Medan (Bukan) Kota Sampah

Sewaktu penelitian thesis tahun 2014 lalu, saya mengambil topic upaya pemberdayaan masyarakat dalam mengelola sampah. Topic ini sengaja saya pilih dikarenakan permasalahan sampah di Kota Medan sudah dapat dimasukkan dalam katagori serius. Hal ini dilatarbelakangi oleh pertumbuhan sampah yang sangat signifikan dalam bebebrapa tahun belakangan ini. Data pertumbuhan sampah dari tahun 2008 hingga tahun 2013 menunjukkan pertumbuhan tersebut.

Pada tahun 2008 ke 2009 terjadi  peningkatan produksi sampah sebesar 33,85 ton. Sedangkan dari  tahun 2009 ke tahun 2010 terjadi peningkatan sebesar 677,89 ton. Namun, di antara tahun 2010 ke tahun 2011 malah terjadi penurunan produksi sampah sebesar 22,6556 ton. Dan pada tahun berikutnya 2011 ke tahun 2012 kembali terjadi peningkatan produksi sampah sebesar 270,3306 ton.

Sedangkan untuk tahun 2013, jumlah volume sampah setiap harinya yang dihasilkan masyarakat Kota Medan berkisar 1700 ton/hari. Jika ditotal setiap bulannya masyarkat dapat memproduksi sampah sekitar 44.000 ton/ bulan sapanjang tahun 2013. Dan pada tahun 2015 produksi sampah di Kota Medan sudah mencapai 1.900 ton/hari. Namun sayangnya, angka pertumbuhan ini tidak dianggap menjadi persoalan yang serius oleh pemerintah.

Pada hal di satu sisi, tempat pembuangan akhir sampah (TPA) di Kota Medan masih menggunakan sistem open dumping. Sistem ini dapat dikatagorikan sebagai sistem TPA yang paling sederhana dan murah. Karena kesederhanaanya, maka TPA dengan sistem seperti ini rawan menjadi sumber pencemaran lingkungan dan menimbulkan polusi yang dihasilkan dari  cairan-limbah (leachate) yang dapat mengalir ke tempat-tempat lain.

Selain itu, dalam UU No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah, pada pasal 44 ayat 2 dikatakan bahwa pemerintah daerah harus menutup tempat pembuangan akhir sampah yang menggunakan sistem pembuangan terbuka (open dumping) paling lama 5 (lima) tahun terhitung sejak berlakunya undang-undang ini. Dan tepat pada tahun 2013 lalu, UU ini genap berusia 5 tahun, namun pemerintah daerah masih saja mengabaikan apa yang menjadi peraturan negara.

Penyebab Pertumbuhan Sampah

Pertumbuhan sampah secara kuantitas dipengaruhi oleh tiga faktor utama di antaranya; pertumbuhan jumlah penduduk. Faktor ini menjadi faktor yang paling dominan mempengaruhi pertumbuhan sampah. Semakin banyak penduduk, semakin banyak pula sampah yang dihasilkan. Rampir rata-rata setiap individu menghasilkan 0,5 kg sampah/hari. Bahkan di Jakarta tercatat setiap individu menghasilkan 1 kg sampah/hari.

Faktor kedua adalah keadaan sosial-ekonomi masyarakat. Sama dengan jumlah penduduk, semakin tinggi  keadaan ekonomi masyarakat, semakin banyak pula jumlah per kapita sampah yang dibuang. Dari kondisi sosial-ekonomi masyarakat juga bisa dibedakan kriteria sampah yang dihasilkan. Biasanya, semakin tinggi kelas ekonomi masyarakat semakin sedikit menghasilkan sampah organik dan lebih banyak menghasilkan sampah anorganik. Sebaliknya, semakin rendah kelas ekonominya maka semakin banyak menghasilkan sampah sampah organik dan sedikit menghasilkan sampah anorganik.

Faktor ketiga adalah; kemajuan tekonologi. Kemajuan teknologi akan menambah jumlah maupun kualitas sampah. Hal ini disebabkan pemakaian bahan baku yang semakin beragam. Sehingga menghasilkan jenis sampah yang semakin beragam pula, misalnya sampah-sampah hasil produk elektornik.

