Suicide

Bunuh diri
Sumber Gambar; Internet

Bunuh diri, dalam beberapa bulan ini menjadi fenomena kembali di tengah masyarakat, khususnya di Kota Medan. Laporan pemberitaan media masa khususnya pada halaman kriminal mencatat setidaknya dalam waktu delapan bulan ini terdapat lima kahasus mahasiswa di Kota Medan yang tewas bunuh diri di kamar kost. Tentu banyak motif yang membuat kelima mahasiswa ini melakukan tindakan yang terbilang nekat ini. Namun dari pemberitaan yang ada, terdapat tiga faktor dominan yang mempengaruhi mahasiswa ini melakukan tindakan bunuh diri, ketiga faktor itu adalah; kondisi ekonomi, tekanan pendidikan –aturan perguruan tinggi setempat –dan masalah asmara.

Meski hampir setiap hari terjadi bunuh diri dan sering diberitakan di koran-koran kriminal, namun kini, persoalan bunuh diri menjadi menarik karena dalam bulan Mei ini kita telah dihebohkan dengan tiga kasus bunuh diri. Dua berita bunuh diri tersebut melibatkan mahasiswa USU pada tanggal 12 Mei 2015 dan 17 Mei 2015. Sedangkan kasus yang terakhir adalah bunuh diri anggota Yonzipur TNI pada tanggal 23 Mei 2015 di Medan.

Fenomena ini sangat menarik untuk dibahas dan diuraikan dengan jelas. Apakah perlu diadakannya evaluasi sosial terkait hal ini. Atau bunuh diri hanya dianggap sebagai tindakan putus asa yang penyebabnya sering dikaitkan dengan depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, ketergantungan alkohol, dan stress yang meliputi kesulitan keuangan atau masalah dalam hubungan interpersonal.

Pada aspek tertentu bunuh diri bukan hanya dipengaruhi oleh kondisi peribadi dan juga interpersonal seorang individu tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi eksternal (sosial) seorang individu. Faktor sosial-ekonomi seperti pengangguran, kemiskinan, gelandangan, dan diskriminasi dapat mendorong pemikiran untuk melakukan bunuh diri. Kita tentu pernah dan bahkan sering mendengar terjadinya bunuh diri yang dilakukan satu keluarga akibat kemiskinan dan ketidak mampuan memenuhi kebutuhan ekonomi. Sedangkan pada sisi lain, hutang-hutang keluarga tersebut terus saja menumpuk.

Hasil penelitian dipublikasikan oleh American Journal of Preventive Medicine, menunjukkan faktor ekonomi eksternal memberikan pengaruh sebesar 37,5 persen dalam semua kasus bunuh diri pada 2010 di Amerika Serikat. Angka ini meningkat dibandingkan pada 2005 yaitu 32,9 persen. Menurut penelitian ini, peningkatan tajam kasus bunuh diri dipengaruhi krisis ekonomi pada 2007-2009. Para peneliti memakai data dari National Violent Death Reporting System (NVDRS) dan menganalisa 17 kasus bunuh diri berbeda, dengan empat indikator berkaitan dengan niat dan perencanaan.

Meski hasil penelitian ini dilakukan di Amerika Serikat, namun setidaknya penelitian ini dapat membantu kita untuk menyatakan bahwa persoalan sosial-ekonomi individu sangat mempengaruhi seorang individu dalam melakukan aksi bunuh diri.

Analisis Durkheim

Sosiolog ternama asal Prancis Emile Durkheim sebenarnya sudah melakukan penelitian terkait pola bunuh diri di masyarkat. Hasil penelitiannya ini kemudian dibukukan dengan nama Suicide (1897). Dalam bukunya ini, Durkheim menjelaskan bahwa control sosial yang lebih tinggi menghasilkan tingkat bunuh diri yang lebih rendah. Baginya, intergarsi sosial seseorang dalam satu kelompok secara abnormal –tinggi atau rendah –akan dapat mengahasilkan  bertambahnya tingkat bunuh diri.

