PEMBANGUNAN, GENDER DAN KESEJAHTERAAN

Oleh: Mujahiddin, S.Sos

Abstraksi

Permasalahan gender dalam pembangunan menjadi isu yang menarik, khususnya bagi negara-negara dunia ketiga. Bagi sebagian orang, pembangunan tanpa melibatkan perempuan tidaklah dapat dikatakan sebagai sebuah pembangunan. Oleh karenanya, berdasarkan studi literatur peper ini akan mencoba menyajikan bagaimana peranan perempuan dalam pembangunan dan peningkatan kesejahteraan bagi dirinya dengan indikator ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Kata Kunci: Pembangunan, Perempuan dan Kesejahteraan.

A. PENDAHULUAN

            Arti penting pembangunan tentu merujuk pada proses atau upaya-upaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan keadilan pada masyarakat dalam segi ekonomi, politik, sosial, dan budaya serta infranstruktur. Untuk mendukung itu semua pada bulan September tahun 2000, sebanyak 189 negara anggota PBB menyetujui delapan butir Millenium Development Goals (MDGs), yaitu komitmen untuk mencapai kemajuan yang nyata dalam upaya pembangunan meliputi;

  • Memberantas kemiskinan dan kelaparan secara ekstrim,
  • Memberikan pendidikan dasar secara universal,
  • Mendukung persamaan gender dan pemberdayaan wanita,
  • Mengurangi tingkat mortalitas anak,
  •  Meningkatkan kesehatan ibu
  • Memerangi HIV/AIDs, Malaria dan penyakit-penyakit lainnya
  • Menjaga keseimbangan lingkungan dan
  • Mengembangkan kerjasama global untuk pembangunan.

            Dari tujuan-tujuan tersebut kemudian ditetapkan target-target khusus yang diharapkan dapat tercapai pada tahun 2015 (Todaro, 2006:29). Walaupun fokus utama pembangunan adalah pemberantasan kemiskinan dan kelaparan tetapi dapat dilihat bagaimana kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan menjadi fokus ketiga (setelah pendidikan) pada suatu rancang pembangunan yang direncanakan oleh United Nations Development Program (UNDP) dalam MDGs.

            Tujuan pembangunan di atas dapat tercapai bila sumber-sumber dari pembangunan dapat digali dan dimanfaatkan dengan baik, sehingga kebutuhan setiap masyarakat/individu pada suatu wilayah dapat terpenuhi. Sumber-sumber pembangunan sendiri dapat  dibagi dalam tiga bagian; pertama; sumber daya manusia yaitu sumber daya yang diperoleh dari manusia berupa tenaga, pikiran, kekuatan, keterampilan dan lain sebagainya.

            Kedua; sumber daya alam yaitu sumber yang diperoleh dari alam semesta atau lingkungan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, seperti air, batu, tanah, tumbuh-tumbuhan, mineral dan sebagainya. Ketiga; sumber daya institusi yaitu sumber daya yang diperoleh dari lembaga-lembaga baik lembaga negara, pemerintahan, swasta atau lembaga sosial lainnya.

            Dua dari tiga sumber daya tersebut (alam dan institusi) hanya dapat berhasil digali dan dijalankan jika manusia sebagai subjek (pelaku) dan objek (penerima/penikmat) pembangunan dapat melakukannya secara maksimal (Lihat gambar 1).

proses pembangunanGambar 1

Integritas Sumber Pembangunan

Sebagai subjek (pelaku) pembangunan manusia merencanakan dan mengambil kebijakan pembangunan melalui sumber daya institusi yang kemudian menentukan kearah mana pembangunan akan dibawa dan bagaimana cara mengelola sumber daya alam yang ada untuk dapat dinikmati secara adil dan merata. Terhujud atau tidaknya hal tersebut manusia-lah kemudian yang akan menikmatinya.

