Inflasi dan Budaya Konsumtif Di Ramadhan

Sumber; Internet
Sumber Gambar; Internet

Gejolak kenaikan harga pangan jelang bulan suci Ramadhan dan lebaran Idul Fitri merupakan fenomena yang sering terjadi setiap tahunnya. Seolah tidak ada langkah strategis yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi hal tersebut. Padahal peran pemerintah khususnya pemerintah daerah (pemda) sangat besar untuk mengatasi persoalan ini.

Salah satu peran yang bisa dimainkan oleh pemerintah adalah sebagai regulator untuk menentukan distribusi pangan antar daerah agar dapat berjalan lancar. Sebab setiap daerah memiliki potensi pangan yang berbeda-beda. Untuk itu, hambatan-hambatan transportasi harus bisa diatasi secara maksimal. Selain itu, pemerintah juga diharapkan dapat menggerakkan pelaku usaha untuk dapat melakukan aktifitas perdagangan secara wajar tanpa melakukan tindakan penimbunan barang.

Pengendalian atas distribusi pangan ini menjadi penting agar harga-harga komuditas pangan dapat terkendali dengan baik. Untuk itu, pemerintah dalam hal ini pemerintah daerah perlu lebih focus dalam menjaga inflasi harga bergejolak dengan menyediakan pasokan. Sebab komponen bahan makanan seperti cabai merah, bawang merah dan daging ayam, menjadi penyumbang utama inflasi pada Mei 2015.

Hal ini mengacu pada data BPS yang mencatat tingkat inflasi pada Mei 2015 sebesar 0,5 persen, atau tertinggi dalam tujuh tahun terakhir dalam bulan yang sama, yang dipicu oleh kenaikan harga bahan makanan menjelang puasa dan lebaran. Untuk itu penyediaan pasokan agar dapat mengerem laju inflasi bisa dilakukan dengan membentuk pasar-pasar murah sebagai penyeimbang harga agar daya beli masyarakat terhadap barang-barang pokok dapat terus terjangkau.

Melibatkan Tokoh Agama

Selain keterlibatan pemerintah pusat dan daerah dalam menekan lanju inflasi, peran serta tokoh agama juga dapat diikut sertakan khususnya seperti ulama, kiyai dan ustad. Tokoh agama ini diharapkan dapat memberikan imbauan pada umat islam untuk tidak melakukan konsumsi makanan yang berlebihan selama bulan puasa.

Sebab, banyak masyarakat yang kalap jelang bulan ramadhan dan idul fitri. Kegiatan belanja dengan model memborong semua kebutuhan pokok menjadikan barang-barang yang ada di pasar mengalami lonjakan permintaan yang tinggi. Secara hukum ekonomi, jika permintaan di pasar meningkat maka harga atas barang tersebut juga akan meningkat. Padahal, bulan ramadhan dapat dijadikan momentum untuk melakukan pengendalian diri dengan tidak melakukan belanja besar-besaran. konsumsi yang berlebihan inilah yang kemudian menimbulkan kenaikan harga yang signifikan di pasar.

Oleh karenanya tokoh-tokoh agama harus bisa menjelaskan kepada masyarakat untuk dapat cerdas dalam berbelanja kebutuhan barang pokok. Berbelanja secara normal seperti biasanya menjadi kunci penting dalam menekan laju inflasi.

Budaya Konsumtif

Naiknya laju inflasi di setiap bulan Ramadhan tentu dapat dijelaskan dengan pengaruh budaya konsumtif yang masih menyelimbuti tubuh masyarakat islam Indonesia hari ini. Padahal perilaku terhadap budaya konsumtif ini tidak dianjurkan dalam islam. Tengoklah supermarket dan mal-mal di perkotaan, setiap kali menjelang waktu berbuka hingga malam hari selalu dipenuhi oleh kita sebagai umat islam.

