Pilkada; Antara Keuntungan Kelompok dan Mental Pejabat

PilkadaSebentar lagi, Kota Medan dan bebebrapa kabupaten-kota lainya di Indonesia akan menyelenggarakan pilkada serentak. Perhelatan pesta demokrasi ini akan menarik perhatian bagi banyak kelompok. Sebab hadirnya pilkada membawa keuntungan yang cukup menjanjikan bagi mereka yang terlibat secara tidak langsung dengan event ini. Seperti sebuah musim panen, semua mencari dan mendapatkan keuntungannya masing-masing.

Kelompok pertama yang tentunya mendapatkan keuntungan yang menjanjikan dari hadirnya pilkada adalah kelompok elit partai politik. kelompok ini kelompok yang paling berbahagian, sebab setiap calon kepala daerah yang ingin maju melalui jalur kepartaian pasti akan mencari mereka. Melakukan lobi dan kemudian “menentukan mahar” yang harus dipenuhi untuk bisa mendapatkan restu partai. Ini sudah menjadi satu rasia umum yang tidak bisa dipungkiri, meski ada partai yang coba menolak itu dengan  menyatakan haram terhadap uang mahar dalam pilkada.

Selain elit partai, kelompok kedua yang memperoleh keuntungan adalah kelompok akademisi dan praktisi. Khususnya mereka yang berada pada bidang sosial dan politik. Kemampuan dan pemahaman mereka dalam bidang sosial dan politik membuat mereka dipercaya dan dianggkat untuk menjadi konsultan pemenangan politik calon. Survei-survei pilkada adalah satu bukti proyek-proyek yang dilaksanakan di tahapan awal. Popularitas dan elektabilitas harus dipetakan dengan maksimal agar mempermudah langkah kerja tim sukses berikutnya.

Kelompok berikutnya adalah ormas, lsm dan lembaga-lembga civil society lainya. Jumlah masa adalah kunci dari kolompok ini. Semakin banyak masa kelompoknya semakin besar posisi tawar mereka untuk didatangi oleh setiap calon kepala daerah. Harapannya sederhana, anggota atau masa yang aktif terdaftar di kelompok ini diharapkan dapat memberikan suaranya secara singnifikan kepada setiap calon. Selain itu, tokoh-tokoh yang ada pada ormas, lsm dan lembaga-lembaga civil society ini juga diharapkan mampu memberikan pengaruh kepada masyarakat untuk mendukung dan memilih satu pasangan calon kepala daerah.

Kelompok terakhir adalah media masa. Biasanya media masa menjadi patron terdepan untuk mengingkatkan popularitas calon kepada daerah. Karena sifatnya yang memberikan informasi dan dekat dengan masyarakat, maka media menjadi begitu penting. Tidak salah jika iklan dan berita calon-calon kepala daerah selalu saja menghiasi lembaran-lembaran halaman media masa pada saat musim pilkada berlangsung. Pihak incumbent selalu menggunakan jasa media lebih awal untuk dapat meningkatkan citra positif dari kinerja politiknya. Biasanya yang selalu diberitakan adalah keberhasil program kerja atau kunjungan-kunjungan kerja ke rakyat.

Selain empat kelompok di atas, tentunya masih terdapat beberapa kelompok kecil lainnya yang juga mendapat keuntungan dari datangnya musim pilkada. Keuntungan memang menjadi hukum alam bagi setiap pelaku yang terlibat dalam satu musim tersebut. Terlebih musim pilkada memang tidak bisa dielakkan kehadirannya setiap lima tahun sekali.

Harapan Besar

Di satu sisi, rakyat selalu saja memiliki harapan besar atas hadirnya pilkada. Harapan itu biasanya adalah munculnya pemimpin-pemimpin daerah yang lebih peduli terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Namun hal ini seperti jauh panggang dari api. Pilkada sangat jarang dan sulit sekali melahirkan kepemimpinan yang bertanggung jawab dan berkompeten dalam membangun kesejahteraan masyarakat daerah.

Kota Medan yang dalam waktu dekat ini akan melaksanakan pilkada juga mempunyai pekerjaan rumah yang besar untuk mencari kepemimpinan yang memiliki kompetensi dalam mengatasi persoalan masyarakat hari ini. Ketimpangan ekonomi di kota ini semakin terasa. Keterasingan warga lokal yang terus terpinggirkan oleh pembangunan apartement, plaza dan mall yang semakin menjadi-jadi harus segera diselesaikan secepatnya.

