Diskriminasi dan penganguran

Tepat pada pertengahan tahun 2007 yang lalu saya melakukan perjalanan ke negeri seberang (Malaysia). Menyinggahi beberapa kota seperti penang, genting dan kuala lumpur. Tak banyak kelihatan perbedaan antara Malaysia (Kuala Lumpur) dan Indonesia (Jakarta). Hanya soal ketertiban dan kenyamanan tranportasi saja.

Hampir tidak ada ditemukan jalan macet di pusat ibu kota kuala lumpur. Pedagang kaki lima diatur dengan indahnya. Tidak “belepotan” seperti di sini (Indonesia), dan kita  harus akui itu. Namun bukan itu yang menjadi permasalahan utama kenapa tulisan ini ditulis. awalnya beberapa hari yang lalu saya mengikuti seleksi untuk menjadi calon pegawai di salah satu bank lokal.

Selama proses seleksi saya melihat banyak kejanggalan yang membuat hati miris. Ada rasa keadilan yang terlanggar di sana. Bentuk keadilan yang dilanggar adalah permasalahan tinggi badan bagi setiap pelamar. Saya tidak tau landasan hukum formil apa yang menjadi dasar mereka untuk mengelaminasi setiap calon pegawai. Bukan-kah tiap-tiap orang berhak untuk mendapatkan penghidupan dan pekerjaan yang layak? dan UUD 1945 yang merupakan sokogurunya Undang-Undang sudah mengatur itu.

Penampilan yang maha sempurna seolah-olah menjadi tuntutan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan sebuah pekerjaan selain dari pada kepemilikan selembar izajah perguruan tinggi. Regulasi yang begitu berat harus dilalui. Kedua hal itu menjadi syarat yang harus disingkronisasikan dengan baik. jika tidak maka bersiap-lah untuk didepak lebih awal.

Ironi dari kenyataan ini-lah yang mengingatkan saya kembali pada perjalanan 2007 lalu di Malaysia. Bukan bermaksud untuk membanding-bandingkan. Apalagi menghina. Tetapi  di sana (Malaysia), seorang wanita yang wajahnya dapat dikatagorikan “jelek tak ketulungan” dapat bekerja dengan posisi sebagai casir disebuah restoran besar. Begitu juga dibeberapa hotel di sana, wanita-wanita yang ada diresepsionisnya tidak secantik resepsionis di hotel-hotel Indonesia.

Ini adalah bukti kalau tampilan (face dan body) di sana tidak menjadi jaminan keharusan tetapi yang terpenting adalah kualitas personal yang ada dalam diri orang tersebut. Di sini untuk menjadi penjajah rokok seperti para SPG saja harus memiliki body yang seksi dan cantik. Ah, susah sekali. Ini juga bukti bahwa penganguran di negeri ini merupakan sebuah pengkondisian yang dilakukan secara sistemis oleh para pengusaha atau elit pemerintah yang berada dalam sebuah prusahaan, instansi atau BUMN dan BUMD sejenisnya.

interview

Jika mau ditelisik lebih jauh, toh sebenarnya orang-orang dengan kecacatan (difabel) juga mempunyai hak untuk bekerja. Lantas,  bagaimana dengan mereka orang yang memiliki tinggi kurang (pendek) atau kegemukan? Ini pantas untuk dijawab oleh para tim penyeleksi.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s