Anak dan Ancaman Konsumsi Pangan

Pernahkah kita mengawasi secara maksimal konsumsi pangan yang dimakan oleh anak kita? Khususnya selama mereka melakukan aktifitas di luar rumah. Pertanyaan ini penting untuk diajukan, sebab masih banyaknya ditemukan makan yang tidak aman dan tidak sehat yang beredar di pasaran. Lebih khusus makanan yang dikonsumsi oleh anak selama jam sekolah berlangsung. Apalagi fenomena ini sangat mudah kita temui di lingkungan sekolah.

Banyak terdapat pedang yang tidak memandang penting faktor kesehatan makanan yang mereka jual ke pembeli (anak usia sekolah). Mereka (pedang) lebih mengutamakan asumsi ekonomi untuk mencari keuntungan yang besar dari belanja yang murah. Hal paling sederhana yang bisa kita temui adalah pada makanan anak-anak sekolah. Benarkan saus pada setiap makanan sudah memenuhi standart pengawasan yang layak?

Oleh karenanya, faktor kebersihan dan hegienitas menjadi kata kunci penting di sini.  Pedagang boleh saja mencari keuntungan ekonomi yang besar, tetapi dua faktor itu tetap harus dijaga. Ini semua demi masa depan anak bangsa. Mereka yang mengkonsumsi makanan yang tidak layak bersiko terkena penyakit bawaan beresiko.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berpandangan keamanan pangan sebagai masalah global seharusnya mendapatkan prioritas perhatian. Data global Foodborne Disease Burden Epidemiology Reference Group WHO 2010 menyebutkan, diperkirakan ada 582 juta kasus penyakit, terdiri dari 22 macam penyakit pencernaan bersumber dari makanan dan 351.000 kematian terkait penyakit itu.

Di Indonesia, penyakit bersumber dari makanan yang dominan di antaranya diare dan disentri. Menurut Riset Kesehatan Dasar, insiden diare di Indonesia 3,5 persen. Hal ini didukung dengan data dari BPOM yang menunjukkan, cemaran mikroba menjadi ancaman utama dalam pangan jajanan anak sekolah.

Pada tahun 2014 saja BPOM mencatat ada 23,82 persen pangan tidak memenuhi syarat dari semua sampel pangan jajanan anak sekolah yang dicurigai tak aman. Dari pangan yang tak memenuhi syarat tersebut, 74,89 persen tercemar mikroba. Sisanya tidak memenuhi syarat karena memakai bahan berbahaya atau bahan tambahan pangan secara berlebih.

Tidak sampai disitu, angka kematian yang dihasilkan dari pengkonsumsian pangan yang sembarangan juga cukup besar. Ada dua juta orang di dunia setiap tahunnya yang meninggal akibat makanan dan minuman yang tidak aman, terutama anak-anak. Sekitar 1,5 juta anak meninggal di dunia setiap tahunnya, sebagian besar karena makanan dan minuman yang tercemar.

Ini membuktikan bahwa kesadaran masyarkat terkait pemilihan makanan yang aman dan sehat masihlah sangat terbatas. Hal ini bertambah ironis ketika pelaku produksi makanan yang tidak aman dan tidak sehat terus saja menjalankan bisnisnya di tengah masyarkat tanpa mendapatkan hukuman yang setimpal.

Pengawasan dan pemberian hukuman terhadap mereka –distributor pangan yang tidak aman dan bersih –terbilang sangat lemah. Kita sangat mudah menemui makanan tanpa kemasan yang beredar dipasaran. Harusnya pihak terkait seperti pemerintah dan pemerintah daerah melalui dinas dan instansi yang membidangi persoalan pangan ini dapat lebih tangkas dalam mengatasi persoalan yang ada.

Setidaknya, ada pengujian dan pengawasan sample pangan secara priodik di tengah masyarakat. Meski terkadang alasan anggaran selalu saja menghantui untuk setiap  pengawasan dan pengujian sampel makanan yang ada. Selain pengawasan yang masih lemah, penyebab beredarnya makanan tidak aman di masyarakat ialah lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku yang produksi makanan yang tidak sehat. Contoh rill yang bisa dilihat adalah sepanjang tahun 2012-2014 hakim hanya menjatuhkan hukuman paling tinggi satu tahun masa percobaan.

Butuh Pengawasan                                                                                                                          

Pengawasan terhadap keamanan pangan selama ini belum berjalan maksimal. Jika pengawasan tidak dilakukan dengan baik, masyarakat akan menjadi korban. Padahal dalam peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan. Disebutkan setiap orang bertanggung jawab dalam setiap rantai produksi hingga distribusi makanan harus memenuhi syarat sanitasi yang ditetapkan.

Di sini, seluruh element memiliki tanggung jawab atas persoalan pagang hari ini. Mulai dari pemerintah pusat –Kementerian Pertanian, Perindustrian, Perdagangan, Kesehatan, dan BPOM –Pemerintah Daerah. Namun kinerja institusi pemerintah sampai saat ini belumlah makasimal. Tentu kita tidak bisa menyalahkan secara keseluruhan kinerja pemerintah, di sini dibutuhkan peran serta masyarakat khususnya keluarga dan sekolah (lembaga pendidikan) dalam mengawasi konsumsi makan anak-anak.

Keluarga bisa melakukan pengawasan dengan memperingatkan dan memberi tau bahaya makanan yang ada disekitar mereka atau bisa juga dengan memberikan bekal makanan dari rumah. Sedangkan peran yang dapat dimainkan oleh pihak sekolah adalah dengan meseleksi dan melakukan pengawasan terhadap makanan yang layak jual di kantin-kantin sekolah.

Oleh karenanya penting bagi kita untuk lebih peduli terhadap apa yang dikonsumsi oleh anak-anak kita setiap hari. Sebab, apa yang mereka konsumsi hari ini sangat menentukan masa depan mereka. Apakah menjadi generasi yang sehat atau menjadi generasi yang lemah dan sakit. Jika yang muncul adalah generasi yang lemah dan sakit maka negara harus menanggung banyak kerugian untuk memenuhi semua biaya perobatan mereka ke depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s