Hijrah Di Akhir Ramadhan; Dari Masjid Ke Plaza

Harian Medan Bisnis  Tanggal 15 Juli 2015
Harian Medan Bisnis
Tanggal 15 Juli 2015

Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Keberkahan ramadhan dapat dilihat dari banyaknya pintu-pintu berkah yang dibukakan oleh Allah swt kepada manusia setiap harinya. Setiap amal ibadah yang dilakukan manusia selama bulan ramadhan mendapatkan peningkatan pahala yang lebih dibandingkan pada bulan-bulan lainnya.

Oleh karenanya tidak salah jika ramadhan dikatakan sebagai bulan yang penuh keistimewaan. Tercatat setidaknya adanya kelima keistimewaan bulan ramadhan diantaranya adalah; pertama, pada bulan ini Al-qur’an sebagai petunjuk umat manusia diturunkan kepada Nabi Muhammad. Kedua; pada bulan ini amal sholeh yang dilakukan oleh manusia akan dilipatkan gandakan menjadi 70 kali lipat. Ketiga, pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka pada manusia dan pintu-pintu neraka di tutup. Keempat, pada bulan ini terdapat malam lailatur qodar. Dan terakhir, bulan ini mendidik manusia untuk menjadi insan yang taqwa.

Dari lima keistimewaan ramadhan tersebut diharapkan mampu untuk menghapus semua dosa-dosa yang dimiliki oleh manusia dan mengembalikannya kepada fitrahnya sebagai insan yang suci. Namun kebanyakan dari kita tidak dapat mengindahkan keistimewaan ramadhan ini. Kita masih sangat sering disibukkan dengan kegiatan-kegiatan ramadhan yang bersifat euforia. Buka puasa bersama, belanja kebutuhan lebaran, memasak kue lebaran dan lain sebagainya.

Ironisnya, semua kegiatan tersebut selalu saja dilakukan setiap kali menjelang akhir ramadhan. Tak ayal, pada minggu-minggu terakhir bulan ramadhan, masjid-masijd mulai kehilangan para jam’ahnya. Masjid yang sebelumnya ramai dan penuh sesak dengan jama’ah perlahan mulai sepi dan kosong. Imam di masjid-masjid-pun telah kehilangan separuh lebih makmumnya.

Fenomena

Perliku belanja kebutuhan lebaran di setiap akhir bulan ramadhan sudah menjadi satu fenomena sosial yang biasa di tengah masyarakat Indonesia. Biasanya pada akhir-akhir bulan ramadhan plaza dan toko-toko pakaian selalu tampak ramai. Rata-rata setiap plaza mengalami kenaikan jumlah pengunjung menjadi 20 persen dibandingkan pada hari-hari sebelumnya. Tidak hanya kenainkan kunjungan saja, tetapi angka transaksi juga meningkat. Hampir rata-rata setiap orang melakukan transaksi minimal 500 ribu rupiah hingga satu juta rupiah. Selain itu, hampir rata-rata plaza dan toko-toko pakaian menambah satu jam waktu tutup toko dari waktu normal.

Intensitas belanja baju lebaran ini memang sudah menjadi tradisi bagi banyak masyarakat Indonesia. Ada semacam ketidak enakan jika lebaran tanpa menggunakan baju baru. Fakta ini yang kemudian membuat ramadhan yang harusnya menjadi bulan penuh berkah secara spiritual malah berubah menjadi bulan konsumerisme secara ekonomi.

Secara positif, efek konsumerisme ini berhasil membawa peningkatan pendapatan bagi para pelaku usaha baik pada level mikro (pedangang kaki lima) sampai kepada level makro (pemiliki toko besar dan plaza). Namun terkadang efek konsumerisme ini juga berdampak negative, di mana masyarakat pada akhirnya lebih mementingkan kebutuhan ramadhan secara sekunder dan tresier dari pada kebutuhan secara primer. Pada titik inilah harusnya kita menyadari bahwa kita telah kehilangan makna ramadhan yang sebenarnya. Ramadhan yang harusnya sebagai tempat menata hati, jiwa dan diri agar dapat menjadi insan yang baik lagi malah harus dikorbankan dengan kepentingan yang sifatnya materil semata.