Tingkat integrasi sosial yang rendah dapat menyebabkan orang melakukan bunuh diri sebagai upaya terakhir. Durkheim menyebut ini dengan istilah egoistic suicide yaitu; suatu tindakan bunuh diri karena merasa kepentingan individu lebih tinggi dari pada kepentingan kesatuan sosial atau kelompok. Kondisi egoistik dapat menjadi semakin menguat jika terjadi penurunan dalam intensitas integrasi sosialnya. Biasanya tindakan bunuh diri ini dilakukan ketika seorang individu tidak mendapatkan dukungan sosial lagi dari lingkungan sekitarnya atau merasa tidak mendapatkan perhatian lagi dalam lingkungan sosialnya (teman terdekat, saudara atau keluarga). Pada kondisi ini, seorang sangat membutuhkan teman untuk berbicara, memberikan solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi.

Selain itu, tingkat integrasi sosial yang tinggi juga dapat membuat seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Perilaku bunuh diri ini disebut Durkheim sebagai altruism suicide. Kuatnya integrasi sosial seseorang dalam kelompok membuat mereka rela melakukan tindakan bunuh diri (self-sacrifice) demi kepentingan kelompok mereka. Bom bunuh diri yang dilakukan oleh kelompok-kelompok teroris bisa termasuk dalam katagori ini. Pada abad 20 dan 21 ini, perilaku bunuh diri ini banyak kita temui sebagai bentuk protes terhadap pola hegemonik satu kelompok.

Selanjtunya, pola bunuh diri yang ditemukan oleh Durkheim di tengah masyarakat adalah anomain suicide. Perilaku bunuh diri ini terjadi karena individu yang bersangkutan kehilangan cita-cita, tujuan dan norma dalam hidupnya. Ini mungkin bisa menjadi pola bunuh diri yang dilakukan oleh satu mahasiswa USU yang kehilangan laptop dan data skripsi di dalamnya yang digondol maling yang membuat cita-cita dan tujuannya untuk wisuda pada tahun tersebus kandas. Di satu sisi, ancaman drop out sangat menghantui pikirannya.

Pola yang terakhir atau yang keempat adalah fatalistik suicide.  Bunuh  diri model ini disebabkan oleh nilai dan norma yang berlaku dimasyarakat meningkat dan terasa berlebihan. Sehingga menyebabkan individu dalam ataupun kelompok tertekan oleh nilai atau norma dalam masyarakat tersebut.

Apa yang dianalisi Durkheim tentang pola perilaku bunuh diri ditengah masyarakat ratusan tahun silam tentunya masih terlihat dan dapat digambarkan sampai saat ini. Ini membuktikan bahwa, pola bunuh diri di tengah masyarakat tidak banyak berubah. Kata kunci yang penting yang bisa diambil dari penelitian Durkheim ini adalah bagaimana seorang individu dapat mengintegrasikan dirinya dengan baik kepada kelompok sosialnya. Sebab tinggi dan rendahnya intergarasi seorang individu dalam kelompok sosial juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap tindakannya dalam bunuh diri.

Penutup

Selain analasis Durkheim di atas, peranan media dalam membentuk perilaku bunuh diri juga cukup besar, termasuk di dalamnya adalah internet. Tata cara yang menyajikan gambaran bunuh diri di internet membuat beberapa pelaku bunuh diri mencontohnya. Kasus ini juga bisa kita lihat dalam laporan polisi terkait mahasiswi USU yang baru-baru ini melakukan bunuh diri. Untuk itu penting bagi kita untuk tetap mengingatkan teman, tetangga atau siapa-pun juga untuk tidak melakukan tindakang menyimpang yang dilarang oleh agama ini. Bukankah sebagai seorang individu kita mempunyai tanggung jawab untuk saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Diterbitkan pertamakali oleh; Harian Mimbar Umum

Selasa, 26 Mei 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s