Depedensi

006 - Depedensi
Wacana Harian Medan Bisnis Senin, 7 September 2015

Ketergantungan atau dalam istilah lain disebut dengan depedensi. Istilah ini sebenarnya lebih mengacu pada teori pembangunan yang dikembangkaan pada akhir tahun 1950an oleh Raul Presihich. Awal mula teori ini mengkritik pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju yang tidak memberikan efek positif bagi negara-negara dunia ketiga. Bahkan terkadang pertumbuhan ekonomi di negara maju sering membawa masalah-masalah ekonomi di negara dunia ketiga.

Inti dari teori ini adalah ketergantungaan yang antara negara-negara dunia ketiga (kawasan asia dan afrika serta amerika latin) terhadap negara-negara maju (di beberapa kawasan asia seperti china, jepang dan negara-negara eropa serta amerika). Akibatnya secara sosiologi, masyarakat yang berada pada negara-negara dunia ketiga juga mengalami ketergantungan yang besar terhadap masyarakat negar-negara maju.

Pola ketergantungan ini kemudian semakin terasa dan seolah tidak dapat ditolak di tengah arus globalisasi yang samakin kuat. Kekuatan globalisasi dan perdangan bebas lintas negara membuat negara-negara dunia ketiga yang tidak memiliki kemampuan ekonomi-politik yang memadai harus terjebak pada ketidak adilan pasar.

Hal ini bisa dilihat dari kondisi ekonomi Indonesia hari ini. Turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang sempat menembus angka Rp.14.000, ternyata banyak dipengaruhi oleh kondisi eksternal. Satu diantaranya adalah menguatnya nilai dolar setelah pemulihan ekonomi Amerika Serikat pasca krisis tahun 2008. Ironisnya penguatan dolar ini juga terjadi terhadap seluruh mata uang negara-negara di dunia sehingga berpengaruh pada neraca perdagangan global.

Efek ini dirasakan langsung terhadap perdagangan komuditas Indonesia yang dalam lima tahun ini terus menurun. Tiga komuditas utama Indonesia yang mengalami penurunan dalam lim006 - Depedensia tahun ini adalah; batu bara yang turun 38 persen, dari 1,2 juta/ton menjadi 776 ribu/ton. Kemudian disusul oleh minyak kelapa sawit yang turun 22 persen dari 11 ribu/kg menjadi 8 ribu/kg. Sedangkan untuk komuditas karet juga mengalami penurunan yang lebih signifikan yaitu 71 persen, dari 57 ribu/kg menjadi 16 ribu/kg.

Turunnya harga komuditas inilah yang membuat kinerja eksport Indonesia semakin menurun. Idealnya, ketika rupiah mengalami penurunan, kinerja ekspor harus ditingkatkan. Akan tetapi kinerja ekspor malah mengalami penurunan karena ekspor Indonesia didominasi oleh komuditas barang yang sedang mengalami keanjlokan dalam permintaan dan harga.

Sulit

Sulit memang untuk dapat melepas ketergantungan yang semakin menjadi di era globalisasi dan pasar bebas hari ini. Tidak ada satu negara pun yang tidak memiliki ikatan perdanganan. Namun hanya saja ikatan perdanganan itu tidak selamanya menguntungkan. Pola hubungan dagang yang merugi selalu saja ditunjukkan pada hubungan antara negara industri maju dengan negara-negara dunia ketiga yang sedang berkembang.

Biasanya, negara-negara dunia ketiga mengekspor komuditi mentah dengan harga murah untuk diolah menjadi produk siap pakai oleh negara-negara industri. Hasil olahan ini kemudian dijual kembali ke negara-negara dunia ketiga dengan harga yang jauh lebih mahal. Hasil hubungan dagang inilah yang membuat negara-negara ketiga selalu saja dirugikan.

Pada kondisi inilah, Indonesia harus segera berbenah diri di tengah usia ketujuh puluh tahun. Pembenahan pada sektor industri dianggap menjadi hal yang penting. Industri yang mandiri harus bisa diciptakan. Sebab selama ini, meskipun banyak industri yang telah berkembang di Indonesia namun industri-industri tersebut masih sebatas industri yang bersifat sebagai “tukang jahit”, di mana seluruh bahan bakunya masih harus didatangkan dari luar negeri.

