Mencari Kejujuran

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dalam menyambut hari anti korupsi se-dunia pada 9 desember 2012 lalu, mengeluarkan tema kampaye anti korupsi yang bertuliskan “berani jujur, hebat !” tema ini, sampai sekarang masih terpapang di atas banner yang berukuran lebih kurang 20×30 meter dan menututupi satu sisi dari gedung KPK yang berada di Jalan Rasuna Said Jakarta Selatan.

Menurut Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto, seperti dilansir beberapa situs berita online, pemilihan teman tersebut diusung karena tiga hal. Pertama, jujur adalah langkah awal dalam memberantas korupsi. Kedua jujur adalah nilai yang paling fundamental (dasar). Ketiga, jujur saat ini langka, sehingga harus menjadi bagian dari aktivitas sikap dan prilaku kita sehari-hari.

Ketiga alasan di atas meisyaratkan bahwa kita telah lama kehilangan sikap jujur, baik kepada diri kita sendiri, keluarga, masyarakat dan negara. Perhatikanlah dalam keseharian, sudah jarang kita bisa jumpai orang yang mau jujur dan berani jujur. Suami sering berbohong pada istri prihal urusan kantor, sumber penghasilan, istri juga begitu, sering berbohong kepada suami dalam hal belanja rumah tangga. Anak sering berbohong kepada orang tuanya tentang aktifitasnya di sekolah dan diluar sekolah bersama teman, pedagang yang sering membohongi konsumennya agar barang dagangannya laku, politisi sering memberikan janji palsu agar dapat dipilih, dan lain sebagainya.

Kebiasaan ini seakan sudah menjadi satu kebudayaan baru dalam kehidupan masyarakat kita, tiada hari tanpa berbohong. Padahal dalam hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Nabi Muhammad SAW berkata; tinggalkanlah apa yang engkau ragukan dan lakukan apa yang tidak meragukanmu, sesungguhnya kejujuran itu melahirkan ketenangan dan kebohongan itu melahirkan kebimbangan. Hadist ini mengingatkan kita tentang bagaimana kondisi psykologis seorang pembohong yang tidak akan pernah tenang jiwanya, karena ia selalu diikuti oleh rasa takut akan terbongkarnya kehobongan yang pernah ia lakukan.

Kisah Tentang Kejujuran

Pada suatu hari, seorang saudagar perhiasan di zaman Tabiin bernama Yunus bin Ubaid, menyuruh saudaranya menjaga kedainya kerana ia akan keluar untuk solat. Ketika itu, datanglah seorang badwi yang hendak membeli perhiasan di kedai Yunus. Maka terjadilah jual beli di antara badwi itu dan penjaga kedai yang diamanahkan tadi oleh Yunus.

Satu barang perhiasan permata yang hendak dibeli harganya empat ratus dirham. Saudara kepada Yunus menunjukkan suatu barang yang sebetulnya harga dua ratus dirham. Barang tersebut dibeli oleh badwi tadi tanpa diminta mengurangkan harganya tadi. Di tengah jalan, badwi tersebut terserempak dengan Yunus bin Ubaid. Yunus bin Ubaid lalu bertanya kepada si badwi yang membawa barang perhiasan yang dibeli dari kedainya tadi, kareana Yunus mengenali barang tersebut. Yunus bertanya kepada badwi itu, “Berapakah harga barang ini kamu beli?”  Badwi itu menjawab, “Empat ratus dirham.”

Tetapi harga sebenarnya cuma dua ratus dirham saja, tutur Yunus.  Dan ia menawarkan kepada si badwi  untuk kembali ke tokonya supaya dapat kembalikan sisa uang yang selebihnya kepada si badwi.

“Biarlah, ia tidak perlu. Aku telah merasa senang dan beruntung dengan harga yang empat ratus dirham itu, sebab di kampungku harga barang ini paling murah lima ratus dirham.” Ucap badwi yang dengan iklas menerima barang tersebut.

Tetapi saudagar Yunus itu tidak mahu melepaskan badwi itu pergi. Ia terus mendesak agar badwi tersebut balik ke tokonya. Dan akhirnya badwi tersebut menerima permohono Yunus dan dikembalikanlah sisa uang si badwi tersebut.

Setelah badwi itu pergi, berkatalah Yunus kepada saudaranya, “Apakah kamu tidak merasa malu dan takut kepada Allah atas perbuatanmu menjual barang tadi dengan dua kali ganda?” ucap Yunus dengan nada marah.

“Tetapi dia sendiri yang mahu membelinya dengan harga empat ratus dirham.” Saudaranya cuba mempertahankan bahwa dia dipihak yang benar. Yunus berkata lagi, “Ya, tetapi di atas belakang kita terpikul satu amanah untuk memperlakukan saudara kita seperti memperlakukan terhadap diri kita sendiri.”

Sikap dari pribadi Yunus di atas mungkin dapat dijadikan tauladan yang baik pada keseharian kita, bagaimana seorang saudagar yang berlaku jujur kepada konsumennya, walaupun pada posisi tersebut si konsumen tidaklah meresa dirugikan.

Dalam satu diskusi, seorang teman bernah bertutur indah kepada saya; “pada hakekatnya, orang jujur itu bukanlah orang yang tidak pernah berbohong, tetapi orang yang jujur itu adalah orang yang ketika situasi atau kondisi mendukungnya dirinya untuk berbohong (seperti kisah di atas) tetapi ia tidak melakukannya.

Pada kondisi inilah kita memerlukan orang-orang yang mempunyai sikap seperti Yunus. Sikap jujur yang sejujur-jujurnya, dan adil seadil-adilnya. Jika sikap seperti itu dapat kita bentuk dalam keharian maka, tidak ada lagi pejabat yang menyalahgunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi, tidak ada lagi pedagang yang mencari keuntungan yang berlipat ganda dan tidak ada lagi penegak hukum yang bertidak semaunya.

Nabi Muhammad SWA bersabda; “wajib atas kalian untuk jujur, sebab jujur itu akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan jalan ke sorga, begitu pula seseorang senantiasa jujur dan memperhatikan kejujuran, sehingga akan termaktub di sisi Allah atas kejujurannya. Sebaliknya, janganlah berdusta, sebab dusta akan mengarah pada kejahatan, dan kejahatan akan membewa ke neraka, seseorang yang senantiasa berdusta, dan memperhatikan kedustaannya, sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta(HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas’ud)

Jujur merupakan suatu sikap yang diwajibkan bagi kita, Nabi Muhammad SAW sebelum datangannya Islam, beliau sudah masyhur sebagai orang yang jujur. Orang-orang kafir Makkah mengakui kejujuran Nabi Muhammad SAW, sekalipun mereka tidak beriman. Bahkan, mereka memberi gelar al-Amin (orang yang tepercaya) kepada Nabi Muhammad SWA. Olehkarenanya, kejujuran itu adalah kewajiban dan keharusan. Namun, di negara yang kerisis dengan kejujuran, menemukan orang yang berani jujur itu adalah suatu kehebatan. Jadi, Sudahkah kita jujur hari ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s