kalau dari sana akan terbentuk silaturrahmi antar manusia yang dapat dijadikan modal sosial, ia juga lupa kalau di sana ada proses pembelajaran untuk menjadi seorang pemimpin dan seorang yang dipimpin. Bahkan terkadang lebih dari itu.

            Memang kebanyakan orang yang hidup di zaman ini amat suka berpandangan ‘materialistis’. Semua dinilai dengan uang, benda berharga dan kemapanan yang terkadang itu menjadi sebuah asumsi tentang kesejahteraan hidup. Dampak buruk yang dihasilkan adalah semua orang pada sibuk berlomba untuk memenuhi asumsi itu dengan cara-cara yang tidak baik seperti; korupsi, merampok, menipu dan lain sebagainya. Tampilan akan kemewahan menjadi sebuah keharusan dan ironi itu sekarang dipakai menjadi tanda awal dalam pemisahan kelas sosial antara si kaya (yang sejahtera) dan si miskin (yang melarat).

            Jika dilihat lebih jauh, sampai sekarang kita belum menemukan definisi atau batasan-batasan yang pasti tentang siapa-sih orang yang dapat disebut sebagai orang  yang sejahtera itu (kaya)? Apakah orang yang berpengasilan Rp. 5.000.000,-/bulan dan memiliki tiga rumah, dua mobil bisa juga dikatakan sejahtera (kaya)? Atau orang yang berpenghasilan Rp. 4.000.000,-/bulan dengan 1 mobil, 2 rumah, dan satu hektar tanah juga dapat dikatagorikan sejahtera (kaya).

            Padahal jika mau ditelisik lebih dalam lagi hanya dengan satu kata semua orang bisa hidup sejahtera. Kata tersebut adalah “cukup”. Karena hanya kata inilah yang dapat menbatasi suatu kebutuhan dalam hidup yang tak akan habis-habisnya jika dituruti. Maka untuk menjadi orang yang sejahtera hanya membutuhkan satu peranan rasa“cukup” yang berujung pada rasa sukur dari dalam diri atas segala bentuk rezki, pendapatan dan penghasilan yang telah diperoleh hari ini dengan usaha yang sudah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya usaha.

            Akhirnya, kesejahteraan seyogyanya bisa diperoleh dengan amat sederhana tanpa harus berjibaku dengan nafsu kebutuhan yang selalu berucap “belum, lagi dan lagi”. Jadi cukup-kah semangkuk bakso dan segelas teh manis dingin untuk anda konsumsi hari ini?

Bakso + Es Teh, Siapa Mau ?

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s