            Manusia sendiri berdasarkan konsep biologis dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu; laki-laki dan perempuan atau biasa dikenal dengan istilah seks. Yaitu pembagian jenis kelamin yang ditentukan secara biologis melekat pada jenis kelamin tertentu dan secara kodrati memiliki fungsi-fungsi organisme yang berbeda, biasanya meliputi postur tubuh, hormon dan lain sebagainya.

            Namun, permasalahan kemudian muncul, perbedaan pada fungsi-fungsi organisme tersebut merambat pada tatanan kehidupan bermasyarakat. Di mana perempuan lebih sering dipandang sebagai makhluk yang lemah, lembut, cantik, emosional dan keibuan. Sedangkan laki-laki dianggap sebagai mahkluk kuat, rasional, jantan dan perkasa. Konstruksi sosial itu kemudian membuat para perempuan tersubordinasi, ditambah lagi banyak mitos dan kepercayaan yang membuat kedudukan perempuan lebih rendah dari laki-laki. Hal ini terjadi karena perempuan dipandang dari segi seks bukan dari kemampuan, kesempatan dan aspek manusiawi secara universal yaitu sebagai manusia yang berakal, bernalar dan berprasaan.

            Konstruksi sosial tersebut akhirnya memisahkan perempuan dari wilayah kerja publik (di luar rumah) dan hanya memberikan mereka wewenang pada wilayah domestik (di rumah). Pembagian kerja dengan konsep seperti ini lebih sering dikenal dengan istilah “gender”. Dimana laki-laki lebih banyak bekerja di luar rumah dan perempuan bekerja dirumah, atau biasanya dikenal dengan istilah KDS (Kasur, Dapur, dan Sumur). Gerakan-gerakan perlawananpun muncul agar para perempuan mendapat kesetaraan dalam dua wilayah tersebut (baik publik maupun domestik).

            Istilah gender sesungguhnya tidak ada dalam bahasa Indonesia, walaupun istilah gender sendiri sudah lazim digunakan, khususnya dikantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita. Dalam kamus bahasa inggris kata “gender” dan “sex” diartikan sebagai jenis kelamin, dari sini kemudian apa yang dimaksud dengan konsep gender perlu dijabarkan dengan jelas.

            Budi Munawwar Rahman dalam Syarif Hidayatullah (2010:08) menjelaskan gender diartikan sebagai “interprestasi mental dan kultural terhadap perbedaan jenis kelamin yakin laki-laki dan perempuan”. Gender biasanya dipergunakan untuk menunjukkan pembagian kerja yang dianggap sebagai tempat laki-laki dan perempuan dilihat dari segi pengaruh sosial budaya. Dalam arti ini gender adalah suatu bentuk rekayasa masyarakat (social construction), bukannya suatu yang bersifat kodrati.

            Sehingga, perbedaan antara gender dan seks semakin jelas. Dimana, gender secara umum digunakan untuk mengidentifikasih perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya, sedangkan seks secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi tubuh.

            Ketidakadilan dalam pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan tersebut kemudian dapat mempengaruhi pembangunan di satu daerah dan juga mempengaruhi tingkat kesejahteraan perempuan dan keluarga. Oleh karenanya tugas peper pada mata kuliah antropologi pembangunan ini akan membahas tentang bagaimana peran perempuan dalam pembangunan dan bagaimana upaya peningkatan kesejahteraan bagi dirinya berdasarkan studi literatur yang dilakukan oleh penulis.

B. PEMBAHASAN

            Manusia (baik laki-laki maupun perempuan) adalah mahluk pembangunan. Keterlibatan manusia sangatlah penting, akan tetapi dalam sistem pembangunan yang patrialistik membuat laki-laki lebih mendominasi. Dominasi ini kemudian melahirkan sebuah paham baru yang disebut feminisme yaitu paham yang mempercayai bahwa ada ketidakadilan dalam sistem dan struktur masyarakat baik secara ekonomi, sosial, budaya dan politik pada kaum perempuan, sehingga diperlukan upaya perbaikan-perbaikan agar terciptanya sistem dan struktur masyarakat yang lebih adil terhadap kaum perempuan.

