Membangun Gerakan Islam Yang Strukturalis

Kondisi umat islam yang semakin tidak berdaya dalam kehidupan berbangsa hari ini harus segara diatasi dengan membangun gerakan islam yang terstruktur dengan fokus utamanya adalah melakukan pemberdayaan kepada umat baik dalam konteks ekonomi, sosial dan politik.  Gerakan pemberdayaan dengan jalan strukturalis seperti yang telah dilakukan oleh Samahudin, Tjokroaminoto, dan KH Ahmad Dahlan ratusan tahun silam harusnya dapat dirumuskan kembali oleh para pemikir, tokoh dan pemimpin-pemimpin umat islam hari ini.

Kita sebenarnya tidak perlu lagi berdebat pada persoalan islam nusantara atau islam berkemajuan. Tetapi yang terpenting kini, bagaimana membangun umat islam yang berdaya baik secara ekonomi, sosial dan politik dengan formulasi-formulasi yang bisa menjawab persoalan yang dihadapi oleh umat. Sebab, pembangunan yang berdimensi kapitalistik saat ini, cenderung menempatkan umat islam pada posisi yang kalah.

Fakta ini bisa kita lihat pada bidang ekonomi misalnya, sebagai umat yang mayoritas kita justru tidak dapat menikmati kue pembangunan dengan maksimal. Hal ini bisa dijelaskan dengan asumsi 88 persen orang terkaya di Indonesia adalah mereka yang non-muslim. Efek yang dapat dilihat adalah banyaknya umat islam yang berada di bawah lingkaran kemiskinan dan ini membuat kesenjangan antar umat beragama semakin terasa.

Padahal secara finansial, umat islam mempunyai modal yang besar  yang dapat dikelola dari dana Zakat, Infak dan Sedekah (ZIS). Jika dana ini dikelola dengan baik dan akuntabel, sesuai dengan kebutuhan umat (baik dalam jangka pendek atau jangka panjang), maka yakin dan percayalah islam yang berdaya akan muncul dan dapat bersaing dengan umat-umat yang lainnya.

Memanfaatkan Sumber Sosial-Ekonomi

Secara subtantif, agama islam telah mengajarkan banyak hal tentang bagaimana konsep untuk pembedayaan umat khusunya dalam mengentaskan kemiskinan. Zakat, infak dan sedekah (ZIS) adalah bagian dari konsep tersebut. Namun sayangnya, sampai saat ini, potensi yang dihasilkan dari ZIS belum dapat terkelola dan tersalurkan dengan tepat. Padahal Jumlah dana yang berhasil dikumpulkan masyarakat umum di Indonesia dari ZIS dalam setahun mencapai Rp 19,3 triliun. Hal ini terungkap dari hasil survei yang dilakukan Center for the Study of Religion and Culture (CSRS) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2005 lalu.

Selain itu, hasil survei CSRS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga mengungkapkan besarnya jumlah aset wakaf di Indonesia yang mencapai Rp 590 triliun dan aset-aset wakaf tersebut menurut CSRS sebagian besar diperuntukkan membangun kompleks pemakaman dan masjid-masjid mewah yang terkadang berada di antara permukiman kumuh. Namun sayang, dana yang berhasil dikumpul tersebut belum juga mampu mengatasi persoalan kemiskinan umat islam di Indonesia sampai saat ini.

Jika saja, dana infak dan sedekah atau asset wakaf yang ada di Indonesia diperuntukkan kepada kegiatan-kegiatan ekonomi yang lebih produktif tentunya dana yang ada tersebut akan terus berkembang dan dapat memajukan serta memberdayakan umat islam. Mengapa kita tidak mencipta grosir atau minimarket seperti indomaret atau alfamart yang berbasiskan islam atau dikelola oleh badan-badan usaha islam?

Setidaknya dengan adanya badan-badan usaha tersebut kita bisa membuka lapangan pekerjaan bagi pemuda/i muslim yang lebih banyak lagi. Keuntungan dari penjualan tersebut juga bisa mendanai kepentingan-kepentingan agama seperti pembangunan masjid, membiayai panti asuhan dan lain sebagainya. Selama ini kita hanya dijadikan pasar konsemen yang empuk bagi para pemodal-pemodal yang bukan seorang muslim. Dampaknya, uang kita banyak tersedot tanpa ada implikasi bagi perkembangan agama.

Selain itu, secara makro ekonomi, kita juga belum memiliki bank yang memang benar-benar berpihak kepada umat islam. Sejauh ini, bank-bank kita hanya berbasiskan syariah saja. Tetapi semangatnya belum tentu dapat mengcover kepentingan-kepentingan umat, khususnya bagi mereka –muslim –yang berprofesi sebagai pengusaha atau pelaku-pelaku UMKM.

