Sepak (Mafia) Bola

Kabut hitam masih saja menyelimbuti PSSI, setelah dualisme kompetisi dan konflik internal pada priode (Djohar Arifin) sebelumnya, kini PSSI mengalami persoalan baru yang lebih pelik yakni pembekuan oleh Kemenpora melalui Surat Keputusan Nomor 01307 Tahun 2015. Menurut beberapa pemberitaan media olahraga, keluarnya SK No. 01307 Tahun 2015 ini dilatar belakangi oleh acuhnya PSSI terhadap tiga surat peringatan Kemenpora yang dikeluarkan sebelumnya. Salah satu isi surat tersebut adalah memerintahkan Arema Cronus dan Persebaya Surabaya untuk memenuhi permintaan Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI). 

BOPI meminta kepada Arema dan Persebaya untuk tidak mengikuti Liga Indonesia QNB (nama baru menggantikan Liga Indonesia ISL) dengan alasan kedua tim ini masih memiliki masalah internal yakni pada aspek legalitas. Kedua klub tersebut memiliki kepemilikan ganda (ada PT Arema Cronus Indonesia dan PT Arema Indonesia. Persebaya pun ada PT Mitra Muda Inti Berlian dan PT Pengelola Persebaya) yang keduanya sah. Atas dasar ini kedua tim dinyatakan tidak lolos verifikasi yang dilakukan oleh BOPI. Namun entah apa yang membuat kedua klub tersebut melawan peringatan BOPI. Keduanya masih saja mengikuti QNB meski tidak mendapatkan izin keramaian dari pihak ke polisian setempat ketika pertandingan perdana QNB dilakukan.

Perlawan Persebaya dan Arema terhadap BOPI ternyata menyeret Kemenpora –yang merupakan induk dari BOPI –untuk turun tangan. Ironisnya, Kemenpora malah memberi sanksi dengan membekukan PSSI atas dasar Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2017 Pasal 122 ayat 2 huruf g, yaitu ditariknya pengakuan kegiatan induk cabang olahraga yang dalam hal ini adalah PSSI. Keputusan menjadi pro-kontra dikalangan pengamat dan pengiat sepak bola. Bagi yang pro kebijakan ini menyatakan; keputusan yang diambil oleh Mempora merupakan langkah yang baik untuk memperbaiki PSSI agar lebih transparan dan akuntabel dalam kepengurusannya. Selain itu, diharapkan juga akan terbentuknya sistem kompetisi sepak bola yang berkualitas dan jauh dari mafia.

Namun bagi pihak yang kontra, menilai tindakan yang diambil Menpora akan berdampak negative bagi perkembangan sepak bola. Khususnya akan datangnya sanksi dari FIFA dan bertampak pada masa depan sepak bola Indonesia. Belum lagi kebijakan ini akan memakan banyak korban dari element sepak bola –mulai dari pemain, pengurus klub, wasit, perangkat pertandingan –yang jika dihitung-hitung berjumlah lebih dari 2.000an orang.

Kemana ribuan orang yang terkena dampak ini akan mencari nafkah? Jika-pun kompetisi bisa berlanjut dibawah naungan Kemenpora, apakah akan ada sponsor yang tertarik untuk mendanai klub? Terlebih kompetisi yang nantinya akan dijalankan oleh Mempora ini tidak diakui sama sekali oleh FIFA. Kini, Sanksi dari FIFA telah turun. PSSI sudah dinyatakan keluar dari keanggotaan FIFA dan tidak bisa mengikuti event sepak bola internasional sampai campur tangan pemerintah –melalui Mempora –telah benar-benar bersih.

Calciopoli

Musim 2006 menjadi musim suram bagi sepak bola Italia. Surat kabar di Italia memasang berita headline terkait kasus calciopoli yang terjadi pada musim 2004-05. Kasus ini menyeret beberapa klub besar di Seri A Italia seperti Juventus, AC Milan, Fiorentina, Lazio dan Regina. Sekandal ini pertama kali terungkap dari penyelidikan jaksa pada sebuah agensi sepak bola terkenal di Italia, GEA World. Transkrip hasil percakapan telepon yang berhasil direkam mengungkap bahwa selama musim 2004-05, direktur umum JuventusLuciano Moggi dan Antonio Giraudo melakukan percakapan dengan beberapa pejabat dari sepak bola Italia untuk mempengaruhi penunjukan wasit.