            Menurut Garda Lerner (1986 : 236) terdapat beberapa defenisi mengenai istilah feminisme. Diantaranya (a) Feminisme adalah sebuah doktrin yang menyokong hak-hak sosial dan politik yang setara bagi perempuan; (b) menyusun suatu deklarasi perempuan sebagai sebuah kelompok dan sebuah teori yang telah diciptakan oleh perempuan; (c) kepercayaan pada perlunya perubahan sosial yang luas yang berfungsi untuk meningkatkan daya perempuan.

            Lebih lanjut Lerner (1986 : 235-237) mengemukan bahwa feminisme dapat mencakup baik gerakan hak-hak perempuan maupun emansipasi perempuan. Ia mendefenisikan kedua posisi tersebut sebagai gerakan hak-hak perempuan, berarti sebuah gerakan yang peduli dengan penanganan bagi kesetaraan perempuan dengan laki-laki dalam semua aspek masyarakat dan memberi mereka akses pada semua hak-hak dan kesempatan-kesempatan yang dinikmati laki-laki dalam institusi-institusi dari masyarakat tersebut. Seiring berjalannya waktu timbul berbagai macam aliran pemikiran dalam feminisme tersebut, antara lain:

  1. Feminisme Liberal

Aliran ini meletakkan idea fundamentalnya pada pemikiran bahwa manusia bersifat otonomi dan diarahkan oleh penalaran yang menjadikan manusia mengerti akan prinsip moralitas dan kebebasan individu. Femenisme liberal biasanya mengangkat isu-isu yang berkaitan dengan pendidikan, kebijakan yang bias gender, hak-hak politik dan sipil.

Femenisme liberal sendiri terbagi atas dua aliran antara lain; feminisme liberal klasik yang berpandangan tentang perlindungan negara dalam hal kebebasan sipil, seperti hak kepemilikan, hak untuk memilih, hak untuk mengutarakan pendapat, hak untuk memeluk agama dan berorganisasi adalah suatu bentuk yang harus diciptakan. Sedangkan mengenai isu pasar bebas, liberalisme klasik menghendaki setiap individu harus diberi kesempatan yang sama untuk dapat mencari keuntungan.

Di sisi lain, aliran feminisme liberal egalitarian mengusulkan bahwa idealnya negara hanya berfokus pada keadilan ekonomi, bukan kepada kebebasan sipil. Paham ini berpendapat bahwa setiap individu sebelum memasuki pasar terlebih dahulu harus memiliki modal, baik dalam bentuk materi maupun konseksi, ditambah lagi dengan talenta dan juga keberuntungan. Kelompok feminisme liberal ini membenarkan perempuan bekerja bersama laki-laki dan menghendaki agar perempuan diintegrasikan secara total di dalam peranan sosial dan peran domestik. Dengan demikian tidak ada lagi suatu kelompok yang lebih dominan.

  1. Feminisme Radikal

Aliran pemikiran ini beranggapan bahwa pemisahan lingkup publik dan private menyebabkan adanya sebuah penindasan. Di mana lingkung private dipandang lebih rendah dibandingkan lingkup publik, sehingga memungkinkan tumbuh suburnya sistem patriarki. Pada konsep feminisme radikal tubuh dan seksualitas menjadi esensi yang sangat penting. Hal ini dikarenakan penindasan selalu diawali dari dominasi seksualitas laki-laki terhadap perempuan pada lingkup privat. Dominasi itu dapat dilihat pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), yang berlanjut pada ruang publik seperti pemerkosaan, pelecehan seksual dan pornografi. Keadaan ini seolah-olah tampak “alami” namun sebenarnya hal ini merupakan sebuah donimnasi.