Persoalan tata ruang adalah persoalan utama di luar konteks ekonomi seperti ketersedian lapangan pekerjaan. Visi dan misi calon walikota harusnya tidak lagi bersumber dari persoalan reme-temeh seperti pembuatan KTP dan KK geratis, atau berobat dan bersekolah geratis. Sebab persoalan remeh-temeh itu memang sudah menjadi tugas dan tanggung jawab negara untuk menyediakannya.

Namun terkadang visi dan misi itu hanya menjadi pepesan kosong belaka. Usai pilkada, mereka yang terpilih untuk memimpin di satu wilayah kabupaten/kota pasti lupa dengan apa yang telah dijanjikan selama masa kampaye. Rakyat kembali menjadi kambing congek, tidak berdaya dan tetap saja dilupa di tengah hiruk pikuk pembangunan.

Mental Pejabat Indonesia      

Old habit die hard –kebiasaan lama yang sulit dihilangkan –begitu ungkap pepatah Inggris yang masih menerpa kehidupan bangsa kita hari ini. Kita belum berubah menjadi lebih baik sejak tahun 1977 bahkan dapat bisa dikatakan menjadi lebih buruk. Ciri-ciri negative yang digambarkan oleh Mochtar Lubis tiga puluh tiga tahun silam dalam bukunya yang berjudul; “Manusia Indonesia” itu masih saja dapat dengan mudah kita temui pada setiap diri anak bangsa. Terkhusus bagi para pejabat negara.

Pada bukunya itu, Mochtar menggambarkan ada enam ciri manusia Indonesia yaitu; hipokrit atau munafik, segan dan enggan bertanggung jawab, bersikap feodal, percaya takhayul, artistik dan lemah wataknya. Di antara enam ciri tersebut hanya ciri artistik yang merupakan ciri positif sedangkan sisanya adalah ciri negative.

Ciri yang digambarkan oleh Mochtar sampai saat ini masih dengan mudah kita liat, pada diri para pejabat kita di tengah pagelaran pilkada. Keenam ciri itu akan muncul secara alamiah, tanpa direkayasa. Sikap munafik atau hipokrit misalnya bisa kita temui setelah pilkada usia, kepala daerah terpilih selalu saja bersikap hipokrit, lupa atas janji-janji kampaye yang harus direalisasikan. Sikap hipokrit ini digunakan untuk mengkelabuhi masyarakat agar dapat memilih dirinya, meski setelah terpilih dirinya sudah tidak perduli lagi.

Ciri yang kedua adalah engan bertanggung jawab. Sikap ini sering muncul pada saat  kepala daerah enggan bertanggung jawab atas satu persoalan. Bisanya mereka lebih memilih untuk menyalahkan bawahannya seperti kepala dinas dan hal ini sangat lumrah kita temui diberbagai pemberitaan di media masa. Ciri ketiga adalah sikap feodalisme yaitu sebuah sikap yang enggan mendapatkan kritik. Hampir semua kepada daerah yang telah terpilih enggan untuk mendapatkan kertikan.

Percaya tahyul menjadi satu rahasia umum bahwa hampir setiap kepala daerah yang ingin maju pasti telah memiliki dukun tersendiri untuk bisa mengatasi persoalan mistis dari pihak lawan yang membencinya. Ciri berikutnya adalah ciri artistik yang dianggap menjadi ciri positif oleh Mochtar. Nah, ciri ini ini bisa dilihat hampir di setiap event kampaye yang selalu saya melibatkan keybot dan live music, ini adalah ciri artistik dari manusia Indonesia.

Ciri terakhir adalah memiliki watak yang lemah. Watak yang lemah ini selalu menjadi penghalang bagi tata kelola pemerintahan. Kepala bidang dan kepala dinas selalu saja bekerja atas dasar ABS (Asal Bapak Senang). Sikap dan perilaku ini muncul dikrenakan ketakutan mereka terhadap pimpinan. Ancaman yang paling membahayakan adalah pemindahan posisi dan atau mutasi.

Anda mungkin saja boleh marah dengan tulisan ini karena ciri yang diuraikan Mochtar Lubis tersebut masih saja dengan mudah kita temui. Bahkan pada diri kita sendiri. Jadi jangan heran jika pembangunan hari ini masih saja tetap berjalan di tempat dan tidak menguntungkan rakyat. Sebab orientasi dari penyelenggaraan pilkada bukanlah untuk mencari pempin yang bertanggung jawab dan amanah. Tetapi lebih kepada usaha mencari keuntungan dengan cara menimpu rakyat. (*)

Pertama Kali diterbitkan di Harian Mimbar Umum

Selasa, 19 Mei 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s