Bahagia Di Tengah Begal Motor

Pebruari lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) meliris Indeks Kebahagiaan Indonesia untuk tahun 2014. Data yang diliris oleh BPS tersebut menunjukkan peningkatan kebahagiaan masyarakat Indonesia. Tercatat pada tahun 2013 indeks kebahagian sebesar 65,11 dan pada tahun 2014 menjadi 68,28 (pada skla 0-100) atau naik sekitar 3, 17 poin.

Kenaikan ini diukur dari 10 aspek sosial dan ekonomi masyarakat yang mencakup; kondisi rumah dan asset, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, ketersediaan waktu luang, hubungan sosial, keharmonisan keluarga, kondisi keamanan dan keadaan lingkungan. Kesepuluh aspek ini dianggap menjadi indikator yang paling sahi dalam menentukan tingkat kebahagiaan di satu masyarakat. Namun benarkah kesepuluh indikator ini dapat dijadikan acuan kebahagiaan secara rill? Bukan dibalik angka-angka itu semua kita masih sering menyaksikan wajah-wajah yang muram dan stress dengan kondisi kehidupan hari ini.

Anomali

Tepat pada bulan yang sama, seorang teman bercerita tentang sepeda motornya yang dirampok oleh sekelompok orang yang ia curigai sebagai begal motor. Aksi rampok itu di luar dugaan, sebab terjadi pada sore hari sekitar pukul tigaan. Aksi perampokan ini berlangsung cepat dan sistematis. Berdasarkan pengakuan teman ini, seorang yang tidak ia kenal, tiba-tiba duduk di belakang boncengan sepeda motornya di saat traffic light sedang merah. Orang yang tidak dikenal itu menodongkan pisau di pinggangnya dan meminta teman ini untuk turun dari sepeda motor sambil menyerahkan STNK.

Tidak ada perlawanan yang berarti sebab dirinya sudah dikelilingi oleh sekolompok anggota begal tersebut. Mereka tidak membawa senjata memang, tetapi menatap wajah gerombolan ini saja sudah cukup menyeramkan. Akhirnya, sepeda motor yang baru lunas kredit dua tahun yang lalu itu-pun lenyap begitu saja. Selain sepeda motor dan STNK, uang sebesar 300 ribu dari dompet juga ikut melayang.

Apa yang dialami teman tadi hanyalah bagian dari ratusan kasus terkait aksi begal motor yang terjadi dibeberapa kota besar di Indonesia. Ironisnya, Indeks kebahagian justru menunjukkan angka kebahagian di wilayah perkotaan relatif lebih tinggi –sekitar 69,62 poin –dibandingkan dengan wilayah pedesaan yang hanya bekisar pada 66,95 poin.

Padahal rasa aman adalah kubutuhan paling mendasar dalam kehidupan manusia. Jika rasa aman secara subtantif belum bisa terpenuhi, bagaimana bisa merasa bahagia? Setiap kali ingin pergi meninggalkan rumah takut rumah kemalingan, setiap kali pulang larut malam, takut dengan begal motor. Bukan hanya itu, kita juga mulai cemas dengan lingkungan tempat anak-anak kita berinteraksi, jajanan yang penuh dengan formalin dan bahan kimia berbahaya yang semakin mudah untuk ditemui. Belum lagi persoalan peredaran narkotika yang semakin menjadi. Ini  tentunya akan menjadi ancaman bagi masa depan mereka sebagai anak bangsa.

Persoalan di atas hampir setiap hari kita rasakan dan itu selalu memicu rasa kekawatiran yang mendalam. Pada celah inilah indeks kebahagian tidak mampu menerangkan kebagian itu secara subtantif. Sebab kebahagiaan sesungguhnya terkait dengan wilayah perasaan seseorang yang sangat khas –ada nilai transedental –dan sulit untuk diukur secara material.

Bukan Fenomena Tunggal

Fenomena sosial yang terjadi di tengah masyarakat tidaklah muncul secara tunggal. Ia selalu memiliki kaitan dengan kondisi atau fenomena-fenomena lainnya. Sebagai fenomena sosial, bagal motor tentunya tidak hadir secara tiba-tiba (tunggal), kehadirannya tentu dipengaruhi oleh banyak faktor mulai dari faktor keluarga, teman sebaya atau lingkungan sekolah dan masyarakat.

Fungsi keluarga pada masyarakat perkotaan dinilai sudah mulai berkurang. Rutinitas kedua orang tua –ayah dan ibu –yang banyak menghabiskan waktu bekerja pada sektor publik membuat fungsi pendidikan di dalam keluarga semakin berkurang. Selain itu, fungsi afektif yang merupakan sarana untuk mempertahankan kestabilan kepribadian dan pemenuhan kebutuhan psikologi setiap anggota keluarga saat ini telah luntur.

Naiknya kebutuhan barang pokok memaksa banyak keluarga untuk meningkatkan pendapat ekonomi. Pendapatan ekonomi dinilai menjadi standart yang paling penting untuk dapat memenuhi segala kebutuhan fisik atau materi bagi setiap anggota keluarga. Fakta inilah yang terungkap pada indeks kebagian yang dilangsir oleh BPS, di mana pendapatan rumah tangga menjadi penyumbang atau memiliki konstribusi paling tinggi sebesar 14,64% yang kemudian diikuti oleh kondisi rumah dan asset 13,22% serta pekerjaan 13,12%. Ini menjadi tiga aspek kehidupan yang memiliki konstribusi paling tinggi pada indeks kebahagiaan.

Akhirnya kini, keluarga hanya menjadi tempat penyaluran kebutuhan biologi (seks) dan pemenuhan kebutuhan fisik –materi –semata. Berkurangnya fungsi afeksi dan pendidikan inilah yang kemudian membuat anak mencari tempat baru (kelompok) yang ia anggap nyaman dengan dirinya dan dapat menyalurkan eksistensinya. Mungkin kelompok begal motor dianggap menjadi tempat yang nyaman. Mungkin! Meski mereka juga mengetahui jika kelompok tersebut adalah kelompok yang tidak mendapat penerimaan di tengah masyarakat.

Penutup

Studi pengukuran kebahagian masyarakat dinilai perlu dilakukan agar dapat mengimbangi indeks komposit objektif seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi dan sebagainya yang selama ini dipakai untuk mengukur kinerja pembangunan. Begitupun, mengukur kebahagiaan bukan hal mudah untuk dilakukan. Persepsi individu terhadap kebahagian sangatlah relative-subjektif. Sehingga kebahagian di sini tidak bisa diukur secara material –dengan sepuluh indikator yang ada –perlu ada perbaikan terkait sepeluh indikator tersebut yang sangat kental dengan pendekatan material.

Sebab tingkat pendapatan rumah tangga yang tinggi belum tentu bisa menggambarkan kebahagiaan seseorang di dalam satu rumah tangga. Jadi kenaikan income yang dialami seseorang belum tentu langsung berkorelasi positif dengan kabahagiaan seseorang. Bagaimana mau bahagia jika kondisi keaman masih belum terjamin. Setidaknya kita perlu bertanya ke dalam diri, sudah kita merasa bahagi di tengah begal motor yang masih berkeliaran di sekitar kita saat ini?

Oleh: Mujahiddin, S.Sos, MSP

Tulisan ini Pertama Kali Diterbitkan di Harian Waspada Medan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s