Arus Balik dan Dilema (Ekonomi) Perkotaan

004 -Arus Balik dan Dilema  (Ekonomi) PerkotaanLebaran baru saja usai. Jutaan orang yang melakukan mudik kini harus bersiap-siap melakukan perjalanan kembali ke daerah tempat mereka hidup mencari nafkah. Kegiatan kembali dari tempat asal ke daerah tempat mencari nafkah ini kemudian kita kenal dengan istilah arus balik. Ya arus balik. Setalah mudik, puluhan mata kamera media masa akan sibuk untuk memberitakan kegiatan ini. Sebab kegiatan arus balik seolah sudah ditakdirkan menjadi satu rangkaian dengan kegitan mudik.

Meski tidak bisa digeneralis, namun pada fakatanya kebanyakan orang atau keluarga yang melakukan mudik pasti akan melakukan arus balik kembali. Jika mereka tidak kembali ketempat asal mencari nafkah, seolah mereka dianggap gagal merantau atau dianggap punya masalah diperantauan sehingga harus melarikan diri ke kampung halaman. Sehingga mau tidak mau banyak orang yang tetap melakukan arus balik usai lebaran.

Namun ironisnya, jumlah arus balik ke kota terkadang jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah pemudik ke desa. Tidak jarang banyak orang atau keluarga yang mengajak sanak saudaranya untuk mengadu nasib (mencari pekerjaan) di perkotaan. Apalagi ditengah masyarakat kita masih mengadop budaya sungkan, yaitu budaya yang sulit untuk menolak permintaan atau ajak orang lain. Biasanya pemuda atau gadis-gadis desa banyak yang tergiur untuk mengadu nasib di perkotaan setelah melihat sanak saudara mereka berhasil di rantau. Rayuan untuk ikut ke kota biasanya akan sering muncul.

Pada proses ini kemudian arus mudik selalu berkolerasi positif dengan urbanisasi penduduk. Inilah yang kemudian menjadi permasalahan serius bagi setiap kota besar di Indonesia. Apalagi sampai saat ini kota masih menjadi satu daya tarik tersendiri bagi warga desa untuk mengejar impian. Tampilan iklan-iklan di media dan sinetron yang selalu menggabarkan budaya popular di perkotaan membuat banyak orang terhayut akan ke modernan kehidupan perkotaan.

Desa – Kota

Apa yang digambarkan oleh media, pada faktanya adalah suatu yang jauh panggang dari api. Kota pada kenyataannya kini bukanlah suatu yang ramah bagi pendatang baru bahkan bagi warganya sendiri. Disparitas lingkungan antara pemukiman kumuh dan komplek perumahan menjadi gambaran dari perkotaan hari ini. Angka penganguran yang tinggi selalu saja memicu tindak kriminalitas dan pelacuran. Persoalan lain adalah degradasi lingkungan yang semakin serius atas pertumbuhana pemukiman penduduk. Lantas apa yang susungguhnya kita harapkan dari perkotaan? Pertanyaan inilah penting untuk dijawab oleh para urbanis.

Secara umum tentu kita mengatahui bahwa fakor penarik urbanis datang ke kota adalah; kehidupan kota yang lebih modern, sarana dan prasarana kota lebih lengkap, banyaknya lapangan pekerjaan di perkotaan, dan pendidikan sekolah atau perguruan tinggi yang lebih baik dan berkualitas. Meski terkadang beberapa faktor penarik tersebut hanya sebatas ilusi semu yang selalu hadir dalam pikiran kaum urbanis.

Ilusi itu semakin kuat ketika persoalan-persoalan di desa tidak pernah teratasi secara maksimal. Lahan pertanian yang semakin sempit, lapangan pekerjaan yang terbatas, sarana dan prasarana desa yang tidak memadai adalah bagian dari persoalan yang belum teratasi hingga kini. Persoalan tersebut membuat infrastruktur antara desa dan kota semakin senjang. Hal ini menjadi bukti kegagalan pembangunan yang bersifat sentralistis di mana kota selalu menjadi patron pembangunan. Tidak salah jika efek yang kemudian dihasilkan adalah arus urbanisasi yang selalu hadir dalam skala  besar setiap akhir lebaran.

