Polusi Suara; Kaset Ngaji atau Buyi Petasan?

Opini Harian Waspada Jumat 27 Juni 2015

Eforia ramadhan sudah mulai terasa. Aktifitas masyarakat muslim di masjid-masjid mulai mengalami peningkatan yang signifikan, dari mulai fajar hingga malam hari. Kegiatan keagamaan seperti mengaji atau tadarusan, mendengarkan ceramah agama dan solat berjama’ah merupakan rangkaian kegiatan harian yang secara rutin dilaksanakan di masjid-masjid selama bulan ramadhan.

Di tengah geliat aktifitas yang akan segera berlangsung itu, tiba-tiba kita digegerkan dengan pernyataan wakil presiden Jusuf Kalla yang merasa terganggu dengan suara kaset masjid yang ada di kampungnya. Menurut Kalla seperti yang diberitakan dibeberapa media cetak, pengajian sebaiknya tidak dilakukan dengan menggunakan kaset rekaman tetapi langsung dibacakan oleh seseorang, itupun durasi pembacaannya harus merujuk pada waktu yang tepat. Tidak terlalu lama dan pada waktu yang semestinya.

Meski ini bukan pernyataan pertama Jusuf Kalla terkait suara kaset ngaji di masjid, tetapi pernyataan Kalla ini langsung menimbulkan pro-kontra di masyarakat. Bagi yang mendukung (pro) alasan Jusuf Kalla ini dianggap masuk akal, sebab intensitas suara mengaji yang diputar terlalu lama di masjid –khususnya pada waktu subuh –dianggap dapat menggangu istirahat seseorang. Namun bagi yang menolak (kontra), pernyataan Kalla ini dianggap sebagai sebagai bentuk pembatasan dakwah. Apalagi selama ini suara ngaji –melalui kaset –di masjid selalu dijadikan pengingat bagi masyarakat akan dekatnya waktu untuk solat. Sehingga dapat bersiap-siap dan bersegera ke masjid.

Anomali

Jusuf Kalla boleh saja mengatakan jika suara ngaji di masjid lebih baik dilantukan oleh seseorang dari pada kaset. Tetapi apakah Jusuf Kalla pernah berpikir jika tidak semua masjid di Indonesia mempunyai sumber daya qori yang memadai? Adakah kebijakan pemerintah yang –dipimpinannya –lebih berpihak pada usaha pemberdayaan umat hari ini? Khusunya dalam bidang pendidikan al-qur’an. Jika belum, harusnya pemerintah lebih memperhatikan hal tersebut dari pada mengomentari perilaku “marbot” dan pengurus masjid yang selalu memutarkan kaset ngaji yang diisi suara-suara quri-qori asal timur tengah.

Kita sudah kalah jauh dibandingkan negara-negara timur tengah yang dominan beberpenduduk muslim. Pendidikan untuk hafis-hafis dan qori-qori al-qur’an di sini lebih banyak digerakan oleh partisipasi masyarakat dan lembaga-lembaga keagamaan. Itupun jumlah tidak terlalu banyak. Kondisi ini jelas mengambarkan bahwa masjid-masjid kita secara keseluruhan belum siap untuk menerapkan model ngaji yang dilakukan langsung oleh qori, sebab sumber daya yang ada sangat terbatas. Apalagi untuk melakukan hal tersebut perlu biaya tambahan yang tak sedikit jumlahnya.

Selain itu, kondisi pergembangan keumatan juga harus dilihat secara jelas. Generasi islam hari ini sudah sangat jauh dari semagat keislaman. Efek modernisasi telah membudaya dalam diri generasi muda islam. Perilaku konsumtif dan hedonis kini telah menjadi satu ciri tersendiri. Anak-anak muda hari ini jauh kehidupan masjid, perhatikan saja, siapa sekarang lebih banyak mengisi saf-saf di masjid-masjid, kaum mudakah atau kaum tua? Persoalan lainnya adalah, gerakan mengaji di masjid untuk anak-anak juga sudah mulai hampir punah. Kita tidak melihat lagi ada satu pengajian iqrok atau al-qur’an di masjid-masjid setiap habis solat magrib.

