Pendidikan Dan Pemberdayaan Bagi Anak Autisme

Bagi manusia, pendidikan tentulah sangat penting sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dalam menghadapi pergulatan hidup. United Nation dalamreport on the world social situasion tahun 1997, mengurai pendidikan adalah hal yang mendasar untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia dan menjamin kemajuan sosial dan ekonomi.
Sedangkan World Bank dalam Worrld Development Report 1998/99, menguraikan; pendidikan adalah kunci untuk menciptakan, menyerap, dan menyebarluaskan pengetahuan. Namun akses terhadap pendidikan tidak tersebar secara merata dan golongan miskin paling sedikit mendapatkan bagian.

Jika World Bank mengtakan “golongan miskin paling sedikit mendapatkan bagian dari pendidikan” maka bagaimana dengan anak berkebutuhan khusus (terutama anak dengan autisme)? hal ini menjadi amat penting untuk di jawab mengingat kebanyakan anak dengan autisme sering dikucilkan dari lingkungan sosial mereka.
Kresno (2011:125) mencatat tentang proses mendidik adalah membardayakan, beliau mengatakan; “mendidik tak bisa dianalogikan bagai menuang air kedalam gelas. Namun lebih tepat bagai merawat tanaman bunga.” Di saat seperti inilah cakrawala pandang kita (sebagai orang tua dan keluarga) sangat dibutuhkan dalam melihat dan mimilih pendidikan bagi anak dengan autisme.
Sedangkan dalam defenisi alternatif dijelaskan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang.
Sehingga dalam kaitannya dengan hal ini, peranan sekolah (sebagai lembaga pendidikan formal) dan keluarga (sebagai lembaga pendidikan informal) serta tempat terapi (sebagai lembaga pendidikan nonformal) diharapkan mampu melakukan sinergi dalam mendidik anak dengan autisme. Jadi apa yang dididik oleh pihak sekolah dapat dilanjutkan oleh pihak keluarga dalam kehidupan sehari-hari atau sebaliknya. Begitu juga dengan tempat terapi. Di sinilah letak intesifitas pendidikan atau pendidikan yang terus-menerus bagi anak dengan autisme dapat berlaku.
Jadi sebagai sebuah proses untuk memunculkan potensi yang dimiliki peserta didik, maka sebagai out put pendidikan, peserta didik mesti memiliki adanya potensi tersebut. Dengan memiliki potensi, maka ia telah mengalami proses pemberdayaan. Dengan kata lain, sang pendidik di sini benar-benar telah berperan memberdayakan peserta didik melalui proses pendidikan dengan cara yang benar. Dengan demikian pendidikan tidak hanya menjejali anak dengan berbagai ‘doktrin’ dan intruksi sehingga pendidikan kehilangan wataknya sebagai kekuatan budaya yang luhur dan bermartabat.
Pemberdayaan dan Pendidikan
 
Sebagaimana dua fungsi meninfes yang utama dari pendidikan, yaitu: membantu orang untuk sanggup mencari nafkah hidup dan menolong orang untuk mengembangkan potensi demi pemenuhan kebutuhan pribadi dan pengembangan masyarakat. Jika dilihat lebih jauh pendidikan hampir sama dengan pemberdayaan yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kekuasaan orang-orang lemah atau tidak beruntung.
Kekuasaan di sini tidak hanya diartikan sebagai hal yang berkaitan dengan pengaruh dan kontrol. Jika kekuasaan diartikan sebagai pengaruh dan kontrol maka kekuasaan tidak dapat dirubah. Sesungguhnya kekuasaan tidak terbatas pada pengertian tersebut. Kekuasaan tidaklah vakum dan terisolasi. Kekuasaan senantiasa hadir  dalam konteks relasi antar manusia. Kekuasaan tercipta dalam relasi sosial. Karena itu, kekuasaan dan hubungan kekuasaan dapat berubah.
Jadi, pemberdayaan dapat diartikan adalah suatu proses atau serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah (anak dengan autisme) dalam masyarakat sehingga mereka dapat: pertama, memenuhi kebutuhan dasarnya agar dapat memiliki kebebasan dalam mengemukakan pendapat, dan tidak hanya itu saja melainkan juga bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan, dan bebas dari kesakitan.
Kedua, menyangkau sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan memperoleh barang-barang dan jasa-jasa yang mereka perlukan. Ketiga, serta dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang dapat mempengaruhi mereka.
Agar ketiga hal tersebut dapat terlaksanakan maka pendidikan bermodelkan pemberdayaan perlu diberikan kepada anak dengan autisme. Merujuk pada teori Taksonomi Bloom yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Di mana dalam hal ini menyangkut tujuan pendidikan yang dibagi menjadi beberapa domain (ranah atau kawasan) sebagai berikut: pertamaCognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual yang dalam ranah ini, bloom membaginya ke dalam dua bagian besar yaitu pengetahuan dan keterampilan intelektual.
Kedua, Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi. Pada ranah ini juga terbagi dalam beberapa bagian yang meliputi aspek penerimaan terhadap lingkungan, tanggapan atau respon terhadap lingkungan, penghargaan atau bentuk ekspansi nilai terhadap sesuatu, mengorganisasikan berbagai nilai untuk menemukan pemecahan, serta karakteristik dari nilai-nilai yang menginternalisasi dalam diri.
Ketiga Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin. Atau dengan kata lain aspek ini adalah aspek yang lebih menekankan kepada kemampuan dalam penguasaan fisik dalam mengerjakan atau mengasilkan sesuatu. Ketiga aspek yang ditawarkan oleh Benjamin S. Bloom dalam Taksonominya ini sangatlah penting untuk dijadikan injakan dasar dalam melakukan pendekatan pendidikan yang mengarah kepada pemberdayaan untuk anak autisme.
Bila kemudian dikaitkan dengan teori Primadi tentang basic concept manusia adalah berkreatif maka sangat penting bagi kita melakukan indentifikasi atau assessment tentang  kreatifitas apa yang dimiliki oleh anak dengan autisme terutama yang berkaitan dengan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik anak. Jika assessment terhadap keartifitas apa yang disenangi oleh anak dengan autisme berhasil di dapat, maka hal itu akan dijadikan modal dalam melakukan pendidikan dan pemberdayaan untuk anak. Selanjutnya anak akan lebih banyak dididik melalui apa yang ia sukai.
Jika anak suka menggambar, bisa saja gambar dijadikan sebagai media lagi untuk anak belajar, para guru atau pembimbing dapat meminta anak menggambarkan objek yang menarik menurutnya, kemudian menceritakan hasil gambar yang ia punya secara lisan dan tulisan, menghitung jumlah benda yang ada di dalam gambarnya, menghitung jumlah warna yang  ada di dalam gambar dan lain-lain.
Kreatifitas-kreatifitas inilah yang kemudian harus diberdayakan sehingga anak mampu mandiri dan memenuhi kehidupannya kelak dengan jalan kreatifitas ini. Sejarah juga mencatat bahwa banyak di antara anak autisme yang memiliki kepandaian, Albert Einstein, Picasso, dan Thomas Alfa Edison adalah anak-anak yang mengidap autisme dan berhasil dalam kehidupannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s