Mewaspadai Simbolisasi Haji

Saya Pak Haji Lo
Sumber Gambar Internet

Satu sore, seorang anak bertanya pada ibunya; “Bu, kenapa om yang datang ke rumah tadi ibu panggil pak haji?” Dengan lugas sang ibu menjawab; “Ia karena om itu baru pulang dari tanah suci, melaksanakan ibadah haji nak. Itu kita dibawakan oleh-oleh dari Mekah.”

Si anak bertanya kembali, mungkin ia masih penasaran dengan pemberian gelar tersebut dan bertanya kepada ibunya; “Kalau karena pulang dari melaksanakan ibadah haji om itu dipanggil pak haji, kenapa ayah tidak pernah dipanggil pak solat? Padahal ayah rajin melaksanakan ibadah solat setiap hari di masjid?” tanyanya dengan lugu.

Mungkin, tidak semua dari kita bisa menjelaskan latar belakang dari fenomena pemberian gelar “pak haji atau bu hajjah” yang telah lama ada di tengah masyarkat kita. Pertanyaan dari anak ini mungkin penting untuk dijawab. Sebab, selama ini, pemberian gelar haji dan hajjah seolah menjadi keharusan tanpa pernah mengerti makna subtantif yang terjadi pada pemberian gelar tersebut.

Melihat Sejarah

Dalam banyak literature – buku-buku tarkih (sejarah) islam – kita akan sulit untuk menemukan pemberian gelar ‘haji’ kepada para sahabat-sahabat nabi seperti Abu-bakar, Umar, Usman dan Ali atau bahkan terhadap nabi sendiri. Meski pada kenyataannya mereka pernah melaksanakan ibadah haji.

Begitu juga pada masyarakat muslim di Timur Tengah dan masyarakat muslim di Amerika serta Eropa, kita akan sulit menemukan pemberian gelar-gelar tersebut terhadap seseorang yang telah melaksanakan ibadah haji. Berbeda dengan kita yang berada di Indonesia, pemberian gelar haji selalu dilakukan kepada seseorang yang baru saja usai melaksanakan ibadah haji.

Sesungguhnya, pemberian gelar haji dan hajjah pada mereka yang usai melaksanakan ibadah haji sudah berlangsung sejak era kolonialisme. Pada masa itu, setiap gerakan peribadatan mendapatkan pembatasan yang cukup ketat, kerena dikawatirkan akan memperkuat solidaritas masyarakat yang berujung pada gerakan perlawanan terhadap penjajah. Pembatasan itu juga berlaku terhadap ibadah haji. Untuk kegiatan ibadah ini, pemerintahan kolonial Belanda memang sangat berhati-hati, karena kebanyakan orang-orang yang pulang dari melaksanakan ibadah haji selalu melakukan perubahan-perubahan besar di tengah masyarakat.

Sebut saja tokoh-tokoh penting seperti K.H Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis) yang mendirikan organisasi Muhammadiyah. K.H Hasyim Ansyari yang mendirikan Nadhlatul Ulama (NU). Samanhudi yang mendirikan Sarekat Dagang Islam, Cokroaminoto yang mendirikan Sarekat Islam. Mereka adalah orang-orang yang sepulang dari melaksanakan ibadah haji banyak melakukan perubahan sosial dengan membentuk organisasi sosial keagamaan yang memberikan banyak pencerahan dan pendidikan terhadap masyarakat pada waktu itu.

Jauh sebelum mereka, kita juga mengenal Pangeran Diponogoro dan Imam Bonjol yang sepulang dari melaksanakan ibadah haji melakukan perlawanan terhadap pemerintahan kolonialisme Belanda. Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh ‘alumnus-alumnus tanah suci’ ini yang kemudian membuat Belanda kawatir dan akhirnya menentapkan kebijakan – berupa peraturan pemerintah Belanda tahun 1903 – yang mengharuskan pemakaian gelar haji di depan setiap nama orang-orang yang telah menunaikan ibadah haji. Karena itu, gelar haji menjadi semacam ‘cap’ yang memudahkan pemerintahan kolonial Belanda untuk melakukan pengawasan terhadap mereka.