Kini, anak-anak kita, genarasi muda islam telah disibukkan dengan siaran-siaran televisi, game-game di warnet dan gadget serta media sosial. Update status dan koment atas status teman menjadi satu kebiasaan yang kini mendarah daging. Secara sederhana, fenomena ini bisa dilihat dari perilaku keseharian anak-anak muda kita. Perhatikan saja, sekarang hampir tidak ada lagi yang berdoa sebelum makan. Ritual doa kini digantikan dengan ritual foto melalui gadget untuk di-update di sosial media. Inilah bentuk budaya baru itu. Seolah tidak ada lagi yang dapat mengerem laju perubahannya.

Polusi Suara

Selain suara dari kaset ngaji –pada waktu subuh –yang diputar jauh sebelum azan dapat menggangu banyak orang, Jusuf Kalla juga mengatakan hal tersebut dapat menimbulkan polusi suara. Jika suara kaset menimbulkan polusi suara, pertanyaan selanjutnya mengapa suara bising yang keluar dari petasan tidak pernah dianggap sebagai polusi suara dan tidak pernah dikritisi oleh pemerintah? Padahal bunyi petasan ini jauh lebih mengganggu dibandingkan suara kaset ngaji di masjid.

Apalagi di setiap malam ramadhan kita selalu mendengarkan suara petasan yang dimainkan oleh anak-anak atau pemuda, meski kegiatan ini sesungguhnya bukan suatu yang dianjurkan dalam agama. Suara petasan setiap malam ramadhan selalu saja berbarengan dengan suara-suara imam di masjid yang sedang melantukan ayat-ayat al-qur’an dalam solat tarawihnya. Terganggukah kita yang sedang melaksanakan ibadah solat berjama’ah? Tentu jawabannya ya! Sebab tidak jarang, suara petasan itu malah berseliweran di seputaran halaman masjid.

Jika kita berpikir lebih kritis, tentu merebaknya bisnis petasan pada saat bulan ramadhan patut untuk dicurigai. Mengapa hanya setiap menjelang bulan ramadhan dan idul fitri peredaran petasan di pasar begitu banyak? Bahkan dapat dikatakan hampir sama banyaknya dibandingkan pada saat pergantian tahun.

Secara normatif kemunculan bisnis petasan pada saat bulan ramadhan dapat dijelaskan tingkat permintaan pasar yang tinggi. Keuntungan pedagang petasan pada saat bulan ramadhan memang jauh lebih banyak dibandingkan pada bulan lain. Perharinya saja pedagang bisa mendapatkan keuntungan minimal 100 ribu rupiah. Namun dibalik itu semua, penyumbang keuntungan itu lebih banyak adalah anak-anak. Sebab hampir rata-rata pembeli petasan adalah mereka yang berusia 7 hingga 15 tahun. Namun benarkah itu hanya sebatas motif ekonomi? Pertanyaan inilah yang harus dijawab dan patut untuk di dalami.

Penutup  

Kini, hal yang terpenting yang dilakukan oleh pemerintah adalah melakukan operasi atau razia petasan salama bulan ramadhan. Sebab peredaran petasan yang terlalu berlebihan dan tidak terkontrol di pasar secara langsung dapat menggangu kegitan peribadahan umat islam selama bulan ramadhan. Apalagi bulan ini menjadi bulan yang begitu penting bagi umat islam untuk bisa mendapatkan pengampunan dan ramhat dari allah swt.

Untuk itu, setidaknya, dewan masjid dibawah pipinan Jusuf Kalla dapat melakukan satu kajian penting terkait usaha pencegahan petasan masuk ke wilayah-wilayah masjid. Jangan sampai ke khusukan umat terganggu akibat buyi petas yang mirip dengan suara tembakan dan bom di medan perang. Jika petasan-petasan tersebut masih juga berada di wilayah-wilayah masjid, maka kita patut bertanya, mana yang lebih memicu potensi polusi suara, buyi petasankah atau suara kaset ngaji di masjid?

Pertamakali diterbitkan di Harian Waspada Medan

26 Juni 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s