Risalah Mei 2015

Mei, bulan ini dianggap menjadi sangat sakral bagi beberapa kalangan aktivis. Khususnya bagi mahasiswa. Pergerakan aksi protes terhadap setiap kebijakan pemerintah selalu dilakukan pada bulan ini, sebab dua tragedi besar dalam sejarah Indonesia terjadi di bulan ini. Tragedi pertama adalah lahirnya organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 yang dijadikan sebagai simbol hari kebangkitan nasional. Dikatakan kebangkitan karena pada waktu itu muncul rasa dan semangat nasionalisme untuk memerdekakan bangsa dari penjajahan Kolonialisme Belanda.

Sedangkan tragedi kedua terjadi sembilan puluh tahun kemudian tepatnya pada 21 Mei 1998. Di mana pada tanggal tersebut, Presiden Soeharto secara resmi menggundurkan diri dari kursi kepresidenan yang telah ia duduki selama 32 tahun. Pengunduran diri Soeharto ini kemudian dijadikan simbol kemenangan bagi demonstran yang kebanyakan waktu itu adalah para mahasiswa dari berbagai kampus dan penjuru daerah. Tragedi ini dalam sejarah Indonesia kemudian disebut sebagai reformasi.

Berkelang lima belas tahun kemudian, tepatnya pada Mei 2015. Mahasiswa kembali membulatkan tekat untuk melakukan aksi yang serupa dengan target dan sasaran adalah pemerintahan Jokowi-JK. Beberapa isu-isu yang berseliweran menyatakan, mahasiswa akan melakukan aksi besar-besaran pada tanggal 19-20 Mei 2015 di semua daerah di Indonesia dan puncak aksi akan diberlangsungkan pada tanggal 21 Mei 2015 dengan menduduki kantor MPR-DPR. Aksi ini kemudian diberi nama dengan amanat penderitaan rakyat. Tuntutannya adalah presiden Jokowi dapat memperbaiki kinerjanya dengan memenuhi segala janji-janji selama masa kampaye berlangsung.

Isu itupun langsung ditanggapi serius oleh pemerintahan Jokowi. Bahkan pada satu malam, Presiden Jokowi mengajak beberapa perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) untuk makan malam bersama di Istana Negara dan kemudian melakukan dialog terkait harapan dan tuntutan mahasiswa terhadap pemerintahannya. Tak pelak, ajakan makan malam ini ternyata berhasil mengerem beberapa element kampus untuk tidak melakukan aksi pada tanggal 20-21 Mei 2015. Walau, pada tanggal tersebut masih terdapat beberapa element organisasi mahasiswa yang tetap konsisten melakukan aksi mengkeritisi kebijakan pemerintah.

Lantas, apa sesungguhnya makna dibalik ini semua? Apakah mahasiswa kini dapat dengan mudah “dinina bobokkan” oleh pemerintah? Pertanyaan-pertanyaan ini penting kita ajukan sekarang. Mengingat, daya kritis mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah sudah sangat melemah. Kenaikan harga BBM dan berbagai kebijakan yang tidak pro rakyat sudah sangat jarang dikritisi mahasiswa dengan aksi-aksi demonstrasi. Meski kembali lagi, masih ada beberapa element organisasi mahasiswa yang tetap setia pada rel perjuangan membela kepentingan rakyat. Ini menjadi bukti, bahwa pada level grassroots mahasiswa telah terjadi perpecahan yang nyata.

Asumsi Klasik.

Kondisi gerakan kemahasiswaan hari ini dapat dijelaskan dengan beberapa asumsi klasik. Asumsi klasik ini terkait dengan siklus 20 tahunan yang waktunya dianggap belum tepat. Jarak antara reformasi dengan hari ini masih berselang 17 tahun. Sedangkan hampir semua gerakan bersejarah di Indonesia selalu terjadi dalam siklus 20 tahunan. Siklus ini sudah menjadi rahasia dikalangan aktifis. Jika diruaikan, siklus gerakan itu dimulai dari tahun 1908 dengan berdirinya Boedi Oetomo yang dua puluh tahun kemudian disusul dengan sumpah pemuda 1928.