Ini yang kemudian menjadi pekerjaan rumah yang penting bagi kita, khususnya bagi dua ormas besar islam di Indonesia yang sedang melaksanakan muktamar pada bulan Agustus ini. Harusnya, untuk menjawab tatangan umat hari ini, kita sudah bisa mendirikan Bank Muhammadiyah atau Bank N.U atau setidaknya pada level yang lebih mikro kita bisa menciptakan Muhammadiyah-mart atau N.U-mart.

Pembentukan bank atau mini-market tersebut tentu menggunakan pertimbangan yang jelas. Secara institusional N.U dan Muhammadiyah dapat dikatagorikan sebagai sumber sosial umat yang memiiki jumlah anggota dan dan asset (amal usaha/badan usaha) yang sangat besar. Besarnya jumlah anggota secara kuantitas dapat dijadikan konsumen utama bagi bank atau mini-market yang ada. Apalagi ditambah dengan amal usaha seperti; sekolah, kampus, rumah sakit dan panti-panti asuhan yang secara langsung atau tidak dapat juga dijadikan mitra untuk pengembangan usaha ini.

Dengan terbentuknya koalisi dagang seperti ini, maka umat islam akan jauh lebih kuat dan lebih berdaya. Sebab, bagaimanapun juga, sejarah mencatat selain faktor politik, faktor ekonomi menjadi faktor yang dominan untuk menentukan keberhasilan gerakan dakwah dan islamisasi di Indonesia.

Membagi Kemiskinan

Tidak bisa dipungkiri bahwa politik dan ekonomi adalah dua hal yang berbeda tetapi saling mempengaruhi. Kemiskinan umat islam hari ini tidak hanya dapat dijelaskan dengan tingkat pendapatan rata-rata individu muslim saja, tetapi juga bisa dijelaskan dengan tingkat pendidikan politik individu tersebut. Prof. Jawahir Thontowi –dari FH UII Yogyakarta –mengistilahkan ini dengan membagi kemiskinan. Menurutnya persoalan kemiskinan yang dihadapi umat islam hari ini berpengaruh pada kesadaran berpolitik. Praktek money politics yang selama ini dilakukan oleh parpol membuat masyarakat tidak hanya miskin secara uang tetapi juga miskin pengetahuan dalam konteks kesadaran politik.

Uang selalu menjadi tujuan utama tanpa pernah memahami realitas politik yang ada dibaliknya. Transaksi politik ini bahkan sering terjadi di tempat-tempat pengajian atau perwiritan. Pendidikan politik –yang berakhlaqul karimah –menjadi hilang. Ironisnya, calon-calon dari parpol islam juga tidak bisa menolak godaan melakukan praktek-praktek money politics ini di setiap event pemilu atau pilkada.

Begitupun, parpol-parpol islam tidak juga mampu menarik minat yang banyak dari masyarakat. Bahkan secara politis parpol islam cenderung hanya menjadi pelengkap saja. Tidak ada keberanian untuk membangun koalisi bersama dalam mendukung satu calon presiden atau kepala daerah. Pasca berlakunya pemilihan presiden dan kepala daerah secara langsung tak satupun koalisi partai islam terbentuk untuk mendukung satu calon presiden. Padahal, jumlah suara yang dimiliki sudah sangat mendukung untuk itu.

Pada akhirnya, untuk kasus penguatan politik ini kita hanya bisa berharap kepada petinggi-petinggi parpol untuk dapat duduk bersama dan melepaskan egoism serta kepentingan kelompoknya masing-masing untuk dapat menyatukan visi dan misi bersama membangun kekuatan politik islam yang baru di Indonesia. Gerakan politik secara structural harus dibangun di atas semangat ukhuwah islamiyah yang kuat. Jangan sampai, parpol islam dan wakil-wakilnya yang ada di legislative dan eksekutif tidak mampu menahan arus gelombang pembangunan yang kini tampak semakin liberal dan sekuler dengan menjauhkan semangat dan nilai-nilai keagamaan di dalamnya.

Penutup

Setidaknya hasil muktamar di Jombang dan Makasar harus dapat mengeluarkan rekomendasi untuk mengatasi persoalaan keumatan saat ini. Usaha pemberdayaan umat harus dilakukan sedini mungkin dengan menyatukan geraakan dan tindakan yang sama mulai dari lapisan bawah hingga lapisan elit.

Ceramah-ceramah agama harus mulai diarahkan untuk dapat menjawab persoalan individu muslim, baik secara spiritual dan atau sosial-ekonomi-politik. Implementasi ini penting untuk dipertimbangkan, sebab jika tidak, umat akan terus mengalami kemunduran dan angka permurtadan akibat kemiskinan juga akan terus meningkat. Relakah kita?

Pertamakali Diterbitkan di Harian Waspada

Jum’at 07 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s