Haji; sebuah Proses (Memaknai) Perjuangan

Syawal baru saja berlalu, namun semangat untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT tidak akan pernah berhenti sama sekali. Sepanjang tahun –mulai dari Muharram hingga Dzulhijjah –ibadah kegamaan terus saja berjalan. Wajah-wajah kemenangan yang muncul pasca perayaan 1 Syawal akan segera menghadap panggilan Allah melalui ibadah haji.

Tidak semua muslim memang yang ikut serta dalam panggilan tersebut. Sebab panggilan ini sifatnya sangat amat terbatas. Hanya bagi mereka yang telah memenuhi berbagai bentuk syarat dan kenentuan yang berlaku, baik itu syarat yang diatur oleh otoritas pemerintah dan atau syarat yang ditentukan oleh Allah SWT.

Berbeda dengan syarat yang pertama yang lebih bersifat administratif –mulai dari pelunasan ONH, pengurusan paspor, terdafar dalam satu KBIH dan lain sebagainya –untuk syarat yang kedua malah bersifat abstrak, atau dalam istilah lain dapat dikatagorikan sebagai satu hal yang tersirat (tidak tampak).

Karena sifatnya yang tersirat tersebut, maka banyak muslim yang harus berjuang untuk dapat memenuhi syarat tersebut. Tidak hanya sebatas pelusanan ongkos naik haji (ONH) saja, tetapi juga harus banyak-banyak berdoa untuk dapat memenuhi panggilannya melaksanakan ibadah di tanah suci mekkah Al Mukaromah dan Madinah Al Munawwarah. Untuk contoh kasus ini kita bisa menemukan jama’ah yang gagal berangkat dikarenakan sakit, kematian, visa yang belum keluar dan faktor-faktor di luar dugaan lainnya, meski jama’ah tersebut telah terdaftar dalam rombongan keloter yang akan diberangkatkan.

Itu sebabnya, pelaksanaan ibadah haji –sebagai rukun islam yang kelima –dimasukkan dalam katagori wajib bagi yang mampu. Kata mampu di sini-pun memiliki banyak makna. Beberapa ulama mengaitkannya dengan kemampuan dalam hal bekal dan berkendaraan. Namun ada juga yang mengaitkannya kesehatan fisik dan kemampuan harta untuk bekal dan perjalanan tanpa menyusahkan diri. Terakhir, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kata mampu yang pada pelaksanaan ibadah haji bersifat umum. Maka siapa saja yang mampu dengan harta atau fisiknya (badan) maka telah masuk dalam katagori mampu secara umum.

Memaknai Perjuangan

Kita boleh saja berdebat untuk menggunakan makna yang tepat dalam konsepsi mampu tersebut. Tetapi yang perlu diingat, untuk dapat menunaikan ibadah haji –terkhusus bagi muslim di Indonesia –membutuhkan perjuangan yang panjang. Waktu tunggu keberangkatan yang lama, minimal lima hingga puluhan tahun adalah bagian dari perjuangan tersebut.

Lamanya waktu tunggu ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kuota haji yang terbatas karena pengembangan Masjidil Haram, sedangkan di satu sisi terjadinya peningkatan animo masyarakat dalam berhaji. Peningkatan animo ini dipenguruhi oleh pelayanan ibadah haji yang semakin mudah dengan dikeluarkannya kebijakan untuk pembukaan tabungan haji dengan mekanisme setoran awal dan sistem bayar-cicil.

Fakta inilah yang membuat akses terhadap pelaksanaan ibadah haji semakin mudah, meski pada akhirnya harus menunggu dalam rentan waktu yang lama untuk dapat berangkat. Dan itu semua lagi-lagi harus membutuh kesabaran dan perjuangan yang panjang.

Perjuang sebenarnya tidak berhenti hanya pada saat pra keberangkatan saja. Tetapi perjuangan sesungguhnya terjadi pasca keberangkatan (sewaktu pelaksanaan ibadah tersebut). Tawaaf, sa’i dan wukuf di arafah hingga melempar jumroh adalah rangkaian perjuangan yang harus dilalui. Pada setiap pelaksanaan inilah, kita sebenarnya diminta untuk memaknai arti perjuangan yang telah dilakukan oleh utusan-utusan Alllah SWT, mulai dari Adam, Ibrahim, Siti Hajar, Ismail dan Muhammad.

Apa yang mereka lakukan pada ribuan tahun lalu akan kembali kita ulang secara langsung. Kita akan menjadi actornya pada satu scenario “konfrontasi antara allah dengan syeitan”. Sebagai akibatnya kita sendirilah yang akan menjadi pahlawan di dalam pertunjukan ini. Kemenangan kita atas konfrontasi dengan syaitan tersebutlah yang menjadi petanda akhir perjuangan kita.

Menyaksikan Pertunjukan

Selain itu, Ali Shariati dalam bukunya berjudul Haji (1983) mengatakan bahwa di dalam penunaian ibadah haji berbagai hal dipertunjukkan secara bersamaan yaitu penciptaan, sejarah, keesaan, idiologi islam dan ummah.

Ciptaan-ciptaan Allah SWT yang ada di tanah suci akan kita saksi secara langsung. Ciptaan-ciptaan ini menunjukkan sejarah dinamikan umat manusia yang begitu panjang dari satu generasi ke generasi lainnya. Dari Adam as hingga Ibrahim as. Dari Ibrahim as hingga Muhammad SWA dan dari Muhammad SAW sampai kita saat ini.

Sejarah-sejarah itu akan membuktikan keesaan tuhan yang maha kuasa. Ka’bah di Masjidil Haram, Air Zam-zam dan lain sebagainya adalah satu petunjuk jelas tentang bagaimana keesaan allah swt dalam penciptaan alam semesta dan juga manusia. Tidak cukup sampai di situ saja, secara politis, perjalanan ibadah haji juga bisa menunjukkan bagaimana perkembangan idiologi islam pada saat itu yang sangat signifikan di zajirah arab.

Perkembangan ini bahkan melahirkan satu masyarakat madani yang kuat di Kota Madinah yang dalam istilah asing sering disebut dengan civil society. Yakni suatu masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani dan memaknai kehidupannya. Dan konsep masyarakaat seperti ini telah diperlihatkan oleh umat islam di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SWA jauh sebelum bangsa-bangsa eropa dan amerika berbicara tentang konsep civil society tersebut.

Oleh karenanya rangkaian ibadah haji harus bisa dimaknai lebih mendalam. Tidak ada sebatas satu kegiatan serimonial dengan lebih mengedepankan semangat merebut gelar haji atau hajjah. Tetapi setiap pelaksanaan kegiatan ibadah tersebut harus bisa dimaknai dalam konteks sejarah perjuangan umat yang panjang. Bahwa islam sebagai agama allah tidak berkembang dan berdiri secara mudah namun butuh pengorbanan dan perjuangan yang panjang.

Keseluruhan perjuangan dan pengorbanan itu bisa kita saksikan dan bahkan kita lakoni secara langsung pada saat kita melaksanakan rangkaian ibadah haji. Untuk itu, semoga seluruh jama’ah haji asal Indonesia yang berangkat pada tahun ini dapat mendalami seluruh makna yang terkandung dalam setiap rangkai ibadah tersebut. Semoga

Pertamakali Diterbitkan di Harian Mimbar Umum

Rabu, 26 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s