Tujuh belas tahun berselang, gerakan sumpah pemuda menuai hasilnya dengan lahirnya negara Indonesia yang secara sah dibacakan melalui teks proklamasi 17 Agustus 1945. Soekarno kemudian resmi diangkat menjadi presiden, meski dua puluh tahun kemudian harus terjatuh dari  kursi kepresidenan dengan adanya gerakan G 30S PKI yang terjadi tahun 1965. Rezimpun berganti, orde lama digantikan dengan orde baru dibawah pemerintahan Soeharto yang kemudian dikenal dengan pemerintahan yang otoriter.

Sembilan tahun setelah rezim orde baru yang otoriter berkuasa, gerakan mahasiswa masih saja terus berlangsung. Malari adalah bukti gerakan aksi mahasiswa pada tahun 1974 dengan isu ekonomi (pemodal asing) yang waktu itu cukup memakan banyak perhatian masyarakat. Setelah Malari 1974, gerakan mahasiswa vakum kembali selama dua puluh empat tahun sampai awal Mei tahun 1998.

Mei 1998 adalah puncak gerakan mahasiswa di bawah payung reformasi. Kenaikan harga bahan bakar minyak dan disusul dengan kenaikan harga barang pokok membuat banyak masyarakat menjerit. Protespun terjadi, aksi demonstrasi di beberapa kota besar di Indonesia seperti Medan, Jakarta, dan Yogyakarta tidak bisa terelakkan lagi. Korban dikalangan masyarakat dan mahasiswa banyak berjatuhan. Suara yang meminta untuk Soeharto turun dari tampuk kekuasaan semakin banyak. Para pendukung Soerharto di gedunng senayan banyak yang berbalik arah. Soerharto-pun mengundurkan diri setelah 32 tahun berkuasa.

Era reformasi yang lebih demokratispun hadir menggantikan rezim orde baru. Namun, reformasi yang hadir di bawah payung demokrasi ternyata malah membuat gerakan mahasiswa jutuh sampai ke titik nadir. Kini bisa dikatakan tidak ada lagi gerakan mahasiswa yang signifikan dapat melawan kebijakan pemerintah yang sering abai terhadap kepentingan rakyat.

Jatuhnya gerakan mahasiswa hingga ketitik nadir tentu dapat dijelaskan dengan kondisi internal mahsiswa hari ini yang cenderung bersikap prakmatis. Orentasi mahasiswa kini lebih mengutamakan indeks prestasi komulatif (IPK) yang tinggi ketimbang aksi nyata dilapangan. Mahasiswa telah berada di atas menara gading tanpa pernah lagi melihat kondisi kehidupan sosial masyarakat yang semakin sulit.

Mitos Agent of Change    

Kini istilah mahasiswa sebagai agent of change hanya menjadi mitos belaka. Mahasiswa kini lebih banyak melakukan aktifitas dan kegiatan yang bersifat serimonial dan mencari popularitas semata. Kongkow-kongkow di café-café modern dengan gaya metropolis, membicarakan kehidupan sang artis idola, membicarakn film popular dan trend atau mode pakaian terkini adalah bagian dari kegiatan harian mahasiswa hari ini. Ironisnya, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) malah lebih disibukkan dengan perhelatan event-event besar, mengundang artis, live musik dan lain sebagainya. Kegiatan dan pembentukan kelompok-kelompok diskusi sudah mulai tiada. Akhirnya gerakan mahasiswa hanya sebatas pada seleberasi. Percis seperti event organizer (EO) kampus.

Efek neoliberalisme global telah berhasil masuk dalam dunia pergerakan mahasiswa. Orentasi gaya hidup populer, mencari nilai tinggi dengan jalan istan agar dapat lulus dengan tepat waktu dan segera mencari pekerjaan adalah bagian dari orentasi yang ada dibenak banyak mahasiswa hari ini.

Tak salah jika kemudian, makan malam bersama presiden di istana negara pada pertengah bulan Mei kemarin berhasil mengrem langkah gerakan perjuangan mahasiswa dalam mengawal kebijakan pemerintah. Idealisme dengan mudah tunduk pada dialog-dialog di atas meja makan yang tak berujung. Janji manis perubahan kini tidak bisa ditangih. Sebab nasi sudah masuk ke dalam perut dan gerakan perubahan tidak bisa berjalan maksimal apabila perut telah kenjang. Mei 2015 menjadi saksinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s