Oleh karenanya yang menjadi isu-isu penting pada feminisme radikal adalah masalah kesehatan dan reproduksi. Misalnya perdebatan mengenai pemakaian alat kontrasepsi dan aborsi. Mereka ingin menyadarkan bahwa perempuan memiliki hak atas diri mereka sendiri, di mana mereka memiliki hak untuk memutuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan tubuh mereka sendiri termasuk kesehatan dan reproduksi.

Feminisme Radikal juga terbelah menjadi dua yaitu; Feminisme Radikal Libertarian berpandangan, untuk mengatasi masalah pada hak-hak reproduksi dan peran seksual perlu mengembangkan ide androgini yaitu sebuah model yang mempromosikan pembentukan manusia seutuhnya dengan karekteristik feminim dan maskulin (Nope, 2005:108).

Sedangkan feminisme Radikal kultural bersikeras menyatakan bahwa perempuan tidak seharusnya seperti laki-laki. Kelompok ini mencegah penerapan nilai-nilai maskulin yang secara kultural mencegah dikenakan pada pria. Kedua kelompok ini memiliki perbedaan sudut pandang yang tajam tetang reproduksi, di mana pertentangannya memperdebatkan apakah “reproduksi merupakan sumber penindasan perempuan atau kekuatan perempuan.” Hanya satu yang mengikat ide feminisme radikal yaitu; pada pemahaman dasar tentang sistem gender yang merupakan basis dasar penindasan kaum perempuan.

  1. Feminisme Marxis dan Sosialis

Walaupun terdapat persamaan antara keduanya, tetapi aliran pemikiran ini memiliki perbedaan yang tegas tentang feminisme. Aliran feminisme sosialis menyatakan bahwa pemindasan gender disamping penindasan kelas merupakan penindasan perempuan. Sebaliknya feminisme marxis beragumentasi bahwa sistem kelas bertanggung jawab terhadap diskriminasi fungsi dan status. Feminisme marxis juga mempercayai bahwa perempuan borjuis tidak mengalami penindasan seperti yang dialami perempuan poletar (Apriani, 2008:125)

Feminisme ini menilai penindasan perempuan juga terlihat melalui produk-produk politik, struktur sosiologis dan ekonomi yang erat bergandengan dengan sistem kapitalisme. Ketergantungan ekonomi perempuan terhadap laki-laki membuat perempuan tidak dapat berkembang. Kedua feminisme ini mencuatkan isu lebih kepada; kesenjangan ekonomi, hak milik property, kehidupan keluarga dan domestik dibawah sistem kapitalisme.

Walaupun terdapat banyak lagi aliran feminisme, seperti aliran Eksistensialisme, psikoanalitis, postmodern, ekofeminisme, feminisme lesbian, namun ketiga aliran feminisme di atas dianggap cukup untuk menganalisa bagaimana peran perempuan dalam pembangunan dan peningkatan kesejahteraan bagi dirinya dari segi ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Apa yang digambarkan oleh Edi Soeharto (2009:6) mempertegas bahwa pertumbuhan ekonomi sangat berpengaruh terhadap perawatan masyarakat (kesehatan) dan perkembangan manusia (pendidikan). Namun demikian, fungsi perawatan masyarakat dan perkembangan manusia juga memiliki posisi penting dalam konteks pembangunan nasional.

  1. Perempuan dan ekonomi keluarga

Tidak dinafikan bahwa di banyak negara berkembang, ketergantungan kaum perempuan secara ekonomi terhadap kaum laki-laki sangatlah tinggi. Ketergantungan ekonomi yang berlebihan tersebut berdampak negatif bagi perkembangan sebuah keluarga. Keluarga sebagai sebuah organisasi terkecil dalam suatu negara yang juga merupakan lembaga informal di mana dari sini-lah manusia sebagai individu dapat tumbuh dan berkembang.

