Merdeka Tanpa Cinta

“Kalau cinta sudah dibuang, jangan harap keadilan akan datang. Kesedihan hanya tontonan bagi mereka yang diperbudak jabatan. Oo ya oya o ya bongkar, oo ya o ya o ya bongkar.” Ini adalah sepenggal lirik dari lagu Iwan Fals yang berjudul Bongkar. Lagu ini terbilang sering dinyanyikan oleh sebagian anak-anak muda khususnya mereka yang sering melakukan aksi protes terhadap kebijakan pemerintah.

Pada lagu ini, kita bisa melihat kata cinta menjadi kata yang begitu penting. Sudah menjadi ketentuan alami jika manusia hidup tanpa rasa cinta maka tidak akan mungkin kedamaian dapat hadir di dunia. Erich Pinchas Fromm seorang psikolog kelahiran Jerman berunjar tentang lima syarat untuk mewujudkan cintah kasih yaitu; (1)  adanya perasaan, (2) adanya pengenalan, (3) adanya tanggung jawab, (4) adanya perhatian, (5) adanya sikap untuk saling menghormati. Namun, kelima hal yang dapat mewujudkan rasa cinta kasih itu kini sudah hilang dari wajah pemimpi Indonesia.

Wajah

Pada tahun 2014 lalu masyarakat Indonesia sibuk memilih wajah para pemimpinnya dalam perhelatan akbar PEMILU. Wajah-wajah yang amat menjanjikan bagi pembangunan Indonesia kedepan-pun sibuk dicoblos oleh masyarakat. Ada sekitar 560 wajah untuk duduk di DPR-RI di tambah dua wajah sebagai pemimpin eksekutif (Presiden dan Wakil Presiden). Kini satu tahun sudah berlalu, wajah-wajah yang dipilih belum juga dapat mewakili aspirasi masyarakat yang memilihnya. Bahkan terkadang cenderung menghianati dan membodohi masyarakat dalam setiap kali pengambilan kebijakan.

Wajah masyarakat Indonesia yang kebanyakan adalah kaum tani, nelayan, buruh dan pengawai negeri sipil dirundung kesepian yang mendalam akibat rasa cinta yang ada sudah hilang ditelan budaya pragmatisme politik. Kesepian yang mendalam membuat rasa kangen akan figure pemimpin yang memiliki rasa cinta (perasaan, pengenalan, tanggung jawab, perhatian, dan saling menghormati) terhadap rakyatnya muncul kepermukaan. Alamarhum W.S Rendra pernah bertutur indah tentang rasa kerinduan tersebut dalam puisinya yang berjudul kangen.

“Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku, menghadapi kemerdekaan tanpa cinta, Kau tak akan mengerti bagaimana lukaku, karena cinta tlah menyembunyikan pisaunya, Membayangkan wajahmu adalah siksa, kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan, Engkau telah menjadi racun bagi darahku, Apabila aku dalam kangen dan sepi, itulah berarti Aku tungku tanpa Api.”

Gambaran W.S Rendra tentang kemerdekaan tanpa cinta menjadi keniscayaan untuk Indonesia sampai hari ini. Hilangnya perasaan terhadap sesama, kurangnya pengenalan dan saling menghormati, hilangnya rasa tanggung jawab, serta hilangnya perhatian terhadap masalah yang dirasakan oleh masyaraka menjadi sebuah kebobrokan tersendiri. Betapa banyaknya masyarakat yang sudah amat jemu dengan wajah pemimpinnya. Wajah-wajah itu sudah tidak dihargai lagi. Lihat saja bagaimana wajah-wajah dalam replika gambar itu diinjak-injak, dibakar, dicoret, dijatuhkan bahkan ditempelkan untuk menjadi topeng dalam setiap aksi demo di jalanan.

Di Bawah Tiang Bendera

Jika diingat lebih jauh sebenarnya kita semua adalah saudara yang telahir dalam satu Rahim ibu pertiwi yang bernama bumi nusantara. Masa-masa kolonialisme Belanda dan Jepang dapat kita hadapi secara bersama-sama untuk tetap dapat memperjuangkan visi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Jiwa dan raga kita ini tidak bisa mengingkari akan hal itu.

Seharusnya ikatan darah itu dapat membuat kita berpikir ulang untuk tidak saling bertengkar, menipu dan mencuri hanya demi kepentingan kelompok semata. Wajah (pemerintah) Indonesia itu harus diingatkan untuk selalu merenung agar nalar dapat memunculkan pertanyaan, benarkah kita manusia yang bertuhan? Yang diciptakan atas dasar rasa cinta dan kasih sayang?

Sebenarnya merah-putih sudah bisa menjadi tanda bagi kita. Tanda yang sering kita bawa kemana-mana. Karena merah-putih merupakan campuran segala bentuk identitas kelompok, identitas lokal kedaerahan dan lain sebagainya menjadi satu identitas yaitu identitas nasional yang hampir setiap seninnya selalu kita hormati dengan iringi doa; “hidup-lah tanah-ku, hidup-lah negeri-ku, bangsa-ku, rakyat-ku semuanya. Bangun-lah jiwanya, bangun-lah badannya untuk Indonesia raya yang merdeka.”

Di bawah tiang bendera kita ucapkan itu. Sampai sekarang doa itu terus dilantunkan oleh ribuan wajah Indonesia yang entah sampai kapan akan bisa terkabul menjadi sebuah kenyataan. Dengan berjalannya waktu, kini kebanyakan wajah-wajah Indonesia itu sudah tau bahwa yang dikatakan kemerdekaan sebenarnya adalah sebuah kebebasan, kekuatan, kekayaan dan kemakmuran. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Kemerdekaan hanya menjadi sibol karena wajah-wajah (pemimpin) Indonesia yang hadir ke permukaan masih jauh dari rasa cinta.

Penutup

Pada akhir tahun ini, tepatnya pada Desember 2015 kita akan disibukkan dengan penggelaran Pilkada serentak di seluruh indonesia. Perhelatan ini jangan sampai disia-siakan untuk memilih wajah pemimpin yang benar-benar memiliki rasa cinta akan rakyatnya. Masa lalu harus dijadikan pembelajaran agar kesalahan dalam memilih pemimpin dapat diminimalisir. Jangan hanya karena ia seorang yang suka memberikan uangnya kepada kita lalu dengan mudahnya kita memilih dia untuk menjadi pemimpin kita. Padahal uang tersebut tanpa kita sadari adalah hasil korupsi.

Harapan lebih jauh muncul jika kita sudah berhasil memillih pemimpin lokal yang memiliki rasa cinta. Maka pada tahun berikutnya  akan lebih mudah bagi kita dalam memilih wakil-wakil di parlement dan kepresidenan. Pilihan harus dilakukan, jangan sampai wajah yang sudah kita pilih itu malah membuat kita lebih susah.

Akhirnya, sepenggal lirik lagu Iwan Fals ini mungkin dapat mewakili semua maksud yang tertuju. Bahwa rakyat tidak pernah berhenti untuk menyuarakan rasa cinta dan kasih itu.

“bibirku bergerak tetap nyanyikan cinta walau ku tau tak terdengar. Jari-ku menari tetap takkan berhenti sampai wajah tak murung lagi,”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s