Kemacetan Lalu Lintas Dan Potensi “Ekonomi”

Udara sore ini sedikit lebih panas dari biasanya, pancaran matahari dengan sangar menghantam wajah-wajah para pekerja kantoran yang tampak musam. Mata-mata mereka sibuk melihat cela-celah jalan yang bisa disusupi. Kemacetan sore memang selalu menjadi satu aktifitas yang harus dilalui oleh setiap warga kota. Tidak hanya bagi warga Jakarta, tetapi juga bagi warga Bandung, Surabaya, Makasar dan Medan yang kini mengalami hal serupa.

Di tengah kemacetan sore itu, terdapat beberapa anak-anak yang sibuk mengatur lalu lintas yang ada di setiap persimpangan yang tidak memiliki traffic light dan tidak diawasi oleh satuan lalulintas. Mereka menawarkan jasa untuk setiap mobil yang ingin memutar atau menyebrang. Bayarannya tidak besar memang, cuman 1000 atau 2000 rupiah. Namun jika dikalkulasikan penghasilan mereka bisa mencapai 30 sampai 50 ribu rupiah bahkan bisa lebih.

Mungkin jumlah rupiah yang terbilang besar tersebut membuat wajah mereka masih bisa bersemangat di tengah gempuran cahaya panas sang surya. Semangat mereka ini kemudian mengingatkan saya kepada Yogi (bukan nama sebenarnya).  Seorang anak berusia 14 tahun yang merupakan satu dari beberapa subjek penelitian saya tentang fenomena pekerja anak di jalanan. Pada penelitian ini, Yogi saya masukkan kedalam katagori pengatur lalulintas informal. Meski dalam beberapa istilah lain lebih popular dikenal sebagai “polisi cepek” atau “pak ogah”.

Yogi mempunyai alasan tersendiri ketika ditanya mengapa harus bekerja di jalanan dan memilih untuk menjadi pengatur lalu lintas. Ia mengaku, bekerja di jalanan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.

Ayah Yogi meninggal saat usianya genap 10 tahun. Praktis, tanggung jawab keluarga kini ada di pundak ibunya yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci dari rumah ke rumah. Gaji Ibunya yang tidak terlalu besar itu-lah yang harus dipakai untuk memenuhi biaya hidup dan biaya pendidikan kedua adiknya yang masih berumur tujuh dan delapan tahun.

Selama empat jam bekerja di jalanan, Yogi bisa menghasilkan 20 sampai 30 ribu rupiah. Hasil jeri payahnya ini kemudian ia bagi menjadi tiga. Sebagian ia berikan kepada ibunya untuk keperluan keluarga, sebagian ia tabung dan sebagian lagi ia gunakan untuk keperluan sehari-harinya. Ironi memang, tetapi itu adalah sebagian fakta dari kehidupan pekerja anak dijalanan.

Dari sekian banyak fakta yang terkumpul, ada yang satu hal yang menarik dari alasan mengapa Yogi memilih bekerja sebagai pengatur lalu lintas informal. Baginya, menjadi pengatur lalu lintas informal adalah satu hal yang menguntungkan, di mana dengan kerja yang sedikit dapat mengumpulkan uang yang banyak.

Hitungannya begini, jika setiap mobil memberikan 1000 rupiah, dan dalam empat jam mereka bisa membantu penyebrangan tiga puluh mobil maka mereka bisa mengantongi 30 ribu rupiah dalam empat jam.

Alasan kedua, pekerjaan menjadi pengatur lalu lintas informal tidak membuat dirinya menjadi seorang peminta-minta tetapi menjadi seorang yang menawarkan jasa terhadap sekelompok orang yang membutuhkan jasa ketika kemacetan terjadi.

“Kami ini hanya membantu para pemilik mobil yang kesusahan ketika ingin menyeberang dan berbelok. Hanya itu yang kami berikan kepada mereka, kalau dibayar kami ambil, kalau tidak ya juga tidak ada masalah. Kami tidak memaksa dan kami juga tidak meminta-minta,” ujar Yogi ketika diwawancarai.

Mengulang Penjelasan Durkheim

Emile Durkheim adalah satu dari sekian banyak sosiologi di era modern. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Kant, Simon, dan Comte. Pada tahun 1893, Durkheim mengeluarkan karyanya monumentalnya yang berjudul; The Division of Labor in Society. Karyanya tentang pembagian kerja dalam masyarakat ini kemudian menjadi catatan penting dalam ilmu sosial, yang sampai sekarang masih dijadikan rujukan untuk menjelaskan pola pembagian kerja di masyarakat yang kemudian berhasil mempengaruhi perubahan struktur pada masyarakat.

Jika merujuk pada karya Durkheim ini, maka munculnya pengatur lalulintas informal di atas dapat dijelaskan melalui apa yang disebutnya sebagai solidaritas organis. Masyarakat dengan solidaritas organis dicirikan Durkheim sebagai masyarakat modern yang terdiferensiasi dan terspesialisasi. Artinya, dalam masyarakat yang ditandai oleh solidaritas organis tersebut, setiap orang memiliki pekerjaan dan tanggung jawab yang berbeda-beda.

Oleh kerananya, tidak salah jika kemudian munculnya pengatur lalulintas informal dapat dijelaskan sebagai sebab dari ketidakhadiran Institusi pemerintah yang seharusnya bekerja dan bertanggung jawab atas persoalan kemacetan di setiap persimpangan jalan di kota.

Ketiadaan tanggung jawab tersebut kemudian diisi oleh mereka yang jeli melihat peluang dan menjadikan kemacetan lalulintas sebagai potensi ekonomi dan pekerjaan baru. Sehingga terbentuk satu profesi dan identitas pekerjaan baru di tengah masyarakat yang pada akhirnya menjadi satu bagian penting dari struktur sosial.

Penutup

Sudah 30 menit saya dan teman terjebak macet dan berhasil memutar arah berkat bantuan para pengatur lalulintas informal. Kaca mobil diturunkan, teman tadi memberikan uang tanda terimakasih, namun setelah itu ia berkomentar miring; “harusnya kita tidak membayar lagi, pajak yang kita bayar sudah diberikan kepada mereka yang harusnya bekerja untuk mengatur kelancaran kita berlalulintas. Sehingga tidak membiarkan anak-anak ini bekerja di jalanan sebagai pengganti tugas mereka. Bukankah anak-anak ini juga dilindungi oleh undang-undang?” pungkasnya sembari menggerutu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s