Ketergantungan ekonomi kaum perempuan terhadap laki-laki (suami) tersebut tampak ketika sang suami tersebut telah tiada (meninggal dunia). Todaro (2006:270) menuliskan segment masyarakat termiskin di dunia ketiga hidup dalam rumah tangga yang dikepalai oleh wanita, karena di dalam rumah tangga tidak ada pria yang memberi nafkah. Sekitar 20 persen rumah tangga di India, 17 persen di Costa Rika, dan kurang dari 40 persen rumah tangga di daerah pedesaan Kenya, dikepalai oleh wanita.

Todaro (2006:271) juga menambahkan, pada umumnya, para wanita yang ada di dalam rumah tangga yang dikepalai seorang wanita mempunyai tingkat pendidikan dan pendapatan yang rendah. Disampaing beban berat yang harus ditanggung oleh para wanita tersebut karena menjadi orang tua tunggal, ukuran keluarga yang makin besar akan menyebabkan semakin rendahnya tingkat pembelanjaan pangan per kapita.

Perbedaan pendapat ini disebabkan oleh upah para wanita yang lebih rendah dibandingkan oleh kaum laki-laki, meskipun dalam porporsi kerja yang sama. Akhirnya para wanita dipaksa terkurung dalam pekerjaan yang berupah rendah. Ditambah lagi dalam banyak budaya partisipasi kaum perempuan secara singnifikan untuk peningkatan penghasilan rumah tangga kurang bisa diterima secara sosial, dan karenanya hasil karya kaum perempuan tetap tidak tampak atau kurang diperhatikan.

Program-program pembangunan yang banyak diperuntukan bagi kaum laki-laki juga mempengaruhi ruang gerak perempuan. Ini-lah yang apa dikatakan oleh kaum feminisme liberal egaliter sebagai bentuk dominasi dan penindasan terhadap kaum perempuan yang seharusnya pemerintah atau para pengambil kebijakan lebih mengedepankan keadilan ekonomi antara kaum laki-laki dan perempuan. Di mana setiap individu sebelum memasuki pasar terlebih dahulu harus diberikan memiliki modal, baik dalam bentuk materi maupun konseksi. Sehingga tidak terdapat lagi dominasi yang berlebihan.

Namun, jika dilakukannya integrasi total antara laki-laki dan perempuan dalam peran publik dan domestik, besar  kemungkinan akan terjadi kekacauan pada fungsi keluarga. Di mana ketika ayah (laki-laki) dan Ibu (perempuan) bekerja dalam waktu bersamaan pada sektor publik lantas kapan waktunya keluarga menjalankan fungsi afeksi dan sosialisasi? Bukankah ketika fungsi afeksi dan sosialisasi tidak dapat berjalan dengan baik akan muncul masalah-masalah sosial seperti broken home, seks bebas, terbentuknya geng-geng anak muda dengan kebiasaan narkoba, miras dan kriminalitas.

Di Indonesia sendiri, fenomena bekerjanya kaum wanita untuk membantu suami dalam memenuhi kebutuhan keluarga sudah menjadi hal yang wajar. Peran dan fungsi ibu serta ayah kemudian banyak digantikan oleh pihak keluarga batin lainnya seperti; kakek, nenek, bibik, paman atau babysitter.

Lepas dari itu semua, harus diakui bahwa peran perempuan sendiri amat vital dalam keluarga. Sehingga pola pemberdayaan ekonomi bagi perempuan sangat memungkinkan pada kasus ini. Di mana perempuan dapat bekerja dengan penghasilan yang cukup tanpa harus meninggalkan keluarga. Kebijakan-kebijakan yang dapat diambil adalah dengan melakukan pelatihan ekonomi kreatif dalam sektor UMKM dan Home industri terhadap kaum perempuan.

  1. Perempuan dan Pendidikan

Akses perempuan terhadap bidang pendidikan terus membaik Kendati demikian, persentasenya tetap lebih rendah dibandingkan akses kaum laki-laki di berbagai bidang. Ketidakadilan ini disebabkan oleh nilai sosial dan budaya patriakal, pemahaman agama yang parsial, peraturan perundang-undangan yang masih bias dan kurang berpihak, dan persoalan perempuan dari segi internal serta eksternal. Inilah yang tertanam kuat di masyarakat kita.

