Kapitalisme Berkerudung dan Ramadan Fair

Seorang laki-laki paruh baya baru saja membayar bil tagihan makan. Beberapa langkah dari tempat dia berdiri puluhan anak-anak berkeliaran memegang mangkuk dan gelas plastik, meminta-minta ke setiap meja yang penuh dengan berbagai makan dan minuman.
Wajah mereka tak kalah kusam dengan baju-baju yang mereka pakai. Tanpa lelah, mereka terus saja berkeliling dari meja kemeja. Ada beberapa pengunjung yang memberi uang dengan niat untuk bersedekah. Jika ada yang tidak ingin memberikan uang, anak-anak ini masih menawarkan opsi kedua, yaitu memberikan mereka kue-kue yang tersedia dia atas meja.

Gambaran di atas dapat kita temui dalam event tahun yang diselengaran oleh Pemko Medan yang diberi nama Ramadan Fair. Sebuah event yang bagi saya tidak hanya mempertontonkan sebuah kemewahan tetapi juga memperlihatkan fakta dari realitas kehidupan kaum miskin kota yang ada di seputaran Medan yang masih sangat massive.
Mewah karena untuk satu bulan perhelatan akbar bertajuk wisata kuliner dan UMKM bernuansa islam ini Pemko Medan harus menghabiskan anggaran sebesar 5,5 milliar. Anggaran yang tentunya tidak sedikit. Ironi ini yang selalu mengingatkan saya dengan seorang pengemudi becak dayung yang bernama Pak Usman (baca: Pak Us).
Beliau adalah salah satu sempel dari objek penelitian saya tentang masyarakat miskin kota. Tepatnya setahun yang lalu, di bulan yang sama (Ramadan), saya mengikutinnya selama satu bulan lebih untuk dapat memahami hakikat kemiskinan masyarakat perkotaan.
Satu sore ketika dia mengantarkan penumpangnya menuju Ramadan Fair di seputaran S.M Raja, sambil memarkirkan becanya di pelataran Masjid Raya Al Mashun dengan tegas Pak Us berkata kepada saya; “eforia yang sungguh menakjubkan.” Sebuah perkataan yang bukan tanpa alasan, karena pria yang berusia paruh baya ini selanjutnya menjelaskan;
“Puasa di bulan ramadhan itu sejatinya mengajarkan kita untuk lebih bisa menahan diri dari segala bentuk pemborosan dan foya-foya. Perhatikan-lah orang-orang yang ada di sana, mereka dipaksa oleh suatu kegiatan yang bertajuk buka puasa bersama atau apalah namanya. Tetapi sadarkah mereka berapa banyak uang yang mereka habiskan untuk satu kali berkumpul itu? Dan apakah mereka sadar kalau tak jauh dari tempat mereka duduk masih banyak orang yang hanya bisa menikmati segelas air putih untuk berbuka puasa.”
Pernyataan yang sungguh menggugah dan sepatutnya apa yang dikatakan oleh Pak Us tadi dapat menjadi bahan renungan kita bersama, bahwa Ramadan Fair yang sudah berjalan selama sembilan tahun ini bukan-lah perwujudan yang tepat untuk memeriahkan bulan Ramadan yang penuh dengan keberkah.
 
Kapitalisme Berkerudung
Kata fair yang ada pada Ramadan Fair jika dikonversikan ke dalam bahasa Indonesia dapat diartikan menjadi adil atau wajar. Tetapi kita tidak akan merasakan atau melihat keadialan (fairness) itu selama berada di Ramadan Fair.
Selain fenomena kemiskinan (baca: gelandangan dan pengemis) yang masih tampak pada event tahunan yang memakan anggaran 5,5 Milliar ini, ketidakadilan lain yang dapat dirasakan adalah mahalnya harga-harga makanan yang ada di Ramadan Fair. Tidak salah jika seorang teman pernah berujar jika Ramadan Fair adalah bentuk lain dari pada kapitalisme yang sedang berkerudung.
Ya, baginya, para pedagang yang memiliki stand-stand di Ramadan fair benar-benar memakai konsepsi ekonomi kapitalisme dalam sistem dagangnya. Di mana para pedagang dengan serta merta menerapkan harga dagangannya tanpa bisa diatur oleh Pemko Medan selaku pihak penyelenggara. Hanya demi kepentingan perdagangan yang selalu mengedepankan keuntungan akhirnya para pedagang tanpa disadari merugikan banyak orang yang ingin melaksanakan ibadah buka puasa di sana.
Sudah menjadi rahasia umum bila kebajakan para pedagang yang ada di Ramadan Fair bukanlah murni para pelaku UMKM. Kebanyak dari mereka adalah orang-orang yang mempunyai akses ke dinas terkait, baik dengan model-model nepotisme (kekeluargan) ataupun suap (bayaran), biasanya bisa memalui oknum petugas atau langsung kepemilik yang telah memeangkan undian dan berniat menjual standnya.
Berapa harganya? Relative, tetapi hampir rata-rata berkisar 2 juta rupiah. Itu semua dilakukan demi mendapatkan satu stand yang diharapkan mampu mengakumulasi keuntungan untuk kebutuhan lebaran nanti.
Tidak salah jika orentasi pedagan kemudian adalah bagaimana mengembalikan modal yang tertanam dan bagaimana mengakomulasi keuntungan untuk dana lebaran. Dua orentasi ini membuat sistem kapitalisme (pasar tanpa intervensi pemerintah) bermain begitu dominan di Ramadan Fair. Inilah yang disimpulkan seorang teman malam itu
 
Penutup
Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 Wib. Euphoria Ramadan Fair terus saja berjalan tanpa memandang waktu. Semua yang ada di dalamnya terhanyut dalam dekapan halushedonisme. Suara imam tarawih dari masjid seberang nyaris tak terdengar. Ramadan Fair tanpa disadari sudah menjauhkan umat dari kegiatan ibadah mahdhah.
Kini bulan Ramadan kembali hadir dalam kehidupan kita. Namun sampai kapan kita harus membiarkannya pergi dengan begitu saja tanpa memanfaatkannya sebagai bulan yang penuh berkah. Bagi sebagian mukmin, kepergian bulan Ramadan jauh lebih disesalkan dari pada kepergian tamu mulia.
Malam semakin larut, seorang pedagang mulai menyapu lokasi standnya. “Maaf ya dik, Ibu harus menyapunya sekarang, kalau nunggu sampai sunyi bisa sampai jam dua malam baru kelar,” imbu wanita paruh baya yang berkerudung biru ini.
Tulisan ini sudah di terbitkan diharian Waspada
Tanggal 19 Juli 2013 Halaman B5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s