Pada tahun 2013 lalu Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, memperkirakan jumlah pendatang baru yang masuk ke sejumlah kota besar di indonesia pasca idul fitri bisa mencapai angka 500 ribu orang. Jumlah ini bahkan diperkirakan akan terus meningkat selama beberapa tahun ke depan. Tidak hanya sampai di situ, Bank Dunia bahkan memprediksi sebanyak 68 persen populasi Indonesia bakal memadati wilayah perkotaan pada tahun 2025 jika gelombang urbanisasi tidak bisa dikendalikan.

Secara spesifik dalam laporan yang bertajuk East Asia’s Changing Urban Landscape: Measuring a Decade of a Spatial Growth, Bank Dunia menunjukkan tingkat urbanisasi di Indonesia termasuk yang tertinggi di Asia, dengan rata-rata pertumbuhan 4,4 persen per tahun sejak 1960 hingga 2013. Berikutnya diikuti oleh Tiongkok, Filipina, dan India, dengan pertumbuhan kaum urban masing-masing per tahun 3,6 persen, 3,4 persen dan 3 persen.

Laju pertumbuhan urbanisasi inilah yang kemudian seharusnya dapat diatasi dengan baik oleh pemerintah. Sebab jika tidak, maka permasalahan di perkotaan akan terus meningkat. Kota akan menjadi lautan manusia yang secara ekonomi tidak memiliki produktifitas yang tinggi. Sektor-sektor informal akan terus tumbuh tanpa dapat direm. Akhirnya kota akan mengalami satu dekradasi yang kompleks mulai dari degradasi lingkungan hingga dekradasi sosial.

Konsep membangun dari desa yang dicanangkan oleh pemerintah harus dapat segera diwujudkan dengan melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat desa, membuka lapangan-lapangan pekerjaan baru, memproduktifkan kembali lahan pertanian, membangun infrastruktur desa  dan membangun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang memadai untuk kepentingan pembangunan desa. Jangan sampai dana desa yang berjumlah miliaran rupiah tidak memiliki dampak sama sekali terhadap pemerataan pembangunan seperti yang diharapkan oleh pemerintah.

Kondisi Ekonomi Kini

Beberapa waktu lalu Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I tahun 2015 sebesar 4,7 persen, melambat dari pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2014 sebesar 5,1 persen. Melambatnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dari sisi produksi misalnya, produksi pangan menurun akibat mundurnya periode tanam, produksi minyak mentah dan batubara turun sehingga industri kilang minyak juga negatif. Selain itu, distribusi perdagangan melambat karena menurunnya pasokan barang impor dan kinerja konstruksi juga mengalami perlambatan akibat terlambatnya realisasi belanja infrastruktur.

Secara jelas BPS juga menyampaikan efek dari pertumbuhan ekonomi yang melambat adalah meningkatnya jumlah penganguran dari 7,15 juta orang menganggur pada Februari 2014 menjadi 7,45 juta orang menganggur pada Februari 2015. Fakta inilah yang penting untuk dipahami pemerintah selaku pengambil kebijakan. Sebab kehadiran para urbanis pasca lebaran di beberapa kota besar di Indonesia dan laju pertumbuhan ekonomi yang tampak melambat tentu akan sangat berdampak negative bagi kehidupan masyarakat khususnya di perkotaan.

Biaya oprasional perusahaan yang meningkat tidak menutup kemungkinan para pengusaha untuk melakukan PHK terhadap karyawan mereka pasca lebaran demi efesiensi di tubuh perusahaan. Jika hal ini menjadi kenyataan, maka pengaguran akan menjadi persoalan yang serius yang akan dihadapi oleh masyarakat kota. Maka bersiaplah, sebab jika persoalan ini tidak bisa diatasi dengan baik, maka kota akan menjadi tempat menumpuknya penganguran para penganguran.

Pertamakali Diterbitkan Di Harian Medan Bisnis

Rabu, 22 Juli 2015

Link; http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2015/07/22/176154/arus-balik-dan-dilema-ekonomi-perkotaan/#.Va8_C0eUc-A

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s