Islam Yang (Tak) Berdaya

004 - Islam Yang (Tak) Berdaya
Harian Waspada Jum’at 24 Juli 2015

Lebaran baru saja usai. Kumandang takbir tanda kemenangan baru saja dilantunkan. Namun tak jauh dari itu semua perasaan miris kembali hadir mendera umat islam di Indonesia khususnya di wilayah papua. Ya, tragedi pembakaran masjid pada saat solat idul fitri oleh sekelompok orang yang berlantarbelakang anggota FGDI di Tolikara Papua menjadi penyebabnya. Tragedi ini sungguh menggoyahkan perasaan umat islam yang pada saat itu sedang sibuk menyambung tali silaturramhi.

Kondisi ini seolah menjadi penanda bagi kondisi umat islam yang tampak semakin lemah dan tak berdaya dalam pergulatan sosial masyarakat di Indonesia. Karenanya persoalan ini harus dipandang serius, meski banyak pihak dan pengamat (yang pluralis) menyatakan kejadian ini bukan murupakan konflik antar agama tetapi lebih kepada kepentingan politik. Menurut mereka, kejadian ini adalah bentuk provokasi dari pihak yang tidak bertanggung jawab.

Namun lepas dari hal tersebut, kita sebagai umat islam harus sadar bahwa posisi kita sebagai mayoritas umat di Indonesia sungguh bukan sesuatu  yang dapat diandalkan sama sekali. Kondisi kita hari ini sudah terpecah dalam banyak skat-skat kepentingan dan idiologi yang merugikan persatuan umat islam. Kondisi ini setidaknya bisa dianalogikan sebagai buih di lautan, tampak banyak namun tidak memiliki kekuatan apa-apa dalam mengahadapi arus dasyat ombak laut.

Kita dipaksa untuk terus diam, bersabar dan menjaga semangat toleransi meski pada kenyataanya kita terus saja menjadi korban ketidaktoleransian umat lainnya. Contoh kasus untuk hal ini sudah sangat banyak, pelarangan menggunakan pengeras suara ketika azan, pelarangan menggunakan jilbal bagi karyawati di beberapa perusahan, peniadan jam istirahat untuk solat jum’at dan bahkan yang terakhir untuk contoh kasus di Kota Medan adalah perubuhan masjid demi pembangunan perumahan, apartement, hotel dan lain sebagainya.

Mitos angka mayoritas yang digambarkan oleh Kuntowijoyo beberapa tahun silam semakin menjadi bukti kuat ketidakberdayaan umat islam. Ketidakberdayaan inilah yang kemudian menjadi penting untuk dikaji oleh para alim ulam dan pemimpin-pemimpin umat islam di Indonesia hari ini. Kita telah tertinggal jauh dan gagal menguasai pondasi-pondasi utama dalam kehidupan sehari-hari. Pondasi-pondasi tersebut adalah pondasi sosial, pondasi ekonomi dan pondasi politik. Kegagalan kita mengusai ketiga pondasi ini membuat  kita semakin terasingkan dan terpinggirkan dalam hubungan interaksi kehidupan sosial, politik dan ekonomi bangsa.

Pondasi Sosial

Satu dari beberapa element dasar dari pondasi sosial yang dimaksud di sini adalah media masa. Secara kuantitas kita tidak memiliki banyak media masa yang beridiologikan islam yang dapat mempengaruhi persepsi dan pandangan masyarakat. Sedangkan secara kualitas, media masa islam juga belum ada yang mampu menjadi media masa yang mainstream (arus utama) bagi masyarakat. Perhatikanlah rata-rata media masa yang mendapatkan minat pembaca paling banyak di masyarakat adalah media masa yang beridiologikan liberalis, sekuleris, atau pluralis. Kita sendiri sebagai umat islam bahkan terkadang enggan untuk membaca media masa yang beridiologikan islam.

Tak heran jika kondisi inilah yang kemudian membuat kita gagal menguasai dan membangun opini publik yang menguntungkan bagi kita. Dampak yang dapat dirasakan kemudian adalah kegagalan dalam membangunan wacana masyarakat. Inilah yang kemudian membuat umat islam selalu berada dalam persepsi yang negative. Perhatikan saja, jika tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang berlatang belakang islam selalu saja dikaitkan dengan gerakan terorisme, radikalisme dan fundamentalisme.

Ironisnya, setiap kali kejadian ini berlangsung, pemerintah selalu bersikap beringas dengan menggunakan Desnus 88 anti teror sebagai alat pengamanan. Namun jika hal itu dilakukan oleh umat agama yang lain, Densus sama sekali tidak bergerak, lantas pertanyaan adalah, apakah desus hanya diciptakan untuk mengatasi terorisme yang berasal dari islam semata? Ini adalah menjadi satu pertanyaan yang pantas untuk diajukan dalam tragedi ini.