Data menunjukkan persentase buta aksara pada penduduk perempuan masih lebih tinggi daripada laki-laki di kelompok usia 25 tahun ke atas. Laki-laki hanya 2,42 persen sementara perempuan 4,03 persen. Selain itu dalam taraf pendidikan kurun waktu 2003-2010, penduduk laki-laki masih lebih baik daripada penduduk perempuan. Pada 2010, rata-rata lama sekolah penduduk laki-laki 8,34 tahun sementara kaum perempuan 7,50 tahun (Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/192937).

Persentase angka buta huruf di atas tentu menunjukkan ke kwatiran yang mendalam. Oleh karenanya pendidikan bagi perempuan dianggap sangatlah penting, untuk mendukung agar para perempuan dapat berkompetisi dan masuk ke dalam sekotor publik yang selama ini di kuasai oleh pihak laki-laki. Tidak hanya sebatas itu, perempuan dalam keluarga tataran keluarga adalah merupakan seorang pendidik serta pengasuh bagi anak-anaknya sebelum masuk pada pendidikan formal dan non-formal. Sehingga jika pendidikan kaum perempuan rendah bagaimana mereka dapat memberikan “edukasih” kepada anak-anak mereka yang merupakan generasi penerus bangsa..

Todaro (2006:449) mencatat ada empat alasan mengapa pendidikan bagi wanita sangat menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi antara lain:

a)      Tingkat pengembalian (rate of return) dari pendidikan kaum wanita lebih tinggi dari pada tingkat pengembalian pendidikan laki-laki di banyak negara berkembang.

b)      Peningkatan pendidikan kaum wanita tidak hanya menaikkan produktifitasnya di lahan pertanian dan di pabrik, tetapi juga meningkatkan partisipasi tenaga kerja, pernikahan yang lebih lambat, fertilitas yang lebih rendah dan perbaikan kesahatan serta gizi anak-anak.

c)        Kesehatan dan gizi anak-anak yang lebih baik serta ibu yang lebih terdidik dalam memberikan dampak penggandaan (multiplier effecti) terhadap kualitas anak bangsa selama beberapa generasi yang akan datang.

d)     Karena kaum perempuan memikul beban terbesar dari kemiskinan dan kelangkaan lahan garapan yang melingkupi masyarakat di negara berkembang, maka perbaikan yang signifikan dalam peran dan status wanita melalui pendidikan dapat mempunyai dampak penting dalam memutuskan lingkaran setan kemiskinan serta pendidikan yang tidak memadai.

Pemberian dan pembukaan akses yang sebesar-besarnya kepada kaum perempuan merupakan cara satu-satu dalam mengembangkan gerakan gender, karena tanpa itu mustahil akan terciptanya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. tokoh-tokoh pada aliran feminisme yang kebanyakan adalah kaum perempuan juga lahir melalui jalur pendidikan.

  1. Perempuan dan kesehatan

Selain dari pada pendidikan, kesehatan juga merupakan indikator penting dalam upaya penyetaraan gender. Laki-laki dan perempuan cenderung diperlakukan berbeda oleh sistem pelayanan kesehatan. Perbedaan tersebut dapat berakibat terhadap perbedaan akses dan kualitas pelayanan yang diterima. Hambatan dalam pelayanan akses itu biasanya diterima oleh perempuan miskin. Biasanya karena tidak tersedianya biaya dan transportasi, pelayanan yang tidak sesuai dengan budaya atau tradisi, tidak mendapatkan izin dari suami atau karena stigma orang miskin.

Salah satu faktor pelayanan yang bias gender dapat dilihat pada proses persalinan yang normal sering dijadikan pristiwa yang tidak memperhatikan kebutuhan perempuan, misalnya kebutuhan untuk didampingi oleh sang suami, atau mencari posisi yang dirasakan paling nyaman. Belum lagi perempuan yang mengalami kekerasan domistik oleh pasangannya yang menyababkan depresi pada kejiwaan perempuan tetapi hanya diobati dengan antidespresan tanpa melihat permasalahan gender yang melatar belakanginya.

