Doa Rindu Untuk Abah

Dia adalah sosok guru yang pertama kali ku kenal sebelum aku masuk ke sekolah milik Negara. Ia banyak mengajarkan ku tentang seni menikmati hidup. Dengan kesederhananya yang sebenarnya dapat dikatagorikan dalam kerangkan miskin, Ia masih tetap dapat menyekolahkan anak-anaknya.

Jika Ia masih hidup sekarang mungkin usianya sudah masuk masa senja (63 tahun). Tapi aku yakin Ia masih tetap dapat menjadi sosok seorang ayah yang baik bagi anak-anaknya. Kini aku merindukan sosoknya. Tatapan matanya banyak mengandung makna. Dia-lah orang yang pertama kali mengajariku tentang bagaimana caranya bicara dalam diam.

Aku rindu sesak nafasnya setiap usai mandi siang sebelum berangkat kerja. Aku rindu aroma badannya dan dekapan hangat punggungnya yang selalu ku peluk setiap kali aku diboncengnya di atas kereta buatan jepang.

Janggutnya, kumisnya, belah pinggirnya, sisirnya, minyak rambutnya, kantung celananya, cicinnya, dan semua hal yang ada pada dirinya selalu saja menyimpan kerinduan.

Meski begitu, tak ada satu pesan khusus pun yang diberikannya kepada-ku sebelum Ia harus pergi menuju kampung keabadian. Mungkin karena usia ku pada saat itu masih dua belas tahun dan belum tau apa-apa. Sehingga ia tak berpesan apa-pun pada ku.

Jika aku diberi kesempatan untuk bertemu dengannya bareng beberapa menit saja, mungkin yang akan aku lakukan pertama kali adalah mencium tangannya yang kekar dengan tekstur kulit yang sedikit kasar. Lalu aku akan bertanya, kapan kita bisa nonton bola bersama lagi? Kapan kita bisa sarapan lontong bersama yang selalu dicampur nasi yang telah tersimpan satu malaman.

Kini, aku hanya bisa berkomunikasi dengannya melalui doa yang terkadang juga tak sempat ku panjatkan, karena rutinitas kehidupan yang memaksa setiap orang untuk bergegas dengan cepat. Tak ada lagi ketenangan seperti dulu.

Setidaknya bunyi hentakan tangan yang dipukul-pukul ke betis dibarengi dengan dengkuran lelah seorang ayah menjadi bunyi rindu yang entah kapan bisa ku dengar lagi.

Ya Robbi, hanya kepada mu aku dapat meminta, sayangi-lah Ia seperti Ia menyangi anak-anaknya. Lindungi-lah Ia seperti Ia melindungi anak-anaknya. Engkau lah sang pemilik kehidupan, jumpakan-lah kami kembali dengannya dalam keadaan bahagia.

Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s