Persoalan bertambah pelik, ketika banyak pengamat yang dimunculkan oleh media masa adalah mereka yang bersudut pandang liberal, sekuler, dan plural. Dampaknya adalah kita selalu saja dipaksa untuk menjadi orang yang bersikap sabar, menghargai perbedaan masyarakat yang multikultural dan menjunjung tinggi semangat toleransi.

Wacana itulah yang sengaja dibangun untuk dijadikan opini publik. Pada titik ini kita dapat melihat bahwa di dalam tubuh islam sendiri sudah terjadi perpecahan pandangan yang signifikan yang pada akhirnya secara tidak langsung memunculkan tokoh-tokoh islam yang berkhianat pada kepentingan umat islam itu sendiri. Rentetan ini semua membuat masyarakat islam pada level grassroots menjadi terpecah-pecah dan arus perjuangan umat tak lagi utuh dan menyatu. Kondisi inilah yang sedang kita alami saat ini.

Pondasi Ekonomi

Selain pondasi sosial yang tidak dapat dikuasai, pada pondasi ekonomi juga umat islam masih dapat dikatakan jauh dari tingkat kesejahteraan yang layak. Perhatikan saja wajah-wajah gelandangan dan pengemis (gepeng) yang ada dipinggir jalan. Mereka selalu saja menggunakan simbol-simbol keislaman meski sepenuhnya belum tentu dari mereka adalah pemeluk agama islam. Contoh lain yang bisa dilihat  dari lemahnya ekonomi umat islam hari ini adalah pada saat pembagian zakat yang selalu memakan korban. Antrian panjang, berdesak-desakan dan lain sebagainya. Terlihat bagaimana realitas kemiskinan masih berada di sekitar kita.

Kemiskinan tersebut yang kemudian menjadikan umat islam sangat mudah digoyahkan. Tak jarang, demi uang dan sebungkus sembako terkadang kita rela untuk melakukan apa saja  yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Itu sebabnya mengapa rosul mengatakan kemiskinan sangat dekat dengan ke kafiran. Sekarang ini, Indonesia bahkan sedang mengalami darurat pemurtadan. FUI melalui data yang dikeluarkan Mabes Polri mengatakan orang yang murtad di Indonesia saat ini sebanyak 2,7 juta orang per tahun. Jumlah itu tidaklah sedikit dan angkanya dari tahun ke tahun terus saja mengalami peningkatan yang signifikan.

Pondasi Politik

Kelemahan kita pada pondasi ekonomi berujung pada lemahnya pondasi politik kita hari ini. Demokrasi di Indonesia yang memakan biaya mahal selalu membuat para pejabat di ranah eksekutif dan legislative harus berhutang pada pengusaha yang rata-rata bukan seorang muslim. Hutang tersebut dilakukan untuk memenuhi biaya kampaye politik. Tak pelak, hasil yang bisa dilihat adalah kebijakan yang mereka ambil selalu saja merugikan ke pentingan umat islam, sebab mereka sudah tersandra oleh politik balas budi.

Ironisnya pondasi politik umat islam pada lever grassroots juga sering terpecah belah. Politik uang yang dimainkan kepada pemilih-pemilih islam yang rata berada di bawah garis kemiskinan membuat pemilih islam kehilangan rasa rasionalitas ke-imanan dalam memilih partai politik, calon-calon wakil rakyat dan calon pejabat pemerintahan.

Hal ini secara tidak langsung berpengaruh pada makin rendahnya pemilih partai-partai berazaskan islam. Lihatlah, rata-rata partai yang berazaskan islam setiap pemilu selalu mengalami penurunan jumlah suara yang relatif besar. Penurunan jumlah suara ini kemudian diantisipasi dengan strategi mengubah asaz partai menjadi partai yang nasionalis dan atau pluralis sehingga mereka dapat menarik suara di luar basis islam. Caranya adalah dengan memberikan ruang kepada caleg-caleg yang non-muslim untuk dapat mendaftar menjadi pengurus partai dan perwakilan partai di legislative.

Penutup

Lemahnya kita (umat islam) pada tiga pondasi tersebut membuat kita selalu saja kalah dan dirugikan dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat baik dari sosial, politk dan ekonomi. Kini yang terpenting yang harus kita lakukan adalah membangun gerakan islam secara strukturalis dengan memperkokoh kembali posisi kita pada tiga pondasi tersebut. Gerakan secara strukturalis ini sebenarnya sudah dilakukan ratusan tahun yang lalu oleh H.O.S Tjokroaminoto dan K.H Ahmad Dahlan. Hanya saja, gerakan tersebut harus diperbaharui  sesuai dengan konteks kekinian.

Pertamakali Diterbitkan Di Harian Waspada Medan

Jum’at 24 Juli 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s