Misalnya saja, untuk industri tekstil –khususnya dengan jenis katun –kita masih harus mengimport kapas sebagai bahan baku utama pembuatan katun. Tidak tanggung-tanggung import kapas pada industri tekstil dengan jenis katun ini mencapai 99,2 persen dari semua kebutuhan kapas nasional pertahun.

Itu sebabnya, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat mengatakan, rupiah yang telah menyentuhkan angka Rp.14.000 per dolar AS tentu akan memberatkan industri tekstil yang membeli bahan bakunya memakai dolar AS. Menurutnya hal ini akan semakin terasa memberatkan jika industri tekstil yang ada hanya berorientasi pada pasar dalam negeri. Sebab penjualannya akan menurun diakibatkan daya beli masyarakat yang melemah dikarenakan masyarakat lebih mengutamakan kebutuhan primer dibandingkan kebutuhan sekunder seperti tekstil.

Akhirnya, di tengah anjloknya nilai tukur rupiah terhadap dolar, tidak ada pilihan lain bagi pengusaha industri tekstil yang berorientasi pasar lokal selain menutup industrinya atau mengurangi jam kerja. Efek yang ditimbulkan pasti adalah pengurangan upah kerja atau bahkan PHK bagi buruh tekstil.

Industri tekstil masih menjadi satu contoh kasus di antara banyak industri yang memiliki ketergantungan import terhadap bahan baku produksi mereka. Efek ketergantungan ini yang sesungguhnya membahayakan bagi perkembangan ekonomi Indonesia. Sebab sedikit saja kondisi eksternal mengganggu, mulai dari kenaikan dolar atau produksi komuditas yang mengurang pasti akan menggangu ekonomi Indonesia.

Kita tentu ingat bagaimana kasus naiknya tempe dan tahu yang disebabkan keterbatasan produksi kedelai di Amerika. Persoalan ini hanya disebabkan oleh sebab petani kedelai di sana tidak masuk musim panen. Hal-hal seperti ini sangat rentan menggangu ekonomi kita, bahkan dalam kasus daging sapi beberapa bulan terakhir ini.

Gejolak Sosial

Kondisi ekonomi, baik berupa inflasi dan deflasi yang menyebabkan krisis ekonomi secara berkesinambungan tentu akan mengundang gejolak sosial di tengah masyarakat. Sejarah tentu mengingatkan kita tentang jatuhnya dua rezim (orde lama dan orde baru) yang disebabkan oleh krisis ekonomi yang berkepanjangan. Di sini jelas, bahwa ekonomi menjadi satu faktor dominan yang dapat mempengaruhi kondisi sosial dan politik di satu negara.

Itu sebabnya beberapa pengamat ekonomi menyebutkan bahwa ekonomi itu merupakan hasil interaksi spontan jutaan manusia. Ia bisa menghasilkan banyak hal, baik itu gejolak sosial dan atau gejolak politik. Persoalannya kini, bagaimana kita menyikapi reaksi dan aksi dari actor-aktor ekonomi yang dapat mengundang atau bahkan menciptakan gejolak sosial.

Pada persoalan inilah kita membutuhkan peran penting negara melalui pemerintahan. Apakah dapat menjaga stabilitas tersebut atau tidak. Dan itu semua tergantung bagaimana pemerintah dan rakyat memaknai krisis ekonomi yang ada. Apakah dimaknai sebagai titik balik untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk. Meski rata-rata kita lebih sering memaknai krisis sebagai suatu hal yang bersifat kemelut yang dapat menimbulkan kekacauan.

Penutup

Sekali lagi, kehidupan global dengan model perdagangan pasar bebas membuat banyak negara tidak bisa melepaskan diri dari efek ketergantungan (depedensi) terhadap negara lainnya. Hanya  saja, ketergantungan di sini harusnya tidak dimaknai secara berlebihan. Sebab jika ketergantungan terhadap negara lain itu muncul secara berlebihan, maka prinsip kemandirian negara secara ekonomi akan hilang.

Itu sebabnya, setiap negara harus mempunyai produksi-produksi andalan yang dapat menguasai pasar dunia. Sehingga negara tersebut menjadi sandaran bagi banyak negara lain. Kini, pertanyaan itu harus yang harus kita tanya ke dalam diri sendiri (baca; pemerintah), produk andalan apa yang sekarang kita miliki dan dapat kita andalkan di pasar dunia?

Diterbitkan Pertamakali di Harian Medan Bisnis

Senin, 7 September 2015

Link;

 

http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2015/09/07/184983/dependensi/#.Ve169UeUc-A

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s