Melihat Sumatera Utara “di bawah Sampurno”

            Percaya atau tidak, ada sebuah kekuatan besar dalam diri manusia yang tak gampang dilenyapkan yaitu ingatan. Ingatan sendiri dapat diartikan sebagai fungsi dari kognisi (kepercayaan seseorang tentang sesuatu yang didapatkan dari proses berpikir tentang seseorang atau sesuatu) yang melibatkan otak dalam setiap pengambilan informasi.

            Ingatan biasanya akan selalu menjadi titik tolak kesadaran imperatif untuk menjadikan dasar tindakan dalam setiap dinamika kehidupan seorang manusia. Selain itu ingatan selalu saja menjadi senjata bagi manusia untuk melakukan sebuah perlawanan mulai dari skala kecil sampai kepada  sebuah revolusi.

            Untuk beberapa kepentingan khusus, ingatan manusia atau sekelompok orang dapat dimanipulasi dengan baik menjadi ingatan semu atau ingatan yang jauh dari kenyataan dan fakta sosial yang ada. Biasanya hal ini terjadi karena proses encoding (pengabungan) informasi yang tidak tercipta dengan baik. Atau dengan arti lain dapat dikatakan adanya pembohongan dalam penyampaian sebuah informasi.

            Pembohongan informasi itu dapat terjadi dengan mudah ketika kebanyakan manusia disibukkan dengan tuntutan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga tidak sempat lagi atau memiliki banyak waktu untuk mencari kebenaran atas fakta dari sebuah informasi yang disajikan (diberitakan). Lazimnya, pembohongan seperti ini disalurkan lewat media (elektronik dan cetak) sebagai sebuah pusat informasi. Tak ayal bagi mereka orang-orang yang berkepentingan untuk mencari kekuasaan atau mempertahankan kekuasaan harus sering bersentuhan dengan media.

            Dengan bakal diadakannya pemilihan gubernur sumatera utara (pilgubsu) priode 2013-2018, yang kurang dari satu tahun lagi. Media lokal sudah banyak dihiasi pemberitaan para elit politik yang berkeinginan menjadi orang nomor satu di sumut ini. Kemasan berita yang terkadang cukup menarik mulai dari mengungkit-ungkit kebaikan dan keberhasilan program yang dijalankan atau dengan cara-cara biasa seperti memberi bantuan dan santunan kepada masyarakat banyak. Tujuannya hanya satu ingin mendapatkan dukungan. Sedikit berlagak “pilon”, seolah-olah cuman mereka-lah orang baik yang wajib dipilih pada pilkada sumut.

Apakabar Sumut?

            Ini pertanyaan yang amat jarang kita dengar karena kebanyakan dari kita lebih sering berbicara atau konsen pada masalah-masalah yang bersifat nasional. Padahal masalah lokal yang ada di kampung kita belum juga teratasi dengan baik. Janji pada pilgubsu yang dimenangi oleh pasangan syamsul arifin dan gatot pujonugroho (sampurno) belum juga terealisasikan dengan “sempurna”. Janji kampaye kedua pemimpin sumut ini agar rakyat tidak lapar, rakyat jangan bodoh, rakyat tidak sakit, dan rakyat harus punya masa depan, setidaknya harus ditagih sekarang.

            Jika merunjuk pada  data yang dikeluarkan BPS per  2 Januari 2012 menyebutkan Jumlah penduduk miskin di Sumatera Utara pada September 2011 sebanyak 1.421.400 orang (10,83 persen), setidaknya angka ini berkurang sebanyak 59.900 orang bila dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin Maret 2011 yang berjumlah 1.481.300 orang (11,33 persen). Lalu jika  dibandingkan lagi dengan data BPS pada maret 2008 sebesar 1.613.800 orang (12,55 persen) maka tampak penurunan angka kemiskinan yang siknifikan dalam kurun waktu empat tahun (Itu-pun jika data yang disampaikan BPS ini benar).

            Namun amat disayangkan hingga kini BPS, BI maupun Pemprovsu belum merilis berapa pendapatan perkapita penduduk Sumut per-2011. Padahal data ini cukup penting untuk melihat tingkat pendapatan rata-rata penduduk pertahun dan perbulannya. Dan itu juga akan menunjukkan seberapa besar program-program pembangunan yang dicanangkan pemprovsu punya signifikansi terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat pada umumnya agar dapat memenuhi konsumsi pokoknya supaya tidak lapar.