Oleh karenanya, pelayanan kesehatan merupakan hal yang terpenting bagi perempuan, karena selama proses mengandung (hamil) sampai pada melahirkan serta program Keluarga Berencana (KB) perempuan selalu saja berurusan dengan lembaga pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas dan lain sebagainya. Akan tetapi kebanyakan akses kesehatan tersebut hanya dapat dinikmati oleh perempuan-perempuan “borjuis” yang memiliki sumber dana yang melimpah.

Di sisi lain, terdapat perempuan yang rentan terkena virus HIV/AIDs, disebabkan kenakalan para suaminya (kaum laki-laki) yang suka melakukan seks bebas. Ini merupakan gambaran yang dikatakan oleh kaum feminisme radikal, di mana alat reproduksi dapat menjadi sumber dominasi oleh kaum laki-laki. Hal ini dikarenakan wanita selalu dituntut untuk dapat melayani nafsu biologis suaminya. Pada hal wanita juga mempunyai hak untuk menolak dan bertanya tentang kesehatan alat reproduksi sang suami.

Konferensi perempuan sedunia ke-IV di Beijing pada tahun 1995 menyebutkan perempuan dan kesehatan yang merupakan aspek penting yang disebutkan dalam Rencana Aksi. Di mana memiliki lima rencana aksi strategis yang perlu dipercapai, yaitu;

a) Meningkatkan askes prempuan sepanjang siklus hidupnya terhadap pelayanan yang sesuai, terjangkau dan berkwalitas

b) Memantapkan upaya profentif yang mempromosikan kesehatan perempuan.

c) Menerapkan upaya sensitive gender dalam mengatasi HIV/AIDs. Serta masalah reproduksi lainnya

d) Mempromosikan penelitian dan diseminasi informasi kesehatan perempuan.

e) Meningkatkan sumber-sumber dan memantau upaya kesehatan perempuan.

Apabila ketiga indikator di atas dapat terpenuhi secara ideal bagi kaum perempuan maka secara tidak langsung mereka sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka. Abraham Maslouw dalam Drs. Istianan Hermawati (2001:68), mengurai tentang kebutuhan manusia secara berjenjang (Hierarki) ada lima jenis, yaitu sebagai berikut:

1) Kebutuhan mempertahankan diri (physiological needs)

2) Kebutuhan rasa aman (safety needs)

3) Kebutuhan sosial (social needs)

4) Kebutuhan akan penghargaan atau prestise (esteem needs)

5) Kebutuhan mempertinggi kapasitas kerja (self actualization needs)

Maslow berpendapat bahwa kebutuhan manusia yang paling mendasar adalah mempertahankan diri. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan fisik, seperti makan, minum dan seks yang menuntut pemenuhan. kebutuhan berikutnya adalah rasa aman, baik secara fisik maupun psikis. Kebutuhan sosial mencakup kebutuhan kasih sayang, berkumpul dengan orang lain, dan pengenalan diri.

Kebutuhan akan penghargaan dan prestise berkenaan dengan pencapaian prestasi, kesuksesan dan penghargaan dari orang lain. Sedangkan yang menjadi puncak kebutuhan manusia adalah kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri atau mewujudkan jati dirinya.

Lima tingkatan kebutuhan tersebut hanya akan dapat tercapai bila akses mereka terhadap tingkat pendapatan ekonomi, pendidikan dan kesehatan sudah dapat setara dengan kaum laki-laki, kerena hanya dengan cara inilah mereka dapat mengaktualisasikan diri mereka tanpa harus adanya lagi pemisahan ruang antara domestik dan publik. Bukankah kesejahteraan itu adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan materil, spiritual dan sosial warga negara agar dapat hidup layak sehingga mampu menjalankan fungsi sosialnya.