Dampaknya, Federasi sepak bola Italia (FIGS) mengeluarkan sanksi bagi setiap tim dan individu  yang terlibat di dalamnya. Sanksi tersebut tidak tanggung-tanggung. Juventus misalnya harus rela turun ke Seri B dan gelar Juara Seri A pada musim 2005 dan 2006 dicabut. Sedangkan individu seperti Luciano Moggi mendapatkan sanksi seumur hidup tidak diperbolehkan aktif terlibat dalam sepak bola italia di level manapun. Selain itu Antonio Giraudo: mendapat sanksi denda €20,000, tidak aktif selama lima tahun dari sepak bola Italia, dan dipenjara tiga tahun, plus disanksi seumur hidup dari keanggotaan FIGC di level apapun.

Dari kasus calsiopoli ini kita bisa melihat bagaimana pemerintahan Italia sama sekali tidak mencampuri persoalan sepak bolanya. Meski kasus ini menjadi kasus yang memalukan dalam sejarah pesepak bolaan Italia. Pemerintah Italia memberikan ruang kepada penegak hukum dan federasi sepak bola Italia (FIGC) untuk mengatasi sendiri persoalan mafia yang ada di kompetisi sepak bola mereka. Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa pemerintah –melalui Mempora –tidak memberikan ruang yang sama kepada PSSI untuk mengatasi persoalan mereka secara mandiri? Atau setidaknya mengapa pemerintah tidak membentuk tim investigasi secara tersendiri untuk mengusut kasus mafia di tubuh PSSI?

Dua pertanyaan ini penting untuk dijawab, sebab wacana yang beredar sekarang adalah; keberadaan mafia sepak bola membuat PSSI tidak memiliki prestasi sama sekali. Kita mungkin sepakat tentang PSSI yang tidak pernah menghasilkan prestasi pada semua level internasional. Bahkan jika merujuk pada perjalanan PSSI, untuk level Piala AFC saja, PSSI tidak pernah meraih piala sama sekali. Namun, pertanyaan selanjutnya muncul, benarkah mafia sepak bola yang mempengaruhi tingkat prestasi PSSI? Jika benar, lantas siapa mafia sepak bolanya? Bisakah kita menunjuk orangnya secara langsung? Kejelasan terkati siapa yang menjadi mafia sepak bola haruslah dengan tegas dibuka oleh Menpora. Setidaknya dengan mengetahui siapa mafia sebenarnya, akan lebih mudah untuk mengatasi persoalaan yang ada tanpa harus membekukan PSSI secara institusi. Melakukan blacklist terhadap mereka yang terbukti menjadi mafia adalah pilihan terbaik.

Penutup

Kasus mafia dalam kompetisi sepak bola sebenarnya tidak hanya dialami oleh Indonesia semata. Kejadian ini juga dialami oleh banyak negara dengan kompetisi sepak bola yang lebih maju dan modern seperti di Liga Italia dan Liga Inggris. Motifnya utamanya sama, pengaturan skor hasil pertandingan dengan melibatkan seluruh element di dalamnya, mulai dari pemain, pelatih, wasit dan perangkat pertandingan.

Ironisnya, mafia-mafia sepak bola ini sendiri berhasil masuk ke dalam federasi sepak bola sekalas FIFA. Namun kasus-kasus seperti ini tidak dibiarkan lama. Individu-individu yang terbukti menjadi mafia langsung ditangkap dan diamankan oleh pihak penegak hukum. Kini kita berharap, langkah yang sama bisa kita lakukan di sini, di Indonesia. Jangan hanya sekedar tuding-menuding. Tapi harus dibuktikan, siapa mafia yang disebut-sebut itu? Sehingga mafia yang ada di dalam tubuh PSSI bisa di sepak dan disingkirkan. Dan sepak bola di Indonesia dapat berjalan normal kembali.

 Pertamakali di terbitkan di Harian Medan Bisnis,

Sabtu, 06 Juni 2015.

Link:

http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2015/06/06/167882/sepak-mafia-bola/#.VXRnaUeUc-A

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s