Ironisnya, kebiasaan ini berlangsung hingga malam hari dengan kebiasaan berleha-leha selepas berbuka. Padahal seharusnya, kita lebih dianjurkan untuk meramaikan masjid dengan melaksanakan ibadah-ibadah yang diperintahkan oleh Allah Swt. Akhirnya dampak puasa sebagai ibadah sosial-pun tidak hadir secara nyata dalam kehidupan kita.

Fenomena ini menurut Umar Shihab, mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), setidaknya dilatarbelakangi dua hal. Pertama, Islam masih dipahami secara fikih oriented. Paradigma ini memandang ibadah hanya secara hitam-putih, halal-haram. “Jebakan-jebakan” fikih yang parsial, telah mendarah daging dan menjadi tradisi yang masif dilakukan kalangan umat beragama. Fikih belum mampu membangkitkan spiritual umat menghadapi kondisi ril masyarakat yang tengah dilanda demoralisasi individual dan sosial. Maka tak salah kalau puasa hanya dilihat sekedar memenuhi perintah syariat belaka.

Faktor kedua yaitu bulan Ramadhan telah dijadikan komoditas yang kapitalistik. Berbagai industri, media massa, khususnya stasiun televisi, berpacu memanfaatkan Ramadhan untuk menayangkan program-program dakwah. Semua artis manggung di TV dengan pakaian islami, namun tak sadar kita disuguhi iklan-iklan yang menyuntik mindset kita. Mereka, menurut Umar Shihab, memanfaatkan momentum ramadhan. Padahal, produk mereka sama sekali tidak terkait dengan ibadah puasa.

Tanpa kita sadari kedua hal di atas telah menjadi bagian dari kehidupan kita saat ini. Kita selaku umat islam hari ini selalu diposisikan sebagai konsumen pontensial setiap kali bulan ramadhan datang. Perkembangan kapitalisme global membuat, bahkan memaksa umat Islam pada suatu kondisi dimana seolah-olah ‘hasrat’ mengkonsumsi lebih diutamakan. Seolah-olah ibadah puasa nantinya kurang sempurna jika tidak mengkonsumsi makanan serta minuman tertentu atau segala yang disodorkan oleh media dan iklan dengan mengatasnamakan agama.

Penutup

Untuk bisa menahan nafsu dan sifat konsumtif selama bulan ramadhan berlangsung, ada baiknya jika kita menyimak kisah dari Khalifah Umar bin Khathab. Suatu ketika Umar pernah menghukum Amru bin Ash, sang gubernur Mesir kala itu yang berbuat semena-mena terhadap seorang rakyatnya yang miskin.

Seorang gubernur yang bertugas di Hamash, Abdullah bin Qathin juga pernah dilucuti pakaiannya oleh Umar. Sang khalifah menyuruh menggantinya dengan baju gembala. Bukan itu saja, si gubernur diminta menjadi penggembala domba sebenarnya untuk beberapa saat. Hal itu dilakukan Umar karena sang gubernur membangun rumah mewah buat dirinya. “Aku tidak pernah menyuruhmu membangun rumah mewah!” ucap Umar begitu tegas.

Esensi puasa ramadhan juga memberikan nilai ajaran agar orang yang beriman dan bertakwa mengikuti tuntunan Nabi saw yang hidupnya sangat sederhana. Dalam sebuah hadist, Rasulullah juga bersabda, “Berhentilah kamu makan sebelum kenyang.” Di bagian lain Nabi Muhammad SWA menganjurkan untuk berbuka puasalah dengan tiga butir kurma dan seteguk air minum setelah itu langsung melaksanakan salat magrib.

Itu artinya, puasa ramadhan bukan sekadar menahan rasa lapar dan haus tetapi juga menahan nafsu dan keinginan hedonistis. Karena itu, semoga di bulan Ramadhan ini, kita bisa mengambil hikmah untuk bisa menjalankan hidup yang lebih sederhana dan jauh dari perilaku konsumtif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s