            Di sisi lain jika kita melihat indeks pembangunan manusia (IPM) sumut yang dilansir BPS nasional dari tahun 2005 s/d 2010 maka tampak persentase peningkatan pembangunan manusia di sumut sangat kecil yaitu; 72,03 (pada 2005), 72,46 (pada 2006) 72,78 (pada 2007) 73,29 (pada 2008), 73,80 (pada 2009) dan 74,19 (pada tahun 2010). Jika dirata-ratakan peningkatan IPM sumut per-tahunnya lebih-kurang hanya 1%.  Dari angka-angka sepanjang tahun itu sumut selalu menempati peringkat ke-8 diantara 33 provinsi yang ada di Indonesia.

            IPM sendiri dihitung atas dasar pertama, usia hidup atau harapan hidup pada tiap kelahiran bayi. Kedua, pengetahuan yang dihitung atas indikator angka melek huruf dan rata-rata lama bersekolah. Dan ketiga, standart hidup layak yang dihitung berdasarkan gross domestic product (GDP) atau produk domestik bruto. Ketiga indikator IPM ini sangat dekat dengan visi dan misi dari pasangan sampurno. Sehingga dari indikator IPM ini tampak jelas bahwa apa yang diharapkan pasangan syamsul arifin dan gatot pujonugroho dalam kampayenya berapa tahun yang lalu belum berjalan secara maksimal. Apalagi di tengah perjalanan roda pemerintahan sumut, sang gubernur syamsul arifin harus mendekam di dalam tahanan KPK karena kasus korupsi APBD langkat tahun 2000-2007. Sehingga praktis selama dua tahun belakangan ini gatot pujonugroho harus menyelesaikan pekerjaan rumah “sampurno” dengan sendirinya.

            Harus diingat dalam iklim pemilihan kepala daerah secara langsung, seyogyanya visi dan misi apa yang disampaikan sang calon selama masa kampaye seharusnya dijadikan dokumen  rencana strategis daerah (RENSTRADA), yang dari dokumen inilah pada gilirannya di derivasi menjadi program pembangunan daerah (PROPEDA), rencanan tahunan daerah (REPETA), dan anggara pendapatan dan belanja daerah (APBD).

            Namun apa daya, dalam struktur alokasi R-APBD sumut tahun 2011 tampak ketimpangan yang nyata untuk mengwujudkan janji-janji kampaye mereka.  Belanja yang diproyeksikan dalam R-APBD Sumut sebesar Rp4,533 triliun dinilai tak memiliki arah jelas dalam mendukung kemajuan pembangunan di Sumut. Alokasi dana untuk pendidikan hanya sebesar 5.25% yang notabene tidak mengindahkan ketentuan imperatif pengalokasian minimum 20% untuk bidang pendidikan. Sedangkan untuk dana kesehatan hanya sebesar 3.57% dan untuk tenaga kerja 0.61% serta untuk koprasi dan ukm hanya sebesar 0,50%. Lihat tabel 1.

Tabel 1 Alokasi anggaran sumut dalam R-APBD 2011

            Waktu tinggal satu tahun lagi bagi gatot untuk membuktikan bahwa apa yang diharapkan oleh rakyat dari kepemimpinannya dengan syamsul arifin akan tercapai secara maksimal. Ini semua demi masa depan sumut yang lebih “sempurna” ditangan sampurno. Jika tidak, angka-angka statistik sekarang sudah menunjukkan bahwa  janji kampaye empat tahun yang lalu agar rakyat tidak lapar, rakyat jangan bodoh, rakyat tidak sakit, dan rakyat harus punya masa depan, hanya akan menjadi pepesan kosong belaka.

Penutup

Akhirnya, siapapun kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur sumut yang bakal dipilih oleh rakyat dalam pilkada mendatang, saya hanya bisa berharap agar rakyat memutuskan pilihannya secara lebih rasional. Jangan biarkan media massa-entah iklan berita, stiker dan spanduk-spanduk mempengaruhi pilihan anda. Jangan lihat apakah senyumannya menawan, apakah wajahnya tenang, apakah ia ganteng atau cantik. Tetapi periksalah secara mendalam janji-janjinya. Timbanglah dengan apa yang bakal kita hadapi lima atau sepuluh tahun mendatang. Apakah calon-calon itu bakal sanggup mengatasi segala persoalan yang akan muncul dalam satu dasawarsa mendatang di Sumatera Utara ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s