C. PENUTUP

Ukuran-ukuran pembangunan ditentukan oleh seberapa besar peranan dan kepedulian manusia yang ada untuk melakukan perencanaan dan pengaplikasiaan dalam pembangunan. Laki-laki dan perempuan harus mendapat porporsi yang sama baik pada lingkup domestik dan publik agar dapat memenuhi kebutuhan hidup yang layak secara sosial, politik, budaya dan ekonomi. Di mana pada akhirnya, setiap struktur kelas dalam masyarakat akan dapat menikmati dan merasakan hasil dari sumber-sumber pembangunan yang telah digali tersebut. Baik dalam porsi yang sama maupun berbeda (lihat gambar 2).

struktur pembangunan

Gambar 4.

Sturktur pembanguan dan Gender

Penulis adalah; Alumni IKS FISIP UMSU

yang sedang menjalani program  pascasarjana di MSP USU

dan bergiat sehari-hari sebagai Peneliti Muda di MuhRaz Institut

 Account Eksekutif di U-Matic Studio

( http://umaticstudio.com )

Bahan Bacaan

  • Buku-buku

Edi Soeharto, 2006, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat Kajian Strategis        Pembangunan Kesejahteraan Sosial & Pekerjaan Sosial, 2009, Bandung, Refika            Aditama

Julia Cleves Mosse, 2002, Gender dan Pembangunan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar

Jim Ife & Frank Tesoriero, 2008, Community Development Alternatif Pengembangan Masyarakat di Era Global, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

Harmona Daulay, 2007, Perempuan dalam kemelut gender, Medan USU Press

Haryatmoko, 2010, Dominasi Penuh Muslihat Akar Kekerasan dan Diskriminasi, Jakarta,       Gramedia Pustaka Utama

Herawati Istiana, 2001, Metode dan Teknik dalam Praktik Pekerjaan Sosial, Adicita Karya     Nusa,   Yogyakarta

Michael P. Todaro & Stephen C. Smith, 2006, Pembangunan Ekonomi, Edisi Sembilan Jilid     1, Jakarta, Penerbit Erlangga.

Sarah Gemble, 2010, Feminisme & Postmodernisme, Yogyakarta, Jalasutra.

Syarif Hidayatullah, M.Ag., M.A. 2010, Teologi Feminisme Islam, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

  • Website:

http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/15108115130.pdf (sumber: berbagai pandangan mengenai gender dan feminism, akses tgl 13-10-2012)

http://komahi.umy.ac.id/2011/05/feminisme-dan-kesetaraan-gender.html (Sumber: Feminisme dan kesetaraan gender, akses tgl 13-10-2012)

http://argyo.staff.uns.ac.id/files/2010/08/teori-sosiologi-feminis.pdf (Sumber; teori sosiologi feminisme, akses pada tanggal 13-10-2012)

http://komahi.umy.ac.id/2011/05/feminisme-dan-kesetaraan-gender.html (sumber: Gender dan kesetaraan, akses 15-10-2012)

http://eci6.wordpress.com/pemberdayaan-perempuan-2/peran-perempuan-dalam-pembangunan-bangsa/ (peran perempuan dalam pembangunan bangsa, akses 15-10-2012)

http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/COUNTRIES/EASTASIAPACIFICEXT/INDONESIAINBAHASAEXTN/0,,contentMDK:22430465~pagePK:1497618~piPK:217854~theSitePK:447244,00.html (partisipasi perempuan dalam pembangunan dipedesaan meningkat, akses 16-10-2012)

http://jurnal.filsafat.ugm.ac.id/index.php/jf/article/viewFile/29/25 (peran ganda perempuan sebuah analisis filosofis kritis, Akses 16-10-2012)

http://siteresources.worldbank.org/INTGENDER/Resources/indonesiansumm.pdf (rangkuman pembangunan berprespektif gender, Akses 16-10-2012).

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s