Pengaruh promosi dan iklan-iklan produk yang menawarkan diskon besar-besaran tentu menjadi salah satu faktor pendukung menguatnya perilaku konsumerisme ini. Iklan-iklan produk selalu saja menghipnotis kita agar membeli dan menggunakan produk mereka. Dengan segala macam tagline, kemasan yang menarik, promosi dengan menggunakan bintang iklan yang tampan dan cantik serta trik-trik marketing lainnya. Kita dibuat menjadi sangat butuh dengan produk tersebut, padahal terkadang produk yang mereka jual tidak ada kaitannya dengan bulan ramadhan.

Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Walter Armbrust. Pada tahun 2004  lalu, sosiolog asal Universitas Oxford Inggris ini mempublikasikan hasil penelitiannya yang menunjukkan kesimpulan bahwa bulan ramadhan selalu dijadikan sebagai bulan multiguna untuk gerakan konsumerisme. Itu sebabnya banyak ahli pemasaran di seluruh dunia yang menunggu ramadhan, sebab bulan ini menjadi priode bisnis paling penting dalam satu tahun. Indikator yang paling sederhana adalah peningkatan omset penjualan.

Ironisnya, perkembangan budaya konsumerisme di tengah-tengah masyarakat ini tidak sebanding dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat dalam menjalankan infak dan sedekah selama bulan suci ramadhan. Konsep iklas dalam melaksanakan infak dan sedekah membuat banyak masyarakat hanya sedikit sekali menginfakan hartanya. Hampir rata-rata masyarakat kita mengeluarkan infak dibawah lima ribu rupiah.

Padahal jika dilihat dari nilai uang tersebut tidak lagi memiliki arti apa-apa. Hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan dari masyarakat kita masih hitung-hitungan dalam mengeluarkan infak dan sedekah dibandingkan dalam melaksanakan belanja di plaza atau toko-toko. Padahal seperti apa yang telah disampaikan di atas, selama bulan ramadhan ini kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah termasuk di dalamnya infak dan sedekah.

Penutup

Secara filosofis, ungkapan “marhaban ya Ramadhan” memiliki makna simbol sebagai kesiapan mental untuk menjalankan ibadah kepada Allah SWT selama bulan suci ramadhan. Namun kenyataannya, banyak di antara kita yang justru mencederai ramadhan karena kita justru melakukan hal-hal yang dilarang dalam agama ketika ramadhan datang.

Puasa ramadhan yang sasarannya adalah menciptakan seseorang yang takwa, yang ditandai antara lain dengan kesediaan untuk selalu berinfak dalam segala keadaan seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Tetapi banyak di antara kita yang justru mengumbar nafsu, mengikuti pola hidup konsumerisme. Padahal konsumerisme adalah bagian dari pemborosan yang dilarang dalam agama dan bertentangan dengan tujuan dari ibadah puasa ramadhan.

Kini gejala konsumerisme ramadhan tidak saja menjadi fenomena dunia Islam, tapi juga sudah menjadi fenomena dunia secara keseluruhan. Banyak orang mengganti karpet, gorden, mebel, mobil, dan lain sebagainya justru pada saat bulan ramadhan. Belanja dapur kaum ibu juga selalu membengkak selama bulan ramadhan karena konsumsi makanan selalu berlipat.

Akhirnya ramadhan yang selalu dinanti selalu saja dikhianati. Ramadhan yang dicintai, tetapi malah dinistakan. Masjid-masjid selalu ramai di awal tetapi sepi diakhir sebab para jam’ah masjid telah banyak yang melakukan hijrah ke plaza-plaza. Ini adalah gambaran nyata dari prilaku kita selama bulan ramadhan dan itu telah berlangsung dari tahun-ketahun, seolah telah hidup menggenerasi.

Di Terbitkan Pertama Kali Di Harian Medan Bisnis

 Rabu, 15 Juli 2015

Link; http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2015/07/15/175582/di-akhir-ramadhan-hijrah-dari-masjid-ke-plaza/#.VadlZUeUc-A

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s