Kondisi Kini

Kondisi haji hari ini tentulah berbeda dengan kondisi haji pada masa lalu. Dahulu perjalanan haji haruslah ditempuh dengan mengggunakan kapal laut yang memakan waktu berbulan-bulan. Ini yang membuat haji menjadi satu perjalan “spiritual” yang panjang yang membutuhkan kekuatan fisik dan finansial yang lebih – khususnya untuk biaya hidup selama diperjalanan.

Setelah alat transportasi berkembang, maka banyak orang tidak lagi harus mengorbankan banyak waktu untuk melaksanakan ibadah ini. Pilihan atas program-program ibadah haji juga mulai berkembang seperti ONH Plus dan lain sebagainya. Kemudahan akan akses – baik dari segi infrastruktur dan suprastruktur – ini kemudian membuat banyak masyarakat yang ingin melaksanakan ibadah haji. Imbasnya yang paling terasa kini adalah menumpuknya jumlah orang-orang yang ingin melaksanakan ibadah haji dan membuat jadwal tunggu untuk pelaksanaan ibadah haji berlangsung panjang. Paling tidak seseorang harus menunggu –lebih kurang – lima tahun jika ingin melaksanakan ibadah haji.

Banyak alasan yang akan kita temui tentang mengapa banyak orang kini ingin melaksanakan ibadah haji. Mulai dari keingin untuk menyempurnakan rukun islam, kerinduan untuk berziarah ke makam rosul dan melihat bukti-bukti sejarah dari keanggungan tuhan. Atau ada sebagiannya hanya ingin mengangkat derjat sosial di tengah masyarakat agar bisa dipanggil pak haji atau bu hajjah. Untuk contoh kasus ini kita mungkin bisa melihatnya dalam konteks film; Tukang Bubur Naik Haji.

Lepas dari berbagai motif tersebut, harusnya kini, alumni-alumni tanah suci asal Indonesia yang sekarang sudah berjumlah ribuan orang itu harusla bisa melakukan perubahan mendasar dalam kehidupan sosial di masyarakat. Setidaknya mereka yang menyandang gelar haji atau hajjah tersebut dapat menjadi contoh pribadi yang baik di tengah masyarakat. Sehingga kepribadiannya yang baik tersebut bisa menjadi motivasi untuk individu-individu yang ada di dalam masyarakat dalam melakukan perubahan. (Seperti para tokoh-tokoh terdahulu yang diceritakan sebelumnya).

Jika tidak bisa melakukan perubahan dalam skla besar, setidaknya mereka – yang dipanggil pak haji dan bu hajjah tersebut – dapat melakukan perubahan dalam skla kecil saja. Bukan-kah perubahan itu dilakukan dari hal yang paling kecil? Setidaknya mulai dari perubahan atas diri sendiri, keluarga dan masyarakat sekitar.

Jika hal ini bisa dilakukan oleh mereka yang merupakan alumni-alumni tanah suci tersebut, maka sesungguh haji yang mereka peroleh tidaklah sekadar penyimbolan saja, tetapi sudah pada makna subtantifnya, yaitu melakukan perubahan atas diri sendirinya dan orang-orang yang ada disekitarnya.

Apa yang dimaknai dari proses kegiatan hukuf di Arafah dan melempar jumrah di Mina sesungguhnya jauh lebih besar ditekankan pada makna pembersihan diri. Yaitu adanya intropeksi diri untuk bisa berubah menjadi seorang individu yang lebih baik dari waktu ke waktu yang menjauhkan diri dari segala bentuk perbuatan keji dan mungkar.

Tulisan ini Pertamakali Diterbitkan di Harian Mimbar Umum

Selasa, 4 Agustus 2015

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s