Partisipasi Masyarakat

Persoalan sampah memang tidak hanya menjadi ranah pemerintahan kota saja. Tetapi peran serta masyarakat sebagai individu yang memproduksi sampah juga harus dimintai pertanggung jawabannya. Pengeloaan sampah dengan pendekatan partisipatif dalam banyak kajian teoritis dan aplikatif dianggap yang paling tepat. Hanya saja persoalannya, adakah keinginan pemerintah sempat atau setidaknya Lembaga Swadaya Masyarakat yang dapat menggerakkan atau mendampingi masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam pengelolaan sampah secara partisipatif dan mandiri?

Pertanyaan ini yang penting untuk diajukan di tengah maraknya program berbasis kelestarian lingkungan yang secara aplikatif tidak berdampak langsung pada pengentasan masalah lingkungan terkhusus masalah sampah. Fakta ini bisa dilihat langsung di lapangan. Masih banyak masyarakat yang buta dengan pemilahan sampah berdasarkan prinsip 3-R (Reduce, Reuse, Recycle).

Meski sudah banyak tong-tong dan bak-bak sampah yang menganjurkan masyarakat untuk membuang sampah secara terpisah (antara organik dan anorganik) tetapi sekali lagi, pada prakteknya masih banyak masyarakat yang mencampurkan sampah-sampahnya. Lebih ironisnya lagi, jika masyarakat sudah memilah sampah berdasarkan tempat pembuangannya tetapi pada saat pengangkutan ke truk sampah malah disatukan kembali. Akhirnya proses pemilahan yang berlangsung di tengah masyarakat (hulu) berjalan sia-sia.

Kebijakan seperti inilah yang harus dikritisan secara bersama-sama. Sebab, pendekatan pembanguanan partisipatif harus mensingkronkan antara keinginan pemerintah dan masyarakat serta harus ada juga kesatuan kerja antara pemerintah dan masyarakat. Jika tidak maka kebijakan yang terapkan tidak akan pernah berjalan secara maksimal.

Mendukung Bank Sampah

Bank sampah adalah satu wujud dari usaha pengelolaan sampah dengan menerapkan prinsip 3-R (Reduce, Reuse, Recycle). Di Bank sampah, sistem yang diterapkan adalah sistem mengelola sampah dan menampung, kemudian memilah dan mendistribusikan sampah ke fasilitas pengolahan sampah yang lain atau kepada pihak yang membutuhkan. Di sini nilai guna barang yang sudah menjadi sampah dapat ditingkatkan, yang sebelumnya tidak berguna menjadi barang berguna. Selain itu, usaha penampungan dan pengolahan sampah dengan mendistribusikan ke fasilitas pengolahan sampah yang lain atau kepada pihak yang membutuhkan juga bisa membantu pengurangan intensitas pembuangan sampah ke TPS atau TPA.

Karena peran sertanya yang dapat mendaur ulang sampah dan meningkatkan kegunaan sampah secara tepat maka peran serta bank sampah harus dapat didukung dengan baik oleh pemerintahan daerah. Apalagi bank sampah dapat mengurangi intensitas pembuangan sampah ke TPS atau TPA yang dapat mengerem laju pertumbuhan sampah di setiap TPS dan TPA.

Untuk itu, upaya mendukung bank sampah harus dilakukan. Tidak hanya sekedar memberikan bantuan berupa uang atau fasilitas lainnya. Tetapi juga harus dapat membantu pendistribusiaan hasil pengelolaan sampah yang ada di bank sampah. Sebab selama ini, persoalan pemasaran produk hasil olahan di bank sampah yang selalu menjadi kendala bagi pengurus bank sampah.

Upaya mendukung program bank sampah ini menjadi penting untuk dilakukan agar jumlah pertumbuhan sampah di Kota Medan dapat direm dengan semaksimal mungkin dan Medan dapat menjadi kota yang tidak lagi bermasalah dengan sampah.

 Pertamakali Diterbitkan di Harian Mimbar Umum 

Senin, 14 September 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s